Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: KONFIRMASI
Malam itu, Bang Tua duduk di kamar kosnya, lampu belajar menyala remang, laptop terbuka tapi kembali tidak tersentuh sama sekali. Dia butuh waktu untuk benar benar mencerna apa yang baru saja dia alami dan buktikan sendiri sore tadi. Kotak vitamin C yang tadi dia beli tanpa rencana masih tergeletak di meja belajarnya, seolah jadi saksi bisu dari eksperimen pertamanya yang berhasil.
Dia mengambil buku catatan kecil yang biasa dia pakai untuk mencatat ide ide penelitian, membuka halaman baru, dan mulai menuliskan, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, semua kejadian yang sudah terjadi belakangan ini, satu per satu, lengkap dengan tanggal dan detail yang masih dia ingat, gaya penulisan yang rapi dan terstruktur, seolah dia sedang menyusun bab metodologi untuk disertasinya sendiri, hanya saja topiknya jauh lebih aneh dari apa pun yang pernah dia bayangkan akan dia teliti seumur hidupnya.
Penyerobot antrian di SPBU, gerutuan spontan, akibatnya kartu terblokir. Preman pemalak warung Bu Inem, gerutuan spontan, akibatnya digebuk preman lain. Penipu telepon, gerutuan penuh kesal, akibatnya sindikat tertangkap. Sopir angkot ugal ugalan, gerutuan penuh amarah, akibatnya SIM dicabut permanen. Petugas apotek yang ketus, gerutuan sengaja dan sadar, akibatnya digantikan apoteker senior yang lebih sabar.
Lima kejadian, lima gerutuan, lima akibat yang persis sesuai dengan apa yang dia ucapkan atau harapkan, dengan tingkat kesengajaan yang berbeda beda, dari yang benar benar spontan sampai yang terakhir, benar benar direncanakan dan disengaja olehnya sendiri. Di bagian bawah catatannya, hampir tanpa sadar, dia menuliskan juga catatan kecil bergaya bercanda, "kesimpulan sementara, Sahat Tua resmi jadi manusia dengan kekuatan spesial paling nggak niat sedunia, aktivasinya cuma modal ngedumel doang, nggak perlu jurus jurus keren segala", sebuah lelucon yang dia tuliskan sendiri untuk sedikit meringankan beban pikirannya yang sejak tadi terasa begitu berat.
Sebagai seorang dosen matematika, seumur hidupnya dia dilatih untuk tidak mudah percaya pada pola tanpa bukti yang cukup, untuk selalu mempertanyakan apakah suatu korelasi benar benar menunjukkan sebab akibat, atau hanya kebetulan statistik semata. Tapi lima data ini, dengan konsistensi yang begitu tinggi, terutama percobaan terakhir yang dia lakukan secara sadar dan terkendali, membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengakui kesimpulan yang selama ini terus dia tolak mentah mentah.
"Ini nyata," bisiknya pelan, entah kepada dirinya sendiri atau kepada ruangan kosong di sekelilingnya. "Apa yang aku yakini benar, entah gimana caranya, bisa aku wujudkan lewat kata kata."
Ada jeda panjang setelah kalimat itu, di mana Bang Tua hanya duduk diam, membiarkan kenyataan itu benar benar meresap ke dalam dirinya. Berbagai perasaan berkecamuk sekaligus, kebingungan tentang bagaimana dan kenapa ini bisa terjadi padanya, rasa takut membayangkan apa yang bisa terjadi kalau kekuatan ini sampai digunakan sembarangan atau jatuh ke pengetahuan orang yang salah, tapi juga, jauh di dalam hatinya, ada percikan kecil harapan yang selama bertahun tahun terkubur dalam dalam.
