Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - MANTAN YANG DATANG BAWA KOPER
Jam enam pagi.
Aku terbangun karena udara kamar terasa dingin sekali. AC masih menunjukkan angka enam belas derajat. Biasanya, suhu segitu cukup membuat kakiku mati rasa dan membuatku rela tidur sambil membungkus diri seperti lontong.
Namun, pagi ini tubuhku justru terasa hangat.
Aku baru menyadari penyebabnya setelah membuka mata sepenuhnya.
Kepalaku berada di dada Damian.
Sementara tangannya masih melingkar di pinggangku.
Aku langsung diam.
Ya ampun.
Semalaman kami benar-benar tidur dalam posisi seperti ini. Piyama biru langit masih melekat di tubuhku, selimut putih sudah kusut ke mana-mana, bahkan salah satu kakiku terjulur keluar dari selimut.
Aku mendongak sedikit.
Wajah Damian saat tidur ternyata berbeda. Tidak ada tatapan dingin seorang CEO yang biasanya cukup mengangkat alis untuk membuat satu ruangan langsung sunyi. Rambutnya berantakan, dahinya tidak berkerut, dan bibirnya sedikit terbuka.
Aku hampir tertawa.
Ternyata CEO juga manusia.
Aku mencoba mengangkat kepala perlahan.
Baru beberapa sentimeter, tangan Damian malah mengerat di pinggangku.
Aku membeku.
“Ya ampun, Pak. Bahkan tidur pun susah diajak negosiasi.”
Belum sempat aku mencari cara melepaskan diri, suara Mama terdengar dari luar kamar.
“Iya, Bu Siti! Semalam mereka tidur seranjang!”
Mataku langsung membesar.
“Pelukan juga!”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Belum selesai.
“Ya Allah, semoga bulan depan Mama dapat cucu!”
Aku langsung bangkit.
Selimut jatuh ke lantai.
“PAK!”
Damian bergerak pelan. Matanya terbuka dengan ekspresi orang yang belum tahu dunia sedang kacau.
“Ada apa?”
“Mama cerita ke Bu Siti!”
Dia mengerjap, lalu melirik jam.
“Jam berapa?”
“Jam enam!”
“Masih pagi inil.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Buat Mama, ini bukan pagi biasa. Ini waktu yang tepat untuk menyebarkan aib anak sendiri!”
Baru setelah itu dia menyadari tangannya masih berada di pinggangku. Dia segera menariknya.
“Maaf.”
Aku meraih selimut dan menutup tubuhku yang sebenarnya masih mengenakan piyama lengkap.
“Sudah. Yang penting Mama belum mengundang wartawan.”
Damian duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah.
“Biar saja gak usah dipikirin.”
Aku berhenti melipat selimut.
“Biar saja bagaimana?”
“Setidaknya Mama tahu kita mulai serius.”
Aku terdiam.
Pipiku terasa panas. Aku pura-pura sibuk merapikan seprai.
“Pak Damian, kalau pagi jangan bicara aneh-aneh.”
Dia tersenyum tipis, lalu masuk ke kamar mandi.
Tiga pesan dari Rio.
*Lil, gue di bawah apartemen lo dari semalam.*
Pesan kedua.
*Gue lihat mobil lo balik kemarin.*
Pesan ketiga.
*Gue tunggu di Kafe Arwana jam tujuh kalau lo mau cerita.*
Aku membaca semuanya tanpa ekspresi.
Dulu, tiga pesan dari Rio bisa membuatku menatap layar berjam-jam. Aku akan mencari maksud di balik setiap kalimatnya, berharap ada satu tanda bahwa perasaannya berubah.
Sekarang, yang muncul justru rasa lelah.
Aku sudah terlalu lama menunggu seseorang yang bahkan malu mengakui bahwa aku pernah menyukainya.
Jempolku bergerak.
Ketiga pesan itu kuhapus. Setelah itu, aku membuka folder sampah dan menghapusnya secara permanen.
Selesai.
Anehnya, tidak ada rasa kehilangan.
Aku justru merasa lebih ringan.
Damian keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih dan celana hitam. Dasi birunya sudah terpasang rapi. Dalam hitungan menit, CEO yang tadi tidur dengan rambut berantakan kembali menjadi pria yang tampak mampu membeli satu gedung hanya karena tidak suka warna catnya.
“Lili.”
“Iya, Pak?”
“Hari ini kamu tidak perlu mengurus berkas kantor.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Jam sepuluh ada pertemuan keluarga. Kamu ikut.”
“Sebagai staf?”
Dia menatapku tenang.
“Sebagai istri saya.”
Dua kata itu masih terasa aneh setiap kali dia mengucapkannya.
*Istri saya.*
Damian membuka lemari. Di dalamnya tergantung lima dress baru, semuanya bernuansa biru.
