**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 - HUJAN EMAS DI ATAS TERATAI
Kata-kataku jatuh menghantam karpet beludru ballroom bagai meteorit yang membakar habis udara di sekelilingnya.
Dua Puluh Triliun Rupiah.
Bukan surat utang subordinasi. Bukan instrumen derivatif berjangka yang sarat klausul bersyarat. Melainkan cadangan emas fisik murni berstempel Bank Sentral yang diakui langsung oleh pasar emas batangan London (LBMA).
Denting pecahan cangkir porselen di meja Raymond Zhou menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di tengah ribuan tamu yang serentak menahan napas. Teh melati panas merembes membasahi celana abu-abu mahal sang algojo bursa, namun pria tua itu tak sedikit pun bergerak untuk menyekanya. Matanya yang sipit dan dingin membelalak kaku, urat-urat merah di pelipisnya mencuat bagai cacing tanah yang menggeliat di bawah kulit keriput.
Juru lelang internasional asal Swiss yang berdiri di atas podium utama tampak mematung. Palu kayu eboni di tangannya tergantung di udara, setengah gemetar. Bibirnya membuka dan menutup tanpa suara, matanya bergantian menatap ke arahku dan layar monitor verifikasi kliring antarbank yang mulai berkedip liar dengan warna hijau zamrud.
"D-Dua puluh... triliun?" bisik juru lelang itu ke pelantang suaranya, suaranya pecah oleh nada histeria tertahan.
Di samping meja Raymond Zhou, Selena Marvia terperosok mundur hingga kursinya berderit tajam di atas marmer. Gaun malam merah darah yang ia kenakan tak mampu menyamarkan warna kulitnya yang pucat bagai mayat korban tenggelam. Selena mencengkeram tepi meja taplak sutra ungu dengan kuku-kukunya yang dipoles rapi, menatapku dengan tatapan kosong yang dipenuhi keputusasaan mutlak.
Wanita itu mengira telah menemukan pelindung baru paling tak terkalahkan di Asia Tenggara setelah menjual sisa kehormatan keluarganya kepada sindikat Sembilan Teratai. Ia mengira malam ini akan menjadi saksi bagaimana aku diinjak-injak hingga bersujud di hadapan Raymond Zhou.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Panggung kemegahan yang mereka rancang untuk menelan Arlena Holding hidup-hidup baru saja kubakar menjadi abu dalam satu kali tarikan napas.
"Nona Nadia Arlena," suara Raymond Zhou akhirnya terdengar serak, keluar dari sela-sela gigi emasnya yang bergemeletuk. Tongkat perak berkepala serigala di samping kursinya ia cengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu anak perempuan yang baru keluar dari kamar tidur Edward kemarin sore. Jangan mengira lelang internasional ini adalah panggung sandiwara untuk menggertak kosong!"
Pria tua itu bangkit berdiri dengan susah payah, menatap juru lelang dengan kilat mata yang mematikan.
"Verifikasi surat jaminan itu sekarang juga, Tuan Hans!" perintah Raymond lantang, suaranya menggelegar menembus heningnya ballroom. "Bank Sentral Republik ini tidak pernah mengizinkan penjaminan aset emas batangan fisik milik dinasti lama tanpa izin tertulis dari kementerian keuangan dan kepala otoritas moneter! Anak ini hanya membual dengan kertas usang tahun enam puluhan untuk mengacaukan penawaran konsorsium saya!"
Beberapa diplomat asing dan konglomerat di meja-meja belakang mulai saling berbisik gelisah. Raymond Zhou adalah monster finansial yang reputasinya dibangun di atas bangkai puluhan korporasi besar; jika dia berani menantang keaslian surat jaminan itu secara terbuka, berarti ada celah hukum yang siap ia terkam.
Namun sebelum bisik-bisik itu membesar menjadi keraguan publik, sebuah langkah tegap terdengar melangkah maju di sampingku.
Adrian Varell.
Tuksedo formal hitam legam yang ia kenakan tampak menyatu sempurna dengan bayang-bayang lampu gantung kristal. Langkahnya begitu santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya, namun tekanan gravitasi yang dipancarkannya membuat dua pengawal berjas abu-abu milik Raymond yang berdiri di depan meja kehormatan refleks meraba sarung senjata di balik jas mereka.
