NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 : Konfrontasi di Bawah Gerimis

Suasana di sudut taman kota yang

sepi itu mendadak mendingin. Genggaman tangan Kenan di jemari Luna refleks

melonggar saat ketegangan menusuk udara di antara mereka.

Kenan berdiri tegap, menatap pria

matang di depannya dengan dahi berkerut. "Maaf, Pak Marko. Tapi Aluna lagi

sama saya. Kami juga lagi ada urusan penting yang belum selesai dibahas."

Marko bahkan tidak menoleh sedikit

pun ke arah Kenan. Pandangannya yang tajam dan pekat terkunci sepenuhnya pada

Luna. Pria itu berdiri kaku dengan setelan jas gelap yang masih terpasang rapi

dari penerbangan Semarang–Jakarta.

"Aluna, saya nggak suka

mengulang ucapan," panggil Marko lagi. Suaranya rendah, berat, dan sarat

akan paksaan yang ditahan mati-matian. "Ikut saya pulang. Sekarang."

Luna menatap Marko dengan dada naik

turun menahan gumpalan emosi yang membakar. Bayangan foto-foto Marko di

Semarang—duduk makan malam romantis bareng Jessi hingga foto kolam renang tadi

pagi—kembali berputar liar di kepalanya. Rasa cemburu dan kekesalannya

membuncah seketika.

"Maaf ya, Pak Marko,"

balas Luna dingin, sengaja memberi penekanan pada panggilan formal itu.

"Saya kan lagi nggak di jam kantor. Lagian Papa juga nggak ada nge-chat

atau telepon saya dari tadi. Jadi tolong jangan bikin alasan."

"Aluna," tegur Marko

dengan nada menajam

"Ikut saya sekarang. Mama kamu di rumah sakit."

Suara berat Marko memutus pembicaraan Luna dan Kenan di sudut taman. Raut

wajah pria matang itu sama sekali tidak bercanda, ada nada cemas yang tertahan kaku

di balik matanya.

Luna tertawa sumbang, menggelengkan kepalanya. "Om nggak usah cari-cari

alasan gila ya cuma buat memisahkan saya sama Kenan! Mama tadi siang

sehat-sehat aja kok!"

"Penyakit jantung Mama kamu kambuh lagi, Aluna," tegas Marko,

melangkah makin mendekat. "Ayah kamu baru saja telepon saya karena posisi

saya yang paling dekat sama area rumah sakit. Sekarang Sinta ada di UGD."

Tawa Luna seketika lenyap. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Dengan

tangan gemetaran, ia menyambar ponsel dari tasnya dan langsung menelepon

papanya.

Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara Ardi yang terdengar panik dan

terengah-engah menjawab teleponnya.

"Luna... kamu di mana, Nak? Mama kamu tadi mendadak sesak napas dan

pingsan di rumah. Ini Papa lagi di UGD bareng Mama..."

Crak!

Ponsel di genggaman Luna hampir saja merosot jatuh. Wajah gadis itu seketika

pucat pasi. Tanpa memikirkan apa pun lagi, air matanya menetes membasahi pipi.

"G-gue ke rumah sakit sekarang ya, Ken!" pamit Luna terbata-bata

pada Kenan yang ikut panik.

"Sama saya," potong Marko cepat, langsung menarik pelan

pergelangan tangan Luna menuju mobil SUV hitamnya. Luna yang sudah panik dan

menangis sesenggukan hanya bisa menurut tanpa membantah sedikit pun.

Suasana koridor Rumah Sakit Internasional malam itu terasa begitu dingin. Di

depan ruang perawatan VIP, Ardi duduk tertunduk lesu di samping Marko,

sementara Luna tak berhenti mengusap air matanya dari balik kaca pintu kamar

tempat ibunya terbaring.

Dokter spesialis yang menangani Sinta keluar tak lama kemudian, membawa

beberapa lembar hasil pemindaian medis.

"Pak Ardi, kondisi Bu Sinta sudah stabil setelah tindakan darurat

tadi," ujar sang dokter tenang. "Namun, melihat riwayat dan penurunan

fungsi jantungnya belakangan ini, kami sangat menyarankan untuk membawa Bu

Sinta berobat ke rumah sakit rujukan di Singapura. Di sana fasilitas

penangannya jauh lebih lengkap untuk kasus spesifik seperti ini."

