NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: DI BAWAH KABUT NITROGEN

BAB 13: DI BAWAH KABUT NITROGEN

Desisan gas nitrogen cair bertekanan tinggi terdengar bagaikan raungan ular raksasa di sepanjang lorong sempit menuju Ruang Arsip Bawah Tanah Dua. Suhu udara merosot drastis hingga ke titik membeku hanya dalam hitungan detik.

Kabut putih tebal merayap pekat di atas lantai keramik, menyelimuti langkah kaki Reno dan dr. Sara yang melaju cepat menembus kegelapan lorong yang kini hanya diterangi pendar merah lampu darurat.

"Reno! Gunakan masker oksigen ini sekarang!" seru dr. Sara menembus desisan gas. Tangannya yang dingin dengan sigap memasangkan sungkup oksigen portabel ke wajah Reno, lalu memasang satu lagi untuk dirinya sendiri.

"Gas nitrogen ini mendorong keluar seluruh molekul oksigen di udara! Jika sungkupmu terlepas, kamu hanya punya waktu kurang dari tiga puluh detik sebelum kehilangan kesadaran!"

Reno mengangguk cepat, merapatkan cengkeraman tangannya pada batang besi pertahanan diri.

Di sampingnya, dr. Sara memegang pisau bedah khusus dan tabung indikator reaksi kimia di dalam tas kecilnya.

Langkah mereka berderap mantap menembus kabut putih yang makin tebal dan membekukan.

Pintu baja berat menuju ruang arsip bawah tanah dua tampak menganga sedikit. Asap putih tipis membumbung keluar dari celah tersebut, membawa aroma bahan kimia volatil yang sangat dikenal oleh dr. Sara senyawa prekursor racun saraf dosis tinggi.

Klek.

Reno mendorong pintu baja itu hingga terbuka lebar, melangkah masuk dengan posisi siaga penuh.

Ruang arsip seluas lima puluh meter persegi itu tampak berantakan. Ratusan rak besi berisi berkas-berkas tua tahun 2014 tampak terbuka acak.

Di tengah-tengah ruangan, di bawah pendar lampu sorot darurat yang tergantung di langit-langit, berdiri sesosok wanita bertubuh jangkung dan anggun.

Wanita itu mengenakan jas laboratorium putih berlapis apron pelindung kimia tebal.

Wajahnya ditutupi masker medis hitam dan kacamata Google taktis, sementara jemarinya yang terbungkus sarung tangan steril memegang sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam milik almarhum Paman Aris.

Di atas meja besi di hadapannya, tergeletak sebuah kotak pendingin khusus berstempel lambang medis kuno keluarga Maheswari.

"Tepat waktu, Detektif... dan Dokter Sara," suara wanita itu bergema teredam dari balik masker medisnya, terdengar begitu tenang dan dingin di tengah kepulan kabut nitrogen yang kian membubung tinggi.

dr. Sara melangkah maju, dadanya berombak menahan gejolak emosi.

"Lepaskan buku catatan Paman Aris! Dan buka maskermu! Siapa kamu sebenarnya yang berani memakai identitas ibuku dan pisau bedah keluarga Maheswari?!"

Wanita itu terkekeh pelan sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia meletakkan buku catatan hitam itu di atas kotak pendingin, lalu perlahan mengulurkan tangannya melepaskan Google taktis dan masker medis hitamnya.

Begitu kain penutup wajah itu terlepas, dr. Sara terperanjat hebat. Lutut sang dokter forensik lemas seketika, matanya membelalak tak percaya.

"Dr... dr. Vivian...?" bisik dr. Sara dengan suara bergetar parah, nyaris tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Dokter Vivian Kusuma?! Mantan wakil direktur riset laboratorium VPCI yang mengundurkan diri lima tahun lalu?!"

Reno memicingkan mata tajam, mengingat deretan rekam jejak nama-nama senior di agensi. dr. Vivian Kusuma adalah murid terdekat almarhumah Eleanor Maheswari ibu kandung Sara sekaligus peneliti utama yang mendampingi Aris Devano dua belas tahun lalu saat VPCI pertama kali dirintis.

"Bukan mengundurkan diri, Sara manis..." potong dr. Vivian dengan senyuman miring yang mengerikan di wajahnya yang dihiasi garis-garis keriput halus. "...ibumu dan Aris Devano yang mendepakku keluar dari proyek ini secara pengecut! Mereka menyegel penelitian racun saraf sintesis yang kubuat, menyembunyikan formula penyempurnanya, lalu berpura-pura menjadi pahlawan keadilan di atas nama VPCI!"

