NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Pondok Joseph

Aiden berlari sampai gubuknya tertutup oleh deretan rumah dan tiang penyangga jalan layang. Kakinya yang telanjang menghantam tanah, batu, serta serpihan kayu tanpa sempat memilih tempat pijakan.

Goresan pada tumitnya terasa panas setiap kali menapak. Sisi kemejanya yang robek bergesekan dengan serpihan yang masih tertanam dekat tulang rusuk, tetapi rasa sakit itu terlalu kecil dibandingkan raungan yang terus mengikuti dari belakang.

Aiden memasuki celah sempit di antara dua rumah. Ia berhenti di balik tumpukan tong kosong dan menahan napas sambil menunggu ketiga Remnant keluar melalui bagian dinding yang telah dijebolnya.

Tidak ada satu pun yang muncul. Geraman mereka masih terdengar dari dalam gubuk, disertai benturan tubuh dan bunyi kayu yang dicakar, tetapi celah itu belum cukup besar untuk mereka lewati.

Aiden membungkuk dengan kedua tangan pada lutut. Udara masuk ke paru-parunya dalam tarikan pendek yang kasar, sementara rasa darah memenuhi mulut karena bagian dalam pipinya kembali tergigit.

Ia ingin menangis dan memanggil Marcus sekeras mungkin. Nama ayahnya sudah menekan tenggorokan, tetapi Aiden mengatupkan gigi sampai rahangnya sakit.

Jeritan hanya akan memberi tahu setiap Remnant di sekitar rumah mengenai tempatnya bersembunyi. Nadia telah menyuruhnya diam beberapa saat sebelum tubuh perempuan itu dirobek di depan matanya, dan kini Aiden memahami alasan peringatan tersebut.

Ia mengusap wajah menggunakan lengan. Darah Nadia tidak mengenainya, tetapi bau isi perut dan daging yang terbuka masih menempel di hidung, membuat Aiden beberapa kali menelan cairan asam yang naik ke tenggorokan.

Aiden mengintip melewati sisi tong. Bagian Haven yang dapat dilihatnya tidak lagi menyerupai permukiman tempat ia bangun setiap pagi.

Orang-orang berlari di antara rumah dalam arah yang berbeda. Beberapa memanggil nama anggota keluarga mereka, sedangkan yang lain hanya menjerit sambil mendorong siapa pun yang menghalangi jalan.

Remnant bergerak di antara mereka. Ada yang berlari dengan tubuh membungkuk, ada yang menyeret satu kaki, dan beberapa merangkak menggunakan tangan serta lutut sebelum meloncat pada orang yang terjatuh.

Sebuah rumah di seberang jalur telah kehilangan pintunya. Dua papan pada dinding depannya tercabut, memperlihatkan meja yang terbalik dan lampu minyak yang pecah di atas lantai.

Nyala api kecil merambat pada tikar di dalam rumah. Seorang pria berusaha menarik istrinya keluar melalui jendela, tetapi dua tangan pucat menangkap rambut perempuan itu dari belakang dan menyeretnya kembali ke kegelapan.

Pria tersebut memegang kedua pergelangan tangannya sampai tubuhnya terbentur bingkai. Jeritan istrinya berhenti setelah terdengar bunyi tulang patah, lalu pria itu terpaksa melepaskan genggamannya ketika Remnant lain muncul melalui pintu yang rusak.

Ia berlari tanpa menoleh dan menghilang di antara rumah-rumah. Sesaat kemudian, bentuk-bentuk kurus menyusulnya dengan langkah yang jauh lebih cepat daripada kaki mereka yang membusuk seharusnya mampu lakukan.

Aiden menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara. Ketapelnya terasa kecil di dalam genggaman, dan beberapa benda yang tersisa di saku tidak mungkin cukup untuk menghadapi semua makhluk tersebut.

Ia harus menemukan Marcus. Ayahnya tidak akan bersembunyi, dan jika ada satu tempat yang akan dipertahankan Marcus ketika Haven diserang, Aiden yakin tempat itu adalah pondok Tetua Joseph.

Pondok tersebut berada dekat pusat permukiman. Untuk mencapainya, Aiden harus menyeberangi dua jalur terbuka dan melewati sumur tempat Nadia terpisah dari jalan menuju rumahnya.

Aiden melihat ke belakang satu kali. Gubuknya tidak tampak dari tempat tersebut, tetapi jeritan Nadia seakan masih tinggal di antara dinding dan membuat kedua tangannya kembali gemetar.

