Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pancaran matahari pagi merayap hangat, menyinari halaman paviliun tempat Bima tinggal.
Sisa-sisa kekacauan akibat teror preman bayaran semalam telah dibersihkan pemuda itu dengan cermat.
Bima duduk tenang di atas kursi plastik, berhadapan dengan meja kecilnya.
Layar ponselnya menyala, menampilkan aplikasi pesan instan yang langsung ia buka.
"Sudah saatnya memberikan kejutan kecil untuk mereka," gumamnya lirih dalam hati.
Ia melampirkan video rekaman ancaman serta aksi perusakan dari kedua preman semalam.
Video berdurasi pendek itu langsung ia layangkan ke nomor pribadi Edi.
Tak lupa, ia menyematkan sebaris kalimat pendek namun telak.
"Bagaimana hadiah malam dari orang suruhanmu, Pak Edi?" ketiknya mantap.
Tanpa keraguan secuil pun, ibu jarinya menekan tombol kirim.
Sent...
Pesan itu melesat cepat, langsung berubah menjadi centang biru tanda telah dibaca.
Jauh dari tempat itu, di ruang kerjanya yang mewah, Edi tengah menyesap kopi paginya.
Bzzrt...
Ponsel di atas meja mendadak bergetar hebat.
Edi melirik sekilas, diliputi rasa penasaran yang berpadu dengan kecemasan.
Ia membuka pesan dari nomor tak dikenal yang menerobos pagi butanya.
Sebuah video berdurasi singkat terpampang nyata di layar.
Klik...
Dengan jemari yang gemetar halus, ia memutar video tersebut.
Suara bentakan kasar preman suruhannya berpadu dengan pemandangan kamar Bima yang porak-poranda terekam jelas.
"Sialan!" maki Edi tertahan, melampiaskan emosinya dengan membanting cangkir kopi di hadapannya.
Prang!
Pecahan keramik berhamburan, sementara cairan pekat kopi mengalir membasahi permukaan meja.
Wajah Edi kontan memerah padam, tersulut oleh amarah dan kepanikan yang mencengkeram.
"Anak sialan itu benar-benar licik, dia selangkah lebih maju dari kita!" geramnya bergetar penuh murka.
Ia sangat sadar, jika video itu sampai jatuh ke tangan penegak hukum, riwayat mereka tamat di balik jeruji besi.
Tanpa membuang sedetik pun, ia menyambar ponselnya untuk menghubungi Hendra.
Triliing...
Suara dering telepon memecah keheningan di ruang kerja Hendra yang megah.
Hendra, yang tengah membolak-balik koran pagi, menyambar panggilan itu dengan nada jengkel.
"Ada apa pagi-pagi menelepon, Edi?" tanyanya ketus.
"Pak Hendra! Kita hancur!" pekik Edi di ujung sambungan, napasnya memburu penuh kepanikan.
Hendra mengerutkan dahi, kebingungan menyergap mendengar nada histeris rekan bisnisnya.
"Hancur bagaimana maksudmu? Jangan bicara ngawur!" bentak Hendra, tak terima.
"Anak itu... Bima mengirimkan video rekaman teror semalam ke ponsel saya!" terang Edi tersengal-sengal.
"Dia mengancam akan membongkar semuanya jika kita tidak menuruti kemauannya!" lanjut Edi hampir putus asa.
Deg!
Dada Hendra seolah dihantam palu berat mendengar kabar mengejutkan itu.
Lembaran koran di tangannya meluncur bebas, jatuh lemas ke atas lantai marmer yang mengilap.
"Anak kurang ajar... beraninya dia memeras darah dagingnya sendiri!" maki Hendra dengan suara bergetar.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang, Pak? Waktu kita menipis sebelum dia bertindak nekat melapor!" desak Edi penuh tekanan.
Hendra menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah, meredam gejolak amarah yang mendesak.
"Kabulkan permintaannya!" potong Hendra dengan nada sarat keputusasaan.
"Maksud Bapak... sepuluh miliar rupiah tunai?!" Edi terkesiap tak percaya.
"Mau tidak mau kita harus bayar daripada seluruh aset disita dan kita mendekam di penjara!" bentak Hendra geram.
Edi terpekur kaku, menyadari mutusnya titah dari sang atasan.
"Atur pertemuan secepatnya dengan anak itu, dan pastikan tidak ada celah kesalahan lagi!" perintah Hendra telak.
Pip...
Sambungan terputus seketika.
Edi menghempaskan ponselnya ke atas meja, melampiaskan rasa frustrasi yang membuncah.
Tak pernah disangkanya, pemuda berusia dua puluh tahun yang dulu diusirnya tanpa sisa kini berbalik memojokkan mereka tanpa ampun.
Di tempat lain, Bima merekah senyum tipis mendapati balasan pesan dari Edi.
"Atur jadwal pertemuan sekarang, kami setuju dengan syaratmu," demikian bunyi pesan dari seberang.
Dengan tenang dan terukur, Bima mengetikkan balasan.
"Temui aku di kafe dekat stasiun kota jam dua siang ini. Datang sendiri atau dokumen tersebar," balas Bima tegas.
Layar ponselnya ia gelapkan, lalu menyelipkannya ke dalam saku jaket.
Ia bangkit dari kursi plastik, merapikan pakaiannya agar tampak bersahaja namun berwibawa.
"Langkah penentu pertama akan segera dimulai," batinnya penuh keyakinan.
Bima melangkah mantap meninggalkan paviliun, bersiap menyongsong pertemuan penting itu.
Deru bising kendaraan ibu kota menyambut setiap ayunan langkahnya.
Sedikit pun gentar tak menghinggapi dadanya; yang tersisa hanyalah bara penuntut keadilan dan pembalasan setimpal.