NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Lan Shuang tidak menjawab. Rahangnya mengeras, dan jari-jarinya yang pucat menekan telapak tangan sampai buku-bukunya memutih. Ia merentangkan kedua tangan ke samping, dan air dari sebuah kendi di sudut panggung mengalir naik mengikuti geraknya, disusul tetesan embun di rumput, lalu kelembapan di udara itu sendiri. Dalam tiga tarikan napas, belasan tombak air melayang mengelilingi Yu Tian dalam lingkaran yang bergerak berlawanan arah.

"Menghindar saja tidak akan membuatmu menang." Suaranya rendah dan bergetar tipis di ujungnya. "Berhentilah mempermainkan aku."

Tombak-tombak itu meluncur bergantian dari segala sudut. Yu Tian melangkah ke kiri dan menunduk, melompat sedikit ke atas, memutar tubuh setengah putaran, dan setiap tombak lewat sejengkal dari kulitnya, memotong udara dengan desis dingin. Satu tombak menggores pipinya, tipis dan perih, dan darah menetes sampai ke dagu. Ia mengusapnya dengan ibu jari tanpa mengubah wajah.

'Qi-ku sekarang tiga kali lipat dari kemarin, tapi gadis ini lima tingkat di atasku. Satu pukulan telak dari tombak sebesar itu cukup menembus bahuku. Hemat. Biarkan dia yang kehabisan napas lebih dulu.'

Dari tribun terdengar teriakan terkejut ketika tombak ketujuh nyaris menembus punggungnya, dan Yu Tian hanya menggeser pinggang setengah jengkal untuk membuatnya lewat.

Wajah Lan Shuang memerah dari leher sampai ke telinga, dan keringat mulai membasahi pelipisnya. Ia menurunkan kedua tangan, menarik napas panjang, lalu menghentakkan telapaknya ke lantai panggung.

Seluruh air di sekeliling mereka bergolak, naik, dan menyatu di atas kepalanya menjadi sebuah bayangan besar. Perlahan bayangan itu mengambil bentuk, lunas panjang, tiang layar tinggi, dan haluan runcing yang berkilau dingin oleh lapisan es tipis: sebuah kapal air setinggi dua kali orang dewasa, melayang di udara dengan buritan menghadap langit. Murid-murid di tribun berdiri serentak dengan mulut menganga, dan Gu Chen mundur satu langkah dari tepi panggung.

"Kapal Penghancur Ombak!" Lan Shuang mengayunkan tangannya ke depan, dan kapal itu meluncur lurus ke arah Yu Tian dengan suara deru yang membuat telinga berdenging.

Yu Tian membeku sebentar, lalu menekuk tubuhnya ke belakang sampai punggungnya hampir menyentuh lantai. Haluan kapal itu melewati dadanya dengan jarak setipis kertas, dan percikan es menusuk-nusuk dagunya. Ia memanfaatkan ayunan itu untuk berguling ke samping, bangkit dengan satu kaki, dan berlari.

Kapal itu menghantam tali merah di tepi panggung dan meledak menjadi hujan air dingin yang mengguyur barisan penonton paling depan, dan jeritan terdengar dari sana.

Yu Tian sudah berada di depan Lan Shuang sebelum air itu jatuh ke tanah. Tangan kanannya terkepal dengan Qi yang ia kumpulkan penuh, dan ia melepaskan pukulan lurus ke wajah gadis itu.

WUUUHHH!

Angin pukulan itu membuat pita putih di rambut Lan Shuang berkibar dan helai rambutnya beterbangan. Kepalan itu berhenti tepat sejengkal dari hidungnya, bergetar tipis, dan tidak maju lagi.

Lan Shuang tidak bergerak. Matanya melebar, bibirnya terbuka, dan ia menatap kepalan di depan wajahnya dengan kebingungan yang terang-terangan. "Kenapa... kenapa berhenti?"

Yu Tian menurunkan tangannya perlahan dan menggaruk pangkal hidungnya. "Sayang sekali, wajah secantik itu kalau terluka rugi. Jadi kutahan."

Wajah Lan Shuang memerah sampai ke ujung telinga. Mulutnya terkatup rapat, dan kedua tangannya mengepal gemetar di sisi tubuh, dan ia menarik napas dalam-dalam.

Yu Tian tidak memberinya kesempatan. Ia melangkah masuk, merendahkan bahu, dan menghantamkan kepalan kirinya ke bawah pusar gadis itu, tepat di tempat Qi-nya berpusat.

Lan Shuang terbelalak tanpa suara. Cahaya biru di sekeliling tubuhnya padam seketika, dan air yang masih melayang di udara jatuh ke lantai panggung dengan suara berderai. Lututnya tertekuk, dan ia rebah ke depan, ditangkap Yu Tian dengan satu lengan sebelum wajahnya menyentuh lantai batu. Kepalanya terkulai di bahunya, napasnya pelan dan teratur.

'Sial.' Yu Tian membaringkan gadis itu perlahan di lantai dan menghembuskan napas panjang. 'Kalau tadi kupukul wajahnya, ia masih berdiri dan pertarungan ini berlarut sampai Qi-ku habis. Bisa-bisanya aku lupa titik yang paling cepat.' Ia menepuk keningnya sendiri sekali dengan telapak tangan, lalu menegakkan badan ketika Gu Chen melangkah naik ke panggung.

"Pemenang, Yu Tian." Gu Chen mengumumkan itu dengan suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya, dan matanya tertuju pada gadis yang terbaring itu, lalu pada Yu Tian. Ia mengangkat tangan memanggil tabib.

Dua tabib berjubah putih berlari naik membawa tandu dan kotak obat. Salah satu dari mereka sudah membuka botol pil dan hendak menyodorkannya ke bibir Lan Shuang.

Yu Tian menahan pergelangan tangannya dengan dua jari. "Jangan beri dia pil dulu."

Tabib itu mengerutkan dahi, dan tatapannya menusuk. "Kau bukan tabib, Nak. Kenapa mencampuri pekerjaanku?"

"Karena Qi di dalam tubuhnya sedang terpecah-pecah." Yu Tian melepaskan pergelangan itu dan menunjuk perut Lan Shuang dengan dagunya. "Pil sekarang akan memaksa Qi itu menyatu terlalu cepat dan bisa merusak dantiannya. Pulihkan pelan-pelan. Biarkan dia tidur dulu."

Tabib itu menatapnya lama, lalu menatap botol di tangannya, dan akhirnya menyimpannya kembali ke dalam kotak. Mereka mengangkat Lan Shuang ke atas tandu dengan hati-hati, dan salah satu dari mereka menoleh sekali lagi ke arah Yu Tian sebelum turun dari panggung.

Sorak meledak dari seluruh lapangan. Murid-murid berdiri, bertepuk tangan, dan menyebut namanya berulang-ulang, yang baru beberapa hari lalu mereka ejek.

Yu Tian melirik ke teras timur tanpa tersenyum. Tetua Shen duduk diam dengan kuas di tangan, mencatat sesuatu, dan Lu Heng berdiri di sampingnya dengan tangan di belakang punggung.

Gu Chen mengangkat tangan sampai sorak mereda. "Besok final. Pertandingan akan dimulai saat lonceng kedua berbunyi, jangan terlambat."

Yu Tian menuruni panggung sambil mengangkat satu tangan ke arah kerumunan tanpa menoleh, dan lengan jubahnya yang basah meninggalkan jejak air di setiap anak tangga.

1
Naisha Anindya
semangat nulisnya author....
Naisha Anindya
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
Naisha Anindya
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!