NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 -Ajakan Acara Ke Pernikahan

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cara yang aneh.

Retna tetap melakukan semua pekerjaannya seperti biasa.

Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu menyiapkan makan malam sebelum Mas Bule pulang.

Tidak ada yang berubah dari rutinitasnya.

Namun ada satu hal yang benar-benar berubah.

Cara Retna memperlakukan Mas Bule.

Dulu, setiap kali Mas Bule pulang, Retna selalu menyambutnya meskipun hanya dengan senyum kecil.

"Sudah pulang, Mas?"

Atau terkadang ia bertanya,

"Mau saya siapkan makan malam?"

Sekarang tidak lagi.

Begitu mendengar suara mobil Mas Bule masuk ke halaman, Retna justru memastikan dirinya berada di dapur atau di bagian rumah yang jauh dari ruang depan.

Kalaupun mereka bertemu, Retna hanya menundukkan kepala.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada lagi senyum kecil yang dulu tanpa sadar sering muncul di wajahnya.

Mas Bule tentu saja menyadari perubahan itu.

Pada awalnya ia mencoba membiarkannya.

Ia berpikir Retna mungkin hanya membutuhkan waktu.

Namun semakin hari, sikap Retna justru semakin membuatnya tidak tenang.

Suatu malam, Mas Bule baru saja masuk ke ruang makan ketika melihat Retna sedang membereskan piring.

"Retna."

Perempuan itu berhenti.

"Ya, Mas?"

"Makan malam sudah siap?"

"Sudah."

"Hanya itu?"

Retna menatapnya bingung.

"Maksud Mas?"

Mas Bule terdiam.

Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan.

Ia hanya ingin Retna kembali seperti dulu.

Namun ia juga sadar, dirinya tidak berhak menuntut.

Akhirnya ia hanya berkata,

"Tidak apa-apa."

Retna mengangguk.

"Kalau begitu saya ke dapur dulu."

Ia langsung pergi.

Mas Bule memperhatikan punggung perempuan itu sampai menghilang di balik pintu.

Raut wajahnya berubah.

Ia menghela napas panjang.

Mas Bule sebenarnya sudah berkali-kali memikirkan kejadian itu.

Tentang bagaimana dirinya mencium bibir Retna.

Tentang ekspresi terkejut perempuan itu.

Dan tentang sikap Retna setelahnya.

Ia tahu dirinya telah melewati batas.

Itulah alasan mengapa ia meminta Retna melupakan semuanya.

Mas Bule berpikir, jika ia meminta maaf dan mengatakan agar kejadian itu tidak perlu dipikirkan, Retna akan merasa lebih nyaman.

Ia takut Retna menganggap dirinya sebagai lelaki yang tidak baik.

Lelaki yang memanfaatkan kesempatan karena Retna berada dalam posisi yang lebih lemah sebagai pekerja di rumahnya.

Padahal bukan itu yang ia inginkan.

Ia tidak pernah berniat mempermainkan Retna.

Justru sebaliknya.

Semakin dekat mengenal Retna, semakin ia menghargai perempuan itu.

Namun sekarang, caranya menyelesaikan masalah justru membuat semuanya semakin buruk.

Mas Bule mengusap wajahnya.

"Mungkin aku salah."

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin Retna bukan membutuhkan dirinya untuk mengatakan agar semuanya dilupakan.

Mungkin Retna hanya membutuhkan penjelasan.

Namun bagaimana ia harus menjelaskannya?

Bahwa dirinya sendiri tidak bisa melupakan kejadian itu?

Bahwa setelah mencium Retna, ia justru semakin sering memikirkan perempuan itu?

Mas Bule menggeleng pelan.

Ia belum siap mengatakannya.

Sementara itu, Retna semakin berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menjaga jarak.

Ia tidak ingin kembali berharap.

Ia tidak ingin kembali salah mengartikan perhatian seseorang.

Mas Bule adalah majikannya.

Ia hanyalah perempuan yang bekerja di rumah tersebut.

Tidak lebih.

Maka jika selama ini Mas Bule bersikap baik kepadanya, Retna harus menganggap itu sebagai kebaikan seorang majikan kepada pekerjanya.

Tidak boleh lebih.

Ia bahkan mulai memanggil Mas Bule dengan lebih formal.

"Mas mau makan?"

"Mas membutuhkan sesuatu?"

"Kalau tidak ada lagi yang perlu saya kerjakan, saya ke belakang dulu."

Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi bagi Mas Bule, semuanya terasa seperti dinding yang semakin tinggi.

Beberapa hari kemudian, saat Retna sedang menyiram tanaman di halaman, Mas Bule keluar dari rumah.

"Retna."

Retna segera mematikan keran.

"Ya, Mas?"

"Sore nanti kamu ada kegiatan?"

Retna mengernyit.

"Tidak."

Mas Bule memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Saya ada acara."

Retna menunggu.

"Acara pernikahan teman saya."

"Oh."

"Saya ingin kamu ikut."

Retna terdiam.

"Ikut?"

"Iya."