"Verifikasi yang Anda minta sudah selesai sebelum Nona Arlena mengangkat tangannya, Tuan Zhou," suara bariton Adrian mengalun rendah, dalam, dan sarat akan otoritas yang membuat bulu kuduk para tamu meremang.
Adrian menoleh sedikit ke arah podium utama. "Tuan Hans, sambungkan saluran proyektor utama ke peladen kliring cabang Bank of England di Singapura."
Juru lelang itu terburu-buru mengangguk, jemarinya yang berkeringat mengetik beberapa kode keamanan di terminal komputernya.
BZZZT.
Layar proyektor raksasa berukuran sepuluh kali enam meter di belakang panggung lelang mendadak berkedip. Lambang Garuda emas berpadu dengan segel perak Bank of England muncul di tengah layar, disusul baris-baris data transaksi kliring emas internasional bernomor registrasi AU-1968-JKT-0001.
Di bagian bawah dokumen resmi itu, terpampang tiga stempel pengesahan digital tingkat tinggi:
Status Kepemilikan Emas Batangan: Dua Puluh Ton Murni (99.99% Fine Gold).
Pemegang Hak Kuasa Tunggal: Nadia Arlena (Berdasarkan Penetapan Darah Helena Arlena).
Pihak Penjamin Kedua Likuiditas Tunai: Konsorsium Varell Group (Nomor Akta Notaris Internasional 448/SG).
Status Validasi Saldo: TERKUNCI & TERSEDIA DI REKENING PENAMPUNG DIPLOMATIK.
Desah napas tertahan bergema serempak di seluruh ruangan.
Dua puluh ton emas fisik. Ditambah jaminan likuiditas tunai tanpa batas dari Varell Group.
Ini bukan sekadar penawaran lelang biasa. Ini adalah sebuah deklarasi perang modal mutlak yang sanggup meruntuhkan stabilitas nilai tukar valuta asing di bursa regional jika ditarik secara tiba-tiba.
Wajah Raymond Zhou seketika berubah dari pucat menjadi abu-abu gelap. Seluruh arogansi dan ketenangan seorang algojo bursa internasional yang ia pupuk selama empat dekade runtuh tanpa sisa. Tongkat perak di tangannya bergetar tak terkendali di atas lantai marmer.
"Dua... dua puluh ton emas keluarga Arlena..." gumam Raymond serak, matanya menatap dokumen di layar proyektor dengan horor yang tak terbantahkan. "Emas yang dulu disembunyikan oleh Helena sebelum kebakaran sembilan puluh enam... bagaimana bisa dokumen aslinya jatuh ke tanganmu?!"
Aku melangkah maju satu tapak, membiarkan kilau berlian hitam di leherku memantulkan bias cahaya tajam ke arah mata tuanya.
"Karena ibu saya tahu betul siapa serigala-serigala yang membakar rumahnya saat krisis moneter melanda, Tuan Zhou," suaraku mengalun tenang, membelah keheningan dengan kejernihan yang mengerikan. "Ibu saya tahu bahwa pada akhirnya, sindikat Sembilan Teratai akan kembali ke Jakarta untuk merebut dermaga barat sebagai pintu gerbang jalur gelap mereka. Dan beliau menitipkan kunci kuburan kalian kepada saya."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah podium juru lelang. Tatapanku dingin, tajam, dan mutlak.
"Tuan Hans, apakah ada tawaran yang lebih tinggi dari Dua Puluh Triliun Rupiah untuk sertifikat konsesi dermaga barat?"
Juru lelang menelan ludah dengan susah payah, lalu menatap meja kehormatan Konsorsium Sembilan Teratai.
"D-Dua puluh triliun penawaran pertama dari Nona Besar Nadia Arlena..." seru juru lelang dengan suara bergetar.
Raymond Zhou menoleh panik ke arah asisten pribadinya yang sedang sibuk memegang telepon satelit berenkripsi militer.
