NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Belanja Perlengkapan

Matahari perlahan bergeser ke arah barat, memancarkan bias cahaya jingga hangat yang menyapu atap-atap jerami dan tenda kain di Pasar Kecamatan Sungai Besi.

Suasana pasar mulai sedikit melonggar dibanding siang tadi, meski derap langkah para pedagang yang membereskan barang dagangan masih terdengar bersahutan.

Lin Wanru berjalan menyusuri lorong pedagang perkakas dengan langkah tegap, meski sesekali ia harus sedikit menahan napas untuk meredam rasa nyeri yang masih tersisa di punggungnya.

Di sampingnya, Nyonya Lin menggandeng erat tangan Lin Bao, berjalan sambil membawa kantong kain berisi kepingan uang tembaga yang masih tersimpan aman.

Bagi Wanru, tantangan terbesar saat ini bukanlah masalah keuangan, karena ia memiliki cukup modal, melainkan bagaimana menerjemahkan material modern ke dalam ketersediaan material di era dinasti kuno.

Di abad ke-21, membuat tempat perlindungan darurat sangatlah mudah, tinggal membeli tenda camping waterproof di toko olahraga, atau memesan terpal plastik sintetis kualitas tinggi. Namun di sini, di Dinasti Liang, material polimer plastik belum ditemukan.

Wanru harus memutar otak untuk meracik formula material alternatif yang tahan air, kuat terhadap tiupan angin malam, namun tetap mudah dipasang di atas reruntuhan gubuk mereka.

"Tuan, aku mencari kain terpal atau kain kanvas tebal yang sudah dilapisi minyak kedelai atau lilin agar tahan air. Apakah ada?" tanya Wanru dengan sopan kepada seorang pedagang tua pemilik toko kelontong dan perkakas kayu di sudut pasar.

Pemilik toko itu mengelus janggut putihnya, lalu menatap gadis remaja di hadapannya dengan pandangan menilai. "Kain kanvas tebal berlapis minyak atau lilin tahan air? Oh, maksudmu Youbu, kain minyak pelapis tenda perahu atau penutup gerobak barang?"

"Tepat sekali, Tuan! Aku butuh dua lembar ukuran sedang," jawab Wanru cepat.

Selain kain kanvas kedap air (Youbu), Wanru juga memilih beberapa gulung tali tambang rami yang tebal dan kuat, sebilah gergaji tangan kecil bergigi tajam, beberapa pak paku besi tempa dengan berbagai ukuran.

Setelah tawar-menawar singkat yang cerdas, di mana Wanru menggunakan keahlian negosiasinya untuk mendapatkan harga terbaik tanpa terlihat terlalu mencolok, seluruh barang belanjaan tersebut berhasil diamankan.

Nyonya Lin membantu mengangkat gulungan tali dan perkakas, sementara Wanru membawa kain kanvas berat di bahunya.

"Semua perlengkapan dasar sudah lengkap," gumam Wanru pelan, memastikan di dalam kepalanya bahwa kalkulasi material untuk tenda darurat telah sempurna. "Sekarang, saatnya kita pulang untuk mengeksekusi proyek malam ini."

Perjalanan kembali dari Pasar Kecamatan Sungai Besi menuju Desa Hutan Batu memakan waktu sekitar satu jam perjalanan kaki melintasi jalan setapak berbatu dan menyeberangi jembatan kayu Sungai Besi. Berbeda halnya ketika menggunakan jalan yang tadi di ambil.

Menjelang sore hari, udara pegunungan mulai turun drastis. Angin bertiup lebih kencang, membawa aroma daun pinus basah dan kabut tipis yang mulai turun menyelimuti punggung bukit.

Saat rombongan kecil keluarga Lin mulai memasuki batas wilayah Desa Hutan Batu, suasana di perkampungan itu tampak mulai sunyi. Sebagian besar warga desa sudah kembali ke rumah masing-masing setelah seharian bekerja di ladang atau berdagang.

Namun, kehadiran Lin Wanru, Nyonya Lin, dan Lin Bao yang berjalan beriringan membawa gulungan kain besar, tali, dan perkakas tukang langsung menarik perhatian beberapa warga yang masih duduk-duduk di teras rumah mereka.

Krosak... bisik-bisik...

Seketika, pandangan mata dari berbagai arah tertuju tajam ke arah mereka. Ada sorot mata penuh rasa penasaran, ada yang menatap dengan tatapan sinis dan mencibir, tak sedikit pula yang berbisik-bisik membicarakan insiden heboh di pasar siang tadi yang rupanya sudah menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru desa.

"Hei, lihat itu... Bukankah itu anak perempuan keluarga Lin?" bisik seorang wanita paruh baya tetangga sebelah, menyenggol suaminya yang sedang meraut bambu. "Katanya tadi siang di pasar mereka membuat keributan besar, bahkan preman bayaran Paman Dehai dikalahkan oleh gadis itu?"

"Ah, omong kosong! Mana mungkin gadis kurus kering begitu bisa melawan preman pasar? Paling-paling mereka ditolong oleh orang kaya atau bangsawan lewat kebetulan saja," sahut sang suami sinis, seraya meludah ke tanah. "Tapi lihat apa yang mereka bawa... gulungan kain dan gergaji? Bukankah gubuk mereka sudah diratakan dengan tanah oleh Paman Dehai pagi tadi? Mau apa lagi mereka kembali ke sana? Mencari sisa abu?"

Cibiran, tatapan merendahkan, dan bisikan-bisikan beracun meluncur bebas dari mulut para tetangga yang berdiri di sepanjang jalan setapak desa.

Bagi Nyonya Lin, setiap tatapan dan bisikan itu terasa bagaikan ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk sekujur tubuhnya. Wanita paruh baya itu pun menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya.

