Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dekapan yang salah
Apartemen itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Nayla menutup pintu perlahan setelah masuk. Suara kunci yang berputar terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia kembali berada di tempat yang seharusnya menjadi rumahnya.
Namun untuk pertama kalinya, Nayla tidak merasa aman di sana.
Ia menyandarkan punggung pada pintu. Tasnya masih menggantung di bahu. Sepatunya belum dilepas. Kepalanya dipenuhi banyak hal: pesan-pesan dari Siska, kemarahan Arga, tatapan dingin suaminya ketika ia memilih pulang sendiri, dan sikap Raka yang tiba-tiba berdiri di pihaknya.
Nayla memejamkan mata.
“Aku harus bagaimana?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
Ia akhirnya berjalan ke ruang tamu dan meletakkan tas di sofa. Ponselnya bergetar beberapa kali berturut-turut. Nayla menatap layar dengan enggan.
Ada lima panggilan tidak terjawab dari Arga.
Tiga pesan baru.
**Arga:** Kamu di mana?
**Arga:** Jangan bikin masalah di kantor.
**Arga:** Pulang. Kita harus bicara.
Nayla membaca semuanya tanpa membalas.
Beberapa detik kemudian, pesan baru kembali masuk.
**Arga:** Jangan dekat-dekat sama Pak Raka. Kamu tidak tahu orang seperti apa dia.
Jari Nayla berhenti di atas layar.
Kalimat itu membuatnya mengernyit.
Arga baru saja tertangkap menyembunyikan perempuan lain. Namun yang ia pikirkan sekarang justru Nayla tidak boleh dekat dengan Raka.
Nayla tertawa pelan, tetapi tidak ada rasa lucu di sana.
Ia meletakkan ponsel di meja, lalu berjalan ke dapur. Tangannya membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin. Saat sedang menuangkan air ke gelas, pandangannya jatuh pada kotak makanan yang ia siapkan semalam.
Sup ayam.
Tumis buncis.
Semua masih tersimpan rapi.
Nayla menatap makanan itu cukup lama sebelum menutup kulkas kembali.
Tiba-tiba, rasa lelah menyerangnya.
Bukan lelah karena kurang tidur.
Bukan hanya lelah karena menangis.
Melainkan lelah karena selama ini ia berusaha mempertahankan sesuatu seorang diri.
Nayla membawa gelas air ke sofa dan duduk perlahan. Ia menarik lutut ke dada, memeluknya, lalu membiarkan air mata jatuh lagi.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini bukan pesan dari Arga.
Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan foto.
Nayla menatap layar dengan napas tertahan.
Foto itu menampilkan Arga dan Siska di dalam sebuah restoran. Mereka duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela. Arga tersenyum sambil memegang tangan perempuan itu.
Tanggal di pojok foto menunjukkan tiga minggu lalu.
Tiga minggu lalu, pada malam yang sama Nayla menunggu Arga pulang hingga pukul satu pagi.
Saat itu, Arga mengatakan rapat dengan klien berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Tangan Nayla mulai gemetar.
Pesan berikutnya masuk.
**Nomor tak dikenal:** Masih mau percaya kalau mereka cuma teman kantor?
Nayla terpaku.
Siapa pengirimnya?
Mengapa orang itu memiliki foto Arga dan Siska?
Apakah orang itu sengaja ingin menyakitinya, atau justru ingin menolongnya membuka mata?
Sebelum Nayla sempat membalas, panggilan masuk dari nomor yang sama muncul di layar.
Ia ragu beberapa detik, lalu menekan tombol angkat.
“Halo?”
“Jangan panik,” suara perempuan di seberang terdengar pelan. “Aku tidak berniat mengganggumu.”
“Siapa kamu?”
“Itu tidak penting.”
“Kalau tidak penting, kenapa kamu kirim foto suami saya?”
Ada jeda.
Kemudian perempuan itu mengembuskan napas panjang.
“Karena aku pernah berada di posisimu. Percaya pada laki-laki yang ternyata mempermainkan lebih dari satu perempuan.”
Nayla menggenggam ponsel lebih erat.
“Kamu mengenal Arga?”
“Aku mengenal Siska.”
Nama itu membuat Nayla menegang.
“Siska pernah dekat dengan tunanganku,” lanjut perempuan itu. “Aku baru tahu setelah semuanya terlambat. Ketika aku melihat dia mulai dekat dengan Arga, aku pikir kamu berhak tahu.”
“Kenapa tidak bicara langsung saja?”
“Aku tidak ingin terlibat lagi. Aku hanya ingin kamu berhenti menunggu suamimu pulang dengan alasan pekerjaan.”
Panggilan terputus.
Nayla menatap layar ponsel yang sudah gelap. Dadanya seperti dipenuhi batu.
