Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Ketika Darian menerima kabar bahwa ada sebuah mobil mencurigakan tapi teramat mahal terparkir di garasi pribadinya di Adiwangsa Enterprise, ia terkejut. Ia tak menyangka koneksi Kayana sedemikian luas hingga mampu membelikannya mobil paling diburu di dunia hanya dalam waktu satu jam.
Begitu keluar dari lift pribadi, ia tertawa kecil untuk dirinya sendiri. Rupanya ia benar-benar telah meremehkan lawannya.
Ia mengamati mobil hitam pekat yang anggun dan memukau itu, seakan berkilau di bawah cahaya. Dengan mesin enam belas silinder, 1.500 tenaga kuda, dan enam knalpot, inilah mobil impian setiap pria.
Harga mobil ini setara empat kali lipat kalung yang pernah ia hadiahkan padanya. Ia melangkah maju, mengusapkan tangan ke logamnya yang mengilap.
Tampaknya Kayana telah menerima pernyataan perangnya. Lebih tepatnya, perang hadiah. Ia bertanya-tanya sejauh mana perempuan itu bersedia melangkah dalam permainan kecil mereka ini.
Setelah menerima mobil itu, Darian membalas dengan sepasang anting yang serasi dengan kalung safir dan berlian yang pernah ia berikan pada Kayana. Anting itu tak dijual berpasangan, sehingga ia harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan pasangannya.
Ketika Kayana menerima hadiah itu, ia mengirim balik satu kotak penuh kancing manset. Setiap kancing dibuat dari bahan berkualitas terbaik, mulai dari batu meteorit hingga berlian biru yang bernilai jutaan rupiah per karat.
Dan ketika Darian menerima hadiah itu, ia terkekeh, lalu membalas dengan dua ratus tangkai mawar dan sebuah kondominium megah empat lantai yang terletak di kawasan bergengsi, sangat dekat dengan rumah Kayana.
Kayana kesal dengan hadiah berantakan yang memenuhi separuh ruang tamunya yang luas itu. Butuh setidaknya lima petugas kebersihan untuk menyingkirkan semua mawar itu. Karena tak ingin menyia-nyiakan bunga indah yang datang dalam warna merah, putih, kuning, merah muda, dan biru itu, ia membagikannya kepada seluruh tim kebersihannya.
Ia senang rekening banknya kini terisi penuh oleh uang dari perusahaan investasinya sendiri dan uang yang ia kumpulkan selama bekerja sebagai pengganti Kevin. Ketika ia menandatangani kontrak-kontrak bernilai jutaan, kadang bahkan miliaran, ia diam-diam mengantongi lima belas persen dari keuntungan tanpa sepengetahuan Kevin.
Kakek Hartono yang menyarankannya melakukan itu. Sebagian dari dirinya sudah menduga hasil akhir dari seorang pria seperti Kevin Santoso. Ia telah menyaksikan banyak ledakan amarah Kevin yang kacau, tapi ia tak menyangka cucunya akan mengalami perlakuan sekejam itu.
Menepis pikiran soal uang, Kayana meraih ponselnya untuk membelikan Darian sebuah kapal pesiar yang akan menyaingi semua hadiahnya.
Ia mencatat dalam hati untuk mulai mengembalikan semua hadiah Darian, atau bahkan menjualnya kembali demi mendapat lebih banyak uang.
Ia tak suka gagasan menerima hadiah-hadiah mahal itu, dan ia tahu Darian mungkin hanya akan menerima balasan dalam bentuk hadiah pula.
Kayana tahu ia bisa memanfaatkan uang itu untuk sesuatu yang lebih berguna daripada perang hadiah kecil ini.
Tepat setelah Kayana mengirim hadiahnya, ia menerima sebuah pesan. Jantungnya seolah jatuh ke perut ketika melihat pesan itu berasal dari ibunya. Isinya soal waktu dan tempat pesta jamuan.
Ketika melihat daftar nama di grup obrolan itu, Kayana nyaris memutar bola matanya. Ibunya benar-benar punya nyali menambahkan Kakek Hartono ke dalam grup! Setebal apa muka perempuan itu hingga sanggup melakukan hal senekat itu?