"Proyek itu adalah senjata pembunuh massal, Vivian!" pangkas Reno dengan suara rendah dan berat. "Kecelakaan mobil yang menewaskan orang tuaku dua belas tahun lalu... kamu yang merancang sabotase rem dan ledakan bahan kimia di mobil mereka, bukan?!"

Mata dr. Vivian berkilat penuh rasa gila yang obsesif.

"Ayahmu mengetahui keberadaan sampel racun itu dan berniat menyerahkannya ke kepolisian! Dia ingin menghancurkan seluruh hasil riset seumur hidupku! Aku hanya membersihkan kerikil yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan!"

dr. Vivian menyambar pisau bedah scalpel micro-serrated nomor sebelas yang berkilau tajam di atas meja besi.

"Dan Paman Arismu... pria tua bodoh itu bersembunyi selama belasan tahun hanya untuk membawa buku catatan ini kembali padaku malam ini," lanjut dr. Vivian seraya membelai buku kulit hitam milik Paman Aris.

"Di dalam buku ini, terdapat kunci aktivasi molekuler untuk melengkapi racun saraf sempurna yang kubuat. Dengan racun ini, tidak ada satu pun dokter forensik di dunia termasuk kamu, Sara yang bisa mendeteksi jejak pembunuhan di meja otopsi!"

"Sainsmu bukan ilmu pengetahuan, Vivian! Itu adalah kejahatan murni!" teriak dr. Sara murka, melangkah maju dengan pisau bedahnya sendiri.

"Jangan mendekat!" gertak dr. Vivian seraya memutar sakelar di dinding.

BZZZT!

Desisan gas nitrogen semakin memekakkan telinga. Katup pembuangan utama terbuka penuh, menyemprotkan gelombang kabut putih pekat bertekanan tinggi yang langsung menghalangi pandangan mata dan mengikis habis jarak pandang di antara mereka.

Suhu di dalam ruangan merosot hingga mencapai minus sepuluh derajat Celsius! Lapisan es tipis mulai membeku di atas kacamata dan baju mereka.

"Sara! Awas!" teriak Reno seraya menarik dr. Sara mundur saat bayangan dr. Vivin menerjang maju dari balik kabut gas!

SREET!

Ujung pisau bedah dr. Vivian menyambar kilat, merobek selang oksigen portabel yang terhubung ke masker dr. Sara!

"Uhuk! Uhuk!" dr. Sara tersungkur ke lantai, terbatuk-batuk hebat saat gas nitrogen cair dingin langsung terhirup masuk ke dalam paru-parunya, merampas seluruh pasokan oksigen dalam sekejap!

"Sara!" jerit Reno. Tanpa ragu satu detik pun, Reno melepaskan masker oksigen miliknya sendiri dan memasangkannya secara paksa ke wajah dr. Sara yang mulai membiru!

"Reno... jang... jangan..." bisik dr. Sara lemah, mencoba menepis masker itu kembali ke wajah Reno, namun Reno menahannya dengan kuat.

Kini, Reno berdiri di tengah ruangan yang penuh kabut nitrogen tanpa pelindung pernapasan sama sekali. Napasnya langsung tertahan, otaknya mulai kekurangan oksigen, dan kesadarannya bergoyang hebat. Pusing dahsyat yang membakar pelipisnya terasa sepuluh kali lipat lebih menyiksa.

Dari balik kabut putih, dr. Vivian tertawa gila seraya mengayunkan pisau bedahnya lurus mengincar dada Reno.

"Matilah bersama keadilan palsumu, Detektif!"

Dalam kondisi kritis tanpa oksigen dan terancam tewas dalam waktu belasan detik, Reno membuang besi pertahanan dirinya.

Ia membiarkan pisau bedah dr. Vivian merobek bahu kirinya, lalu dengan sisa tenaga dan kesadarannya yang kian memudar, jemari bertelanjang milik Reno mencengkeram erat pergelangan tangan kanan dr. Vivian yang memegang pisau!

Kulit bertelanjang Reno menyentuh langsung bekas luka goresan kimia lama di pergelangan tangan dr. Vivian.

DEG!