Di tengah keseriusan itu, sisi usilnya sempat kembali muncul, membayangkan berbagai skenario konyol yang bisa terjadi kalau dia benar benar mulai menggunakan kekuatannya sembarangan, "coba bayangin kalau aku ngedumel pas macet, terus tiba tiba semua mobil di depanku ilang gitu aja, wah bisa jadi berita nasional itu, hilangnya ratusan kendaraan misterius di Medan, pelakunya dosen matematika yang lagi buru buru ke kampus". Bayangan konyol itu sempat membuatnya tersenyum sendiri di tengah kegelisahannya, semacam cara alaminya untuk tetap waras di tengah situasi yang begitu tidak masuk akal.
Selama ini dia percaya bahwa suaranya tidak pernah cukup untuk mengubah apa pun, bahwa diam adalah satu satunya pilihan aman yang tersisa baginya. Tapi sekarang, entah bagaimana, kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya. Suaranya, yang selama bertahun tahun dia kekang rapat rapat, ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah ini nyata atau tidak. Pertanyaannya adalah, apa yang harus dia lakukan dengan kenyataan ini, dan sejujurnya, dia sama sekali belum punya jawaban untuk pertanyaan besar itu, hanya punya secarik catatan penuh coretan dan satu lelucon garing yang dia tulis sendiri untuk menghibur diri.
Dia bangkit dari kursi belajarnya, berjalan ke arah jendela kecil kamar kosnya, membuka tirai tipis yang sudah agak lusuh, menatap keluar ke arah gang yang mulai sepi. Beberapa lampu rumah tetangga masih menyala, dan sayup sayup terdengar suara televisi dari kamar sebelah, memutar acara berita malam dengan volume yang cukup keras. Dia berdiri di sana cukup lama, membiarkan pikirannya mengembara, mencoba membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi kalau dia benar benar mulai memahami dan menggunakan kekuatan ini dengan sengaja.
Sesekali muncul pikiran serius, tentang tanggung jawab besar yang mungkin akan dia pikul, tentang bagaimana dia harus berhati hati supaya kekuatan ini tidak disalahgunakan, bahkan tanpa dia sadari sendiri. Tapi sesekali juga muncul pikiran pikiran ringan yang lebih menghibur, seperti membayangkan bagaimana reaksi Pak Ferdinand kalau suatu hari dia benar benar cerita soal ini, "kayaknya Pak Ferdinand bakal langsung nyuruh aku periksa ke psikiater deh kalau aku cerita beginian, atau malah dia yang minta diajarin caranya, biar proposal penelitiannya langsung disetujui fakultas".
Dia kembali duduk di depan laptopnya, mencoba sekali lagi untuk melanjutkan revisi disertasinya, tapi setelah beberapa menit hanya menatap kursor yang berkedip kedip di layar tanpa satu huruf pun yang berhasil dia ketik, dia akhirnya menyerah, menutup laptopnya, dan memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu, berharap esok hari pikirannya akan terasa lebih jernih untuk memutuskan langkah selanjutnya.
Sebelum benar benar memejamkan mata, dia sempat membuka lagi buku catatannya, membaca ulang lima kejadian yang sudah dia tuliskan tadi, seolah ingin memastikan sekali lagi bahwa semua itu bukan sekadar khayalannya sendiri, bahwa tulisan tulisan itu benar benar ada di sana, hitam di atas putih, bukti nyata yang tidak bisa dia bantah lagi. Dia menutup buku itu pelan, menyimpannya di laci meja belajar, tempat yang sama di mana dulu dia menyimpan map biru berisi bukti bukti penyelewengan dana himpunan mahasiswa, sebuah kebetulan kecil yang tidak sepenuhnya dia sadari maknanya malam itu, bahwa dia kembali menyimpan bukti bukti penting dalam hidupnya di tempat yang sama, meski kali ini isinya jauh lebih ajaib dari sekadar catatan keuangan.
Dia berbaring, menatap langit langit kamar kosnya yang gelap, pikirannya masih dipenuhi berbagai kemungkinan, sampai akhirnya kelelahan fisik dan mental yang menumpuk sepanjang minggu itu membuatnya perlahan lahan tertidur, meninggalkan pertanyaan pertanyaan besar itu untuk dijawab di lain waktu