Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Aku harus tetap tenang, tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan, pria ini bukan orang biasa. Jika dia nekat, maka semua akan kacau."
Aurora berjalan memasuki ruang kerjanya, semua orang menyapanya, dan ia membalas sapaan orang-orang.
Salah seorang staf wanita bergaya hedon, manja menariknya, bahkan wanita itu sampai terkejut sampai hampir jatuh ke lantai.
"Kau aman?" Tanya wanita itu dengan sedikit nada manja.
"Ya aku..." Belum selesai Aurora berkata, ia sudah di tarik pergi dari sana.
Di tangga darurat, kini hanya ada mereka. Aurora menatap id card yang wanita itu kenakan dan membaca namanya. "Sabrina, kau ini sebenarnya kenapa?"
Bukannya menjawab, wanita itu malah terkejut mendengar ucapan Aurora. "Ya ampun cintaku sayangku, ternyata benar rumor ituh, haduhhhh iku sampai tak bisa membayangkan. Bagaimana sakitnya anak manis satu ini, saat jatuh dari tangga..." Ucapan itu terdengar berlebihan, namun sukses membuat Aurora menahan tawa.
Aurora kemudian menatap outifnya dan benar saja. Ia baru sadar bahwa wanita itu bisa di bilang sangat-sangat centil. Ia terlihat sangat cantik dengan rok di atas lutut yang kekat, dengan baju blus. Namun make upnya, benar-benar terlihat sangat cetar. Tak hanya itu, sepatu hak tinggi yang ia kenakan mampu membuat Aurora salah fokus. Bagaimana tidak, jika di ukur tinggi hak yang ia kenakan, kurang lebih 10 cm.
Tak hanya itu saja, bando bunga-bunga, lalu perhiasannya yang cetar mulai dari 4 cincin di tangan, lalu dua kalung dan anting-anting yang besar, di tambah suaranya yang khas ala mommy manja. Berhasil membuat Aurora yang semula canggung kini mulai santai.
"Hello cinta kuh, kau ini sedang kenapa sih." Aurora menunjukkan jempolan tangannya dan tersenyum.
"Aku aman."
"No no sayang, kau tidak sepenuhnya aman. Apa kau bahkan tidak ingat panggilan untuk rekan kesayanganmu ini, kau kan biasanya panggil aku inces."
Tak mau membuatnya curiga, Aurora pun kini ngeles dan dengan cepat harus mencari topik yang lain.
"Aduh inces, seperti tidak biasa saja. Kau tahu, namamu itu, sungguh-sungguh keren, Sabrina, seperti penyanyi terkenal. Masa aku tidak boleh menyamakan temanku yang cantik ini seperti Sabrina Carpenter?"
Aurora benar-benar sukses meyakinkannya. Bahkan wanita itu, kini menarik napas lega.
"Huh, syukurlah, sempat aku kira kau marah tadi."
"Tenanglah inces, aku baik-baik saja, aw" Ucap Aurora sebari mengedipkan mata.
"Aw aw aw, tumben sekali kau juga menjadi centil, teruslah seperti ini sayang. Kau yang seperti ini benar-benar menyenangkan."
Aurora hanya bisa menganggapinya dengan tersenyum, ia benar-benar bingung harus berucap apa lagi.
Sabrina kini merangkulnya, mereka membungkukkan badan, seperti orang yang tengah bersembunyi dari sesuatu. Sabrina melihat sekitar untuk memastikan bahwa di sekitar mereka benar-benar sepi.
Aurora pun kebingungan, apa yang sebenarnya tengah ia lakukan.
"Rora, apa benar rumor itu?" Ucap Sabrina, dengan bisik-bisik. Aurora pun bingung, ia baru saja masuk kantor, dan sudah mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Kau bicara apa? Aku benar-benar tidak mengerti."
Sabrina pun melepaskan rangkulan tangannya, dan berjalan mundur, dan bersandar pada tembok.
"Ayolah, aish, apa kau tidak melihat forum. Semua saat ini sedang membicarakan pacarmu?"
"Pacarku? Maksudmu Kris?"
"Ya jelaslah Rora, kau pikir siapa lagi?"
Aurora yang penasaran pun, kini mengambil ponselnya. "Forum apa? Ini kan bukan ponselku, mana aku tahu. Dasar Sabrina, andai aku bisa berkata jujur, pasti aku sudah memintamu untuk menunjukkan isi forumnya. Tapi jika aku lakukan itu, dia pasti akan curiga."
Aurora menggeser tap layar ke bawah, semakin ke bawah dan ia menemukan sebuah forum yang memang sangat ramai berisikan banyak pesan masuk.
Sudah ada 999+, yang artinya grub daring itu, memang sangat ramai. Aurora membacanya, dan dengan seketika. Raut wajahnya langsung panik, ia menutup mulutnya dengan keduanya tangannya sehingga membuat ponsel yang ia pegang, kini terjatuh.
TYAAAARRRR!
