NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGUNJUNGI RUMAH

Sementara itu, di dalam gedung pengadilan, Elma baru saja memasuki ruang kerjanya ketika Karin, sahabat sekaligus rekan kerjanya, langsung menghampiri.

"Kamu terlambat."

Elma meletakkan tasnya di atas meja. "Aku tidak terlambat. Masih ada waktu dua puluh menit sebelum sidang dimulai."

Karin menyilangkan kedua tangan.

"Baiklah. Kalau begitu, kenapa wajahmu terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan lotre?"

Elma mengernyit.

"Apa maksudmu?"

"Kamu tersenyum sejak masuk tadi."

"Aku memang suka tersenyum."

"Tidak seperti itu." Karin mendekat, memperhatikan wajah sahabatnya dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Siapa yang mengantarmu?"

Elma terdiam sepersekian detik.

Karin langsung membelalakkan mata. "Jangan bilang..."

"Jangan mulai, Karin."

"Maxime?"

Elma menghela napas. "Ya."

Karin menepuk dahinya sendiri.

"Astaga. Suamimu yang terkenal dingin itu mengantarmu bekerja? Dengan sukarela?"

"Dia sendiri yang menawarkan."

"Dan kamu menerimanya?"

"Memangnya kenapa?"

Karin menatap Elma seolah baru saja mendengar kabar paling mengejutkan sepanjang hidupnya.

"Karena terakhir kali kamu bercerita tentang suamimu, kamu mengeluh bahwa dia memperlakukan pernikahan kalian seperti kontrak bisnis."

"Itu memang benar."

"Lalu sekarang dia mengantarmu bekerja, mengingatkanmu makan siang, dan mungkin sebentar lagi akan meneleponmu untuk memastikan kamu bernapas dengan baik."

Elma mendengus. "Dia tidak seperti itu."

Karin mengangkat sebelah alis. "Benarkah?"

Elma tidak menjawab. Sebab tepat ketika ia hendak melanjutkan ucapannya, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan baru muncul di layar. Dari Maxime Sinclair.

Maxime: Jangan lupa makan siang.

Karin, yang berdiri cukup dekat untuk melihat layar tersebut, mendadak terdiam. Kemudian, perlahan-lahan, ia menoleh kepada Elma. Elma buru-buru membalikkan ponselnya.

"Jangan mengatakan apa pun." Ucap Elma pada sahabatnya itu.

Karin menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan senyum yang semakin lebar. "Oh, aku tidak akan mengatakan apa-apa."

"Karin."

"Aku hanya ingin bertanya satu hal."

"Tidak." Tolak Elma.

"Elma, kamu yakin suamimu tidak sedang jatuh cinta kepadamu?"

Jantung Elma berdegup sedikit lebih cepat.

Namun, ia segera menggeleng.

"Tentu saja tidak." Jawaban itu terdengar mantap.

Terlalu mantap untuk seseorang yang diam-diam mulai mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Karin mengamati wajahnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat bahu.

"Baiklah. Kalau kamu bilang begitu."

Ia mengambil berkas dari meja, kemudian berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, Karin sempat menoleh kembali.

"Oh, satu lagi."

"Apa?"

"Kalau ternyata suatu hari nanti Maxime benar-benar jatuh cinta kepadamu, jangan sampai kamu terlalu sibuk meyakinkan dirimu bahwa dia tidak mencintaimu sampai kamu melewatkan kesempatan untuk bahagia."

Setelah mengatakan itu, Karin pergi begitu saja.

Elma terdiam di tempatnya. Ruangan yang semula terasa biasa mendadak menjadi terlalu sunyi. Ia memandangi ponselnya yang masih menampilkan pesan dari Maxime. Kalimat sederhana itu tidak berisi kata-kata manis, tidak pula menunjukkan kerinduan. Namun, untuk alasan yang tidak ingin diakuinya, Elma membacanya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Sebelum akhirnya ia meletakkan ponselnya dan kembali membuka berkas persidangan.

Hari ini ia harus berkonsentrasi. Ia memiliki perkara penting yang harus diselesaikan, janji yang harus ditepati, dan sebuah rumah yang akan mereka kunjungi sore nanti. Tidak ada waktu untuk memikirkan perasaan yang belum tentu ada. Terlebih lagi, jika perasaan itu hanya tumbuh di dalam hatinya sendiri. Elma tidak tahu bahwa sore nanti, ketika mereka kembali ke rumah yang baru selesai direnovasi, sebuah percakapan sederhana akan membuatnya mempertanyakan kembali semua batas yang selama ini ia bangun di antara dirinya dan Maxime. Batas yang selama ini ia yakini akan melindunginya dari kekecewaan.

Batas yang perlahan-lahan mulai kehilangan maknanya.

Sore itu, seperti janji mereka di pagi tadi, Maxime mengajak Elma mengunjungi rumah mereka yang baru saja selesai direnovasi. Rumah bergaya klasik modern itu berdiri megah di kawasan yang tenang. Dinding berwarna krem berpadu dengan aksen cokelat tua, sementara jendela-jendela tinggi membiarkan cahaya matahari masuk dengan leluasa. Halaman depan yang dipenuhi tanaman hijau tampak begitu asri, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan kepribadian pemiliknya.