Seluruh keluarga Wiratama tahu Kakek Hartono sama sekali tak peduli pada Susan. Dari semua cucunya, Susan-lah yang paling keras menangis dan menjerit ketika melihat wajah menyeramkan Kakek Hartono.
Tumbuh dimanja, terlalu disayang dan dilindungi, itulah kali pertama Susan melihat seorang pria dengan raut tak menyetujui.
Tak hanya itu, saat itu Kakek Hartono sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, dan jeritan Susan makin mengeruhkan hatinya. Sejak itu, Susan masuk daftar hitam sebagai cucu yang tak diakui. Kakek Hartono menolak mencantumkan namanya dalam surat wasiat, dan Melisa murka bukan main ketika mengetahuinya.
Namun sebenci apa pun Melisa pada kenyataan itu, ia tahu tak bisa melawan perintah sang ayah mertua.
"Pasti dia mengira rencananya sempurna..." gumam Kayana. Ia tahu, dengan mengirim pesan lewat grup, Kakek Hartono jelas akan sadar bahwa Kayana hendak menghadiri jamuan itu. Hal ini akan memperbesar kemungkinan Kakek Hartono ikut hadir juga.
Beberapa detik setelah pesan itu, Kakek Hartono menelepon Kayana.
"Kakek," sahutnya pada deringan pertama.
"Jamuannya besok malam. Kakek harap kau sudah punya gaun dan seorang pendamping." Kakek Hartono bicara, melupakan segala basa-basi dan langsung ke inti.
Mata Kayana melebar. Jamuannya besok malam? Ia yakin betul acaranya minggu depan! Apa jadwalnya dimajukan?
Menggertakkan gigi, ia memeriksa ponselnya, dan benar seperti dugaannya, tanggalnya dimajukan seminggu.
Ia tak sempat menghubungi perancang busana atau memastikan kembali pada Karolina apakah kakaknya benar-benar akan datang. Ia yakin Damian sedang berada di luar negeri untuk misi penting.
Kayana tahu ia benar-benar dalam masalah. Namun ia tak ingin sang kakek cemas, maka ia berkata,
"Aku sudah siap dan segalanya beres," ucapnya gugup, menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamunya yang beraroma tajam bunga mawar.
"Kau yakin?" Kakek Hartono mendengar keraguan dalam suara cucunya.
"Iya, Kek. Jangan terlalu mencemaskan jamuan itu. Tidak bagus untuk tekanan darah Kakek yang tinggi." Kayana buru-buru menjawab. Kakeknya memang tegas dan keras, tapi ia sudah semakin tua. Kayana baru kembali ke kota ini, setelah dua tahun pergi jauh, karena mendengar sang kakek jatuh pingsan akibat tekanan darah tinggi.
Kayana teringat perkataan Karolina. "Sebenarnya, aku sudah punya pendamping. Dia—"
"Yang mana?" Kakek Hartono bertanya, meragukan ucapannya. Kalau yang bungsu, ia harus menghubunginya. Adik bungsu itu mungkin ramah, tapi Kakek Hartono tahu betul sifat genit dan mata keranjangnya. Lebih baik pria seperti itu tak menyentuh cucunya.
"Yang bungsu." Kayana menggigit bibir bawahnya, tak yakin bagaimana reaksi sang kakek. Ia takut Kakek Hartono akan marah karena ia memilih pria bereputasi mata keranjang, tapi Kakek Hartono justru mengejutkannya dengan tetap tenang dan tanpa gejolak seperti biasa.
"Begitu rupanya..." Kakek Hartono lalu mengirim pesan kepada Sandro. Ia menyiapkan tim keamanan siaga untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.
Damian terlalu sulit ditebak. Selain itu, ia juga khawatir akan keselamatan Kayana di jamuan nanti. Banyak kalangan atas akan berkumpul di sana, dan banyak di antara mereka pengikut Kevin.
"Kalau dia tidak muncul, Kakek mau kau segera menelepon Kakek." Suara Kakek Hartono tetap hangat dan mengayomi, namun terselip nada tajam.
Sekalipun keluarga Adiwangsa adalah yang paling berkuasa di negeri ini, ia takkan ragu mengirim Damian ke rumah sakit. Jika mereka berani mencoreng nama baik cucu kesayangannya, darah akan tumpah.