"Hubungi dewan tetua di Singapura!" desis Raymond dengan ludah memercik dari bibirnya. "Minta otorisasi fasilitas kredit siaga darurat dari Bank DBS dan OCBC sekarang juga! Naikkan penawaran menjadi dua puluh dua triliun!"
Asisten itu mendengarkan suara di seberang sambungan satelit dengan wajah yang semakin memucat. Setelah beberapa detik, ia perlahan menurunkan ponselnya, menatap Raymond dengan mata dipenuhi keputusasaan.
"Tuan Besar Zhou..." bisik sang asisten terbata-bata. "Dewan tetua di Singapura... baru saja memutus sambungan."
Raymond membeku bagai tersengat listrik. "A-apa katamu?!"
"Otoritas Moneter Singapura (MAS) bersama kepolisian divisi kejahatan ekonomi komersial baru saja menggerebek markas perbankan yayasan Sembilan Teratai di Marina Bay sepuluh menit yang lalu," lapor asisten itu dengan suara tercekat. "Seluruh rekening perantara konsorsium telah dibekukan atas dasar laporan pencucian uang terorisme maritim dan penyelundupan kontainer pelabuhan Jakarta. Dewan tetua mengeluarkan instruksi... kita harus mundur dari seluruh operasi di Indonesia malam ini juga."
DEG.
Darah di dalam tubuh Raymond Zhou seolah berhenti mengalir seketika.
Ditinggalkan oleh sindikatnya sendiri. Diputus jalur dananya di saat paling kritis di hadapan ratusan pasang mata elit ibu kota.
"Dua puluh triliun penawaran kedua..." suara juru lelang kembali bergema, semakin lantang dan pasti.
Raymond Zhou terhuyung. Ia memandang ke sekeliling ruangan, namun para pengusaha, diplomat, dan pejabat yang tadi membungkuk hormat padanya kini serempak membuang muka, menjaga jarak sejauh mungkin dari sang algojo yang baru saja ditelanjangi kekuasaannya.
Di sampingnya, Selena Marvia menangis tersedu-sedu tanpa suara, air matanya membanjiri pipinya hingga riasan matanya luntur hitam berantakan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tempat berlindung barunya telah hancur sebelum ia sempat menikmati secuil pun dari kemewahannya.
"Dua puluh triliun... penawaran ketiga..."
Juru lelang mengangkat palu eboninya tinggi-tinggi.
GTOK!
Dentuman palu menghantam bantalan kayu dengan suara yang memekakkan telinga.
"TERJUAL! Hak Penguasaan Konsesi Dermaga dan Kawasan Logistik Pesisir Barat seluas empat ratus hektare secara sah jatuh ke tangan Nona Besar Nadia Arlena dari Konsorsium Arlena Holding!"
Tepuk tangan bergemuruh seketika memecah keheningan ballroom.
Para pengusaha nasional yang selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang tekanan sindikat asing menyambut kemenangan ini dengan sorak-sorai tertahan. Kedaulatan dermaga maritim ibu kota telah kembali ke tangan putri sah pewaris Nusantara.
Namun sebelum tepuk tangan itu reda, pintu ganda ballroom didorong terbuka dari luar dengan dentuman keras.
Dua lusin personel bersenjata lengkap mengenakan rompi antipeluru bertuliskan Bareskrim Polri dan Satgassus Bea Cukai melangkah masuk dalam formasi taktis. Mereka membelah kerumunan tamu dengan langkah cepat dan disiplin, langsung mengepung meja kehormatan Konsorsium Sembilan Teratai.
Seorang perwira tinggi kepolisian berbintang dua melangkah di depan, memegang map merah berlogo kejaksaan agung.
"Tuan Raymond Zhou," suara sang jenderal polisi bergema dingin di atas keheningan yang kembali menyergap ruangan. "Berdasarkan surat perintah penangkapan nomor SP-Kap/088/IX/Bareskrim, Anda secara resmi ditahan atas dugaan tindak pidana pemufakatan jahat, pencucian uang lintas negara, dan keterlibatan dalam sabotase fasilitas strategis negara di pelabuhan Tanjung Priok."
