Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAMIS KEMBAR DAN PETIR DI RUMAH NDALEM
Aroma kayu cendana dan harum minyak atar yang khas menyambut kedatangan Aisyah begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu ukir besar Rumah Ndalem kediaman megah milik Abah dan Ummi Khadijah.
Sore ini, langit di atas kompleks pesantren tampak mendung menggantung. Aisyah datang memenuhi undangan Nabila, putri bungsu keluarga Ndalem yang ramah dan periang. Nabila sama sekali tidak mengetahui bahwa Aisyah yang ia kenal sebagai gadis muda jualan kue yang diangkat anak asuh oleh ibunya sebenarnya adalah istri sah dari kakak kandungnya sendiri, Ammar. Demi menjaga nama baik keluarga dan atas berbagai pertimbangan rahasia, status pernikahan Ammar dan Aisyah memang masih dirahasiakan rapat-rapat dari publik, termasuk dari Nabila.
"Aisyah! Akhirnya datang juga!" seru Nabila riang, berlari dari arah tangga dan langsung merangkul lengan Aisyah dengan akrab.
Aisyah tersenyum hangat, rasa canggung yang dulu sempat menghantuinya saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini perlahan menguap. "Maaf ya, Bil, rada telat. Kakiku kan kemarin sempat agak terkilir, jadi jalannya masih agak pelan-pelan."
"Eh? Kakimu terkilir? Kok bisa?" celetuk Nabila prihatin, lalu terkekeh pelan. "Tapi gak apa-apa, yang penting kamu sudah sampai sini! Ayo ikut aku ke kamar, aku punya kejutan buat kamu, Syah!"
Nabila menarik tangan Aisyah penuh semangat menuju kamarnya di lantai dua. Di dalam kamar Nabila yang bernuansa serba krem dan hijau zaitun yang lembut, dua buah hanger baju tergantung rapi di depan lemari kaca. Di atas hanger tersebut, terpanjang dua helai gamis wanita berdesain sangat elegan. Gamis itu terbuat dari bahan sutra premium berwarna dusty rose, dilapisi renda brokat halus bermotif bunga di bagian dada dan lengan, lengkap dengan pasmina instan senada yang tampak begitu mewah namun tetap syar'i.
Aisyah membelalakkan matanya kagum. "Wah... bagus banget gamisnya, Bil. Kelihatan mewah dan adem banget."
Nabila tersenyum lebar, menyambar salah satu hanger dan menyodorkannya tepat ke hadapan Aisyah. "Nih! Ini buat kamu, Aisyah!"
Aisyah terperanjat kaget, refleks mundur satu langkah seraya menggelengkan kepala. "Eh? Buat aku? Jangan, Bil! Ini pasti mahal banget. Lagian kamu repot-repot sekali..."
"Gak ada repot-repotnya, Aisyah!" potong Nabila cepat, memasukkan hanger gamis itu ke dalam dekapan Aisyah. "Minggu lalu aku ketemuan sama perancang busana langgananku, terus pas lihat desain ini, aku langsung kepikiran kamu. Kita kan belum pernah punya baju kembaran! Aku beli dua, satu buat aku, satu lagi buat kamu. Titik, gak boleh ditolak ya!"
Aisyah menatap gamis di dekapannya, lalu menatap Nabila yang tersenyum tulus tanpa ada sedikit pun tatapan merendahkan. Hati Aisyah meleleh haru. Sebagai wanita yang tumbuh di jalanan dan biasa mengenakan pakaian murah, diperlakukan seperti sahabat karib oleh putri seorang ulama besar terasa begitu membahagiakan.
"Terima kasih ya, Bil..." ucap Aisyah tulus, matanya berkaca-kaca. "Kamu baik banget sama aku."
"Sama-sama, Aisyah cantik! Nanti kita pakai barengan ya kalau ada acara pengajian di pesantren!" kekeh Nabila riang.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki dan gumaman salam terdengar dari lantai bawah. Abah dan Ammar rupanya baru saja selesai memimpin rapat bersama para ustaz pengurus pesantren dan melangkah masuk ke ruang tamu utama.
"Yuk turun, Aisyah! Abah sama Bang Ammar udah di bawah tuh. Kita minum teh bareng di ruang keluarga," ajak Nabila penuh semangat.
Aisyah mengangguk, meletakkan gamis barunya di atas ranjang Nabila, lalu berjalan menyusuri koridor lantai dua mengikuti langkah Nabila. Namun, saat mereka baru tiba di separuh anak tangga kayu yang menghubungkan lantai dua dan ruang keluarga...
Langkah kaki Aisyah mendadak terhenti kaku.
Dari sudut atas tangga, Aisyah bisa melihat jelas suasana ruang keluarga di lantai bawah. Abah duduk di sofa utama, Ammar duduk tegap di sofa sebelahnya seraya menyesap cangkir teh hangat, sementara Ummi Khadijah baru saja datang membawa nampan berisi kudapan.
Ummi Khadijah meletakkan nampan tersebut di atas meja, lalu duduk di samping Abah. Wajah Ummi tampak sangat serius, namun memancarkan binar harapan yang teramat besar.
"Ammar..." panggil Ummi Khadijah dengan nada suara penuh penekanan.
Ammar meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan porselen. "Iya, Ummi?"
Ummi Khadijah menatap putra sulungnya itu dalam-dalam. "Ummi mau bicara serius. Soal kamu dan keluarga Kyai Mansur."
Suasana di ruang keluarga seketika berubah menjadi sunyi menegang. Abah yang tadinya sedang membaca lembaran dokumen pesantren, perlahan meletakkan kacamata bacanya dan membisu.
Aisyah yang berdiri di balik pilar tangga atas menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.
