Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Senyum yang Tak Disadari
Jantung Meloudy berdegup kencang tak keruan. Ia tak menyangka ibunya akan melontarkan pertanyaan begitu — dan di hadapan pria itu sendiri! Pipi dan telinganya terasa panas sekali, seakan terbakar. Ia menunduk sejenak, berusaha menyembunyikan kegugupannya, namun rasa malu itu tak kunjung mereda.
Vano sendiri terdiam sejenak, terkejut, namun sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis — bukan senyum mengejek, melainkan senyum yang lembut, seakan pertanyaan itu sama sekali tak mengganggunya.
Ibu Meloudy mengangguk pelan, meski sorot matanya masih menyiratkan keraguan.
"Pemilik tempatmu bekerja…" gumamnya.
"Datang sendiri ke sini, membawakan barang-barang... Sungguh… Ibu jadi bingung membedakannya."
Meloudy menunduk makin dalam, tak berani menatap siapa pun.
"Ibu… beliau baik, itu saja. Beliau…"
"Tidak apa-apa, Meloudy," suara Vano terdengar lembut, menenangkan. Ia kembali menatap wanita yang terbaring di tempat tidur itu.
"Benar, Ibu. Saya adalah atasan Meloudy. Namun saya datang ke sini karena saya sungguh peduli pada kesembuhan Ibu… dan karena Meloudy adalah karyawan yang sangat berharga bagi saya."
Ibu Meloudy tersenyum lebar, menatap mereka berdua bergantian.
"Baiklah… baiklah, Ibu mengerti," ucapnya pelan, meski senyum itu tak sepenuhnya hilang.
"Terima kasih, Tuan Vano. Terima kasih sudah datang menjenguk kami yang sederhana ini."
Meloudy menghela napas panjang, namun rasa hangat perlahan mengalir di dadanya — bukan lagi rasa malu, melainkan rasa syukur. Di hadapan ibunya, Vano tak terlihat tersinggung, tak terlihat berniat pergi. Justru sebaliknya, ia berdiri di sana dengan tenang, seakan kehadirannya di ruangan itu memang sudah seharusnya ada.
**
Waktu berlalu begitu tenang di kamar itu. Vano tak banyak bicara, namun kehadirannya terasa menenangkan — ia membantu menata buah-buahan di meja, menyiramkan air ke gelas kecil, dan sesekali menyahut lembut saat ibu Meloudy bercerita. Hingga akhirnya cahaya sore benar-benar memudar, digantikan kegelapan malam yang lembut.
Meloudy menyadari hal itu lebih dulu.
"Tuan… sudah larut," ucapnya pelan, menatap jendela yang kini gelap.
"Seharusnya Tuan pulang sekarang."
Vano menoleh, menatap jam di dinding, lalu mengangguk perlahan. Ia berdiri, merapikan sedikit pakaiannya, lalu menatap wanita yang berbaring di tempat tidur.
"Saya pamit dulu, Ibu. Semoga lekas sembuh."
"Terima kasih, Nak Vano…" Ibu Meloudy tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca.
"Datanglah lagi jika sempat."
"Siap, Ibu." Vano tersenyum tulus, lalu melangkah menuju pintu.
Meloudy mengikuti di belakangnya, menutup pintu perlahan agar tak menimbulkan suara. Lorong rumah sakit yang sepi menyambut mereka, lampu-lampu di langit-langit memancarkan cahaya yang lembut dan samar.
"Biarkan saya mengantar Tuan," ucapnya pelan saat mereka berjalan berdampingan.
Vano menoleh sejenak, lalu mengangguk.
"Terima kasih, Meloudy."
Mereka berjalan menyusuri trotoar yang kini sepi, angin malam berhembus sejuk menyapa wajah mereka. Langkah kaki mereka kembali menyatu — tenang, teratur, seakan sudah terbiasa berjalan bersama. Meloudy berjalan sedikit di sampingnya, sesekali melirik ke arah pria itu, hatinya terasa hangat dan damai.
"Maafkan ucapan Ibu tadi…" ucapnya tiba-tiba, menunduk sedikit.
