NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 : Lamaran Kerja Yang Mengunah Segalanya

Pagi hari di kawasan segitiga emas Sudirman, Jakarta, menyuguhkan pemandangan tipikal metropolitan yang serba cepat. Kilau pantulan cahaya matahari pagi yang membentur dinding kaca pencakar langit setinggi puluhan lantai menciptakan efek visual yang menyilaukan mata. Ribuan manusia berjas rapi, mengenakan pakaian formal dengan tas jinjing di tangan, berjalan terburu-buru menembus trotoar kota, mengejar absensi mesin pemindai sidik jari di lobi-lobi gedung perkantoran mewah. Di antara kerumunan manusia yang bergerak dinamis itu, langkah kaki Clara Pratama terhenti sejenak di depan pintu masuk utama sebuah gedung pencakar langit megah berarsitektur futuristis: Vanguard Tower, markas besar dari Vanguard Global Corporation, salah satu perusahaan multinasional raksasa paling elit di Asia Tenggara.

Clara menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan degup jantungnya yang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia mengenakan setelan blazer hitam pas badan dipadu kemeja putih gading yang rapi, dengan rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda sederhana namun terlihat sangat profesional. Di dalam tas kulit sintetis berwarna hitam miliknya, tersimpan map merah berisi salinan ijazah sarjana administrasinya, transkrip nilai dengan predikat cumlaude, surat rekomendasi dosen, serta lembar formulir lamaran kerja yang telah ia isi secara daring tiga hari lalu.

Sebenarnya, mengirim lamaran ke Vanguard Global Corporation bukanlah rencana utama Clara dalam daftar pencariannya. Perusahaan multinasional sebesar itu terkenal memiliki standar rekrutmen yang sangat ketat, menyaring ribuan pelamar lulusan universitas top dunia dan universitas negeri ternama. Sebagai lulusan universitas swasta lokal dengan latar belakang keluarga sederhana, Clara tadinya merasa peluangnya diterima di tempat ini nyaris nol persen. Namun, atas dorongan semangat dari ibunya serta keisengan jari tangannya saat mengeklik tombol submit di situs portal karier beberapa waktu lalu, takdir rupanya tidak membiarkan lembar lamaran itu tersesat begitu saja.

Tiga hari pasca pengiriman berkas secara elektronik, sebuah surel resmi berkop perusahaan dengan tanda tangan digital bagian HRD mendadak mendarat di kotak masuk surel Clara. Surel tersebut bukan sekadar undangan wawancara tahap awal, melainkan panggilan langsung untuk mengikuti tes kualifikasi tingkat lanjut dan wawancara posisi Executive Administrative Assistant di divisi utama langsung di bawah koordinasi kantor direksi tingkat tinggi. Tanpa berpikir panjang mengenai seberapa besar tingkat persaingannya, Clara menerima panggilan itu sebagai peluang emas untuk meniti karier yang layak demi membantu perekonomian keluarganya.

"Bismillah... semoga hari ini diberikan kelancaran," gumam Clara pelan pada dirinya sendiri, menyematkan kartu identitas pengunjung sementara yang diberikan oleh petugas keamanan lobi di dada sebelah kirinya.

Ia melangkah masuk ke dalam area lobi utama yang sangat luas, berdinding marmer putih impor asal Italia, dengan lampu gantung kristal raksasa yang tergantung megah di langit-langit setinggi tiga lantai. Suasana di dalam gedung terasa begitu hening, elegan, dan berwibawa. Bau parfum mewah bercampur dengan aroma kopi espresso segar dari kafe eksklusif di sudut lobi menguar di udara. Clara segera berjalan menuju deretan lift berteknologi pintar yang dilengkapi pemindai lantai otomatis, mengikuti instruksi pada surel panggilan menuju lantai 42, ruang seleksi khusus divisi eksekutif.