Tangannya yang menggenggam erat tangan Lin Bao bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi karena rasa malu, kecemasan, dan rasa bersalah yang teramat sangat.

Bagi seorang ibu di masyarakat feodal tradisional, kehilangan martabat di hadapan tetangga sekampung adalah beban psikologis yang sangat berat untuk ditanggung.

"Wan-er..." bisik Nyonya Lin dengan suara tercekat di tenggorokan, menarik pelan ujung baju putrinya tanpa berani mendongak menatap orang-orang di sekitar. "Banyak orang yang melihat kita... mereka menatap kita dengan cara yang mengerikan... Apa sebaiknya kita tidak usah kembali ke gubuk itu? Ibu... Ibu merasa tidak sanggup menghadapi mereka..."

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ibunya yang gemetar ketakutan di bawah tekanan sosial warga desa, Lin Wanru sama sekali tidak menurunkan langkah kakinya.

Ia berjalan dengan postur tubuh tegap, kepala terangkat lurus ke depan, dan sorot mata dingin yang memancarkan wibawa.

Saat beberapa warga menatapnya dengan senyuman sinis atau tatapan menghina, Wanru membalas tatapan mereka sekilas dengan sorot mata setajam pisau bedah, sebuah tatapan dingin tanpa emosi yang justru membuat beberapa warga desa secara refleks mengalihkan pandangan mereka karena merasa terintimidasi oleh aura aneh dari gadis remaja tersebut.

Bagi seorang CEO korporasi global yang terbiasa hidup di bawah sorotan media massa, kritikan publik, propaganda pesaing, dan komentar negatif jutaan netizen di dunia maya, opini dan cemoohan dari sekelompok petani desa berpandangan sempit di sudut dunia kuno ini sama sekali tidak memiliki nilai ekonomi maupun psikologis baginya.

"Opini publik tidak bisa menaruh makanan di atas meja kami, dan cibiran mereka tidak bisa memperbaiki atap rumah kami yang bocor," batin Wanru dingin. "Biarkan mereka menggonggong sepuasnya. Kafilah akan tetap berlalu."

Wanru berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah ibunya. Ia meletakkan gulungan perkakas di pundaknya sebentar, lalu merangkul pundak Nyonya Lin dengan lembut untuk memberikan ketenangan.

"Ibu, dengarkan aku," ucap Wanru dengan suara yang tenang, tegas, dan bergemerincing jelas di tengah keheningan jalan desa. "Kenapa Ibu harus menundukkan kepala di hadapan orang-orang yang bahkan tidak pernah memberikan kita sebutir beras pun saat kita kelaparan?"

Nyonya Lin terperanjat, lalu mendongak menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Mereka menertawakan kita karena kita miskin dan jatuh," lanjut Wanru dengan nada bicara yang tidak menunjukkan secercah pun rasa rendah diri. "Tapi ingat, Ibu... kita tidak mencuri, kita tidak merugikan mereka, dan kita hidup dengan keringat serta kecerdasan kita sendiri. Biarkan mereka menatap kita hari ini dengan sinis. Besok, saat kita berdiri tegak di atas kaki kita sendiri, merekalah yang akan menengadah ke atas melihat kita."

Kata-kata penuh keyakinan dan wibawa itu meluncur begitu mulus dari bibir seorang gadis berusia delapan belas tahun, menciptakan keajaiban psikologis di dalam dada Nyonya Lin.

Rasa malu dan takut yang tadinya mencekik leher sang ibu perlahan-lahan mencair, digantikan oleh rasa kagum dan kebanggaan yang teramat sangat.

Nyonya Lin menarik napas panjang, lalu menegakkan punggungnya, dan menghapus sisa air matanya. Ia mengepalkan tangannya pelan, lalu mengangguk mantap kepada putrinya.

"Ya, Wan-er... Ibu mengerti. Ibu tidak akan menunduk lagi," ucap Nyonya Lin dengan suara yang jauh lebih tegar.

"Bagus, Ibu. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan ke rumah kita."

Bersambung...

1
Osie
jangan jangan ini pemuda sosok.sang putra mahkota...hhmmmmm pucuk dicintai ulam jalan jalan nih🤣🤣
Aurora: xixixi...bener banget kok jadi tikih ya😅🤭
total 3 replies
Osie
andai wanru saat transmigrasi dibekali ruang dimensi duuhh pasti cepat ahli dlm segala bidang wanru..eh banyak maunya aku ya..hehehe


😄😄😄😄😄🤣😄😄
Aurora: biar jadi masukan buat cerita kedepannya 🤗😃
total 3 replies
Osie
lah jadi gila dehai gegara kekayaan wanru🤣🤣🤣nah disini nih warung kudu jadi ahli bela diri biar bisa hempasin si dehaii songong nih
Aurora: lihat saja tanggal mainnya 🤗
total 1 replies
Osie
btw nih desa hutan batu kagak punya kepala desa ya thor..kok bisa warga dah heboh tapi yg selesaikan masalah sendiri tanpa bantuan kepala desa
Aurora: yes, betul... semoga cerita ke depannya makin seru dan makin di sukai
🤗
total 3 replies
Osie
thor bikin wanru ahli bela diri donk kalau bisa jadi master bela diri..biar lebih komplit keahliannya
Aurora: bisa di pertimbangkan sih... tapi jiwa modern nya juga ga bisa bertarung 😅🤭
total 1 replies
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
Osie
laki modelan dehai nih kudu dibasmi sampai g bernapas lagi..benar benar sampah yg kudu ditanam
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: pengen ikutan nimbrung dan meninggalkan jejak typo ny 😅😅 gak papa biar rame🤭
total 3 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!