Elma berdiri di depan pintu masuk, memandangi bangunan tersebut dengan mata berbinar.

"Ini benar-benar rumah kita?" tanyanya, memastikan.

Maxime yang berdiri di sampingnya melirik sekilas. "Menurutmu aku mengajakmu ke rumah orang lain?"

Elma mendengus pelan. "Aku hanya memastikan. Tidak perlu menjawab dengan nada menyebalkan seperti itu."

Sudut bibir Maxime terangkat tipis.

"Kalau begitu, masuklah, Nyonya Sinclair."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu membuka pintu dan mempersilakannya masuk. Elma terdiam sesaat ketika melihat bagian dalam rumah mereka. Ruang tamu yang luas dihiasi sofa berwarna cokelat susu, meja marmer, dan lampu gantung elegan. Di sudut ruangan terdapat rak buku tinggi yang menyatu dengan dinding. Aroma kayu dan bunga segar memenuhi udara, memberikan kesan nyaman yang tidak pernah Elma bayangkan akan ditemukan di rumah milik Maxime.

"Bagus sekali," gumamnya.

Maxime meletakkan kunci mobil di atas meja konsol. "Ada yang ingin kau ubah?"

Elma menoleh. "Apa?"

"Kalau ada sesuatu yang tidak kau sukai, katakan kepada desainer interiornya. Kita masih bisa mengubah beberapa bagian."

Elma mengerjap, sedikit terkejut. "Kau membiarkanku mengubah desain rumah yang sudah menghabiskan banyak uang ini?"

"Kenapa tidak?"

"Karena kau terlihat seperti orang yang akan memecat seseorang hanya karena warna bantal sofa tidak sesuai dengan keinginanmu."

Maxime menatapnya selama beberapa detik.

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Elma melihat pria itu tertawa kecil.

Bukan senyum tipis yang biasanya hanya muncul ketika ia sedang menyindir seseorang. Bukan pula ekspresi dingin yang selalu membuat orang lain berhati-hati saat berbicara dengannya. Maxime benar-benar tertawa. Elma sampai lupa mengedipkan mata.

"Apa?" Maxime menyadari tatapannya.

"Kau bisa tertawa juga?"

Maxime kembali memasang wajah datar. "Menurutmu! Aku manusia, Elma."

"Aku tahu. Hanya saja, terkadang aku meragukannya."

"Kalau begitu, mungkin kau perlu mengenal suamimu lebih baik."

Ucapan itu membuat Elma terdiam.

Entah mengapa, kalimat sederhana tersebut terdengar berbeda ketika keluar dari mulut Maxime. Seolah-olah pria itu baru saja membuka sebuah pintu kecil yang selama ini sengaja ia kunci rapat-rapat. Mereka menghabiskan waktu berkeliling rumah. Maxime menunjukkan ruang kerja di lantai dua, kamar tamu, perpustakaan kecil, hingga balkon yang menghadap ke taman belakang. Ketika sampai di perpustakaan, Elma langsung menghampiri rak buku yang memenuhi hampir seluruh dinding.

"Astaga, kau punya buku sebanyak ini?"

"Sebagian besar koleksi lama." Terang Maxime.

Elma mengambil sebuah buku bersampul cokelat dari rak. Debu tipis melekat di bagian atasnya, menandakan bahwa buku itu sudah cukup lama tersimpan.

"Jadi, Tuan Sinclair ternyata suka membaca?"

"Aku tidak selalu menghabiskan waktu untuk bekerja."

Elma meliriknya dengan ekspresi tidak percaya.

"Lalu, apa lagi yang suka kau lakukan?"

Maxime bersandar di ambang pintu. "Memasak."

Buku di tangan Elma hampir terlepas. "Tunggu. Apa?"

"Memasak. Apa pendengaranmu bermasalah?" Maxime mengulanginya lagi.

"Kau bisa memasak?" Tanya Elma seolah tidak percaya.

"Pertanyaanmu mulai menyinggung harga diriku."

Elma menahan tawa. "Lalu, masakan apa yang bisa kau buat?"

"Berbagai macam."

"Contohnya?"

"Elma."

"Iya?"

"Kalau kau terus menginterogasiku, aku akan berubah pikiran dan tidak memasakkan apa pun untukmu."

Elma langsung menutup mulutnya, meskipun senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan.

"Baiklah. Aku diam."

Maxime menggeleng kecil sebelum melangkah mendekatinya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil buku dari tangan Elma, membuka halaman yang terlipat, kemudian menyelipkan selembar kertas kecil yang terselip di antara halaman-halamannya.

Elma memperhatikan gerakannya. "Apa itu?"

"Resep lama."

"Resep siapa?"

Maxime terdiam sesaat.

"Ibuku."

Perubahan ekspresi pria itu begitu halus, nyaris tidak terlihat. Namun, Elma menangkap sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya. Untuk pertama kalinya, Maxime tidak terlihat seperti seorang pengusaha yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia tampak seperti seseorang yang sedang mengenang sesuatu yang telah lama hilang.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!