"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : Konfrontasi di Bawah Gerimis
Suasana di sudut taman kota yang
sepi itu mendadak mendingin. Genggaman tangan Kenan di jemari Luna refleks
melonggar saat ketegangan menusuk udara di antara mereka.
Kenan berdiri tegap, menatap pria
matang di depannya dengan dahi berkerut. "Maaf, Pak Marko. Tapi Aluna lagi
sama saya. Kami juga lagi ada urusan penting yang belum selesai dibahas."
Marko bahkan tidak menoleh sedikit
pun ke arah Kenan. Pandangannya yang tajam dan pekat terkunci sepenuhnya pada
Luna. Pria itu berdiri kaku dengan setelan jas gelap yang masih terpasang rapi
dari penerbangan Semarang–Jakarta.
"Aluna, saya nggak suka
mengulang ucapan," panggil Marko lagi. Suaranya rendah, berat, dan sarat
akan paksaan yang ditahan mati-matian. "Ikut saya pulang. Sekarang."
Luna menatap Marko dengan dada naik
turun menahan gumpalan emosi yang membakar. Bayangan foto-foto Marko di
Semarang—duduk makan malam romantis bareng Jessi hingga foto kolam renang tadi
pagi—kembali berputar liar di kepalanya. Rasa cemburu dan kekesalannya
membuncah seketika.
"Maaf ya, Pak Marko,"
balas Luna dingin, sengaja memberi penekanan pada panggilan formal itu.
"Saya kan lagi nggak di jam kantor. Lagian Papa juga nggak ada nge-chat
atau telepon saya dari tadi. Jadi tolong jangan bikin alasan."
"Aluna," tegur Marko
dengan nada menajam
"Ikut saya sekarang. Mama kamu di rumah sakit."
Suara berat Marko memutus pembicaraan Luna dan Kenan di sudut taman. Raut
wajah pria matang itu sama sekali tidak bercanda, ada nada cemas yang tertahan kaku
di balik matanya.
Luna tertawa sumbang, menggelengkan kepalanya. "Om nggak usah cari-cari
alasan gila ya cuma buat memisahkan saya sama Kenan! Mama tadi siang
sehat-sehat aja kok!"
"Penyakit jantung Mama kamu kambuh lagi, Aluna," tegas Marko,
melangkah makin mendekat. "Ayah kamu baru saja telepon saya karena posisi
saya yang paling dekat sama area rumah sakit. Sekarang Sinta ada di UGD."
Tawa Luna seketika lenyap. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Dengan
tangan gemetaran, ia menyambar ponsel dari tasnya dan langsung menelepon
papanya.
Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara Ardi yang terdengar panik dan
terengah-engah menjawab teleponnya.
"Luna... kamu di mana, Nak? Mama kamu tadi mendadak sesak napas dan
pingsan di rumah. Ini Papa lagi di UGD bareng Mama..."
Crak!
Ponsel di genggaman Luna hampir saja merosot jatuh. Wajah gadis itu seketika
pucat pasi. Tanpa memikirkan apa pun lagi, air matanya menetes membasahi pipi.
"G-gue ke rumah sakit sekarang ya, Ken!" pamit Luna terbata-bata
pada Kenan yang ikut panik.
"Sama saya," potong Marko cepat, langsung menarik pelan
pergelangan tangan Luna menuju mobil SUV hitamnya. Luna yang sudah panik dan
menangis sesenggukan hanya bisa menurut tanpa membantah sedikit pun.
Suasana koridor Rumah Sakit Internasional malam itu terasa begitu dingin. Di
depan ruang perawatan VIP, Ardi duduk tertunduk lesu di samping Marko,
sementara Luna tak berhenti mengusap air matanya dari balik kaca pintu kamar
tempat ibunya terbaring.
Dokter spesialis yang menangani Sinta keluar tak lama kemudian, membawa
beberapa lembar hasil pemindaian medis.
"Pak Ardi, kondisi Bu Sinta sudah stabil setelah tindakan darurat
tadi," ujar sang dokter tenang. "Namun, melihat riwayat dan penurunan
fungsi jantungnya belakangan ini, kami sangat menyarankan untuk membawa Bu
Sinta berobat ke rumah sakit rujukan di Singapura. Di sana fasilitas
penangannya jauh lebih lengkap untuk kasus spesifik seperti ini."
