“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Jinak
Wanita itu terus saja menguping.
"Kan nggak mungkin aku istirahat di rumah Mami. Pasti aku pulang ke rumahku. Mau Hulya ada di sini atau enggak, nggak ngaruh sama aku. Intinya, aku harus pulang ke sini. Bukan ke rumah Mami."
Nada suara pria itu semakin meninggi. Sepertinya Affandy benar-benar mulai marah kepada orang di seberang telepon.
"Kamu stres. Kelakuanku memang bejat, tapi selama aku bebas di dunia luar, aku nggak pernah nginep di rumah perempuan. Kamu juga tau itu!"
Hulya mulai mengerti. Sepertinya laki-laki itu sedang berkomunikasi dengan Tiffany, kekasih suaminya.
"Udahlah. Aku capek! Jangan rusak hari liburku!"
Hulya akhirnya memahami sesuatu. Sifat Affandy yang berubah sejak pagi ternyata karena pria itu sedang bertengkar dengan Tiffany.
"Aw!"
Wajah Hulya tiba-tiba berada di dada bidang seorang pria. Affandy membuka pintu secara tiba-tiba hingga membuat Hulya hampir terjatuh. Untung saja tubuh suaminya berada tepat di hadapannya.
"Hulya!"
"Kamu ngapain?"
"A-aku..." Hulya gugup. Dia takut suaminya akan kembali marah.
"Nguping?"
"Bukan... Ta-tadi—"
Hulya semakin panik.
"Aku bertengkar sama Tiffany," ungkap Affandy sebelum berlalu pergi.
"Oh ... Karena itu dia baik sama aku."
Hulya memandangi suaminya yang berjalan lebih dulu menuju ruang makan.
"Berarti Affan itu sebenarnya baik. Cuma dia mudah terbawa arus. Buktinya, dia baik sama aku saat sedang bertengkar dengan pacarnya."
Hulya tersenyum kecil.
"Aku harus bisa memanfaatkan waktu seperti ini."
Affandy sudah duduk di bangku meja makan. Dia memperhatikan nasi goreng berbentuk hati yang tersaji di hadapannya.
"Hulya!"
"Aku di sini, Affan."
Hulya langsung menarik kursi dan duduk di dekat Affandy.
"Enak?"
"Kan belum aku cobain."
"Cobain dong."
"Nggak apa-apa dirusak?" tanya Affandy.
"Demi apa, dia nanya," batin Hulya.
"Kok malah diem?"
"Nggak apa-apa. Rusakin aja, kan mau dimakan."
Affandy memutar bola matanya malas. "Udah tahu dimakan. Nggak usah dibentuk aneh-aneh gini."
Hulya memperhatikan suaminya yang mulai menyantap nasi goreng tersebut.
"Enak?"
"Nggak!"
Hulya kesal, dia langsung menarik piring itu.
"Hulya!" teriak Affandy. "Aku lapar!"
"Kamu bilang nggak enak."
"Kenapa sih perempuan itu ngeselin? Nggak kamu, nggak Tiffany."
"Hei! Nggak usah sebut dia kalau lagi kesel. Nanti kamu tambah kesel sama dia."
"Nggak! Paling besok aku baikan sama dia," ucap Affandy.
Hulya mengembuskan napas perlahan.
"Sini nasi gorengnya."
"Aku ganti yang lain aja, kan nggak enak."
"Aku lapar, Hulya!" pekik Affandy.
Bukannya takut, Hulya malah merasa gemas dengan tingkah pria itu. "Bilang enak dulu."
"Nggak enak."
"Ya udah!"
Hulya beranjak sambil membawa piring.
"Lapar, Hulya. Mau makan."
Hulya menahan tawa.
"Ya ampun. Ternyata suamiku ini lagi lapar."
Dia kembali meletakkan piring tersebut. "Makan yang banyak, ya, sayang," ucapnya sambil mengacak-acak rambut pria itu.
"Ih ... Ngapain sih," ketus Affandy.
Hulya kembali duduk dan memperhatikan suaminya makan. Hari libur ini terasa seperti hadiah bagi Hulya.
Affandy sudah jinak, bahkan hanya sesekali dia membentak Hulya. Itu pun tidak seperti biasanya. Bagi Hulya, sikap Affandy hari ini benar-benar berbeda.
[] [] []
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Siang hari, setelah terdengar azan Zuhur, Hulya mendapati Affandy sedang duduk di sofa ruang tengah. Laptop berada di pangkuannya dan pria itu terlihat terlalu fokus bekerja.
"Affan."
"Apa?" tanya Affandy tanpa menoleh ke arah wanita itu.
"Salat dulu, nggak?"
"Nanti!"
"Sekarang dong. Jangan ditunda-tunda begitu, nggak baik."
