NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Langkah kaki Sofia tergesa-gesa membelah koridor sepi laboratorium toksikologi independen di sudut kota. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi lampu neon di ruangan bernomor 129 itu masih menyala terang.

Sofia merapatkan jaket kusamnya, mencoba mengusir dingin yang tak hanya berasal dari pendingin udara, melainkan juga dari rasa cemas yang terus menggerogoti dadanya.

Sebagai seorang mantan narapidana yang kini bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan di luar sel, Sofia mengerti betul rasanya dihancurkan oleh hukum yang tidak adil. Persahabatannya dengan Sienna terbentuk di balik jeruji besi tempat mereka saling menguatkan.

Malam ini, bermodalkan nekat dan sisa koneksi kelam masa lalunya, Sofia berhasil menemui Dr. Edward Miller, seorang ahli toksikologi dan forensik independen senior berkebangsaan asing yang dahulu pernah menjadi saksi ahli dalam kasus kejahatan berat.

Di dalam ruangan tersebut, Dr. Edward Miller sedang menunduk di atas mikroskop seraya membolak-balik berkas arsip digital pada monitor komputernya. Foto beresolusi tinggi dari kertas resep medis tua yang diambil Sofia dari saku Sienna terpampang jelas di layar kedua.

"Ini bukan resep sembarangan, Sofia," ujar Dr. Edward Miller memecah keheningan, suaranya berat dan serak karena usia.

Ia melepas kacamata bacanya lalu menatap Sofia dengan raut wajah penuh keseriusan. "Senyawa yang tertulis di sini adalah Arsenik Trioksida bentuk murni. Pada tahun 2015, regulasi penggunaan bahan kimia ini sudah sangat ketat. Tidak ada dokter umum yang diizinkan meresepkan senyawa ini tanpa izin khusus dari Konsil Kedokteran dan Dewan Toksikologi Internasional."

Sofia mencondongkan tubuhnya ke depan, jemarinya yang kasar akibat pekerjaan kasar mengepal rapat di atas meja metalik. "Bagaimana dengan kode laboratorium dan stempel yang tertera di bagian bawah resep itu, Dokter Miller? Apakah ada catatan arsipnya?"

Dr. Edward Miller mengetikkan beberapa baris perintah di papan ketiknya. Layar monitor menampilkan dokumen arsip kelabu yang telah menguning dari basis data medis sebelas tahun silam.

"Kode laboratorium ini terdaftar atas nama Laboratorium Klinik Medika, sebuah fasilitas riset privat yang saat itu didanai langsung oleh Ophelia Group," tutur Dr. Edward Miller seraya menunjuk ke arah baris nama penanggung jawab medis.

"Dan lihat nama dokter yang menandatangani resep ini. Dr. Arthur Pendelton."

Iris mata Sofia menyipit. "Siapa Dr. Arthur Pendelton?"

"Dia adalah dokter pribadi keluarga Ophelia pada masa itu," sahut Dr. Edward Miller tenang, namun kalimat berikutnya membuat darah Sofia terasa membeku.

"Namun, tiga hari setelah peristiwa penembakan istri Sebastian Vance sebelas tahun lalu, Dr. Arthur Pendelton dilaporkan mengundurkan diri secara mendadak dari dunia medis dan memindahkan seluruh keluarganya ke luar negeri. Catatan lisensi praktiknya langsung dibekukan."

Pola kejahatan itu makin benderang di mata Sofia. Kepingan teka-teki yang disodorkan Sienna kini mulai menyatu menjadi sebuah fakta yang mengerikan.

Claudia Ophelia tidak hanya meracuni Christina Vance secara berkala menggunakan akses dokter pribadinya, tetapi juga langsung membuang serta membungkam semua saksi medis yang terlibat begitu eksekusi penembakan dilaksanakan.

"Dokter Miller," bisik Sofia dengan intonasi memohon yang amat sangat, "apakah foto bukti resep ini dan catatan arsip ini cukup untuk mengajukan otopsi ulang atau uji sampel jaringan dari jasad almarhumah Christina Vance?"

Dr. Edward Miller menghela napas panjang, menatap wanita muda pekerja keras di hadapannya itu dengan pandangan prihatin.

"Secara hukum toksikologi forensik, bukti ini sudah lebih dari cukup untuk menimbulkan reasonable doubt atau keraguan yang beralasan. Arsenik murni yang dikonsumsi secara perlahan tidak akan hancur oleh proses pembusukan alami, jejak sisa zat beracun itu akan mengkristal dan mengendap secara permanen pada struktur tulang dan rambut almarhumah. Jika kuburannya digali dan diuji ulang, kebenaran itu akan langsung terbukti."

Dokter senior itu menepuk bahu Sofia pelan. "Tapi kau harus berhati-hati, Sofia. Kau hanya rakyat kecil dan mantan narapidana. Orang-orang di balik dokumen ini adalah pihak penguasa yang sanggup melenyapkan nyawa manusia tanpa mengedipkan mata. Kau dan temanmu sedang bertaruh nyawa di atas benang yang sangat tipis."