Hantaman psychometry kali ini meledak begitu dahsyat di dalam kepala Reno yang sedang kehabisan oksigen! Sensasi kilas balik meledak bagaikan gunung berapi yang menghancurkan ruang dan waktu kesadarannya!

Reno dilempar ke dalam ingatan malam tragedi kecelakaan dua belas tahun lalu.

Ia melihat dr. Vivian muda berdiri di dalam garasi remang-remang, merusak selang rem mobil orang tua Reno dengan tangannya sendiri.

Ia melihat detik-detik saat mobil orang tuanya meluncur tak terkendali dan menghantam tebing batu hingga meledak!

Namun, di tengah gelombang memori kelam tersebut, penglihatan psychometry Reno menangkap satu rincian taktis yang baru saja terjadi lima menit lalu di dalam ruang arsip ini: dr. Vivian menyimpan tombol pemutus darurat katup nitrogen di dalam saku jas laboratorium bagian dalam kanan!

BRAK!

Kesadaran Reno tersentak kembali ke realita! Pandangannya sudah menghitam di tepi mata, fisiknya nyaris roboh sepenuhnya akibat kehabisan oksigen.

"Aku... sudah melihat semuanya, Vivian..." bisik Reno dengan suara serak yang nyaris habis.

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Reno menarik pergelangan tangan dr. Vivian secara mendadak, membanting tubuh wanita itu ke lantai besi yang membeku, lalu meneroboskan jemarinya masuk ke dalam saku dalam jas laboratorium kanan dr. Vivian!

Jemari Reno menekan tombol pemutus darurat berlampu hijau!

BIP! B B BIP!

Suara desisan gas nitrogen cair mendadak terhenti seketika! Katup pembuangan tertutup otomatis, dan blower pengisap udara darurat di langit-langit menyala meraung-raung, menarik keluar seluruh kabut putih pekat dan mengalirkan kembali pasokan udara bersih dari luar!

WUUUSHHH!

Udara segar berhembus masuk. Reno tersungkur di samping dr. Sara, menghirup udara bersih secara serak dan terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar saat oksigen kembali mengaliri pembuluh darahnya.

dr. Sara yang sudah membaik refleks merangkak mendekati Reno, memeluk bahu sang detektif dan menekan luka di bahu Reno menggunakan kain kasa steril. Air mata lega menetes dari sudut mata sang dokter forensik.

"Reno! Kamu selamat... kamu berhasil..." bisik dr. Sara dengan suara bergetar haru.

Di lantai besi yang dingin, dr. Vivian merintih kesakitan saat Bara dan lima personel keamanan VPCI yang berhasil menjebol pintu tangga menerobos masuk dengan senjata teracung. Bara dengan sigap mengunci kedua tangan dr. Vivian dengan borgol baja yang tebal.

"Amankan wanita ini dan kotak pendingin itu!" perintah Bara tegas pada timnya.

dr. Vivian yang sudah terikat menatap Reno dan dr. Sara dengan mata memerah murka.

"Kalian tidak akan pernah bisa menghapus riset ini! VPCI dibangun di atas darah dan racun!"

Reno perlahan menegakkan tubuhnya dengan bantuan dr. Sara. Sang detektif mengambil buku catatan kecil bersampul kulit hitam milik Paman Aris yang tergeletak di atas meja, memandangnya dengan tatapan duka yang mendalam.

"VPCI dibangun untuk membongkar kebohongan seperti milikmu, Vivian," kata Reno pelan namun sarat akan penekanan yang tajam. "Dan mulai hari ini, sejarah kelam agensi ini resmi kita bersihkan."

Pintu ruang arsip terbuka lebar. Sinar lampu koridor utama memancarkan cahaya terang yang menyapu kegelapan lantai bawah tanah.

dr. Sara mengikat perban di bahu Reno, menatap mitranya dengan senyuman hangat dan rasa percaya yang abadi.

Tragedi dua belas tahun lalu yang merenggut orang tua Reno dan membayangi keluarga Maheswari akhirnya terkuak sepenuhnya di bawah ketajaman psychometry dan kepresisian ilmu medis forensik.

Reno Devano menatap buku catatan di tangannya, lalu beralih menatap dr. Sara dan tim VPCI yang berdiri di sampingnya.

Kegelapan masa lalu telah sirna, dan di atas meja otopsi kebenaran, fajar baru bagi VPCI akhirnya resmi terbit.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!