Affandy mengembuskan napas kasar. Dia kemudian menoleh ke arah Hulya.
"Ceramah itu di masjid, bukan di rumah."
"Iya, tahu. Berarti kamu mau aku ceramahin di tempat umum?" tanya Hulya.
"Arghhh..."
Affandy mengacak-acak rambutnya.
"Kepalaku lagi sakit ngurusin pekerjaan. Belum lagi urusan sama Tiffany. Kamu malah bikin aku pusing."
"Makanya salat. Biar diberikan petunjuk sama Allah," ucap Hulya. "Siapa tahu Allah nyuruh kamu pisah sama Tiffany."
Affandy meletakkan laptop di atas meja. Dia berdiri dan menatap tajam wanita itu.
"Kamu mau dicekik?"
"Dicekik?"
"Hmm ... Ide bagus. Soalnya 'kan belum pernah ada berita suami mencekik istri karena disuruh salat."
Hulya tersenyum.
"Gimana kalau kita perdana bikin berita itu?"
Affandy melangkah mendekati Hulya.
"Hulya!" pekik Affandy sambil mengepalkan tangannya di depan wajah wanita itu.
"Iya, sayang. Suamiku paling tampan. Baik juga."
"Kamu salat sendiri 'kan bisa. Kecuali kamu nggak tahu salat."
"Lho, di rumah ini ada imam. Jadi aku harus menggunakan imam itu dengan baik."
Affandy menarik lengan Hulya. "Kemana?"
"Wudhu. Tadi kamu bilang mau salat."
"Jangan kencang-kencang kan bisa. Tanganku sakit."
"Terserah aku. Aku yang kasih kamu makan, 'kan?"
"Pipiku masih sakit, Affan. Nunggu sembuh dulu, baru kamu boleh kasar sama aku."
Affandy melepaskan tangan Hulya.
"Setelah kita salat, kita ke dokter, ya."
"Ngapain?" tanya Hulya.
"Pipi kamu masih sakit, 'kan? Perlu diperiksa. Takutnya tulang leher kamu bergeser. Hahaha..."
Affandy tertawa terbahak-bahak, lalu meninggalkan Hulya di ruang tengah. Hulya Anindita mengernyitkan dahi. Affandy terlalu garing kalau bercanda. Namun, di satu sisi, dia justru menyukai hal itu.
[] [] []
Pukul satu siang, mereka telah selesai melaksanakan salat berjamaah. Hulya menggeser tempat duduknya hingga berada di samping Affandy Frazendra.
"Mau ngapain?" tanya pria itu.
"Mau cium suamiku."
"Aku bukan suamimu," ucap Affandy penuh penekanan.
Laki-laki itu melepaskan pecinya dan meletakkannya di pangkuan Hulya. Setelah itu, Affandy segera beranjak dari tempat tersebut.
"Affan."
Pria yang dipanggil menoleh.
"Aku selalu nurut sama kamu. Apa kamu nggak bisa menghargai aku sedikit aja?" tanya Hulya.
Affandy memutar bola mata malas. Kemudian, dia menyodorkan tangannya.
"Nih!"
Dengan senang hati Hulya meraih tangan pria itu dan menciumnya.
"Udah, 'kan?"
"Makasih, suamiku sayang."
Affandy mengabaikan ucapan Hulya. Dia sama sekali tidak termakan oleh perkataan romantis wanita itu.
"Ya Allah ... Luluhkanlah hatinya sebagaimana Engkau meluluhkan besi untuk Nabi Daud. Aamiin..."
Hulya malah tersenyum sendiri saat membayangkan tingkah Affandy hari ini. Pria itu tetap suka membentak, tetapi entah kenapa hari ini terlihat romantis di mata Hulya.
"Ya ampun, Hulya."
Affandy kembali datang. Dia sudah mengenakan celana dan melepaskan sarung yang tadi dipakainya.
"Ngapain duduk di sini?"
"Adem ... Apalagi duduk di sajadah tempat suami salat."
"Cepetan siap-siap."
"Kita mau ke mana?" tanya Hulya.
"Ke rumah sakit. Wajah kamu harus diperiksa. Mana biru banget lagi."
"Nggak usah!"
"Barusan kamu bilang nurut sama aku."
"Iya, suamiku."
"Aku bukan suami kamu. Ngerti, kan?"
"Nggak ngerti," balas Hulya.
Affandy berdecak kesal, wanita itu sungguh membuatnya harus menahan emosi.
"Aku tunggu di mobil."
"Jangan lama."
"Iya, sayang."
"Najis!"
Hulya terkekeh geli. Ternyata mengerjai Affandy sungguh menyenangkan. Untuk pertama kalinya, dia merasa seperti menemukan permainan baru di dalam rumah itu.