Ardi mengusap wajahnya yang lelah, mengangguk pasrah. "Baik, Dok. Apa

pun yang terbaik buat istri saya."

Begitu dokter pergi, Marko menepuk pelan bahu sahabatnya itu. "Di,

saran dokter benar. Lebih baik lu fokus bawa Sinta ke Singapura secepatnya.

Soal biaya dan akomodasi di sana, nanti tim gue yang urus semuanya."

"Makasih banyak ya, Ko..." sahut Ardi terharu. Tapi raut bingung

kembali menghiasi wajahnya saat menoleh ke arah Luna. "Tapi... Luna

gimana? Dia kan lagi magang dan ada jadwal kuliah, nggak mungkin ikut kita

berhari-hari di Singapura."

"Serahkan Luna ke gue," potong Marko mantap tanpa ragu. "Biar

dia tinggal di rumah gue selama lu sama Sinta di sana. Gue yang bakal menjaga

dan mengawasi dia secara langsung."

Luna yang mendengarnya langsung terperanjat. "Pa! Luna bisa jaga diri

sendiri di rumah kok! Nggak usah sampai numpang di rumah Om Marko—"

"Gak ada bantahan, Aluna," potong Ardi tegas. "Papa gak akan

tenang ninggalin kamu sendirian di rumah. Kalau ada Om Marko, Papa lega. Tolong

nurut ya, Nak."

Luna menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menatap Marko dengan lirikan

penuh kekesalan, sementara pria matang itu hanya menatapnya balik dengan raut

wajah datar yang tak tertebak.

Dua hari kemudian, Ardi dan Sinta resmi bertolak ke Singapura. Hari pertama

Luna menginap di rumah megah milik Marko, petaka langsung dimulai.

Pukul enam pagi, pintu kamar guest house yang ditempati Luna sudah diketuk

keras.

Tok! Tok! Tok!

Luna yang masih memakai piyama dan rambut berantakan membuka pintu sambil

mengucek matanya yang sembab. "Apaan sih, Om? Masih pagi banget!"

Marko berdiri tegap di ambang pintu, sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Pria

itu menyodorkan selembar kertas tebal yang berisi deretan ketikan rapi.

"Ini aturan selama kamu tinggal di rumah saya," ujar Marko dingin.

Luna menerima kertas itu dan membaca judulnya dengan tatapan tak percaya: PERATURAN

RUMAH DAN HARIAN ALUNA.

"Apa-apaan ini?!" seru Luna kesal, membacanya cepat. "Tidak

boleh pulang lewat dari pukul enam sore? Wajib diantar jemput supir pribadi?

Dilarang menerima tamu pria selain urusan keluarga?!"

"Iya," jawab Marko santai tanpa beban. "Papa kamu menitipkan

kamu ke saya, artinya keselamatan dan perilaku kamu sepenuhnya tanggung jawab

saya. Peraturan ini jauh lebih ketat dari rumah kamu, dan kamu wajib

patuh."

"Om gila ya?!" pekik Luna emosi. "Papa sama Mama aja gak

pernah se-posesif dan se-penjara ini sama aku! Om tuh cuma Om aku, bukan suami

aku!"

"Suka atau tidak suka, selama kamu di bawah atap saya, aturan saya yang

berlaku," panggil Marko rendah, memotong jarak hingga berdiri tepat di

hadapan Luna. "Termasuk melarang kamu keluyuran atau dijemput sama

Kenan."

"Om tuh kekanak-kanakan banget tahu gak?!" gertak Luna, menunjuk

dada Marko dengan wajah memerah tahan ampun. "Om cuma manfaatin wewenang

Papa buat mengekang aku, kan?!"

Marko tidak menjawab. Pria itu justru menyunggingkan senyum tipis yang

teramat kaku, lalu menunduk sedikit mendekati telinga Luna.

"Gunakan waktu kamu buat mandi dan siap-siap," bisik Marko rendah

dengan nada menuntut. "Sepuluh menit lagi kita sarapan bareng, lalu

berangkat ke kantor sama saya. Jangan bikin saya harus menyeret kamu keluar

dari kamar ini."

 

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!