NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Vian berdiri di depan gerbang . Dengan langkah pelan dia memasuki gerbang dengan penuh tekad. Banyak pasang mata yang masih melihat seperti objek yang aneh . Namun ia berusaha hiraukan. Karena setidaknya sekarang ia tidak sendiri. Itu yang ia yakini .

Dari belakang , sebuah tangan merangkul nya dengan akrab. Mencoba melindungi Vian dengan tatapan nya yang tajam . Vian tidak terganggu malahan dia nyaman bersama dengan Leo.

"Gimana dahi Lo ,masih sakit?"

"Gak ,udah di obati sama bang Vano. Walaupun kena marah" ucapnya. Menyentuh pleaser yang menempel di keningnya.

Setelah kejadian di kafe. Mereka pun berteman. Awalnya mereka cuman berbincang kecil untuk mengubah atmosfer yang canggung. Tapi ternyata selera mereka sama. Dan ternyata mereka sama-sama mempunyai hobi rahasia . Yaitu menulis . Dari sana lah ikatan mulai terjalin. Dan mereka sama-sama mengerti lewat percakapan kecil itu. Bahwa terkadang sudut pandang seseorang belum tentu benar.

Mereka memasuki kelas, menghiraukan suasana kelas yang ramai . Mereka berjalan beriringan dengan sesekali berbicara satu sama lain. Banyak yang berbisik ke arah nya secara terang-terangan.dan itu di hiraukan oleh Vian tapi tidak dengan Leo.

"Aduh ,susah ya kalau jadi orang ganteng. Dikit-dikit jadi gosip. Yakan Vian"ucapnya sangat keras . Merangkul tubuh Vian yang sedikit lebih pendek tiba-tiba. Vian terdiam kikuk namun tak urung mengangguk kecil.

"Dihh ,si gila mulai lagi "

"Gue kira dia tobat kemarin, ternyata bukan"

Banyak cibiran yang mengarah ke Leo secara terang-terangan. Dan Leo  membalas nya dengan baik.

Ia mengacungkan jari tengahnya dengan mata menatap remeh sekumpulan gadis yang sedang mencibirnya "Jamet Lo pada" ucapnya . Namun mampu membuat beberapa gadis itu tersumbu.

"Dasar gila!! Apa-apa dia bertingkah ke gitu"

"Dasar biang Onar , udah jangan di pedulikan"

Vano terperangah. Menatap tak percaya pada Leo. Kesan pertama yang ia lihat dari Leo memang seperti anak bandel tidak tau aturan. Tetapi dia lebih dingin dan tajam. Lah ini pecicilan dan gila? Entahlah, sepertinya ia menyetujui sebutan gadis itu untuk Leo.

" Leo Udah lebih baik kamu duduk  , jangan mancing-mancing"ucapnya. Dan menyeret Leo untuk duduk.

"Bu Lea datang!!"seru seseorang dari luar . Buru-buru kedalam memberitahukan yang lain'.

Guru muda itu datang, membawa setumpuk buku pelajaran di tangannya. Langkahnya tenang namun berwibawa. Ia meletakkan buku di meja, lalu mengangkat pandangan, menatap seluruh murid di kelas yang mulai merapikan posisi duduk.

Senyum ramah terukir di wajahnya—senyum yang selalu berhasil mencairkan suasana canggung di antara para siswa. “Baik, semuanya,” katanya pelan namun jelas, “hari ini kita akan melanjutkan materi yang kemarin, ya.”

Beberapa murid tampak mengangguk, sebagian lain masih sibuk menutup bekal atau menyembunyikan ponsel di bawah meja. Ia menatap mereka sekilas, tidak dengan marah, melainkan dengan tatapan lembut yang membuat siapa pun merasa dihargai.

Setelah itu, ia membuka buku, menulis beberapa kata di papan tulis, dan mulai menerangkan pelajarannya dengan suara yang tenang dan berirama.

***

Bel istirahat berbunyi. Suaranya menggema di seluruh sekolah, disambut sorak dan langkah kaki yang berhamburan keluar kelas. Semua orang berlomba menuju kantin, tertawa, bercanda, seolah beban pelajaran pagi tadi telah menguap begitu saja.

Namun, berbanding terbalik dengan mereka, Leo justru menarik tangan Vian, menyeretnya ke arah yang lain menuju halaman belakang sekolah.