Ardi mengusap wajahnya yang lelah, mengangguk pasrah. "Baik, Dok. Apa
pun yang terbaik buat istri saya."
Begitu dokter pergi, Marko menepuk pelan bahu sahabatnya itu. "Di,
saran dokter benar. Lebih baik lu fokus bawa Sinta ke Singapura secepatnya.
Soal biaya dan akomodasi di sana, nanti tim gue yang urus semuanya."
"Makasih banyak ya, Ko..." sahut Ardi terharu. Tapi raut bingung
kembali menghiasi wajahnya saat menoleh ke arah Luna. "Tapi... Luna
gimana? Dia kan lagi magang dan ada jadwal kuliah, nggak mungkin ikut kita
berhari-hari di Singapura."
"Serahkan Luna ke gue," potong Marko mantap tanpa ragu. "Biar
dia tinggal di rumah gue selama lu sama Sinta di sana. Gue yang bakal menjaga
dan mengawasi dia secara langsung."
Luna yang mendengarnya langsung terperanjat. "Pa! Luna bisa jaga diri
sendiri di rumah kok! Nggak usah sampai numpang di rumah Om Marko—"
"Gak ada bantahan, Aluna," potong Ardi tegas. "Papa gak akan
tenang ninggalin kamu sendirian di rumah. Kalau ada Om Marko, Papa lega. Tolong
nurut ya, Nak."
Luna menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menatap Marko dengan lirikan
penuh kekesalan, sementara pria matang itu hanya menatapnya balik dengan raut
wajah datar yang tak tertebak.
Dua hari kemudian, Ardi dan Sinta resmi bertolak ke Singapura. Hari pertama
Luna menginap di rumah megah milik Marko, petaka langsung dimulai.
Pukul enam pagi, pintu kamar guest house yang ditempati Luna sudah diketuk
keras.
Tok! Tok! Tok!
Luna yang masih memakai piyama dan rambut berantakan membuka pintu sambil
mengucek matanya yang sembab. "Apaan sih, Om? Masih pagi banget!"
Marko berdiri tegap di ambang pintu, sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Pria
itu menyodorkan selembar kertas tebal yang berisi deretan ketikan rapi.
"Ini aturan selama kamu tinggal di rumah saya," ujar Marko dingin.
Luna menerima kertas itu dan membaca judulnya dengan tatapan tak percaya: PERATURAN
RUMAH DAN HARIAN ALUNA.
"Apa-apaan ini?!" seru Luna kesal, membacanya cepat. "Tidak
boleh pulang lewat dari pukul enam sore? Wajib diantar jemput supir pribadi?
Dilarang menerima tamu pria selain urusan keluarga?!"
"Iya," jawab Marko santai tanpa beban. "Papa kamu menitipkan
kamu ke saya, artinya keselamatan dan perilaku kamu sepenuhnya tanggung jawab
saya. Peraturan ini jauh lebih ketat dari rumah kamu, dan kamu wajib
patuh."
"Om gila ya?!" pekik Luna emosi. "Papa sama Mama aja gak
pernah se-posesif dan se-penjara ini sama aku! Om tuh cuma Om aku, bukan suami
aku!"
"Suka atau tidak suka, selama kamu di bawah atap saya, aturan saya yang
berlaku," panggil Marko rendah, memotong jarak hingga berdiri tepat di
hadapan Luna. "Termasuk melarang kamu keluyuran atau dijemput sama
Kenan."
"Om tuh kekanak-kanakan banget tahu gak?!" gertak Luna, menunjuk
dada Marko dengan wajah memerah tahan ampun. "Om cuma manfaatin wewenang
Papa buat mengekang aku, kan?!"
Marko tidak menjawab. Pria itu justru menyunggingkan senyum tipis yang
teramat kaku, lalu menunduk sedikit mendekati telinga Luna.
"Gunakan waktu kamu buat mandi dan siap-siap," bisik Marko rendah
dengan nada menuntut. "Sepuluh menit lagi kita sarapan bareng, lalu
berangkat ke kantor sama saya. Jangan bikin saya harus menyeret kamu keluar
dari kamar ini."