Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KALI INI AKU TIDAK SENDIRIAN
Dan beberapa saat kemudian, Alya memberes kan kotak P3K, sementara Anaxa tetap memperhatikan nya.
Keadaan pria itu sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, namun rasa lelah tetap hinggap di dirinya. Seperti beban berat baru saja dilepas dari pundaknya.
Sekali lagi Anaxa meraba dahinya yang sudah di perban. Dia baru merasakan sakit akibat tindakannya tadi. Meringis pelan.
"Jangan dipegang terus, Anaxa."
"Ya..." Ucap Anaxa dengan pasrah.
Alya kembali ke hadapan Anaxa. Gadis itu menyodorkan segelas air putih, dan Anaxa menerimanya dan meminumnya.
"Terimakasih..." Anaxa kembali menyodorkan gelas minumnya yang kosong. Dia menyender kan punggung nya ke bisa sofa. Terdiam. Kembali memikirkan semuanya.
Dan akhirnya Anaxa bertanya kepada Alya. "Apakah.. Aku boleh bercerita lagi?"
Gadis itu langsung mengangguk. Lekas duduk di sebelah Anaxa dan siap mendengarkan.
"Mengenai amplop coklat..."
"Ya?"
"Ada seseorang entah siapa aku gak tau. Akhir-akhir ini mengawasi perilaku dan nerror diriku. Aku gak tau gimana caranya seseorang bisa tahu aku menangis di malam hari ataupun membuka tutup aplikasi pesan tanpa mengirim satupun pesan..." Anaxa melihat wajah Alya yang terlihat terkejut saat mendengarkan ceritanya. Kemudian Anaxa menyambung perkataannya. "Aku kira ada kamera tersembunyi di kamar kos. Aku udah mencari-cari hingga ke sudut ruangan, tapi tidak menemukan apa-apa..."
Anaxa menarik napas berat lagi. "Aku juga sempat mengira kalau aku gak berada di kos, terror amplop coklat itupun akan berhenti. Tapi... Esok paginya aku malah menemukan amplop itu di depan kamar kos Keenan dan Dimas waktu aku menginap semalam."
"Bagaimana bisa..." Tanya Alya
Anaxa hanya menggelengkan kepala nya
"Eh tunggu... Jangan-jangan alasan kamu mau menginap di kos ku.." Alya menatap Anaxa dengan bola matanya yang melebar. Gadis itu tiba-tiba menyadari suatu hal setelah dengar potongan informasi dari cerita Anaxa.
Hanya senyum lemah yang terpatri di wajah Anaxa. "Maaf... Aku cuma ingin mencari tahu apakah amplop tersebut tetap mengikuti ku kemana-mana. Jadinya... Maaf." Anaxa sedikit menundukkan wajahnya.
Alya kini terdiam setelah mendengar perkataan Anaxa. Dan beberapa saat kemudian, hanya keheningan yang mengisi ruang itu. Anaxa jadi dihinggapi rasa bersalah. "Maafkan aku karena bersikap bodoh seperti ini. Maaf juga sudah bohongin kamu..."
Anaxa mengangkat lagi kepalanya dan menatap Alya yang masih terdiam. "Kamu boleh marahin aku. Atau kamu boleh pukul aku karena aku kelewatan..." Ucap Anaxa yang mengira kalau diam nya Alya merupakan tanda kemarahan dari gadis itu.
Tapi tanpa di sangka, Anaxa malah menangkap tatapan Alya yang melembut. Gadis itu kembali menggenggam tangan Anaxa. "Aku gak marah sama kamu kok. Aku justru khawatir karena sempat lihat kamu berantakan dan setres banget di kelas. Ternyata karena masalah terror amplop coklat itu ya?"
"Ya... Soal setres urusan kerja... Sebenarnya juga bohong. Hah... Aku bahkan tanpa pikir panjang membuang ponselku dan langsung mengganti laptop kerja ku karena aku pikir kedua perangkat itu bisa menyadap dan mengawasi gerak-gerik ku..." Secara refleks Anaxa menjulurkan tangan untuk memijat kepalanya yang terasa pusing, namun langsung di tahan oleh Alya.
"Anaxa..."
"Hah... Maaf lupa saat ini dahi ku terluka."
"Gak papa..." Ucap Alya dengan penuh sabar. Tangannya tetap menggenggam tangan Anaxa, memberikan kehangatan dan rasa aman.
"Terimakasih banyak sudah sebaik ini... Bahkan disaat aku berbohong dan tanpa sadar juga menyeret mu ke dalam masalah ku. Aku..."
"Anaxa." Panggil gadis itu lagi.
"Ya?"
