Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: BUKU NIKAH DAN TALI JERATAN
Usai prosesi akad nikah tertutup yang penuh kepura-puraan di rumah utama keluarga cabang selesai digelar, Azka langsung bergegas menyeret Aira keluar menuju mobilnya. Wajah pria itu tampak dingin, tidak ada sedikit pun aura pengantin baru yang bahagia di pancaran matanya.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Aira dengan suara lembut yang polos saat duduk di kursi penumpang.
"Ke kantor urusan agama. Mengurus pendaftaran buku nikah kita," jawab Azka singkat tanpa menoleh sedikit pun, langsung menancap gas mobilnya menjauhi halaman rumah.
Namun, mobil baru berjalan beberapa ratus meter dan belum juga melewati separuh perjalanan, Azka mendadak menginjak rem di tepi jalan yang sepi. Pria itu menyambar sebuah amplop cokelat tebal dari balik jok belakang, lalu melemparnya kasar ke pangkuan Aira.
PLAK!
Aira melirik isi amplop tersebut. Dua buah buku nikah—satu berwarna merah dan satu berwarna hijau—tergeletak di sana.
"Tidak perlu repot-repot ke KUA. Itu sudah aku urus lewat orang dalam. Ini buku nikah kita yang sudah jadi," cetus Azka dingin dengan nada memotong. "Aku tidak menerima pertanyaan apa pun. Yang penting secara hukum dan agama kita sudah sah."
Azka menyunggingkan senyum culas dalam hati, merasa sangat puas karena berhasil menyerahkan buku nikah palsu buatan timnya tanpa dicurigai sedikit pun oleh Aira.
Aira memandangi kedua buku nikah cetakan halus itu. Bukannya marah atau terkejut, di balik matanya berkilat kilauan geli yang teramat dingin. Baguslah, aku tidak perlu repot-repot membuang tenaga untuk membuat buku nikah asli dengan bangsat ini, batin Aira sangat puas.
Aira lalu mengambil ponsel mewahnya, mengarahkan kamera ke arah dua buku nikah di pangkuannya yang berlatar jemari Azka di kemudi, lalu mengambil beberapa foto ciamik. Tanpa membuang waktu, ia mengunggah foto tersebut ke akun media sosial pribadinya dengan caption yang sangat romantis:
“Awal dari perjalanan abadi kita, Suamiku. Terima kasih sudah menyempurnakan hidupku, Mas Azka. ❤️✨ #ResmiNikah #HusbandAndWife”
Aira tahu betul, Rani adalah pengikut nomor satu yang selalu memantau akun media sosialnya setiap detik. Dalam hitungan detik setelah diunggah, notifikasi view pertama langsung datang dari akun Rani. Aira tersenyum sinis membayangkan betapa terbakar dan kepanasannya darah sepupunya itu saat ini.
Setibanya kembali di rumah keluarga besar, Azka berniat langsung pergi memarkirkan mobil dan menemui Rani yang sedang mengurung diri di dalam. Namun, saat baru turun dari mobil, Aira dengan cepat melangkah maju dan melingkarkan tangannya erat-erat di lengan Azka.
"Aira, lepas! Apa-apaan ini?!" bisik Azka panik sambil berusaha menghempaskan tangan Aira.
Mata Azka secara tidak sengaja menangkap sosok Rani yang berdiri di balik jendela lantai dua, menatap mereka dengan air mata berderai dan wajah memerah menahan cemburu yang gila. Azka yang takut Rani nekat lagi, mencoba melepaskan cengkeraman Aira lebih keras.
Namun, Aira tidak membiarkannya. Cengkeraman jemari Aira di lengan jas Azka makin menguat, menusuk tajam.
Aira mendekatkan wajahnya ke telinga Azka, membisikkan kata-kata dengan nada manis yang teramat mengancam:
"Kenapa dilepas, Mas? Kamu mau aku mengajukan ulang pesta pernikahan mewah kita besok, Suamiku? Nenek kan sudah bilang, kalau kamu tidak mesra, resepsi puluhan miliar itu harus tetap diadakan..."
DEG!
Kata-kata Aira bagaikan hantaman gada berat di kepala Azka. Membayangkan resepsi mewah diadakan besok—yang berarti rencana pengalihan aset dan jebakan surat nikah palsunya bisa berisiko terbongkar di depan ratusan pejabat dan media—membuat bulu kuduk Azka berdiri.
Dengan terpaksa, Azka menahan napas, meneguk ludah pahit, dan membiarkan jemarinya menggandeng erat tangan Aira. Wajahnya dipaksa tersenyum kaku meski hatinya menjerit ketakutan melihat Rani di atas.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang keluarga yang sedang ramai oleh sanak saudara. Di sudut ruangan, Rani yang baru saja turun dari lantai dua duduk bersandar lemas didampingi Tante Mia, wajahnya sembap dan penuh dendam.
Bukannya menjauh, Aira justru sengaja menuntun Azka berjalan mendekat dan duduk persis di depan Rani. Aira sengaja merapatkan tubuhnya, bersandar manja di bahu Azka, dan mengelus dada suaminya itu di hadapan mata Rani secara terang-terangan.
"Aduh Rani, kamu sudah agak sehatan?" tanya Aira dengan nada khawatir yang dibuat-buat, jemarinya terus membelai mesra kerah kemeja Azka. "Maaf ya, Mas Azka dari tadi manja banget sama aku, tidak mau dilepas tangannya... maklum, namanya juga pengantin baru."
Mata Rani membelalak lebar. Tangannya meremas kain gaunnya hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit. Wajahnya memerah padam, napasnya memburu akibat luka cemburu yang teramat dalam dan menyiksa. Sementara Azka hanya bisa membisu kaku bagaikan patung, terjebak di antara dominasi dingin Aira dan tatapan membunuh dari Rani.