Aku melongo.
“Ini apa?”
“Mama membelinya semalam.”
“Lima?”
“Katanya supaya kamu punya pilihan.”
Aku menyentuh salah satu dress dengan hati-hati.
“Ini pasti mahal.”
“Jangan lihat harganya.”
“Berarti mahal.”
Damian tidak membantah.
Akhirnya aku memilih dress biru muda. Untuk rambut, aku tetap memakai bando biru murah yang kubeli di ujung gang seharga delapan belas ribu rupiah.
Ketika keluar kamar, Damian memperhatikanku.
“Cocok.”
Aku spontan menyentuh dress.
“Bajunya?”
“Bandonya.”
Aku tersenyum.
“Murah, Pak.”
“Tidak masalah. Warnanya seperti cat rumah kita.”
*Rumah kita.*
Dua kata sederhana itu kembali membuat dadaku terasa aneh.
Aku tersenyum kecil. “Berarti saya tidak perlu beli bando mahal?”
“Tidak.”
“Syukurlah. Uang saya bisa dipakai beli tempe.”
“Prioritas kamu memang luar biasa.”
“Tempe goreng Ibu saya enak, Pak. Jangan meremehkan.”
Damian terkekeh pelan.
Di meja makan, Mama sudah menunggu dengan semangkuk besar sup buntut.
“Duduk! Makan! Lili, tambah nasi!”
“Iya, Ma.”
“Damian juga!”
“Iya, Ma.”
Mama memandang kami bergantian dengan senyum mencurigakan.
“Biar kuat.”
Damian mengangkat alis.
“Untuk apa?”
“Biar cepat kasih Mama cucu.”
“Ma!”
Aku hampir tersedak kuah sup.
Bel apartemen tiba-tiba berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berkali-kali, seolah orang di luar tidak sabar menunggu.
Mama berdiri sambil menggerutu.
“Siapa pagi-pagi begini?”
Begitu pintu terbuka, suara Mama langsung menghilang.
Seorang perempuan berdiri di sana. Dia mengenakan dress merah, membawa koper besar, dan memiliki rambut panjang yang tertata rapi. Namun, matanya sembap seperti baru menangis semalaman.
Mama menatapnya tidak percaya.
“Rina?”
Perempuan itu menelan ludah.
“Ma…”
Aku ikut menoleh.
Damian yang sedang mengambil air berhenti bergerak.
Rina memandang ke arah kami. Tatapannya berpindah dari dress biruku ke bando di kepalaku, lalu berhenti pada tangan Damian yang tanpa sadar sedang menggenggam tanganku di bawah meja.
Wajahnya berubah.
“Damian.”
Damian berdiri.
“Rina.”
“Siapa dia?”
Damian tidak langsung menjawab. Dia justru melangkah mendekatiku, seolah ingin memastikan aku tidak merasa sendirian menghadapi situasi ini.
Kemudian dia berkata tegas, “Lili. Istri saya.”
Koper Rina terlepas dari tangannya.
Bruk!
“Istri?”
Suaranya bergetar.
“Sejak kapan?”
“Tiga hari lalu.”
Rina menatapku lagi.
“Kamu Lili?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Yang bekerja di kantor Damian?”
“Iya.”
“Yang menikah kontrak?”
Tubuhku menegang.
Rupanya kabar itu sudah sampai kepadanya.
Sebelum aku menjawab, Damian lebih dulu bicara.
“Rina, cukup.”
“Aku cuma mau tahu.”
“Kontrak atau bukan, dia tetap istri saya. Jangan bicara seolah dia tidak punya harga diri.”
Aku terdiam mendengar pembelaannya.
Rina menarik napas panjang.
“Lima ratus juta?”
Aku menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah.
“Iya. Awalnya memang karena kontrak.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tidak ingin berbohong. Pernikahan ini memang bermula dari kesepakatan. Namun, ada banyak hal yang sekarang tidak bisa lagi kujelaskan hanya dengan angka.
Rina menghela napas.
“Rio masih suka ikut campur urusan orang, ya?”
Aku mengangkat wajah.
“Kakak kenal Rio?”
“Kenal. Dulu dia pernah menghubungiku. Katanya Damian menikah karena terpaksa.”
Aku langsung menoleh kepada Damian.
Dia menggeleng.
“Tidak benar.”
Rina menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi kamu pernah bilang masih menungguku.”
Damian tampak kebingungan.
“Aku tidak pernah mengatakan itu.”
Rina mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah pesan.
*Aku masih ingat kamu. Kalau pulang, kita bicara.*
Damian terdiam beberapa detik.
Lalu tatapannya berpindah kepada Mama.
Mama langsung salah tingkah.