Ia menurunkan tubuh sampai hampir berjongkok. Setelah tidak melihat Remnant pada jalur pertama, Aiden keluar dari balik tong dan bergerak menempel pada dinding rumah sebelah kanan.

Langkahnya dibuat sependek mungkin. Telapak kakinya turun perlahan, ujung jari lebih dahulu, agar batu dan potongan logam tidak bergeser di bawah berat tubuh.

Suara di seluruh Haven menyulitkannya mengetahui mana yang dekat. Tembakan memantul pada bagian bawah jalan layang, mengubah satu letusan menjadi beberapa ledakan yang datang dari arah berbeda.

Aiden mencapai ujung rumah dan berhenti. Di jalur yang harus dilewatinya, seorang lelaki tua merangkak menggunakan satu tangan sementara tangan lainnya menahan sisi leher yang terus menyemburkan darah.

Salah satu Remnant berjalan mengikutinya tanpa tergesa. Makhluk itu menunduk, menangkap pergelangan kaki lelaki tersebut, kemudian menggigit bagian betis sampai giginya menembus daging.

Lelaki tua itu berteriak dan menendang menggunakan kaki lain. Tumitnya mengenai wajah Remnant, tetapi makhluk itu hanya menyentakkan kepala dan merobek segumpal daging dari betis.

Dua Remnant lain keluar dari belakang rumah. Mereka menjatuhkan diri pada punggung lelaki itu, menahannya di tanah, lalu mulai mencabik kemeja serta kulit di bawahnya.

Aiden memalingkan wajah. Ia menunggu sambil menghitung tarikan napas, berharap makhluk-makhluk tersebut terlalu sibuk untuk memperhatikan sesuatu di sekitar mereka.

Ketika kembali melihat, lelaki tua itu tidak lagi merangkak. Ketiga Remnant berjongkok di atas tubuhnya dan berebut daging dari lubang lebar pada punggung.

Aiden bergerak. Ia menyeberangi jalur beberapa langkah di belakang mereka, menahan setiap napas sampai dinding rumah berikutnya menutup tubuhnya dari pandangan.

Kakinya menginjak sesuatu yang basah. Aiden membeku dan menunduk, mendapati telapak kanannya berdiri pada genangan darah yang mengalir dari bawah rumah.

Darah tersebut masih hangat. Cairannya masuk ke sela jari kaki dan membuat tanah melekat pada kulit ketika Aiden mengangkat telapak secara perlahan.

Salah satu Remnant dekat lelaki tua mengangkat kepala. Mulutnya dipenuhi daging, sedangkan mata keruhnya menyapu jalur dan berhenti sesaat ke arah dinding tempat Aiden menempel.

Aiden merapatkan punggung pada dinding. Ia menahan napas sampai dadanya bergetar dan memejamkan mata karena tidak sanggup terus memandang kepala tersebut.

Terdengar geraman pendek. Setelah itu, bunyi kunyahan dimulai lagi dan Aiden berani bergerak menjauh.

Ia melewati sebuah kandang ayam yang pintunya terbuka. Unggas di dalam telah menghilang, menyisakan bulu-bulu putih yang menempel pada tanah berlumpur dan kawat yang bengkok pada sisi kandang.

Jalur menuju sumur dipenuhi ember yang ditinggalkan. Sebagian terbalik dan menumpahkan air, membuat tanah berubah licin serta memantulkan nyala api dari rumah yang mulai terbakar.

Aiden mengenali salah satu ember milik Nadia dari kain merah yang melilit pegangannya. Benda itu tergeletak pada sisinya dengan air yang tinggal sedikit, bergerak setiap kali tanah diinjak orang yang berlari.

Ia tidak berhenti. Aiden menunduk dan menyelinap di balik bak penampung air sebelum dua Remnant melintas pada sisi lain sumur.

Salah satunya membawa potongan lengan manusia. Ujung tulang putih menonjol dari daging dekat siku, sedangkan jari-jari pada tangan yang telah terlepas bergerak mengikuti ayunan langkah makhluk tersebut.

Remnant lain berusaha merebutnya. Keduanya menggeram, saling mendorong, lalu menghilang ke jalur sebelah kiri sambil terus menarik potongan tubuh yang sama.

Aiden menunggu sampai suara mereka menjauh. Lututnya terbenam pada tanah basah, dan bau sumur bercampur darah membuat perutnya kembali berputar.