Berarti Siska bukan hanya perempuan yang merebut Arga.
Perempuan itu sudah pernah melakukan hal yang sama pada orang lain.
Namun mengapa Arga mau terlibat dengannya?
Apakah suaminya benar-benar tidak peduli pada perasaan Nayla?
Atau Arga justru menikmati permainan itu?
Suara kunci diputar dari luar.
Nayla tersentak.
Ia berdiri cepat. Ponselnya masih berada di tangan.
Pintu terbuka.
Arga masuk dengan wajah tegang. Kemeja kerjanya sudah sedikit kusut, dasinya longgar, dan rambutnya tidak lagi serapi pagi tadi. Ia tampak seperti seseorang yang terburu-buru pulang karena takut kehilangan sesuatu.
Namun Nayla tidak lagi tahu apakah sesuatu itu dirinya atau hanya kendali atas dirinya.
“Kamu kenapa tidak angkat telepon?” tanya Arga.
Nayla tidak menjawab.
Arga menutup pintu dan melangkah masuk. “Aku dari tadi cari kamu. Kamu pulang sama Pak Raka?”
Nada suaranya langsung berubah tajam ketika menyebut nama itu.
“Pak Raka mengantar saya pulang karena kamu membuat keributan di kantornya,” jawab Nayla.
“Aku tidak membuat keributan.”
“Kamu mencoba menarik tangan saya.”
“Aku cuma mau ajak kamu pulang.”
“Dengan cara memaksa?”
Arga terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan. “Kamu terlalu membesar-besarkan.”
Lagi.
Selalu kalimat itu.
Nayla menarik napas panjang. Ia membuka foto yang dikirim nomor tidak dikenal tadi, lalu mengulurkan ponselnya kepada Arga.
“Kalau ini juga aku besarkan-besarkan?”
Arga melihat layar tersebut.
Wajahnya seketika berubah.
Tidak sampai beberapa detik, ia mengambil ponsel Nayla dengan kasar.
“Kamu dapat ini dari mana?”
“Jawab pertanyaan saya dulu.”
“Siapa yang kirim?” Arga tidak menjawab. Tatapannya justru menyapu layar ponsel, mencari nomor pengirim.
Nayla merebut ponselnya kembali. “Jangan alihkan pembicaraan.”
Arga mengusap wajahnya frustrasi. “Nayla, dengar. Ini tidak seperti yang kamu pikir.”
Nayla tertawa kecil. Air matanya kembali menggenang.
“Kalimat itu seharusnya keluar sebelum aku melihat kamu menjemput dia pagi tadi. Sebelum aku membaca chat kalian. Sebelum aku melihat foto kamu memegang tangannya.”
Arga terdiam.
“Kamu bilang dia cuma teman kantor,” lanjut Nayla. “Teman kantor mana yang kamu panggil sayang? Teman kantor mana yang membuat kamu pulang larut setiap malam? Teman kantor mana yang kamu sembunyikan dari istrimu?”
“Nayla…”
“Jawab!”
Suara Nayla meninggi untuk pertama kalinya.
Arga tampak terkejut. Mungkin selama ini ia tidak pernah melihat Nayla semarah itu.
“Aku khilaf,” ucap Arga akhirnya.
Dua kata itu membuat Nayla merasa ingin tertawa sekaligus menangis.
*Khilaf.*
Seolah pengkhianatan selama berbulan-bulan bisa diringkas menjadi satu kesalahan kecil.
“Sejak kapan?” tanya Nayla.
Arga menunduk.
“Sejak kapan, Arga?”
“Dua bulan,” jawabnya lirih.
Nayla memejamkan mata.
Dua bulan.
Dua bulan ia tidur di samping suaminya tanpa tahu hati pria itu sudah terbagi.
Dua bulan ia memasak, menunggu, dan mencemaskan Arga.
Dua bulan ia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa kurang perhatian.
“Kenapa?” tanya Nayla. Suaranya kini pecah. “Apa yang kurang dari aku?”
Arga cepat-cepat mengangkat wajah. “Bukan begitu.”
“Lalu apa? Aku kurang cantik? Aku membosankan? Aku tidak cukup baik sebagai istri kamu?”
“Kamu tidak kurang apa-apa.”
“Kalau aku tidak kurang apa-apa, kenapa kamu mencari perempuan lain?”
Arga tidak bisa menjawab.
Kesunyian itu lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Nayla mundur satu langkah. Ia merasa lututnya melemah. Napasnya semakin sulit diatur.
“Aku capek,” bisiknya.
Arga mendekat. “Nay, aku minta maaf. Aku akan selesaiin semuanya sama Siska.”
Nayla menatapnya.
“Aku tidak percaya.”