Tempat itu sunyi, jauh dari keramaian. Pohon-pohon buah tumbuh berderet, daunnya bergoyang lembut diterpa angin. Aroma bunga yang bermekaran memenuhi udara, memberikan kesan damai yang ganjil di tengah hiruk pikuk jam istirahat.

Vian menatap sekeliling, sedikit terheran. “Kenapa ke sini?” tanyanya pelan.

Leo berhenti, menatap lurus ke depan seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. “Aku cuma… mau bicara tanpa ada yang dengar,” ujarnya, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin.

"Bicara apa?"

Leo awalnya terlihat ragu-ragu . Namun sorot matanya berubah tajam dan penuh tekad " sejak kapan perundungan Lo di mulai?" Tanya nya. Vian terdiam . Tak menyangka itu yang akan di tanyakan. Ia menatap langit yang cerah . Tanpa awan seperti biasanya. "Entahlah, aku juga bingung . Mungkin sejak aku masuk sekolah"

"Lo udah tau dalangnya" tanya nya. Vian kembali terdiam. Dia juga ragu siapa dalang dalam kejadian ini. Namun ia sempat mencurigai seseorang. "Tidak" entengnya.

"Gak ada gitu yang Lo curigai?" Vian terdiam sejenak "gak "

Leo menghela nafasnya. " Kita duduk di sana" menunjuk ke pohon besar yang ada di taman itu " biasanya di sini gak akan ada orang jadi aman"

Vian berjalan mengikuti " kamu tau tempat ini dari mana"

"Yahh ,ini tempat biasanya aku bolos. " Ucapnya . Mereka duduk lesehan. Menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar yang tinggi menjulang." Vian sebaiknya Lo beritahu orang tua Lo atau keluarga Lo. " Ucapnya tiba-tiba. "Karena mereka sudah keterlaluan"

"Tapi gak ada bukti"

Leo mengusap wajahnya kasar. Dia berempati pada teman kecilnya ini karena dia tak tega membiarkan nya sendiri. Tapi di sisi lain dia tak punya senjata untuk melindungi. Karena apa yang temannya alami adalah perundungan yang lebih menyakitkan daripada pukulan.

Vian menatap Leo sejenak. Sebelum tersenyum kecut " kenapa kamu tidak seperti mereka? Hampir semua murid membenci aku" ia  menatap Leo " Tapi kenapa kamu tidak "

"Lo mau tau , gue paling benci orang yang sendirian "  lenggang . "Kenapa?" Tanya nya lagi , dengan pandangan sulit di artikan.

"Jika Lo bingung , gue juga di benci . Udah kita sama-sama di benci jadi apa gunanya jadi musuh . Mening jadi sekutu " seperti nya Vian tidak sepenuhnya paham.

"Kenapa kamu bisa di benci?" Ucap polos . Menatap Leo dengan pandangan menyelidik

Leo menghela nafas. " Lo ingin tau" dia memberikan 3  jarinya ke hadapan Vian " ada tiga kemungkinan seseorang di benci. Pertama Lo nyebelin . Ke dua Mereka gak suka sama Lo

Dan  terakhir Lo terlalu membosankan buat mereka

Simple "

"Dan gue termasuk jajaran orang yang mereka gak suka " Leo melihat Vian "sedang kan Lo itu masuk ke orang yang diam dan membosankan " ucapnya.

Jeb, kata-kata itu kena telak ke arahnya. Sedikit sakit tapi itu lah kenyataannya.

"Tapi kenapa , padahal aku cuma diam saja" lirihnya. Ia mencabut satu dua rumput di dekatnya . Mengalihkan perasaan yang tidak nyaman.

"Lo tau , manusia memang pada dasarnya seperti itu" Vian menatap Leo lekat " Lo pernah dengar istilah in -group dan out- group? " Tanya Leo tiba-tiba." Intinya di manapun selalu ada kelompok 'luar ' dan 'dalam' . Yang satu lagi di anggap keren normal cocok dan menjadi panutan. Dan yang satu lagi....ya kaya kita "

" Jika Lo nyinggung orang yang mendominasi kelompok yang dalam . Maka Lo jadi seperti ini .. di kucilkan . "

Vian terdiam "karena itu kita harus pandai beradaptasi"lanjut Leo.

Vian terdiam ragu , menatap Leo dengan tidak yakin." Aku gak bisa, aku ini orang nya kikuk. Trus aku harus adaptasi seperti apa?" Ucapnya ragu.

Leo tersenyum" gue ajarin. Tenang aja, Lo percaya kan sama gue?" .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!