Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Laluna meraih ponselnya untuk memeriksa apakah Angga sudah membalas pesannya, namun melihat nomor whatsapp anak pertamanya itu belum aktif membuat wanita paruh baya ini khawatir. Ia bergegas keluar dari kamarnya lalu dengan terburu-buru menghampiri anak keduanya yang masih tertidur.
"Steven, Steven bangun. Ayo cepat bangun!" Serunya begitu ia tiba disana.
Steven menguap lalu meregangkan otot tubuhnya yang masih kaku, melihat Laluna berdiri di sampingnya membuatnya terkejut, sontak ia beranjak duduk dari tidurnya menatap Laluna kebingungan.
"Bagaimana ini, Steven. Kakakmu belum pulang dan ponselnya mati"
"Tenang dulu, Ma. Kakak mungkin sedang mencari Raisa, nanti kita cari ke apartemennya Kak Angga, siapa tahu mereka disana, ya!" Ucap Steven menenangkan Laluna.
"Mendingan sekarang Mama siap-siap, aku juga mau mandi. Habis sarapan kita langsung kesana"
Laluna mengangguk menuruti ucapan anaknya, Steven beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, selang lima belas menit kemudian ia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang telah rapi, aroma parfumnya menghiasi setiap sudut ruangan yang ia lewati. Ia melangkah menuruni anak tangga menuju meja makan yang mana kini Laluna sudah lebih dulu duduk di sana.
"Steven, ayo buruan. Supaya kita cepat-cepat kesana"
"Mama, sabar" ucapnya lembut.
Sementara itu anak yang mereka khawatirkan itu saat ini sedang duduk tenang menatap dedaunan yang bergoyang disepanjang jalan yang mereka lalui. Tak ada percakapan diantara keduanya sebab Raisa memang sedang tampak murung, padahal biasanya Raisa selalu berisik agak suasana menjadi hidup.
Angga sesekali menoleh pada istrinya yang bersandar pada kursi mobilnya sambil terus menatap jalanan panjang itu.
"Apa omongan ku semalam keterlaluan? Apa Raisa benar-benar ingin bercerai dengan ku?" Batinnya khawatir.
Raisa mengusap air matanya beberapa kali, tampaknya sejak tadi ia menangis dalam diam hingga tak seorang pun dari kedua lelaki itu menyadarinya. Wanita ini masih mengingat perkataan suaminya yang mengatakan kalau ia berharap dirinya mati.
"Memang masuk akal jika dia ingin aku mati, karena jika tidak dia tidak akan menyuruhku mencari cincin itu, karena dia tahu itu pasti mustahil. Aku bahkan hampir kehilangan nyawaku untuk mengambil cincinnya, kalau saja Pak Suparmin dan anaknya tak melihatku, mungkin sekarang aku sudah mati membusuk dimakan hewan-hewan air asin itu" batinnya.
Kembali lagi pada Steven dan Laluna yang sedang sarapan, sendok ditangan mereka berdenting kala benda itu menyentuh permukaan piring, biasanya meja makan berisi empat orang sementara kini hanya ada mereka berdua, sementara itu pembantu rumah tangga tetap menyiapkan dua piring lainnya diatas meja. Steven menatap piring kosong itu beberapa waktu, ia mungkin saja kesepian sebab sudah lima tahun lebih selalu ada Raisa dan Steven yang menemaninya sarapan setiap paginya meski mereka tak sering bertegur sapa.
"Stevennn, ayo dimakan sarapannya" tegur Laluna saat mendapati Steven termenung sementara sarapannya masih tersisa banyak.
"Ma, aku sudah kenyang. Aku keluar dulu mencari udara segar!" Ucapnya lalu beranjak pergi dari meja makan.
"Yasudah kalau begitu, Mama juga sudah selesai makan. Kita berangkat saja sekarang. Bi, tolong beresi meja makannya yah!" Titahnya pada para pembantu rumah tangganya tersebut.
Steven hanya menjawab singkat dan keduanya segera bergegas menuju halaman, Steven memutar kunci mobilnya untuk menyalakan mesin sebelum keempat roda mobilnya berputar mengarahkan mereka menuju apartemen millik Angga yang berada dibelakang perusahaan mereka. Apartemen tersebut memang sudah lama tidak dihuni, Angga hanya datang sesekali kesana jika ia sedang malas bertemu Raisa dirumah. Namun kali ini Steven mengira kalau Steven pergi kesana atau mungkin saja ia sedang bersama Raisa saat ini.
"Ma, kok bisa sih mereka berdua tidak ada kabar sama sekali. Apalagi Raisa, tidak biasanya dia begini" ucap lelaki muda ini pada wanita paruh baya yang duduk di kursi sebelah kursi kemudinya.
"Huffff" Laluna membuang nafas kasar.
"Jangan membahas anak itu pada Mama, menantu gagal, jadi ibu gagal, jadi istri juga gagal. Mama benar-benar nggak habis pikir kenapa dulu kamu begitu menyukainya dan sekarang, malah kakak kamu yang menikahinya. Kamu tau tidak, Steven. Dia itu punya aura yang buruk, setiap melihat dia Mama rasanya mual, penampilannya tidak pernah enak untuk dilihat" ucap wanita paruh baya ini mengejek menantunya tersebut.