Pondok Joseph sudah terlihat dari sana. Bangunannya berdiri melewati dua deret rumah dengan cahaya obor memenuhi tanah lapang di depannya.

Tembakan datang terus-menerus dari arah tersebut. Kilatan pada ujung laras muncul satu demi satu, memperlihatkan banyak tubuh yang bergerak di luar lingkaran cahaya.

Aiden meninggalkan sumur dan berlari membungkuk menuju jalur terakhir. Ia baru melewati sudut sebuah rumah ketika langkahnya berhenti dengan seluruh berat tubuh bertumpu pada satu kaki.

Tubuh seorang perempuan tergeletak melintang di depannya. Bagian atas kepalanya telah hilang dari alis ke belakang.

Rambut panjangnya menempel pada tanah oleh darah dan serpihan otak, sedangkan rahang bawah masih tersambung pada leher meskipun wajahnya tidak lagi dapat dikenali. Perut perempuan itu juga terbuka.

Salah satu tulang rusuk menonjol melalui kulit, dan bagian dalam tubuhnya membentuk tumpukan gelap yang menutup sebagian rok. Aiden hampir menjerit.

Udara sudah terangkat dari paru-parunya ketika kedua tangan menutup mulut dan menahan suara tepat di belakang jari-jari. Ia mundur setengah langkah.

Tumitnya menyentuh sesuatu yang bulat, lalu sebuah mata manusia yang telah terlepas menggelinding dari bawah tubuh perempuan tersebut. Aiden memejamkan mata, tetapi gambarnya tetap bertahan.

Ia menarik napas melalui hidung dan langsung mencium darah, kotoran, serta isi tubuh yang membuatnya hampir muntah pada kedua tangannya sendiri. Jalur tersebut terlalu sempit untuk dilewati tanpa mendekati mayat.

Aiden membuka mata kembali dan mencari tempat bagi kakinya di antara lengan perempuan, potongan usus, dan genangan darah. Ia melangkah melewati bagian kepala lebih dahulu.

Telapak kakinya mendarat hanya beberapa jari dari rambut yang basah, lalu kaki berikutnya harus ditempatkan di antara tangan perempuan dan tulang rusuk yang terbuka. Aiden menjaga pandangan pada tanah agar tidak menginjak tubuh itu.

Ketika berhasil melewatinya, ia masih dapat merasakan ujung rambut perempuan menyentuh jari kakinya. Ia tidak berlari sampai mencapai ujung jalur.

Kedua lututnya terlalu lemah, dan ia harus menempel pada dinding beberapa saat agar tidak jatuh. Tanah lapang di depan pondok Joseph kini terlihat sepenuhnya.

Sekitar belasan pria membentuk garis pertahanan dari gerobak, meja, dan peti yang ditumpuk setinggi pinggang. Mereka menembak setiap Remnant yang mencoba melewati jalur menuju pondok.

Cahaya letusan memutihkan wajah-wajah mereka sesaat, lalu asap mesiu menggantung di antara obor sebagai lapisan kelabu yang membuat mata perih. Tubuh Remnant bertumpuk di depan penghalang.

Beberapa masih bergerak meskipun dada atau perut mereka telah ditembus peluru, dan para pria harus membidik kepala agar makhluk tersebut benar-benar berhenti. Dua pria telah tergeletak di sisi kanan penghalang.

Salah satunya tidak lagi mempunyai tenggorokan, sedangkan tubuh pria lain sedang ditarik melewati sela peti oleh beberapa Remnant yang menggigit kedua lengannya. Seorang penjaga muda berdiri untuk menembak melewati peti.

Senapannya meletus dan menjatuhkan satu Remnant, tetapi makhluk lain muncul dari sisi gerobak sebelum ia sempat mengisi peluru kembali. Remnant itu menangkap lengannya dan menariknya melewati penghalang.

Perut penjaga menghantam tepi peti, senapannya jatuh, lalu tiga makhluk lain menutup tubuhnya dari bawah. Pria tersebut berteriak sambil menendang.

Salah satu Remnant menggigit tangannya sampai dua jari terlepas, sedangkan makhluk lain merobek bagian bawah wajahnya dan membawa rahang yang masih bergerak di antara gigi. Dua orang mencoba menariknya kembali melalui kaki.

Mereka berhenti ketika tubuh penjaga tersangkut pada penghalang dan isi perutnya keluar dari luka yang dibuat tangan-tangan di sisi lain. Teriakannya berakhir.