“Jangan lihat Mama begitu.”
“Ma.”
“Waktu itu Mama yang mengirim pesan.”
Aku melongo.
“Ma?”
Mama mengangguk pelan.
“Mama cuma mau Rina pulang.”
“Kenapa pakai ponsel Damian?”
“Kalau pakai nomor Mama, dia tidak akan percaya.”
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Rina menatap Mama, lalu Damian. Perlahan, air matanya jatuh.
“Jadi selama ini kamu tidak pernah menungguku?”
Damian menggeleng.
“Aku pernah menyayangimu. Tapi hubungan kita sudah selesai, Rina. Aku tidak pernah menjanjikan akan menunggumu selamanya.”
Rina menunduk.
“Aku pikir masih ada kesempatan.”
“Maaf kalau pesan itu membuatmu berharap.”
Damian tidak meninggikan suara. Dia juga tidak menyalahkan Rina karena datang. Namun, sikapnya jelas: masa lalu tidak bisa dipaksa kembali hanya karena seseorang belum siap melepaskannya.
Aku mengambil tisu dari meja dan menyodorkannya.
“Nih, Kak.”
Rina menerimanya dengan senyum tipis.
“Terima kasih.”
Beberapa saat kemudian, matanya tertuju pada bandoku.
“Bando kamu bagus.”
Aku menyentuhnya.
“Delapan belas ribu.”
Rina terkejut, lalu tertawa kecil.
“Serius?”
“Iya. Awalnya dua puluh ribu. Saya tawar.”
“Bagus. Kamu cocok memakainya.”
Suasana yang tadi menegangkan perlahan mencair.
Rina mengusap pipinya, kemudian berdiri dan menarik koper.
Sebelum pergi, dia menatap Damian.
“Selamat.”
“Terima kasih.”
Lalu dia menoleh kepadaku.
“Lili, jaga dia.”
Aku tersenyum.
“Tapi kalau dia menyebalkan, boleh dikembalikan, Kak. Asal jangan lupa kuitansinya.”
Rina tertawa lepas.
Damian menghela napas panjang.
“Lili.”
“Apa, Pak? Saya cuma bercanda.”
“Humor kamu semakin berbahaya.”
Rina membuka pintu, tetapi sebelum keluar, dia kembali menoleh.
“Dulu waktu pacaran, Damian pernah menungguku empat jam di parkiran kampus.”
Aku langsung menatap suamiku.
“Empat jam?”
“Itu tidak perlu diceritakan.”
Rina tersenyum jahil.
“Kalau sudah sayang, dia memang begitu.”
Telinga Damian memerah.
“Rina, silakan pulang.”
“Baiklah. Selamat menikmati kehidupan baru kalian.”
Pintu akhirnya tertutup.
Aku menatap Damian cukup lama.
“Pak.”
“Hm?”
“Bucin?”
“Jangan mulai.”
Aku tertawa. Mama yang masih duduk di sofa ikut terkekeh.
Pagi itu, aku sadar bahwa aku tidak merasa terancam oleh masa lalu Damian.
Aku bukan pengganti Rina. Aku tidak perlu menjadi perempuan yang sama dengannya agar bisa dicintai.
Dan Damian tidak harus melupakan seluruh masa lalunya untuk memulai sesuatu yang baru denganku.
Aku mengambil ponsel dan membuka folder sampah. Pesan Rio masih berada di sana.
Kubaca sekali lagi, bukan karena ragu, melainkan untuk memastikan bahwa aku memang sudah tidak ingin kembali.
Lalu kuhapus secara permanen.
Tidak ada lagi Kafe Arwana.
Tidak ada lagi menunggu Rio.
Tidak ada lagi berharap dipilih oleh seseorang yang pernah meninggalkanku.
Ketika kembali ke meja makan, Damian sedang menuangkan sup ke mangkukku.
“Kenapa melihatku begitu?”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Dia menyodorkan mangkuk.
“Makan dulu.”
Aku menerimanya sambil tersenyum.
“Iya, Pak.”
Pukul sepuluh nanti, aku akan berdiri di sampingnya dalam pertemuan keluarga. Bukan sebagai anak magang. Bukan karena uang lima ratus juta. Bukan pula karena aku ingin membuktikan sesuatu kepada Rio atau Rina.
Aku akan berdiri di samping Damian sebagai istrinya.
Pernikahan kami memang dimulai dari kontrak. Perasaanku pun belum sepenuhnya kupahami.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin menghabiskan waktu menunggu seseorang memilihku.
Aku juga ingin memilih.
Dan ketika Damian meraih tanganku di atas meja, aku membalas genggamannya.
Kali ini, aku tidak melakukannya karena kewajiban.
Aku melakukannya karena aku mau.
**Aku memilih Damian.**