"Untuk apa, Mas?"

Mas Bule hampir tersenyum mendengar pertanyaan itu.

"Menemani saya."

Retna semakin bingung.

"Menemani?"

"Betul."

Ia kemudian menambahkan,

"Kalau kamu tidak keberatan."

Retna menunduk.

Dalam pikirannya, itu terdengar seperti tugas.

Mungkin Mas Bule membutuhkan seseorang untuk membantu selama acara.

Mungkin ia membutuhkan orang yang bisa mengambilkan sesuatu.

Atau mungkin karena acara tersebut berlangsung cukup lama sehingga ia tidak ingin pergi sendirian.

Retna tidak ingin berpikir macam-macam.

"Baik, Mas."

Jawabannya begitu cepat sampai Mas Bule sedikit terkejut.

"Kamu yakin?"

Retna mengangguk.

"Iya."

"Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa."

"Tidak masalah."

Mas Bule memperhatikannya.

"Jangan merasa harus ikut hanya karena saya majikanmu."

Retna tersenyum tipis.

"Saya mengerti."

Namun justru dalam hati, Retna berpikir berbeda.

Baginya, permintaan Mas Bule tetaplah sebuah perintah dari majikan.

Ia tidak ingin menolak.

"Jam berapa kita berangkat?"

"Jam lima."

"Baik mas,saya mengerti."

Retna hendak kembali menyiram tanaman.

Namun suara Mas Bule kembali menghentikannya.

"Retna."

Ia menoleh.

"Ya?"

"Untuk acara itu... kamu tidak perlu memakai pakaian kerja."

Retna terdiam.

"Pakailah sesuatu yang membuat kamu nyaman."

Retna hanya mengangguk.

"Baik, Mas."

Mas Bule kemudian masuk kembali ke rumah.

Namun kali ini ada senyum kecil di wajahnya.

Setidaknya, Retna bersedia pergi bersamanya.

Sore harinya, Retna berdiri lama di depan lemari kecil di kamarnya.

Ia tidak memiliki banyak pakaian bagus.

Sebagian besar hanya pakaian sederhana yang biasa ia gunakan sehari-hari.

Akhirnya ia memilih sebuah dress sederhana dengan warna lembut.

Tidak terlalu mencolok.

Tidak terlalu mewah.

Ia hanya ingin terlihat pantas untuk menghadiri sebuah pernikahan.

Setelah selesai bersiap, Retna turun ke lantai bawah.

Mas Bule yang sedang berdiri di ruang tamu langsung menoleh.

Untuk beberapa detik, pria itu hanya diam.

Retna merasa salah tingkah.

"Kenapa, Mas?"

Mas Bule segera menggeleng.

"Tidak."

"Lalu?"

"Kamu terlihat berbeda."

Retna menunduk.

"Mungkin karena tidak memakai pakaian kerja."

Mas Bule tersenyum.

"Bukan itu."

Retna menatapnya.

Namun Mas Bule tidak melanjutkan kalimatnya.

Ia hanya mengambil kunci mobil.

"Ayo."

Retna mengangguk.

"Baik."

Mereka berjalan menuju mobil.

Retna duduk di kursi penumpang seperti biasa.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Tidak ada percakapan panjang.

Hanya keheningan yang memenuhi kabin.

Beberapa menit kemudian, Mas Bule melirik ke arahnya.

"Kamu gugup?"

Retna menggeleng.

"Tidak."

"Kelihatannya gugup."

"Saya hanya takut salah."

"Salah apa?"

Retna terdiam sejenak.

"Takut tidak pantas berada di acara seperti itu."

Mas Bule mengerutkan kening.

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

Retna menatap keluar jendela.

"Karena saya hanya pembantu, Mas."

Kalimat itu membuat Mas Bule terdiam.

Retna melanjutkan dengan suara pelan.

"Saya tidak terbiasa datang ke acara seperti itu."

Mas Bule kembali menatap jalan.

"Mulai sekarang, jangan mengatakan kamu hanya pembantu ketika sedang bersama saya."

Retna menoleh.

"Kenapa?"

Mas Bule tidak langsung menjawab.

Ada sesuatu yang ingin ia katakan.

Namun ia menahannya.

Akhirnya ia hanya berkata,

"Karena malam ini kamu datang sebagai orang yang saya ajak."

Retna terdiam.

Kalimat sederhana itu entah mengapa membuat hatinya bergetar.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa mungkin...

Mungkin dirinya tidak sepenuhnya dianggap sebagai seorang pekerja oleh pria di sampingnya.

Namun Retna segera menepis pikiran itu.

Ia tidak boleh berharap.

Tidak lagi.

Sementara Mas Bule tetap menyetir sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya.

Ia tidak tahu bagaimana malam itu akan berjalan.

Tetapi satu hal yang ia tahu...

Ia tidak ingin lagi melihat Retna menjauh darinya.

Dan mungkin, acara pernikahan malam itu akan memberinya kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang selama beberapa hari terakhir justru semakin rumit.

Sesuatu yang bahkan belum berani mereka beri nama.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!