"Kapan kamu mau mengkhitbah Zahra, Ammar?" tanya Ummi Khadijah langsung tanpa basa-basi.
JGEERRR!
Kata-kata yang keluar dari mulut Ummi Khadijah bagaikan sambaran petir yang menghantam tepat di tengah dada Aisyah!
Darah di tubuh Aisyah serasa berhenti mengalir seketika. Wajah mulusnya mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang pegangan tangga kayu mencengkeram kain pelapisnya dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ummi Khadijah melanjutkan kalimatnya dengan raut wajah penuh kerinduan. "Zahra itu wanita solehah, putri sahabat Abahmu, lulusan Al-Azhar yang tata kramanya luar biasa. Ummi ini sudah makin tua, Ammar... Ummi sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu dari rahim wanita terpilih seperti Zahra. Kamu mau tunggu sampai kapan lagi untuk melamar dia secara resmi?"
Cucu...? Melamar Zahra...?
Hati Aisyah seketika hancur berkeping-keping. Rasa sakit yang teramat luar biasa merebak memenuhi seluruh rongga dadanya, membuat Aisyah merasa sesak hingga sulit bernapas. Perasaan cinta yang baru saja mekar dan membumbung tinggi di dadanya sejak kemarin, kini bagaikan dihempaskan paksa ke dasar jurang yang paling dalam dan gelap.
Aisyah hanya bisa terdiam mematung, meremas bajunya sendiri demi menahan air mata yang mendadak menggenang panas di sudut matanya. Ia sadar betul... di mata Ummi Khadijah, wanita seperti Zahra-lah yang selayaknya bersanding dengan Ammar, sementara dirinya yang tidak berlatar belakang pesantren dan dinikahi secara rahasia terasa bagaikan mimpi buruk yang tak diharapkan.
Di lantai bawah, Abah hanya terdiam. Mata ulama sepuh itu menatap Ammar dengan pandangan teduh yang dalam dan sulit diartikan, memilih untuk tidak menyela ucapan istrinya.
Ammar membeku di tempat duduknya. Pria itu menghembuskan napas pelan, merapikan letak peci hitamnya. Wajah tampannya tetap tenang dan terkontrol, meski ada kilat ketegasan yang tak tergoyahkan di dalam mata cokelat mewahnya.
Ammar menatap Ummi Khadijah dengan penuh rasa hormat namun sangat dingin.
"Ummi..." ucap Ammar dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan teratur. "Soal khitbah dan pernikahan... itu bukanlah perkara main-main atau sekadar menuntaskan keinginan untuk menggendong cucu."
Ummi Khadijah berkerut kening. "Maksudmu apa, Ammar? Zahra itu kurang apa lagi di matamu?"
Ammar menggeleng pelan dengan raut wajah matang. "Zahra adalah wanita yang sangat baik dan berilmu, Ummi. Tapi pernikahan dalam Islam membutuhkan ikatan Mitsaqan Ghalizhan perjanjian yang sangat kokoh, didasari oleh kesiapan lahir, batin, dan keikhlasan hati dari kedua belah pihak tanpa ada paksaan atau desakan dari siapa pun."
Ammar jeda sejenak, menatap mata ibunya lurus-lurus dengan ketegasan seorang pria sejati.
"Saat ini, fokus utama Ammar adalah mengabdi pada pesantren, menyelesaikan kitab yang ditugaskan Abah, dan menjalankan amanah hidup yang sedang ada di hadapan Ammar dengan sebaik-baiknya. Ammar tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan besar hanya karena desakan waktu. Segala sesuatu ada takdir dan saatnya yang tepat menurut Allah, bukan menurut kehendak kita."
Jawaban Ammar begitu cerdas, penuh wibawa, dan disusun dengan kaidah agama yang sangat kuat, sehingga membuat Ummi Khadijah terbungkam tak mampu membalas sepatah kata pun.
Namun, sebelum suasana tenang itu bertahan lama... Nabila yang berdiri di samping Aisyah tiba-tiba menyela dari atas tangga seraya melangkah turun beberapa anak tangga dengan nada memanasi. Nabila sama sekali tidak tahu kalau kata-katanya justru mengiris-iris hati Aisyah yang berdiri mematung di belakangnya.
"Iya tuh, Bang! Buruan dong khitbah Kak Zahra!" seru Nabila dengan raut wajah prihatin pada sosok Zahra yang merupakan sahabat lamanya. "Kasian tahu Kak Zahra! Jangan dipemberian harapan palsu terus anak orang! Kak Zahra tuh udah nungguin Abang bertahun-tahun, tiap main ke sini selalu nanyain Abang. Kasian kalau di-PHP-in terus!"
DEGGGG!
Kalimat celetukan polos dari Nabila seolah menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan dinding hati Aisyah.
Zahra sudah menunggu Ammar bertahun-tahun...? Nabila bahkan sangat mendukung Bang Ammar dengan Zahra...
Aisyah merasa dirinya bagaikan seorang penjahat yang hadir di tengah-tengah takdir indah orang lain. Rasa asing, tidak pantas, dan sakit hati yang mendalam menyelimuti seluruh jiwanya. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit bahwa di rumah megah ini, di antara keluarga terpandang ini, keberadaannya dan statusnya sebagai istri Ammar yang tersembunyi tidak lebih dari sebuah benang kusut yang salah tempat.
Air mata Aisyah akhirnya meluncur menetes membasahi pipinya. Tanpa menimbulkan suara dan sebelum Nabila menoleh ke belakang, Aisyah perlahan memutar tubuhnya, melangkah mundur perlahan menjauhi tangga, dan berlari kecil kembali menuju kamar atas dengan hati yang remuk tak berbentuk.