NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Preman Bayaran

Akan tetapi...

Bagi Lin Wanru, perjalanan pulang hari itu seharusnya menjadi sebuah momen kemenangan besar yang manis.

Di dalam kantong kain usang yang tersampir di bahunya, tersimpan hasil jerih payahnya berupa jamur tiram segar, tanaman herbal bernilai tinggi, seekor kepiting air tawar, dan yang paling berharga, seakar ginseng liar pegunungan berkualitas prima yang siap mengubah nasib keluarganya keesokan hari.

Langkah kaki Wanru terasa lebih ringan, meskipun tubuh remajanya masih dilanda kelelahan hebat pasca insiden terpeleset di sungai.

Pikirannya sudah melambung jauh ke depan, membayangkan bagaimana ia akan membawa ginseng itu ke tabib kota kecamatan, menukarnya dengan kepingan perak murni, melunasi utang tiga tael perak kepada Paman Dehai tanpa sisa, lalu membelikan bahan makanan bergizi untuk ibu dan adiknya.

"Sedikit lagi..." batin Wanru tersenyum tipis, matanya menatap siluet gubuk reyot mereka yang sudah mulai terlihat di ujung jalan setapak desa. "Tinggal beberapa ratus meter lagi, dan rencana besar pertama kita akan resmi dimulai."

Namun, di dunia yang kejam ini, di mana iri hati dan kebencian berakar lebih dalam daripada pohon-pohon tua di hutan, nasib kerap kali suka mempermainkan orang-orang yang sedang merangkak naik dari jurang penderitaan.

Saat Wanru memasuki lorong tanah sempit di antara dua dinding gudang tua yang jarang dilalui orang menjelang malam, ia merasakan ada sesuatu yang janggal.

Suara jangkrik malam yang biasanya bernyanyi bersahutan mendadak senyap. Udara di sekitarnya terasa berubah menjadi berat dan dipenuhi hawa permusuhan.

Wanru menghentikan langkahnya. Insting tajam seorang mantan CEO yang terbiasa membaca gestur ancaman korporasi langsung berteriak waspada.

Krosak... gedebuk...

Dari balik bayangan dinding gudang yang gelap, tiga sosok bertubuh tegap, berwajah bopeng, dengan pakaian preman pasar yang kotor dan bau arak melangkah keluar secara perlahan.

Mereka menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi kekuningan sambil membawa pentungan kayu pendek dan rantai besi berkarat di tangan mereka.

"Wah, wah... lihat siapa gadis kecil sok pintar yang baru pulang dari hutan membawa banyak barang?" suara serak dan menjijikkan terdengar dari pemimpin preman tersebut, seorang pria bertubuh gempal berambut semrawut yang dikenal di desa sebagai Si Muka Parut bernama Gu Dan.

Wanru mundur setengah langkah. Kantong kain di bahunya dicengkeram dengan erat. "Siapa kalian? Mau apa menghalangi jalanku?" suaranya dingin, menatap ketiga preman itu tanpa secercah pun rasa gentar di wajahnya, meski jantungnya mulai berdegup kencang.

Gu Dan tertawa dan berdehem sinis, lalu meludah ke tanah sebelum menjawab, "Mau apa? Oh, kami hanya utusan dari seseorang yang sangat peduli padamu, Nona Wanru! Ada seorang bibi dermawan di desa ini yang merasa sakit hati karena mulut manismu tadi pagi. Beliau meminta kami untuk memberimu sedikit... pelajaran berharga agar kau tahu cara sopan santun kepada yang lebih tua!"

Nyonya Liu.

Nama wanita tambun itu langsung melintas terang di kepala Wanru. Rasa dengki dan dendam kesumat akibat dipermalukan di depan umum tadi pagi rupanya membuat wanita itu nekat mengeluarkan uang simpanannya untuk menyewa preman pasar rendahan guna membalas dendam secara fisik.

"Menyingkir dari jalanku," kata Wanru tajam, suaranya menusuk dingin tanpa kompromi. "Aku tidak punya urusan dengan kalian. Dan jika kalian berani menyentuh barang-barang di kantong ini, kalian akan menyesal seumur hidup."

Gu Dan terbahak-bahak mendengar ancaman dari seorang gadis remaja kurus kering itu. "Menyesal? Ha ha ha! Dengar itu, kawan-kawan! Gadis ingusan ini mengancam kita!"

Dua preman anak buahnya ikut tertawa mengejek sambil melangkah mendekat, dan mengepung jalur pelarian Wanru.

"Sudah, jangan banyak cincong! Selesaikan perintah Nyonya Liu, hancurkan barang bawaannya, dan buat dia babak belur!" bentak salah satu anak buah preman itu tidak sabar.

