Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Delvin Yang
Rekaman di ponsel Vivian akhirnya diputar.
Seluruh aula langsung dipenuhi suara percakapan yang terekam.
"Vivian, kakakmu telah menabrak seseorang. Kau harus menanggung kesalahannya demi melindungi masa depannya. Karena itu, kami sudah menghubungi polisi dan mengatakan bahwa kau menyerahkan diri karena melakukan tabrak lari."
Suara Mike Wei, ayah Vivian, terdengar jelas.
Seluruh ruangan seketika hening.
Vivi terlihat ketakutan dan cemas.
Rekaman kembali berlanjut.
"Pa, aku juga anakmu. Kenapa karena Vivi yang menabrak orang, justru aku yang harus dipenjara? Apakah kalian benar-benar keluargaku?"
Suara Vivian terdengar penuh kesedihan.
"Vivian, kakakmu sangat cerdas sejak kecil. Dia selalu mendapatkan nilai tinggi dan menjadi harapan keluarga. Kau harus menanggung kesalahan Vivi demi masa depannya. Setelah kau bebas, Mama akan menebusnya."
Suara June terdengar jelas.
"Ma, demi masa depan Vivi, kalian mengorbankan masa depanku. Bagaimana kalian bisa menjadi orang tua?"
Rekaman berhenti.
"Bukan seperti itu!" bantah Vivi dengan panik.
Namun, suara-suara dari seluruh aula langsung terdengar.
"Ternyata pelakunya adalah Vivi Wei!"
"Selama ini dia yang memberitahu kami bahwa Vivian yang menabrak seseorang!"
"Dasar tidak tahu malu!"
Mark berdiri dan menatap Vivi dengan tajam.
"Vivi Wei, kau benar-benar keterlaluan. Kau menabrak seseorang lalu melarikan diri. Setelah itu, adikmu yang harus menanggung kesalahanmu sampai dipenjara selama setahun."
Justin ikut bersuara.
"Vivi, kau juga sengaja memberitahu orang lain bahwa Vivian melakukan kesalahan besar dan dihukum oleh keluarganya sendiri selama dia berada di penjara."
Seorang dosen menatap Vivi dengan serius.
"Vivi Wei, katakan sekarang. Apakah semua yang ada dalam rekaman itu benar?"
"Tidak!" Vivi menggeleng cepat. "Vivian Wei hanya ingin menjebakku! Dia sengaja membuatku menjadi korban!"
Joline yang sejak tadi menahan diri akhirnya berdiri.
"Vivi, apakah keluargamu selama ini tidak tahu kalau Vivian selalu menjadi peringkat pertama?"
Vivi terdiam.
"Setiap tahun kau selalu berada di bawah Vivian. Aku sudah mengenal Vivian sejak kami masih kecil. Dia bahkan tidak perlu belajar keras atau menghafal berulang kali untuk menjadi juara. Kecerdasannya memang sudah terlihat sejak kecil."
Joline menatap Vivi dengan tajam.
"Sedangkan kemampuanmu... masih jauh di bawah Vivian."
"Vivi Wei, selama aku berada di penjara, tidak ada satu pun dari kalian yang datang mengunjungiku. Kalian hanya beralasan tidak ingin ada orang yang mengetahui hubungan kita karena takut nama baik keluarga tercemar."
Tatapan Vivian semakin tajam.
"Kenapa kau yang bersalah, tetapi aku yang harus berkorban? Kenapa saat itu kau tidak berani maju dan mengakui kesalahanmu?"
Vivi terdiam.
"Setelah aku mengorbankan diriku dan keluar dari penjara, namaku sudah terlanjur dikenal sebagai seorang narapidana. Lalu, apa yang aku dapatkan?"
Suara Vivian mulai bergetar menahan emosi.
"Kalian bahkan tidak menyambut kepulanganku dengan baik. Sebaliknya, kalian terus mengancamku agar tidak memberitahu siapa pun tentang apa yang sebenarnya terjadi."
Vivian menatap Vivi, lalu melanjutkan.
"Kau, Papa, Mama, bahkan Kakak... kalian semua sama saja."
Ia mengepalkan tangannya.
"Hari ini kau bahkan sengaja menghasut teman-temanmu agar peringkatku dibatalkan. Sebenarnya, apa lagi yang tidak bisa kau lakukan?"