Sabrina yang melihat reaksi Aurora, kini spontan menolongnya, ia menarik Aurora, dan membantunya untuk duduk di tangga darurat.
"Kau syok kan, itulah mengapa aku bertanya padamu."
Di pesan yang telah di sematkan di forum, seseorang mengirimkan video di mana Aurora dan Kris tampak bertengkar di jalan beberapa hari yang lalu.
Tak hanya itu, beberapa foto juga di kirim oleh orang misterius itu. Memperlihatkan sebuah foto Kris yang berfoto dengan mobil porsche model terbaru.
Semua komentar kini ramai menyebutnya sebagai pria mokondo, opini liar tanpa arah juga terus bermunculan. Dan semua orang yakin bahwa Kris hanya memanfaatkan Aurora karena dia adalah anak pengusaha.
"Sial, siapa yang mengirimnya," Batinnya, Aurora tahu bagaimana kelakuan pria itu. Namun saat ini, otaknya benar-benar penuh dengan fakta bahwa pria itu, sangat berbahaya.
Ingatannya terlintas kembali, bagaimana ia mengingat saat Kris memegang senapan itu di tangannya dan menodongkan ke arahnya. Itu benar-benar membuatnya merinding ketakutan.
Hingga pada akhir reflek berteriak, "Aaarghhhh..."
Sabrina yang berada di sampingnya pun panik, "Rora, are you ok babe?"
Aurora pun mengangguk, "I am ok."
"Jadi, semua rumor itu benar?" Tanya Sabrina dan dengan cepat langsung di balas gelengan kepala oleh Aurora.
"Tidak, itu tidak benar, jangan ngaco menyebarkan berita seperti itu. Wajar bagi pasangan untuk bertengkar. Kau seperti tidak tahu saja inces..." Ucap Aurora dengan nada centil di akhir kalimatnya.
"Ahahaha, kau benar juga, haduh, hampir saja aku ingin menonjok wajah pacarmu itu. Inilah mengapa aku bertanya langsung pada pusatnya, agar tidak salah paham. O ho ho ho." Sabrina terlihat sangat senang, dia adalah orang yang sangat-sangat mendukung hubungan mereka.
Hampir setiap hari, ia melihat interaksi mereka, meskipun ia juga ketua tim pemasaran lain, namun dia, Kris dan Aurora sudah seperti sahabat karib. Karena Sabrina pernah menjadi mentor Kris sebelum akhirnya ia menjabat sebagai ketua tim.
"Ya baiklah-baiklah, langgeng terus ya pasangan ini. Aku sudah lega, jadi aku tidak akan bertanya lagi. Ayo kembali ke ruangan."
Sabrina berjalan lebih dulu, sedangkan Aurora, kini menatapnya pergi, ia tetap berdiri di tempat yang sama.
"Sialan kau Kris, selain kau mokondo, ternyata kau juga matre, cih. Aku kira hanya wanita yang bisa matre, ternyata kau sama saja." Ucap Aurora mencibir Kris.
"Tetaplah tenang Aurora, kau harus mengenal musuhmu dulu, baru bisa membalaskan dendam." Ucapnya menyeringai sambil berjalan keluar dari tangga darurat.
Aurora kembali memasuki ruang kantor, beberapa staf kembali menyapanya, dan ia juga sama. Kembali membalas sapaan itu.
Aurora tak langsung masuk ke ruangannya, ia kini berdiri di depan pintu ruang kerja. Menatap sekitar, dan mendapati seseorang yang ia cari, tengah menatapnya tanpa berani mendekat.
Aurora tersenyum menatapnya, ia pun sontak berbalik badan dan menghampiri orang itu.
"Kris sayang..." Panggilan itu membuat Kris dan semua yang berada di sana. Sangat-sangat syok.
"Dia, memanggilku, sayang?" Ucap Kris, yang berhenti mengetik di atas keyboard.
Pria itu menatap Aurora, ia tak bisa memalingkan wajahnya dari wanita itu. Melihat seseorang yang sangat cantik, tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar.
"Aurora, kau..."
Aurora tersenyum, senyum yang sangat-sangat manis, dan hal itu bisa di rasakan oleh Kris.
"Kau tidak rindu aku?" Tanya Aurora dan Kris dan hanya mematung.
Seketika semua rumor itu, langsung terpatahkan. Anne, wanita itu baru saja kembali dari dapur setelah menuang kopi.
Namun apa yang ia lihat, berhasil membuatnya melongo di tempat.
"Dia, benar-benar Aurora? Sejak kapan, dan bagaimana bisa dia seperti itu. Lalu Kris, dia...?" Anne yang syok, tanpa sengaja menjatuhkan gelas kopi yang ia pegang.
TYARRRRRRR
Gelas itu jatuh ke lantai, membuat semua orang yang sempat menatap Aurora, kini menoleh dan menatapnya.
Aurora pun juga begitu, ia kemudian tersenyum akan sebuah fakta baru. "Wow, Anne, aku rasa aku tahu sesuatu." Ucapnya dalam hati.
BERSAMBUNG