Kedua pria terpaksa melepaskan kaki yang mereka pegang ketika lebih banyak Remnant memanjat tumpukan mayat. Aiden memeriksa setiap wajah di balik penghalang.

Asap, kegelapan, dan tubuh-tubuh yang bergerak membuatnya beberapa kali mengira orang lain sebagai Marcus. Kemudian sebuah senapan meletus dekat sisi kiri gerobak.

Pria yang memegangnya mengangkat kepala, dan cahaya obor menyentuh luka pada pelipis serta rambut cokelat pendek yang basah oleh keringat. Marcus masih hidup.

Udara keluar dari dada Aiden dalam satu embusan panjang. Kedua kakinya hampir kehilangan tenaga karena kelegaan yang datang begitu cepat.

Matanya kembali dipenuhi air. Marcus menggerakkan tuas senapan dan mengeluarkan selongsong kosong.

Ia menembak kepala Remnant lain yang memanjat gerobak. Belati pemberian Aiden terpasang pada ikat pinggangnya, gagangnya memantulkan cahaya setiap kali tubuh Marcus bergerak.

Aiden ingin memanggil, tetapi suara kecil dari tempatnya berdiri tidak akan mampu melewati semua letusan. Ia bergerak keluar dari jalur dan mendekati sisi pondok sambil tetap merunduk.

Marcus tidak melihatnya. Seluruh perhatiannya tertuju pada dua Remnant yang mendekati penghalang dari depan.

Ia menembak makhluk pertama pada wajah. Bagian belakang kepalanya pecah, sementara Remnant kedua menabrak gerobak dan mencoba meraih laras senapan.

Marcus menghantamkan popor pada mulut makhluk itu. Gigi-giginya patah dan bibirnya terbelah, tetapi kedua tangannya tetap mencengkeram kayu penghalang.

Ketika Marcus berusaha melepaskan senapan dari jangkauan makhluk tersebut, sesosok Remnant lain keluar dari bayangan sisi pondok. Tubuhnya rendah, sebagian kulit kepalanya telah terkelupas, dan kedua tangannya terulur menuju punggung Marcus.

Marcus belum menoleh. Orang-orang di dekatnya juga sibuk menahan makhluk lain yang mulai memanjat penghalang.

“Dad!”

Aiden berteriak sekeras yang dapat dilakukannya. Suaranya tenggelam dalam tiga letusan yang datang hampir bersamaan.

Marcus tidak menunjukkan tanda telah mendengar. Remnant di belakangnya sudah berada beberapa langkah dari bahunya.

Aiden memasukkan tangan ke saku. Jari-jarinya menyentuh baut, ring logam, lalu menemukan satu batu bulat yang masih tersisa.

Ia memasang batu tersebut pada kulit ketapel. Kedua lengannya terangkat, tetapi kayu pada tangan kiri bergerak mengikuti gemetar yang menjalar dari bahu.

Remnant itu terus mendekat. Jari-jarinya hampir mencapai bagian belakang jaket Marcus.

Aiden menarik karet sampai kulit ketapel mendekati pipinya. Ia berusaha mengingat noda pada tiang beton dan bagaimana ujung ketapel biasanya berhenti bergerak sesaat ketika ia menahan napas.

Dadanya tetap bergerak terlalu cepat. Aiden mengembuskan udara sekali, menahan tarikan berikutnya, lalu memusatkan pandangan pada belakang kepala Remnant.

Ia melepaskan karet. Batu melesat melewati cahaya obor dan menghantam bagian belakang tengkorak makhluk tersebut.

Bunyinya kecil di antara tembakan, tetapi cukup keras untuk membuat Remnant berhenti sebelum menyentuh Marcus. Kepalanya berputar.

Tubuhnya mengikuti sesaat kemudian sampai mata keruhnya menemukan Aiden berdiri tanpa perlindungan di sisi lapang. Remnant membuka mulut dan meraung.

Marcus masih bergulat dengan makhluk pada penghalang, sedangkan Remnant yang terkena batu menurunkan bahu dan mulai berlari menuju Aiden. Aiden mundur.

Tumitnya menginjak ujung papan yang tertutup debu, dan benda itu bergeser sebelum ia sempat memindahkan berat tubuh. Kedua kakinya terlepas dari tanah.

Aiden jatuh terduduk dengan tulang ekor menghantam keras, sementara ketapel terlempar dari tangan dan mendarat di samping pahanya. Remnant berlari semakin dekat.