"Vivian, kau berbohong!" bantah Vivi panik. "Demi mempertahankan peringkatmu, kau tega menghancurkan aku!"
"Cukup!"
Suara tegas Delvin tiba-tiba menggema di seluruh aula.
Semua orang langsung terdiam.
Delvin berdiri dari kursinya. Tatapannya dingin tertuju kepada Vivi.
"Vivi Wei."
Vivi menelan ludah.
"Sebagai Direktur Hua Qing, dengan ini aku menyatakan bahwa kau resmi dikeluarkan dari Universitas Hua Qing."
Wajah Vivi langsung pucat.
"Sebagai seorang mahasiswa, kau tidak hanya gagal bertanggung jawab atas perbuatanmu, tetapi juga menyebarkan fitnah dan kebohongan untuk menjatuhkan orang lain."
Delvin menatapnya tajam.
"Mahasiswa dengan sikap dan kualitas seperti dirimu tidak layak menjadi bagian dari Hu Qing."
"Paman, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan! Aku tidak melakukannya. Semua ini adalah ulah Vivian!" ucap Vivi panik.
Jo langsung menatapnya.
"Vivi Wei, sepertinya kau salah memanggil. Direktur tidak memiliki hubungan apa pun denganmu. Jangan memanggilnya sembarangan."
Vivi terdiam.
Mark menatap Vivi dengan dingin.
"Vivi, di depan semua orang di sini, aku juga mengumumkan bahwa pertunangan kita dibatalkan."
Wajah Vivi langsung berubah pucat.
"Selama ini aku memang tidak pernah menyukaimu. Aku tidak menyukai wanita yang suka berbohong dan menyebarkan gosip."
"Tuan Muda Mark, kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku benar-benar serius denganmu!" bantah Vivi.
"Pertunangan ini dibuat oleh Kakekku, bukan atas keinginanku. Kenapa aku harus menikahi wanita sepertimu?"
Vivi hanya bisa terdiam dengan wajah penuh ketakutan.
Delvin kemudian kembali berbicara.
"Selain itu, aku juga mengumumkan bahwa Vivian Wei akan mendapatkan beasiswa dari Hua Qing setiap tahun hingga dia menyelesaikan pendidikannya."
Seluruh aula kembali gempar.
Delvin melanjutkan dengan tenang.
"Setelah lulus, Vivian Wei akan mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Yang Group."
"Terima kasih, Direktur!" ucap Vivian dengan senyum gembira.
Jo ikut tersenyum.
"Vivian, selamat untukmu. Selama ini Yang Group memang sedang mencari mahasiswa berbakat. Setelah melihat hasil ujianmu, kami baru mengetahui bahwa kau telah menjadi peringkat pertama selama tiga tahun berturut-turut."
Jo kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyerahkannya kepada Vivian.
"Perusahaan kami membutuhkan seseorang berbakat sepertimu. Ini kartu namaku. Kalau suatu saat kau membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku."
Vivian menerima kartu tersebut dengan kedua tangannya.
"Terima kasih, Asisten Jo!"
"Sampaikan terima kasih kepada keluarga Wei. Mereka berhasil mendidik putri mereka hingga menjadi calon karyawan pilihan Yang Group," perintah Delvin kepada Jo.
"Baik, Direktur," jawab Jo.
Delvin dan Jo kemudian beranjak dari sana.
"Direktur, terima kasih!" ucap Vivian dengan senyum lebar.
Seluruh ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan. Para dosen juga ikut memberikan apresiasi kepada Vivian.
Vivian membungkukkan kepala sebagai tanda terima kasih.
Sementara itu, Vivi hanya bisa menahan amarahnya. Tangannya mengepal erat, dan tatapannya penuh kebencian kepada Vivian.
"Terima kasih, Direktur. Semoga selalu sehat, panjang umur, dan semakin tampan!" ucap Vivian dengan senyum lebar.
Mark, Joline, dan Justin langsung menoleh tajam ke arah Vivian karena sudah tahu sifat gadis itu.
Vivian hanya tersenyum polos seolah tidak merasa mengatakan sesuatu yang aneh.
Delvin yang sedang melangkah menuju pintu hanya tersenyum tipis.
Tanpa menoleh, ia terus berjalan meninggalkan aula.