Di dalam kabin lift kecepatan tinggi yang membawa naik puluhan lantai dalam hitungan detik, perut Clara mendadak terasa mulas. Bukan hanya karena rasa gugup menghadapi para penguji dari perusahaan multinasional kelas kakap, melainkan karena sebuah sensasi aneh yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dadanya. Setiap kali lift bergerak semakin tinggi meninggalkan permukaan tanah, denyutan pelan di kepalanya kembali terasa, memunculkan kilasan-kilasan ingatan samar tentang masa lalu—tentang lorong-lorong pilar marmer istana Romawi kuno dan tangga kayu pelabuhan Batavia.

Fokus, Clara! Jangan biarkan halusinasi aneh itu mengacaukan konsentrasimu hari ini, batin Clara menegur dirinya sendiri dengan keras, menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir bayangan-bayangan masa lalu yang mendadak melintas di pelupuk mata. Ia tahu persis bahwa ia harus tetap bersikap rasional dan berpijak sepenuhnya pada kenyataan dunia modern saat ini.

Tring!

Bunyi lonceng digital lift berdengung lembut menandakan mereka telah tiba di lantai 42. Pintu lift terbuka secara otomatis, menampilkan koridor panjang berkarpet tebal berwarna abu-abu gelap dengan pencahayaan temaram yang elegan. Di ujung koridor, seorang wanita paruh baya berbusana profesional dengan lencana nama bertuliskan Ibu Linda, Senior HR Manager berdiri menyambut para pelamar yang lolos seleksi administratif tahap akhir.

"Selamat pagi, silakan masuk ke ruang tunggu sebelah kanan. Tes tertulis kemampuan manajerial dan administrasi akan dimulai dalam waktu sepuluh menit," ucap Ibu Linda dengan nada tegas, ramah, namun tidak menyisakan ruang untuk basa-basi yang tidak perlu.

Clara menganggukkan kepalanya sopan, lalu berjalan bersama empat orang kandidat pelamar lainnya menuju ruang tunggu khusus yang ditunjuk. Di dalam ruangan tersebut, suasana terasa sangat kompetitif. Para pelamar lain tampak sibuk membaca catatan, merapikan dokumen, atau mondar-mandir sambil menghafalkan istilah-istilah bisnis internasional. Clara memilih duduk di sudut kursi sofa kulit berwarna krem, membuka kembali map merahnya untuk memastikan tidak ada dokumen penting yang tertinggal.

Namun, di tengah kesibukannya memeriksa lembar demi lembar berkas lamaran, Clara sama sekali tidak menyadari bahwa di balik dinding kaca patri buram yang membatasi ruang tunggu dengan ruang kerja direksi utama di ujung koridor lantai tersebut, sepasang mata tajam berbinar hazel sedang mengamati seluruh gerak-geriknya melalui layar pantau kamera pengawas digital resolusi tinggi.

Pria pemilik mata hazel itu duduk tenang di kursi kulit direktur eksekutif di balik meja kerja kayu mahoni yang luas. Wajahnya tampan, tegas, dengan rahang kokoh yang mengukir kesan dingin dan tidak tersentuh. Di hadapannya, layar monitor menampilkan siaran langsung dari kamera lorong dan ruang tunggu lantai 42. Saat manik mata hazel itu menangkap sosok gadis berblus putih yang sedang merapikan berkas di sudut sofa, jemari sang CEO yang tadinya mengetuk-ngetuk meja mendadak berhenti bergerak seketika.

Jantung pria itu berdegup kencang secara tidak wajar, sebuah hantaman rasa deja vu yang sangat kuat mendadak menghantam dadanya, memicu memori masa lalu yang selama ini terkunci rapat di dalam jiwa bawah sadarnya—tentang seorang gadis bergaun sederhana di taman istana Roma, dan seorang putri berbalut mantel beludru di pelabuhan Batavia.

Pintu lamaran kerja sederhana itu kini telah resmi dibuka. Tanpa disadari oleh Clara maupun sang CEO dingin di ruangan seberang, langkah pertama dari lembaran takdir yang mempertemukan kembali dua jiwa malang itu telah resmi dimulai pada detik ini juga, mengubah seluruh rencana hidup mereka untuk selamanya.

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!