“Aku serius. Aku cuma… aku terbawa suasana. Siska selalu ada waktu aku stres. Dia mendengarkan masalah aku.”
Nayla tertawa pahit.
“Aku juga selalu ada di rumah menunggu kamu. Tapi kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk mendengarkan.”
“Nayla, tolong…”
Arga berusaha memegang tangan Nayla.
Namun Nayla menarik tangannya dengan cepat.
“Jangan sentuh aku.”
Arga membeku.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap. Lalu Arga mengambil napas kasar, meraih tas kerjanya yang tadi ia letakkan di kursi, dan berjalan menuju kamar.
“Aku butuh waktu,” katanya tanpa menoleh.
Nayla menatap punggung suaminya.
“Bukan hanya kamu yang butuh waktu,” ucap Nayla.
Arga berhenti di ambang kamar.
Nayla mengusap air matanya.
“Aku juga butuh waktu untuk memutuskan apakah pernikahan ini masih layak aku perjuangkan.”
Arga menoleh cepat.
Namun Nayla sudah berjalan ke arah pintu depan.
“Mau ke mana kamu?” tanya Arga.
“Keluar.”
“Sudah malam.”
“Aku tidak peduli.”
“Nayla, jangan pergi.”
Namun Nayla tetap membuka pintu.
Ia tidak membawa banyak barang. Hanya ponsel, dompet, dan jaket tipis yang tergantung di dekat pintu. Ia tidak tahu akan pergi ke mana. Yang ia tahu, ia tidak bisa tinggal di apartemen itu malam ini.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Nayla berjalan cepat menuju lift.
Air mata kembali mengalir.
Ia menekan tombol lantai dasar dengan tangan gemetar.
Saat pintu lift terbuka, Nayla masuk dan berdiri di sudut. Bayangannya terlihat samar di pintu logam: wajah pucat, mata merah, dan perempuan yang tampak begitu asing bagi dirinya sendiri.
Ketika lift berhenti di lantai dasar, Nayla melangkah keluar tanpa melihat ke depan.
Seseorang yang baru masuk ke lobi hampir bertabrakan dengannya.
“Maaf,” ucap Nayla reflek.
Namun ketika ia mengangkat wajah, langkahnya langsung terhenti.
Raka berdiri di hadapannya.
Pria itu masih mengenakan pakaian kerja, tetapi dasinya sudah dilepas. Wajahnya tampak lelah, seolah baru menyelesaikan hari yang panjang.
Tatapan Raka langsung berubah ketika melihat mata Nayla yang sembab.
“Nayla?” panggilnya pelan.
Nayla ingin menjawab, tetapi suaranya tidak keluar.
Raka tidak bertanya macam-macam. Ia hanya melihat Nayla yang berusaha tegar, lalu mengalihkan pandangan ketika air mata kembali jatuh.
“Dia mengaku?” tanya Raka dengan suara rendah.
Nayla mengangguk kecil.
Dan entah karena sudah terlalu lelah, entah karena tidak sanggup lagi menahan semuanya sendiri, Nayla tiba-tiba menangis.
Bukan isak yang keras.
Hanya tangisan diam yang membuat bahunya bergetar.
Raka berdiri di depannya beberapa detik, tampak ragu. Kemudian ia melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Nayla.
“Kamu tidak harus bicara sekarang,” ujarnya.
Nayla menggenggam ujung jas itu.
“Aku tidak tahu harus ke mana,” bisiknya.
Raka menatapnya lama.
Lalu dengan suara yang tetap tenang, ia berkata, “Kalau begitu, jangan pergi sendirian malam ini.”
Nayla mengangkat wajah.
Raka tidak mendekat berlebihan. Ia tetap menjaga jarak, tetapi kehadirannya entah mengapa membuat Nayla merasa sedikit lebih aman.
“Ada kafe yang masih buka tidak jauh dari sini,” lanjut Raka. “Kita duduk di sana. Kamu bisa menangis, marah, atau diam saja. Tidak apa-apa.”
Nayla tidak langsung menjawab.
Ia tahu Raka adalah atasan Arga.
Ia tahu seharusnya ia menjaga jarak.
Namun malam itu, setelah semua kebohongan yang baru saja ia dengar, Nayla tidak ingin kembali ke apartemen.
Ia tidak ingin sendirian.
Akhirnya, Nayla mengangguk.
Raka mengulurkan tangan, bukan untuk menariknya, tetapi sebagai isyarat agar Nayla berjalan lebih dulu.
Saat mereka melangkah keluar dari lobi, Nayla tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari kedekatan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan di bawah cahaya lampu kota yang redup, tanpa sadar ia mulai menemukan ketenangan dalam kehadiran atasan suaminya.