NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Mendapatkan Peringatan Tegas

Aku mulai sadar kalau fokus kami sudah bergeser. Bukan lagi sepenuhnya tentang grand opening Waroeng Kayoe, tapi soal apa yang berdiam di apartemen tempat kami tinggal.

Dingin merayap sampai tulang, tatapan tak terlihat dari lorong gelap, dan teror yang hanya muncul ketika jam menunjukkan angka tiga dini hari.

Untungnya sekarang kami sedang menginap di hotel. Teror itu tidak berlaku. Kami berempat serempak bangun cukup siang. Matahari sudah tinggi, kami masih rebahan di atas ranjang.

Seakan ingin menikmati tidur yang selama ini tidak pernah kita dapatkan semenjak tinggal di apartemen.

Namun sayang karena sebelum jam 12 siang, kami harus check out. Setelahnya, kami langsung berangkat ke restoran. Merasa sudah mendingan, Hendra ingin nyetir karena mengaku mual kalau harus duduk di bangku belakang.

“Serius nih, Bang. Lo udah aman?” tanyaku memastikan.

Hendra hanya mengangkat jempolnya, pertanda bahwa ia baik-baik saja.

Ketika berada di dalam mobil, Jefry melanjutkan gagasan gilanya semalam. “Gimana nih? Ide gua? Oke kan?”

“Kalian setuju kan?”

Mendengar ucapan Jefry itu, kami semua kompak diam. Tapi bukan Jefry namanya kalau menyerah begitu saja.

“Gimana bro?” ucapnya ke Hendra yang berada di sampingnya.

“Gua nggak tau juga, Bang,” kata Hendra sambil mengangkat bahu.

Tak mendapatkan dukungan, Jefry mulai mengeluarkan sindiran-sindirannya, menganggap bahwa kami pengecut. Ia menerangkan bahwa seharusnya kesempatan ini menjadi peluang yang sangat besar untuk mendapatkan pengalaman nyata.

“Kalian nggak visioner sih. Coba deh, bayangin, kita buat cerita, based on true story! Dan naskah adaptasi berdasarkan kisah yang kita alami.”

“Kita nggak perlu wawancara sumber ini, sumber itu, karena sumbernya, kita.”

Aku pun akhirnya angkat bicara untuk menanggapi celotehan Jefry itu. “Tapi bang, bukan sesederhana itu. Ada risiko, kita nggak tau apa. Kalo terjadi hal buruk, gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”

“Ya gua paham, Gas. Tapi kan kita semua tau lah. Mereka itu makhluk astral, bisa apa sih? Paling mentok, kesurupan. Kita juga udah ada solusinya, tinggal minta tolong Pak Haji bantuin kita,” dalih Jefry.

“Pak Haji?” Hendra refleks bertanya. “Pak Haji siapa, Bang?”

Dengan santai Jefry menjawab sambil tertawa kecil, “Ya elo! Siapa lagi?”

Ia kemudian mengungkit saat Hendra berhasil mengobati Shinta yang kesurupan. “Komat-kamit lo ampuh tuh ngusir setan.”

“Mulai sekarang, gua panggil Pak Haji aja deh, Bro.”

“Sialan lo, Bang,” keluh Hendra.

Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas panjang karena tidak habis pikir dengan Jefry yang terlalu santai menghadapi masalah ini.

Untungnya Shinta berhasil membuat kesempatan untuk pengalihan topik, sehingga Jefry bisa diredam.

“Mendingan kita fokus grand opening dulu deh, Bang.”

Hendra setuju, “Eh, iya. Kita masih ada banyak utang janji lho, sama vendor-vendor. Ada banyak yang belum kita tentuin, mau pake siapa.”

Tak bisa mengelak lagi, Jefry pun ikut mengganti topik pembicaraan menjadi perencanaan grand opening restoran Waroeng Kayoe.

“Ya udah, nanti kita bahas kalo udah sampe. Payah kalian semua,” kesalnya.

Setibanya di restoran, Jefry dan Shinta turun duluan dari mobil. Aku ikut turun, tapi baru saja kaki menapak ke konblok, Hendra mengajakku pergi ke minimarket yang letaknya di seberang jalan.

“Temenin gua sebentar, Gas. Mau beli panadol, pusing kepala gua dari tadi,” ajaknya.

Aku menyetujui, paham maksud dari ajakan ini sepertinya bukan hanya sekedar ingin membeli obat sakit kepala.

Benar saja, ketika hendak menyeberang jalan, Hendra mulai bicara serius.

“Menurut lo gimana, Gas?”

Tentu saja aku bingung karena Hendra tiba-tiba saja bertanya seperti itu. Terlalu luas untuk dijawab, meski sebenarnya bisa menjawab sesukaku karena tahu konteks pertanyaan tersebut, “Gimana apanya, Bang?”

“Yaelah, pake tanya lagi. Soal abang lo lah, gimana menurut lo?” ujarnya sambil bercanda.

Baru saja ingin menjawabnya, Hendra melangkah menyeberang jalan sehingga aku mengikuti dan fokus ke jalanan, menoleh kanan-kiri.

Setelah sampai di seberang jalan, aku melanjutkan obrolan sebelumnya.

“Gua nggak ngerti, Bang. Semua udah beda banget sama apa yang gua kira selama ini. Jauh dari ekspektasi.”

Hendra tidak merespon, tapi aku tahu ia mendengarkan, hanya saja mungkin belum tahu ingin berkata apa untuk menanggapi.

Tak berapa lama, kami kembali ke restoran Waroeng Kayoe. Hendra langsung bergabung dengan Jefry dan Shinta sedangkan aku memisahkan diri karena ingin buang air kecil.

Keluar dari toilet, aku bertemu dengan Jeje yang kebetulan sedang lewat.

Ia pun mempertanyakan tentang bagaimana perencanaan grand opening restoran kepadaku.

Lantaran sedang tidak ingin bergabung ke tim, terutama Jefry, aku justru mengikuti langkah Jeje yang berujung pada sisi sebelah restoran. Tempat yang biasa digunakan Jeje untuk bekerja. Sebuah sudut kecil dan gelap.

Kami berdua duduk, ngobrol santai.

“Ngopi ya?” Jeje menawariku karena ia memang sudah memiliki secangkir kopi di meja.

Aku segera menolak karena kebetulan sudah menggenggam sebotol minuman bersoda yang baru saja ku beli dari minimarket tadi.

“Kang..” kataku pelan. “Saya sebenarnya udah lama mau ngomong sama Kang Jeje. Saya minta maaf soal sikap Bang Jefry yang selama ini, menurut saya agak kelewatan ke Kang Jeje sama temen-temen,” ucapku dengan nada serius tapi mencoba santai.

Di sini aku memanggil dia dengan sopan karena usianya yang memang lebih tua dariku.

Mendengar permintaan maafku, Jeje meresponnya dengan bijak, “Ah, santai aja, Gas. Saya mah nggak pernah masukin ke hati. Yang penting bapak sama ibu seneng aja sih kalo saya mah.”

Mulai dari sini, aku menjadi semakin respek dengan Jeje yang menurutku lebih dewasa daripada Jefry. Padahal usia Jefry jauh lebih tua, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan.

Sore harinya di restoran Waroeng Kayoe. Ada banyak pelanggan datang karena kebetulan hari ini libur nasional.

Sedangkan kami berada di dalam kantor yang letaknya di sisi belakang. Jefry tengah melakukan video call bersama Damar dan Sully. Mereka kini tengah berada di luar negeri untuk urusan bisnis.

Jefry memberikan laporan mengenai persiapan grand opening, mengingat sudah semakin mendekati tanggalnya.

“Pokoknya tenang aja, Bos. Semua pasti beres. By the way kalian kembali kesini kapan?” tanya Jefry.

