Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mulai mengetahui yang sebenarnya
“Ada seseorang yang meminta kasus ini tidak di perpanjang lagi karena takut keluarga semakin hancur.”
Ranti langsung memahami.
Setiawan, Hanya suaminya yang punya kuasa melakukan itu.
Malam itu juga Ranti langsung pergi menghampiri Setiawan dengan mata merah. Pria itu masih bekerja ketika map yang berisi informasi kecelakaan putranya.
Map itu dilempar ke meja kerja suaminya.
“Kenapa kamu sembunyikan ini mas?”
Setiawan langsung membeku melihat dokumen tersebut.
“Ranti, kamu…”
“Jawab aku mas!” Tangis Ranti pecah.
“Selama ini aku salah!” Ucap Ranti
Setiawan memejamkan mata pelan.
“Aku tahu.” Kalimat itu membuat Ranti semakin hancur.
“Kamu tahu?”
“Aku tahu Alkina bukan penyebab kematian Arkan.”
Ranti mundur beberapa langkah seolah kehilangan tenaga.
“Lalu kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak bilang sama aku mas? Kenapa?”
“Aku sudah mencoba menjelaskan waktu itu!” bentak Setiawan akhirnya.
Setiawan berdiri. “Tapi kamu tidak mau mendengar siapa pun saat itu!”
Ratna menangis keras.
“Aku menyiksa anak aku sendiri mas…” ucapnya di sela tangisnya.
“Ya, aku tahu.”
“Aku menghancurkan dia…” ucap Ranti yang terlihat semakin hancur.
Setiawan menatap istrinya dengan mata penuh kelelahan.
“Dan aku juga bersalah karena membiarkannya.” Ucap Setiawan pelan penuh penyesalan.
Ranti jatuh terduduk di lantai, tubuhnya gemetar hebat.
Bayangan wajah Alkina terus muncul di kepalanya.
Tangisan kecil putrinya, tatapan ketakutannya, luka di tubuhnya dan semua itu dilakukan untuk anak yang sebenarnya tidak bersalah sama sekali.
“Aku bilang…” suara Ranti pecah penuh penyesalan, “…SEHARUSNYA DIA YANG MATI…” ucap istrinya sangat lemah namun terdengar jelas.
Setiawan menunduk, tangannnya mengepal kuat menahan emosi.
“Kalimat itu mungkin yang akhirnya membunuh hati Alkina, membuat dia meningalkan kita.”
Tangisan Ranti semakin pecah.
Sekarang perempuan itu sadar bahwa dirinya telah menghancurkan anak kandungnya sendiri demi kebencian yang salah arah. Dirinya sendiri yang mmebuat ia kehilangan putrinya.
Di ruangan itu pasangan suami istri menagis penuh penyesalan.
Di tempat lain…
Mira duduk tenang mendengarkan laporan dari orang kepercayaannya.
“Bu Ranti akhirnya mengetahui kebenaran tentang kecelakaan itu.”
Ya pembantu yang bekerja di rumah keluarga Wiratmaja adalah orang-orang suruhan Mira, agar ia bisa langsung mendapatkan informasi di rumah keluarga Setiawan Wiratmaja.
Tatapan Mira tetap tenang.
“Sudah kuduga.”
“Beliau terlihat sangat terpukul.”
Mira terdiam beberapa saat lalu matanya beralih ke Alkina yang sedang tertidur sambil memeluk Rian kecil.
Wajah gadis itu damai namun luka di hatinya tidak akan sembuh hanya karena Ranti menyesal sekarang.
“Penyesalan memang selalu datang terlambat,” bisik Mira lirih.
******
Rumah keluarga Wiratmaja kembali dipenuhi ketegangan namun kali ini berbeda bukan karena Alkina melainkan karena sebuah kebenaran yang perlahan terbuka satu per satu.
Ranti duduk diam di ruang kerja dengan wajah pucat. Di depannya tergeletak dokumen kecelakaan Arkan yang kini terasa seperti hukuman hidup baginya.
Tangannya masih gemetar Air matanya bahkan belum benar-benar berhenti sejak malam tadi.
Tok
Tok
Tok
“Bu boleh saya masuk?”
“Ya, masuk lah.” Ucap Ranti lemah, seperti tidak memiliki tenaga.
Pria itu masuk sambil membawa map baru yang lebih tebal.
“Ada perkembangan lain soal kasus lama Tuan muda Arkan.” Ranti langsung menegang.
“Apa lagi…” Ranti menyuruh asistennya mencari tahu semua tentang apa yang terjadi terhadap putranya dulu.
Pria itu tampak berhati-hati sebelum berbicara.
“Kami menelusuri ulang kendaraan penabrak.”
Napas Ranti mulai terasa berat.
“Dan Mobil itu ternyata milik pasangan bernama