"Masih ingat perkataan aku sebelumnya? Kamu tidak perlu jadi kuat sendiri. Kamu bisa cerita."
Namun kali ini perkataan Alya malah dibalas oleh gelengan kepala Anaxa "Tapi aku takut jika masalahku sampai melibatkan mu dalam bahaya... Atau bahkan melukai... Mengancam kamu bahkan Keenan dan Dimas juga." Anaxa tersenyum pahit. "Karena aku gak pernah punya teman yang benar-benar baik seperti kalian... Tak pernah sama sekali."
Alya balas menatap Anaxa dengan tatapan yang dalam. Kemudian gadis itu mengulas senyum tipis. "Karena sekarang aku tahu tentang mu, mungkin aku bisa bantu sedikit."
"Ta-tapi..." Anaxa awalnya ingin membantah. Namun, Alya tetap bersikeras.
"Tambah satu orang, bukannya jadi lebih cepat dalam menyelesaikan masalah?" Ucap gadis itu sambil tersenyum. Dan dengan cepat Anaxa langsung menimbang-nimbang ucapan Alya.
Dan akhirnya Anaxa menyetujui Alya untuk membantunya setelah berpikir kalau ucapan Alya ada benarnya.
"Baiklah. Kamu boleh membantu. Tapi, jika keadaan nya semakin berbahaya, tolong tetap prioritaskan keselamatan dirimu sendiri."
Tanpa pikir panjang, Alya menyetujui ucapan Anaxa. Gadis itu kembali tersenyum manis, hingga Anaxa tanpa sadar juga mengulas senyum tipis di wajahnya.
Alya yang melihat senyum Anaxa menjadi sedikit lega karena keadaan pria itu sudah menjadi lebih baik. Dan dada gadis itu, rasanya... Berdetak jauh lebih cepat..
"Oh ya, hari ini kelas jam berapa? Aku lupa." Tanya Anaxa kemudian, membuat Alya tersadar dari lamunan singkat nya.
"Jam 9:20. Kelas bu Aglaea lagi sampai jam 13:00." Ucap Alya sambil mengecek jadwal di ponselnya. Namun siapa sangka, Anaxa langsung mengerang setelah mendengar perkataan Alya, hingga gadis itu kebingungan.
"Kenapa lagi, Anaxa?"
Yang ditanya malah tertawa canggung. Lalu berkata "Aku hanya sedang malas mengikuti kelasnya... Ayok bolos aja? Atau kamu mau ke kos aku untuk membaca sendiri isi kertas-kertas jahanam di dalam amplop coklatnya?"
Alya yang tadinya khawatir langsung terkekeh pelan setelah mendengarkan perkataan Anaxa. Dengan iseng, gadis itu berkata "Kamu mendadak demam atau gimana kah? Dimana Anaxa yang biasanya aku kenal? Sejak kapan pria yang terkenal rajin dan ambisius di akademik malah ingin bolos kuliah?"
"Hilang digantikan alien." Dan perkataan itu sukses membuat Anaxa dan Alya tertawa geli.
Anaxa bangun dari duduknya, kemudian menjulurkan tangannya ke arah Alya. "Jadi... Ingin bolos bersama gak?" Senyum yang semakin lebar terpatri jelas di wajah Anaxa.
Dan tentu saja Alya menyambut uluran tangan Anaxa. "Tentu saja. Ayok bolos." Tawa juga kembali terdengar dari mulut Alya
Setelah itu mereka berdua bersiap-siap untuk pergi ke kos Anaxa. Alya kembali meminjamkan pakaian kakak lelakinya untuk dipakai Anaxa. Sedangkan Alya memakai celana panjang dan blouse lengan panjang.
Namun siapa sangka, Alya malah iseng menanyakan pendapat Anaxa tentang penampilannya. "Anaxa. Gimana. Menurut kamu, aku cantik atau enggak?" Gadis itu sambil tertawa pelan.
Ditanya seperti itu, mata Anaxa langsung menilai penampilan Alya dari atas sampai bawah. Dengan jujur, Anaxa berkata. "Kamu bukan cantik. Tapi manis."
"Hei..." Mendadak Alya malah salting berat karena ucapan Anaxa. Gadis itu tidak mengira kalau Anaxa akan menjawab terus terang seperti itu. "Makasih Anaxa."
"Ya." Anaxa menganggukkan kepala. Kemudian siap menjulurkan tangannya untuk membuka pintu kos an Alya. Dan sejujurnya terdapat sedikit rasa cemas jika teori liarnya itu benar-benar terbukti.
Anaxa kembali menghela napas.
Siap tak siap, dia pun membuka pintu lebar-lebar. Dan apa yang didapatkan pria itu membuatnya dirinya sangat terkejut.