Sebelum Wanru sempat berpikir untuk melarikan diri atau mencari celah perlawanan, salah satu preman dengan sengaja mengayunkan pentungan kayunya ke arah kantong kain yang disandang Wanru.

Brak!

"Jangan!" teriak Wanru histeris.

Benturan keras itu menghantam kantong kain dengan telak. Jamur tiram segar yang baru dipetik hancur berkeping-keping menjadi bubur putih di atas tanah.

Wadah bambu kecil tempat penyimpanan akar manis dan pegagan pecah berserakan. Dan yang paling mengerikan, kantong pelindung ginseng liar pegunungan yang sangat berharga robek menganga.

Akar ginseng liar berusia tua yang menjadi satu-satunya harapan hidup dan tiket kebebasan keluarga Lin terpelanting keluar, jatuh terjerembab ke atas genangan lumpur kotor di pinggir jalan.

Melihat harta karun penyelamat hidupnya diinjak-injak tanpa ampun oleh sepatu kotor sang preman, darah Wanru mendidih hingga ke ubun-ubun.

"Keparat kalian...!" teriak Wanru lepas kendali.

Hilang sudah ketenangan sang mantan CEO yang dingin. Rasa amarah yang meledak-ledak, kepedihan mendalam, dan rasa frustrasi melihat kerja kerasnya dihancurkan begitu saja oleh orang-orang bodoh yang tidak tahu nilai dari apa yang mereka injak, membuatnya menerjang maju bagaikan harimau terluka.

Wanru melompat dan menghantamkan tubuhnya ke arah preman yang menginjak ginseng tersebut, mencakar dan memukul dengan seluruh sisa tenaga yang ada di tangan kecilnya.

Namun, apa daya perlawanan seorang gadis berusia delapan belas tahun yang kurang gizi melawan tiga preman pasar berbadan tegap?

"Berani melawan, hah?! Sialan!" maki Gu Dan geram.

Bugh!

Sebuah pukulan telak menggunakan punggung tangan kasar Gu Dan mendarat di pipi kiri Wanru.

Kekuatan hantaman itu begitu telak hingga tubuh kurus Wanru terpelanting ke samping, membentur dinding batu kasar di pinggir lorong, lalu jatuh tersungkur ke atas genangan lumpur.

Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar di rahangnya, membuat mulutnya terasa asin oleh ceceran darah segar. Pandangannya berbinar-binar, dan kepalanya terasa berputar hebat.

"Kakak!" suara isakan kecil mendadak terdengar dari kejauhan.

Lin Bao yang rupanya disuruh ibunya menyusul karena kakaknya terlalu lama pulang, berdiri terpaku di ujung lorong sempit. Bocah delapan tahun itu memegang sebuah ranting kecil, matanya membelalak lebar melihat sang kakak dipukul dan dijatuhkan ke tanah oleh para preman berbadan besar.

"Jangan sakiti Kakakku!" tangis Lin Bao histeris, sambil melempar ranting di tangannya dan hendak berlari mendekat.

"Bao-er! Jangan ke sini! Lari...!" teriak Wanru dengan suara parau berdarah, melarang adiknya mendekati zona bahaya tersebut.

Salah satu preman melirik sinis ke arah Lin Bao. "Heh, ada anak kecil pengganggu datang. Mau kuberi pelajaran juga bocah ingusan itu?" ancam si preman sambil melangkah ke arah Lin Bao.

Melihat adiknya diancam, gelombang teror dan kemarahan membuncah di dada Wanru. Dengan sisa tenaga yang bergetar hebat di sekujur tulangnya, Wanru memaksa kedua tangannya menapak ke tanah berlumpur, bangkit berdiri meski lututnya gemetar hebat dan darah segar menetes dari sudut bibirnya.

"Jangan... berani... menyentuh adikku!" desis Wanru dengan tatapan mata yang menyala penuh dendam membara, menatap tajam para preman itu seolah ia ingin mencabik-cabik mereka hidup-hidup dengan giginya sendiri.

Gu Dan mendengus jijik, lalu meludah ke tanah di dekat kaki Wanru. "Cih, keras kepala sekali gadis sialan ini! Sudah, ayo pergi! Tugas kita menghancurkan barang-barangnya dan memberinya sedikit memar sudah beres. Nyonya Liu sudah membayar kita secukupnya!"

Ketiga preman itu pun tertawa puas melihat keadaan Wanru yang babak belur dan hancurnya seluruh barang bawaan di tanah.

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, mereka berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan lorong tersebut sambil bersiul ria, meninggalkan gema tawa kemenangan yang merendahkan.

"Keterlaluan kaliaaan..."

Bersambung...

1
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!