NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Ujian Tengah Semester dan Kertas Contekan

Musim Ujian Tengah Semester (UTS) tiba, mengubah atmosfer koridor Fakultas Teknik menjadi sangat tegang. Mahasiswa sibuk membolak-balik buku diktat setebal bantal, sementara Gavin tetap berjalan santai dengan pulpen murah yang diselipkan di balik telinganya. Bagi Gavin, ujian tertulis seperti ini adalah hal paling mudah yang harus ia hadapi, mengingat ia sudah melahap materi kurikulum internasional sejak sekolah menengah atas.

Namun, ketenangan di dalam ruang ujian nomor 302 terusik. Di barisan paling belakang, tepat dua meja di samping Gavin, duduk Tiko—mahasiswa angkatan atas yang terkenal manja, arogan, dan merupakan anak dari salah satu wakil dekan penting di universitas tersebut. Tiko tidak belajar sama sekali karena malam sebelumnya sibuk berpesta di klub malam kota.

Saat pengawas ujian lengah karena sedang merapikan berkas di meja depan, Tiko meremas secarik kertas menjadi gumpalan kecil dan melemparnya tepat ke arah meja Gavin.

TAK.

Gumpalan kertas itu mendarat di samping lembar jawaban Gavin. Gavin melirik kertas itu dengan sebelah alis terangkat, lalu membukanya perlahan. Di dalamnya tertulis barisan kalimat dengan spidol hitam: “Kirim jawaban nomor 3 sampai 5 ke meja gue sekarang. Kalau lu nolak, gue pastikan beasiswa temen kos lu yang namanya Rian itu dicabut minggu depan lewat bokap gue. Jangan macem-macem sama gue, bocah gembel.”

Gavin membaca ancaman itu dengan tatapan mata yang perlahan menggelap. Senyum slengeannya hilang seketika. Mengancam dirinya adalah satu hal, tetapi mencoba mengusik sahabatnya menggunakan kekuasaan nepotisme adalah hal yang paling tidak bisa ditoleransi oleh prinsip hidup Gavin.

Gavin menatap Tiko dari kejauhan. Tiko hanya menyeringai puas, memberikan isyarat dagu agar Gavin cepat bekerja.

Gavin tersenyum dingin. Ia kembali fokus pada lembar jawabannya sendiri. Jemarinya yang panjang bergerak dengan sangat cepat, mengisi seluruh jawaban kalkulus tingkat lanjut dan reaksi kimia organik dengan akurasi seratus persen dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.

Setelah selesai, Gavin berdiri dari kursinya, berjalan dengan langkah santai namun berwibawa menuju meja pengawas untuk mengumpulkan lembar jawabannya yang sempurna. Seluruh mata di kelas menatapnya dengan pandangan tidak percaya karena ia menjadi mahasiswa pertama yang keluar.

Saat melangkah menuju pintu keluar, Gavin sengaja mengambil rute melewati meja Tiko. Dengan gerakan yang sangat kasual seolah-olah tidak sengaja, Gavin menjatuhkan sebuah gumpalan kertas coretan lecek tepat di atas pangkuan Tiko.

Tiko langsung tersenyum penuh kemenangan. Ia buru-buru membuka kertas itu di bawah meja agar tidak terlihat oleh pengawas. Namun, senyum di wajah Tiko langsung membeku dan berganti menjadi warna merah padam menahan malu yang luar biasa saat melihat isi kertas tersebut.

Tidak ada satu pun jawaban ujian di sana. Kertas itu kosong, kecuali sebuah tulisan dengan huruf kapital yang sangat besar dan tegas di bagian tengah:

“BELAJAR YANG BENER, DEK. DUIT DAN JABATAN BAPAKMU GAK BISA BELI NILAI ATAU NYALI DI DEPAN GUE. KALAU LU BERANI NYENTUH BEASISWA RIAN, GUE PASTIKAN BAPAK LU KEHILANGAN KURSI JABATANNYA BESOK PAGI.”

Tiko gemetar menahan amarah, namun ia tidak berani berteriak di dalam ruang ujian. Sementara itu, Gavin melangkah keluar dari koridor gedung kuliah dengan siulan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jins robeknya. Ia tahu konflik dengan Tiko baru saja dimulai, tetapi demi membela kehormatan sahabatnya, Gavin siap meruntuhkan siapa saja yang berani bermain kotor di hadapannya.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!