Darah serta air liur menggantung dari rahangnya, dan batu Aiden meninggalkan lekukan gelap pada bagian belakang kepalanya tanpa memperlambat gerakan. Aiden mencoba mundur menggunakan kedua tumit.

Telapak tangannya tergelincir pada tanah, dan punggungnya segera menyentuh dinding samping pondok Joseph. Tidak ada tempat lain untuk bergerak.

Remnant mengangkat kedua tangan, kuku-kukunya mengarah pada wajah Aiden. Aiden menutup kepala menggunakan kedua lengan.

“Daaad!”

Aiden membungkuk sampai dahinya menyentuh lutut dan menunggu berat tubuh makhluk itu menghantamnya. Letusan senapan meledak begitu dekat hingga telinganya kehilangan seluruh suara.

Hentakan udara menyapu rambut Aiden. Sesuatu yang basah memercik pada lengan dan tengkuknya, lalu tubuh berat jatuh di tanah hanya beberapa jari dari kakinya.

Aiden tetap menutupi kepala. Telinganya berdenging, dan melalui bunyi tinggi tersebut ia hanya dapat mendengar geraman lain serta suara yang terasa seperti datang dari tempat sangat jauh.

Tidak ada tangan yang mencengkeramnya. Setelah beberapa detik, Aiden menurunkan salah satu lengan dan membuka mata perlahan.

Remnant itu tergeletak miring di depannya. Sebuah lubang menganga pada sisi kepalanya, sedangkan bagian wajah yang lain menempel pada tanah dalam genangan cairan gelap.

Jari-jari makhluk itu berkedut satu kali. Setelah itu, seluruh anggota badannya mengendur dan tetap diam.

Sepasang sepatu berhenti di sisi mayat. Aiden mengangkat wajah dan melihat Marcus berdiri dengan senapan masih menempel pada bahu serta asap tipis keluar dari ujung laras.

Mata Marcus melebar ketika mengenalinya. Ia segera menurunkan senapan, melangkahi Remnant, lalu berlutut di depan Aiden.

Kedua tangannya menangkap bahu putranya. Marcus memeriksa wajah, leher, kedua lengan, dan kemeja yang robek dengan gerakan cepat, mencari bekas gigitan atau cakaran.

Aiden tidak menunggu pemeriksaan tersebut selesai. Ia menerjang ke depan dan melingkarkan kedua lengan pada leher ayahnya.

Tubuhnya membentur dada Marcus. Bau keringat, asap mesiu, darah, dan minyak dari belati memenuhi hidung Aiden, tetapi seluruh bau itu berasal dari tubuh yang masih hangat serta bernapas.

Marcus memeluknya menggunakan satu lengan. Tangan lainnya tetap memegang senapan di samping tubuh mereka.

“Sudah kubilang jangan keluar.”

Suara Marcus terdengar marah, tetapi lengannya merapatkan Aiden sampai dada bocah itu tertekan pada tulang rusuknya. Jari-jarinya mencengkeram bagian belakang kemeja Aiden seakan takut tubuh kecil itu akan terlepas lagi.

“Mereka masuk ke rumah.”

Aiden mencoba berbicara tanpa melepaskan pelukan. Kata-katanya pecah oleh napas dan isak yang sejak tadi dipaksanya tetap diam.

“Mereka membunuh ibu Robin.”

Marcus tidak langsung menjawab. Tubuhnya menegang dan wajahnya bergerak sedikit menjauh agar dapat melihat Aiden.

Aiden menunduk. Gambaran mata Nadia yang hancur dan perutnya yang terbuka kembali muncul, membuat kedua tangannya semakin kuat mencengkeram jaket Marcus.

Marcus menarik kepala Aiden ke bahunya. Bibirnya menyentuh pucuk rambut putranya satu kali, lalu telapak tangannya mengusap bagian belakang kepala yang basah oleh keringat.

Letusan kembali terdengar dari penghalang. Marcus segera melihat ke belakang, tetapi tidak melepaskan Aiden sampai tubuhnya dipastikan berdiri dengan kedua kaki sendiri.

Ia mengambil ketapel dari tanah dan memasukkannya ke tangan putranya. Setelah itu, Marcus berdiri sambil menempatkan tubuhnya di antara Aiden dan Remnant yang masih bergerak di depan pondok.

“Ayo. Tetap di sisiku.”

Aiden menutup tangannya pada ketapel. Tangan lainnya mencengkeram bagian belakang jaket Marcus sebelum ia mengikuti ayahnya menuju perlindungan para pria.

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!