"Beliau hanya… beliau belum pernah melihat atasan datang menjenguk seperti ini."
Vano tersenyum tipis, menatap ke depan.
"Tak perlu minta maaf. Itu wajar." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan.
"Dan… tak menyinggungku sama sekali."
Meloudy mendongak, menatap sisi wajahnya yang diterangi cahaya lampu jalan. Senyumnya tulus, begitu menenangkan.
"Terima kasih, Tuan…" suaranya hampir berbisik.
Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat parkir. Mobil Vano terlihat berdiri megah di bawah cahaya lampu, namun suasana di antara mereka terasa begitu sederhana, begitu dekat.
"Ini mobil Tuan," ucap Meloudy pelan, berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Vano berhenti, menoleh sepenuhnya ke arahnya. Tatapannya lembut, tak lagi tajam seperti biasanya.
"Terima kasih sudah mengantarku, Meloudy."
"Sama-sama, Tuan." Ia menunduk hormat.
"Hati-hati di jalan."
Vano masih berdiri di sana sejenak, seakan ingin mengatakan sesuatu lagi, namun akhirnya hanya mengangguk pelan.
"Kau juga. Kembalilah ke Ibumu."
"Baik, Tuan."
Vano membuka pintu, masuk ke dalam, dan menyalakan mesin. Meloudy berdiri di tempatnya, menunggu hingga lampu kendaraan itu perlahan menjauh, lenyap di tikungan jalan. Hingga bayangannya benar-benar hilang, ia masih berdiri diam, memeluk kedua lengannya sendiri — bukan karena dingin, melainkan karena rasa hangat yang tertinggal di dadanya.
Perlahan, ia berbalik arah, melangkah kembali ke gedung rumah sakit yang bercahaya di kejauhan. Langkahnya ringan, hatinya penuh. Ia tahu, ibunya sedang menantinya — dan ada satu hal lagi yang kini ia sadari: sejak sore tadi, ia tak lagi merasa sendirian.
**
Mesin mobil menderu halus, meluncur menjauh dari rumah sakit yang cahayanya perlahan mengecil di balik kaca jendela. Vano menyetir dengan tenang, pikirannya bukan pada jalanan di depan, melainkan pada setiap momen yang baru saja berlalu — suara lembut Meloudy saat berbicara, caranya menunduk malu saat ibunya bercanda, tatapan matanya yang bersinar tulus di bawah cahaya lampu kamar.
Dan tanpa ia sadari, sudut bibirnya perlahan terangkat.
Ia melirik ke kaca spion tengah, dan seketika itu juga ia tertegun.
Aku… tersenyum?
Jemarinya sedikit menegang di setir. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri, seakan tak mengenali ekspresi itu. Raut yang biasanya kaku, dingin, tertutup rapat… kini melembut, terasa ringan, seolah beban yang memikulnya selama ini ikut luruh perlahan.
Ada apa denganku? batinnya bergumam, sedikit bingung sekaligus tak mau mengakuinya.
Sejak kapan hal sederhana seperti ini membuatku merasa… tenang?
Ia mengerutkan kening sejenak, berusaha mencari alasan yang masuk akal. Bukan, bukan karena apa-apa. Hanya suasana tadi yang damai. Hanya karena melihat ibunya tersenyum. Hanya itu.
Namun bayangan wajah Meloudy tak kunjung pergi.
Vano menghela napas pelan, lalu membuang pandangan kembali ke jalan di depan. Ia menggeleng pelan, menyembunyikan sisa senyum yang masih tertinggal.
Tapi… ah, sudahlah!
Ia menekan pedal gas sedikit lebih mantap, membiarkan angin malam masuk lewat celah kaca yang terbuka, menyegarkan pikirannya. Biarlah untuk saat ini. Biarlah senyum itu tertinggal di perjalanan pulang ini. Besok segalanya akan kembali seperti biasa — ia tetap Vano, Meloudy tetap bawahannya.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu satu hal: perasaan hangat yang ditinggalkan wanita itu tak akan hilang begitu saja.
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu