Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Menantu yang Tak Pernah Dianggap
Setelah melaksanakan salat Ashar, Tantya menelepon ibunya. Ia memberitahukan bahwa hari itu dirinya tidak jadi datang ke rumah. Untungnya, sang ibu begitu pengertian. Tidak ada nada kecewa sedikit pun. Ia justru memahami keadaan Tantya yang sedang berada di rumah mertuanya untuk menghadiri acara pertunangan adik iparnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu mengerti. Nanti saja kalau sudah ada waktu.”Tantya mengembuskan napas lega.
"Iya, Bu. Besok kalau sempat Tya datang.”
Setelah menutup telepon, Tantya merapikan kembali ponselnya ke dalam tas. Baru saja ia hendak keluar kamar, terdengar ketukan dari luar.
Tok... tok... tok...
"Mbak Tya?”Suara Selina terdengar dari balik pintu.
Tantya membukanya. Selina sudah berdiri di depan kamar dengan wajah sedikit tidak sabar.
"Mas, Mbak, cepatlah. Yang lain sudah siap dari tadi. Kita mau berangkat.”
Tantya tidak menjawab. Ia hanya menatap adik iparnya sekilas, kemudian mengunci pintu kamar dan berjalan mengikuti Selina. Saat itulah pandangan Selina jatuh pada penampilan Tantya.
Tantya mengenakan setelan rancangan sendiri yang beberapa waktu terakhir memang sedang banyak diminati. Potongannya sederhana, tetapi terlihat elegan. Bahannya jatuh dengan sempurna dan detailnya begitu rapi. Dipadukan dengan sebuah tas kulit produksi lokal yang harganya cukup lumayan, penampilan Tantya sore itu terlihat jauh berbeda dari biasanya.
Selina memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki. "Bajunya keren juga. Ikutan tren.” Matanya kemudian beralih pada tas yang dibawa Tantya. “Tasnya juga lumayan itu harganya. Dikasih orang, ya?”
Tantya hanya tersenyum tipis. "Beli sendiri.”
"Beli sendiri? Dari mana uangnya? Itu kan?"
Selina mengangkat alis, tetapi tidak melanjutkan pertanyaan. Mereka kemudian bergabung dengan anggota keluarga yang lain di ruang tengah.
Begitu Tantya muncul, Farah dan Niken yang sedang berbincang langsung mengalihkan perhatian kepadanya. Farah memperhatikan pakaian Tantya dari atas sampai bawah, kemudian tersenyum.
"Wah, gaya juga istrimu, Ren.”Katanya pada Rendra. Rendra yang berdiri tak jauh dari sana hanya terkekeh.
"Ah, biasa saja. Kalah lah sama Mbak Farah dan Mbak Niken mah.”
"Iya lah, jangan dibandingkan.”Niken yang menjawab sambil terkekeh kecil.
Namun, beberapa detik kemudian, sorot matanya kembali tertuju pada pakaian Tantya. "Nggak, tapi ini serius. Kamu bisa beli baju dan tas seperti itu?”
Tantya menoleh. "Kenapa, Mbak?”
"Baju itu ratusan ribu, kan?” Niken melirik setelan yang dikenakan Tantya. “Tasnya juga jutaan. Jangan kebanyakan gaya kalau sebenarnya nggak mampu. Apalagi kalau pakai paylater.”
Beberapa orang yang berada di ruangan itu mulai memperhatikan percakapan mereka. Tantya masih tenang, dia gak menanggapi.
"Memangnya baju ini mahal ya?” Rendra bertanya.
"Iya, untuk ukuran istrimu yang hanya penjaga toko, itu kelewat mahal" Niken yang menjawab.
Farah langsung menyahut. “Iya benar, Ren, ini mahal. Kamu nggak tahu? Baju model begini lagi hits di kalangan pecinta fashion.”
Rendra mengusap kepalanya. “Aku kurang tahu.”
Farah tersenyum sinis. “Tapi, sudahlah, kalian ini kayak yang nggak tahu saja. Sekarang banyak barang KW. Bentuknya sama, harganya bahkan kurang dari lima puluh ribu.”
"Oh iya juga ya.” Niken seakan baru sadar. "Sekarang barang tiruan di mana-mana." "Nah itu tahu." Farah merasa menang. Tantya hanya mengangguk pelan. Ia memilih tidak memperpanjang.
Namun, perhatian ibu mertuanya justru beralih pada tas yang dibawa Tantya.
"Eh, itu tasnya bagus. Tas itu yang ibu mau.”
Tantya menoleh.“Iya, Bu.”
"Ibu memang sedang cari tas model begitu. Cumakarena harganya mahal, jadi belum kesampaian. Untung kamu pakai, jadi ibu yang itu aja.”
Tantya belum sempat menjawab ketika tangan ibu mertuanya sudah terulur.“Sini, tasnya buat Ibu.”
Tantya terdiam. "Maksud Ibu?”
"Ya kasih ke Ibu. Kamu pakai tas yang lain saja.”
"Tapi, Bu...”
"Kamu mana pantas pakai yang beginian.” Tatapan perempuan itu berubah tajam. “Lagian, ini pasti pakai uang anakku, kan?”
Tantya menarik napas pelan. "Ya nggak, Bu. Saya juga kan kerja.”
Ibu mertuanya terkekeh. "Kerja sebagai penjaga toko saja sudah sombong.”
Beberapa orang langsung tertawa kecil. Tantya mengepalkan jemarinya. Ia ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa tas itu dibelinya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Bahkan bukan hanya tas itu. Pakaian yang dikenakannya pun bukan sembarangan.
Namun, sebelum Tantya sempat mengatakan apa pun, ibu mertuanya kembali mengulurkan tangan.
"Sini tasnya. Kamu pakai yang lain saja.”
"Tapi, Bu...”
"Jangan tapi-tapian.”
Tantya menoleh kepada Rendra. Dalam hati, ia berharap suaminya akan mengatakan sesuatu. Setidaknya meminta ibunya berhenti mempermalukannya di depan orang lain.
Namun, Rendra justru menjawab enteng. "Kasihin aja, Tya. Kamu gampang. Nanti beli lagi.”
Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua ucapan ibunya.
Tantya terdiam beberapa saat.
Akhirnya, dengan wajah yang tetap tenang, ia membuka tas tersebut dan menyerahkannya kepada sang mertua.
"Ya sudah, Bu.”
Ibu mertuanya langsung tersenyum puas.
"Nah, begitu dong. Toh kamu masih punya tas yang lain.”
Tantya tidak menjawab. Untung saja ia memang membawa lebih dari satu tas. Kalau tidak, mungkin sore itu ia benar-benar harus pergi tanpa membawa apa pun.
Ia mengambil tas lainnya dari dalam kamar, lalu kembali bergabung dengan mereka. Tidak seorang pun tahu bahwa perempuan yang baru saja dipaksa menyerahkan tas mahal itu sebenarnya sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kemarahan.
Dan Tantya memilih diam. Bukan karena ia tidak mampu melawan. Melainkan karena untuk saat ini, ia masih ingin melihat **seberapa jauh keluarga itu akan terus merendahkan dirinya.**
"Ayo kita berangkat. Jangan buang-buang waktu!”
Bu Martha langsung mengambil kendali. Nada suaranya terdengar tegas, seolah-olah semua orang memang harus mengikuti apa yang dikatakannya.
"Iya, ayo-ayo!”
Farah segera melangkah menuju mobil, disusul Niken yang menggendong anaknya yang baru berusia tiga tahun. Anggota keluarga yang lain pun ikut bergerak keluar rumah.
Tantya tidak ketinggalan. Ia berjalan menuju mobil yang sejak tadi terparkir di halaman.
Begitu sampai, Tantya langsung membuka pintu mobil.
Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, Bu Martha tiba-tiba mendorong lengannya.
"Kamu ngapain?”
Tantya menoleh, sedikit terkejut. "Ya masuk mobil, Bu.”
"Tempatmu di belakang. Enak saja mau menyerobot.”
Tantya terdiam. Bu Martha mendengus, lalu melanjutkan dengan nada pedas. "Makanya tahu diri sedikit kalau jadi mantu. Mentang-mentang mobil bututmu punya sendiri, langsung saja mau nyerobot.”
Niken yang mendengar ucapan itu langsung tertawa. Anak kecil yang digendongnya ikut bergerak-gerak dalam pelukannya.
Tantya tidak menjawab. Ia hanya menatap Rendra, berharap suaminya mengatakan sesuatu. Bagaimanapun, itu mobil miliknya. Ia hanya hendak masuk ke dalam mobil yang selama ini ia gunakan sendiri.
Namun, Rendra yang merasa sedang diperhatikan justru melengos. Seolah-olah pertengkaran kecil itu bukan urusannya.
Tantya menarik napas panjang. Tanpa berkata apa-apa, ia menutup kembali pintu depan dan berjalan ke bagian belakang mobil.
Sementara itu, Bu Martha sudah lebih dulu masuk ke kursi depan dengan wajah puas. Tidak ada yang tahu, bagi Tantya, penghinaan itu bukan lagi sesuatu yang baru.
Yang mulai terasa berbeda hanyalah satu hal. Ia semakin yakin, suatu hari nanti mereka semua akan menyesal karena pernah menganggapnya tidak berarti.