Dari pertanyaan itu, kami mengetahui kalau mereka masih tidak bisa memastikan kapan tepatnya akan pulang, tapi pasti sebelum hari acara grand opening.

Tiba-tiba saja, pintu kantor ada yang mengetuk.

Rupanya itu Jeje yang ingin memberitahu kalau perwakilan komunitas tari jaipong sudah datang. Kebetulan untuk memeriahkan acara grand opening, kami mempunyai agenda mengundang sejumlah penari jaipong.

Dengan angkuh, Jefry berdiri dari kursi duduk, lalu memamerkan kesibukannya kepada Damar dan Sully. Melewati Jeje begitu saja yang sedang berdiri di depan pintu, tidak menghiraukan.

“Oke deh kalo gitu, udahan dulu ya meetingnya kita. Gua ada meeting lanjutan nih,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Sully langsung menimpali, “Gaya lo Jef, Jef!”

Mereka berdua pun tertawa melihat tingkat Jefry yang berlagak seperti bos besar.

Aku melihat wajah Jeje terlihat kurang nyaman, tapi masih berusaha untuk tetap tenang. “Hebat kamu, Kang,” gumamku.

Meskipun terkenal sabar, tapi kalau diperlakukan seperti ini, minimal aku pasti akan memperlihatkan ekspresi kesal.

Beralih ke Shinta, aku juga merasa kalau ia tidak enak dengan Jeje yang diperlakukan seperti itu oleh Jefry. Tapi ia tak ingin terlibat, memilih untuk kembali fokus ke laptop yang ada di pangkuannya.

Merapikan kertas dokumen berserakan di sebelahnya, lalu berdiri menyusul Jefry.

“Misi, A’ Jeje,” sapa Shinta saat melewati Jeje, direspon dengan anggukan kepala.

Memberikan sambutan berbeda, aku mempersilahkan Jeje untuk gabung bersamaku dan Hendra.

“Duduk, Kang.”

Jeje kemudian menerima ajakanku. Kami pun berbincang, bukan membicarakan restoran atau grand opening. Lebih personal, membahas soal keluarga, berita terkini, hingga terkait kota Bandung secara umum.

Tanpa disadari, ternyata aku semakin nyaman ngobrol dengan Jeje. Orangnya kalem, dewasa, dan jelas lebih waras daripada Jefry.

Hendra pun sepertinya merasa demikian.

Tapi suasana berubah menjadi tidak nyaman saat Jeje bertanya tentang tempat tinggal.

“Kalian masih tidur di hotel?” ucapnya.

“Nggak, Kang. Kita sekarang di apartemen, Spring Town, di belakang rumah sakit,” jawabku santai.

Wajah Jeje menunjukkan ekspresi yang menandakan bahwa ia mengetahui sesuatu tentang apartemen itu.

“Lantai berapa?” ia sepertinya masih berusaha untuk positif.

Kali ini Hendra yang menjawab, “Lantai 8.”

“Kenapa kalian pilih di sana?” ucap Jeje dengan nada lebih cemas.

Kami pun menjelaskan bahwa itu kesalahan sekretaris Sully yang hanya asal mencari apartemen di sekitar situ. Ia tidak tahu kalau kondisi apartemennya seperti itu.

“Memangnya kenapa, Kang?” tanyaku.

“Nggak, nggak apa-apa,” kelihatan sekali ia tidak ingin membahasnya.

Namun aku langsung memberitahu Jeje kalau sebenarnya kami sudah mengetahui tentang sejarah dari apartemen tersebut, “Tenang, Kang. Kita udah tau kok. Di situ angker kan? Kita malah udah mulai terbiasa sama teror-terornya.”

Setelah mendengar penjelasanku, Jeje mulai lebih santai. Ia bahkan menceritakan informasi yang diketahui olehnya terkait apartemen itu.

Ia menyarankan agar kami mengajukan permintaan pindah ke Damar dan Sully.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!