"Ma, itu kan karena kakak tidak memberikan rasa aman dan nyaman pada Raisa. Dulu Raisa itu cantik, ramah, wangi. Senyumnya juga tawanya bahkan bisa memikat kupu-kupu untuk hinggap. Intinya, setelah menikah dengan kak Angga dia bukan dirinya lagi" timpal Steven agar Laluna tak salah paham pada mantan kekasihnya itu.
Wanita paruh baya itu hanya mendengus kesal, setiap kali Steven menyebut nama Raisa ia selalu menyunggingkan bibirnya. Ia memang sangat membenci Raisa sejak Steven mengenalkannya sebagai pacarnya, terlebih lagi setelah ia mengenal Arni yang suka memanas-manasi situasi membuat Laluna semakin membenci Raisa.
Namun berhubungan keadaan Angga yang mengalami cacat pada kedua kakinya dan Raisa yang dengan sabar mengurusnya tanpa keluhan membuatnya tak ingin melepaskan Raisa, sebab jika ia mempekerjakan orang lain untuk mengurus anaknya tersebut akan memakan lebih banyak biaya.
"Mama jangan jahat-jahat terus sama Raisa, bagaimana pun juga kan dia istrinya kak Angga dan juga kakaknya Arni, calon istriku"
"Heummm" gumam wanita itu malas.
Begitu keduanya sampai di basement, mereka keluar dari mobil menuju unit apartemen milik Angga, namun sebelum itu mereka perlu meminta kartu akses unit tersebut dari resepsionis karena selalunya Angga memang selalu menitipkannya disana. Begitu Laluna menempelkan kartu tersebut pada pintu smart door lock tersebut, semua lampu otomatis menyala, keduanya masuk mencari apakah ada tanda-tanda Angga datang kesana. Namun melihat debu pada meja, TV juga perabot lainnya membuat Laluna terjatuh duduk.
"Kakak kamu tidak datang kesini, lalu dimana dia sekarang?"
Melihat Laluna yang menangis memegangi kepalanya membuat Steven merasa iba, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Angga dan Raisa kembali, berharap seseorang akan mengangkat panggilannya.
"Bagaimana?" Laluna bertanya pada Steven yang tampak diam menatap layar ponselnya.
"Mereka gak aktif!"
"Haaaa, jangan-jangan mereka berdua bunuh diri? Steven, kamu tahu kakakmu sangat menyukai Arni, sementara Raisa sangat menyukaimu. Apa mungkin mereka melakukan hal itu setelah mengetahui kalau kalian sudah bertunangan?"
"Mama jangan berkata seperti itu, Kak Angga dan Raisa tak sebodoh itu. Aku yakin mereka baik-baik saja saat ini. Hanya saja mungkin mereka tidak mau bertemu dengan kita! " jawab lelaki itu setengah berteriak.
Hampir putus asa karena tak kunjung menemukan pasangan suami istri itu, tiba-tiba Steven teringat akan sopir pribadi Angga yang juga ikut menghilang sejak kemarin.
"Ma, sopirnya pasti tau dimana mereka sekarang!" Serunya seolah tengah menemukan secercah harapan.
"Benar, tapi Mama tidak punya nomornya" balas Laluna.
"Aku juga, apa pembantu rumah tangga kita ada yang menyimpan nomor sopir itu ya? Atau orang kantor. Ma, Mama tunggu disini, aku akan cari informasi tentang Kak Angga dan Raisa ke kantor, aku yakin dia pasti meninggalkan pesan para seseorang"
"Yasudah, hati-hati ya Nak. Mama pusing, ingin beristirahat sebentar"
***
"Hacciuuuu" Angga menutupi mulutnya menggunakan syal yang sejak pagi tadi dikenakannya.
Ia menggosok hidungnya beberapa kali hingga memerah sebab cuaca tiba-tiba dingin.
"Tolong matikan AC-nya" titah Raisa pada sopir pribadi suaminya tersebut.
Lelaki itu memutar tombol AC mobil tersebut ke arah off sementara Raisa memeriksa kantong kursi mobil untuk mengambil minyak angin yang biasanya selalu ia sediakan di setiap mobil Angga untuk berjaga-jaga.
"Gunakan ini!" Ucap menyodorkan minyak angin berukuran kecil itu pada suaminya.
Angga masih saja cuek, ia memalingkan wajahnya kearah lain seolah ia sedang bertingkah jual mahal pada istrinya tersebut. Merasa kesal karena Angga masih saja bersikap dingin padanya bahkan tak menunjukkan sedikit pun rasa penyesalan atas ucapannya semalam ia tak ingin lagi menatapnya lebih lama.
"Ambil kalau perlu!" Ujarnya meletakkan benda tersebut diatas kedua kaki suaminya lalu kembali bersandar memejamkan matanya. Sang sopir yang menyaksikan kejadian tersebut melalui sebuah cermin diatas kepalanya tersenyum puas karena pada akhirnya Raisa dapat bersikap tegas pada Angga, berbeda dengan Angga yang langsung menoleh pada Raisa yang tak lagi memperhatikannya, sikap tenang wanita itu justru membuat lelaki itu marah hingga mengepal kedua tangannya dengan kuat.
"Bagus, dia benar-benar sudah berani. Sepertinya setelah meminum terlalu banyak air merubahnya jadi wanita yang lebih sialan lagi!"