Dua petugas melangkah maju, langsung memasangkan borgol baja antikarat ke kedua pergelangan tangan Raymond Zhou yang terkulai lemas di atas pegangan tongkatnya.
Sang algojo bursa yang ditakuti di seluruh Selat Malaka itu tak mampu membantah sepatah kata pun. Keangkuhannya telah patah seutuhnya. Ia digiring melintasi karpet merah bagai pesakitan biasa, kepala tertunduk dalam di bawah sorotan ratusan kamera tamu undangan.
Dan saat petugas hendak mengamankan dokumen di meja, sang perwira tinggi melirik wanita yang masih meringkuk di kursi sampingnya.
"Nona Selena Marvia?" tanya sang jenderal datar.
Selena mendongak dengan wajah penuh teror, suaranya tercekat di tenggorokan. "B-bukan saya... saya cuma tamu... saya tidak tahu apa-apa tentang konsorsium ini..."
"Anda adalah pemilik manfaat (beneficial owner) dari tiga rekening penampung aliran dana selundupan PT Samudra Marvia Prima yang menerima transferan dari rekening Tuan Zhou," sahut sang perwira tanpa ampun. "Bawa dia juga. Satukan dengan tahanan kasus dermaga di rutan khusus Bareskrim."
"TIDAK! NADIA, TOLONG AKU!" jerit Selena histeris saat dua polisi wanita mencengkeram kedua lengannya dan menyeretnya bangkit dari kursi.
Gaun malam merahnya tersangkut kaki meja, sobek di bagian bawah saat ia dipaksa melangkah. Selena meronta-ronta bagai orang gila, matanya menatap liar ke arahku yang masih berdiri tenang beberapa meter di hadapannya.
"Nadia! Kita bersahabat sejak kecil! Kamu tidak bisa membiarkan mereka memenjarakanku! Pikirkan kenangan kita bersama, Nadia! Ryan yang memaksa aku melakukan semua ini! Ryan bajingan itu yang menjanjikan segalanya padaku!"
Langkah Selena terhenti tepat saat ia diseret melintas di sampingku.
Aku melirik ke arahnya dari sudut mataku. Sorot mataku begitu dingin dan hampa, seolah menatap serangga busuk yang terinjak di atas tanah basah.
"Kenangan kita bersama sudah kamu kubur di apartemen lantai tiga puluh dua sepuluh tahun yang lalu, Selena," bisikku sangat pelan, nada suaraku hanya bisa didengar olehnya di tengah kegaduhan ruangan.
Selena mematung seketika. Matanya membelalak ngeri, pupilnya bergetar liar mendengar kalimat yang mustahil dipahami oleh akal sehatnya. Sepuluh tahun yang lalu? Apartemen lantai tiga puluh dua? Sebelum otaknya sempat memproses keanehan kalimat itu, polisi wanita telah menariknya paksa keluar dari pintu ballroom, menelan jeritan histerisnya ke dalam kegelapan malam.
Pembersihan di Grand Hyatt telah tuntas.
Lantai marmer yang tadi dipersiapkan sebagai kuburan bagi Arlena Holding kini menjadi saksi bisu kejatuhan total para pemburu yang berubah menjadi buruan.
Juru lelang Hans turun dari panggung dengan tergesa-gesa, menyerahkan map kulit berisi sertifikat pengesahan konsesi lahan dermaga barat yang telah dibubuhi meterai diplomatik langsung ke hadapanku.
"Selamat, Nona Besar Nadia Arlena," ucap Hans dengan membungkuk sembilan puluh derajat penuh hormat. "Mulai malam ini, seluruh pelabuhan peti kemas pesisir barat berada di bawah kekuasaan mutlak Anda."
Aku menerima berkas bersejarah itu dengan tangan yang mantap. Kemenangan ini bukan hanya menyelamatkan aset keluargaku, melainkan merebut kembali warisan berdarah yang ditebus oleh nyawa ibuku sembilan belas tahun yang lalu.
Aku berbalik menatap Adrian Varell yang masih berdiri memperhatikanku dengan binar kepuasan yang begitu pekat di wajahnya yang tampan dan dingin.
"Dua puluh triliun penawaran yang sangat berani, Nadia," bisik Adrian rendah saat kami melangkah keluar dari ballroom yang riuh, menyusuri koridor privat menuju lift eksekutif hotel. "Bahkan saya sempat mengira kamu akan membiarkan saya menalangi sisa defisitnya dengan kas cadangan Varell Group."
"Saya tidak pernah meminjam pedang orang lain jika saya bisa menempa pedang saya sendiri, Tuan Varell," sahutku tenang seraya melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka.
Pintu lift berdenting tertutup, menyegel kami berdua dalam keheningan intim yang sarat akan sisa ketegangan perang modal tadi.
Adrian tidak menjaga jarak seperti biasanya. Pria itu melangkah maju satu tapak, memangkas ruang di antara kami hingga punggungku menyentuh dinding cermin lift yang dingin. Aroma tembakau dingin dan kayu cedar yang khas darinya mengurungku sepenuhnya.
Jemari Adrian yang kokoh terulur perlahan, menyentuh liontin berlian hitam di pangkal leherku, lalu jempolnya membelai pelan kulit selangkaku yang hangat.
"Kamu telah memotong tangan kanan Konsorsium Sembilan Teratai di ibu kota malam ini, Ratu baruku," bisik Adrian serak, tatapan matanya yang hitam kelam menatap lurus ke dalam pupil mataku dengan intensitas yang membuat nafasku sedikit memburu. "Raymond Zhou dipenjara, Selena Marvia menunggu vonis dua puluh tahun, dan Darmawan Arkana menjadi gelandangan bangkrut."
"Tapi dewan tetua di Singapura masih bernapas di seberang selat," jawabku tanpa memalingkan wajah, merasakan hawa napasnya yang hangat menyentuh bibir merah anggurku.
"Benar," seringai tipis yang berbahaya terbit di bibir Adrian. "Dan begitu mereka mendengar bahwa putri Helena Arlena telah merebut kembali pelabuhan barat, mereka akan mengirimkan pion yang jauh lebih berbahaya dari sekadar bankir tua bertongkat perak."
"Siapa?"
Adrian mencondongkan wajahnya lebih dekat, membisikkan satu nama keramat di samping telingaku yang membuat darahku berdesir dingin:
"Gavin Zhou. Putra mahkota sindikat Sembilan Teratai yang memegang lisensi komando tentara bayaran maritim di perairan internasional. Pria yang di masa lalumu... melatih Ryan Arkana cara menggunakan pisau."
DEG.
Ingatan malam berdarah itu kembali menyengat kepalaku.
Pria bayangan yang berdiri di ambang pintu apartemen lantai tiga puluh dua dalam kegelapan. Pria yang menyerahkan pisau bermata ganda itu ke tangan Ryan sebelum suamiku melangkah ke arahku.
Gavin Zhou.
Rupanya lingkaran takdir berdarah ini terus merajut jalurnya sendiri dengan presisi yang mengerikan.
Namun kali ini, tidak ada rasa takut yang tersisa di dalam dadaku. Aku mendongak, menatap mata kelam Adrian dengan senyuman paling mematikan yang pernah terukir di wajah seorang Nadia Arlena.
"Maka suruh Gavin Zhou datang ke Jakarta secepatnya, Tuan Varell," bisikku balik seraya menyentuh kerah tuksedo mahalnya dengan ujung kuku merahku. "Karena pisau yang dulu ia serahkan kepada Ryan... akan kutancapkan tepat di jantung dinastinya sendiri."
Adrian terkekeh rendah—sebuah tawa sang raja kegelapan yang menemukan ratu sejatinya di tengah kobaran api pembalasan dendam.
Lift eksekutif berdenting membuka di lantai basement khusus, di mana konvoi armada lapis baja Varell telah bersiaga menyambut kami untuk kembali ke medan tempur berikutnya.
Malam pembersihan di Grand Hyatt telah berakhir dengan kemenangan telak.
Namun di cakrawala Selat Malaka, badai baja dan mesiu yang sesungguhnya baru saja mengumpulkan awan gelapnya menuju tanah air.
Dan aku... sudah siap menjadi badai yang paling mematikan di antara mereka semua.
Bersambung...