Sofia menyapu rasa takut yang sempat merayapi tengkuknya. Ia teringat akan wajah pucat Sienna yang terkurung seperti buronan di dalam sangkar emas milik Nicolas Vance.

"Saya tidak peduli status saya sebagai bekas tahanan, Dokter. Sienna adalah teman saya satu-satunya saat di dalam penjara. Dia sudah menanggung neraka yang bukan miliknya selama belasan tahun. Saya harus membebaskannya," tekad Sofia.

...****************...

Sementara itu, ribuan kilometer dari ibu kota, gerimis tipis membasahi kaca jendela suite hotel bintang lima di kota Zurich, Swiss.

Nicolas Vance berdiri membelakangi ruangan, menatap pendar lampu kota yang memantul di atas permukaan danau yang gelap. Gelas kristal berisi whisky amber di tangan kanannya terasa dingin, tetapi ketenangan di sekelilingnya sama sekali tidak mampu menghentikan arus pikiran yang bergejolak di dalam kepalanya.

Sejak menginjakkan kaki di Eropa tiga hari lalu untuk menyelesaikan negosiasi bisnis Vance Group, fokus Nico justru terus terlempar kembali ke penthouse-nya.

Wajah pucat Sienna Sinclair, mata cokelatnya yang menyiratkan keteguhan tersembunyi, serta pertanyaan tajam gadis itu di dalam mobil sebelum sidang, ‘Jika suatu hari nanti Anda tahu bahwa orang yang sebenarnya menghancurkan keluarga Anda berdiri sangat dekat dengan Anda... apa yang akan Anda lakukan, Tuan?’ terus bergaung tanpa henti di telinganya.

Pintu suite berbunyi pelan sebelum Matteo melangkah masuk seraya membawa laptop kerja dan berkas laporan keamanan harian.

"Tuan Nicolas," pimpin Matteo seraya membungkuk hormat.

"Laporan perkembangan persidangan pembekuan aset Liam Vance baru saja dikirimkan oleh tim kuasa hukum kita. Pihak kepolisian telah menetapkan Liam sebagai tersangka tunggal atas penembakan Evander Diovanni. Claudia Ophelia mencoba mengajukan penangguhan penahanan, tetapi ditolak sepenuhnya oleh kejaksaan," jelas Matteo.

Nico menyesap minumannya tanpa menoleh. "Bagaimana dengan kondisi di penthouse?"

Matteo membuka layar monitor laptopnya, meneliti rekaman log pengamanan biometrik dan laporan berkas harian dari para pengawal yang ada di penthousenya.

"Semuanya berjalan tertib, Tuan. Pengamanan ketat tetap diberlakukan. Namun..." Matteo menghentikan kalimatnya sejenak, membuat alisnya bertaut.

Nico memutar tubuhnya perlahan, sepasang mata kelabunya menyipit tajam. "Namun apa, Matteo?"

"Ada catatan kecil dalam log kunjungan dua hari lalu," jawab Matteo seraya membaca detail laporan.

"Suster Maya membawa seorang perawat pengganti untuk menggantikannya selama dua jam karena stok obat Nona Sienna habis dan kondisi fisik Nona Sienna dilaporkan sempat menurun," lanjut Matteo.

Pendar mata Nico meredup seketika. "Perawat pengganti? Siapa yang memberi izin untuk memasukkan orang luar ke dalam penthouse tanpa persetujuanku?"

"Pengawal di lokasi menyatakan bahwa perawat tersebut membawa tanda pengenal medis resmi dan Suster Maya menjamin keberadaannya karena Nona Sienna mengalami demam tinggi," jelas Matteo cepat, menyadari perubahan aura dingin pada bosnya.

"Saya sudah memeriksa rekaman kamera CCTV di lorong lift. Perawat tersebut hanya berada di dalam kamar selama satu jam sebelum pergi bersama Suster Maya."

Nico meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan dentuman keras yang memecah keheningan suite. Intuisi dan kewaspadaannya yang terasah tajam selama bertahun-tahun di dunia bisnis langsung membisikkan sinyal bahaya. Sienna Sinclair bukanlah gadis yang akan pasrah begitu saja pada takdir.

"Periksa identitas perawat pengganti itu sekarang juga, Matteo," perintah Nico dengan suara rendah yang berbahaya.

"Cocokkan wajahnya di rekaman CCTV lorong lift dengan basis data kependudukan. Aku ingin tahu siapa wanita itu dalam waktu sepuluh menit."

"Baik, Tuan!" Matteo dengan cepat mengunggah potongan gambar dari CCTV penthouse ke program pemindai pengenal wajah di laptopnya.

Jarum detik berputar dalam ketegangan yang membeku. Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit sebelum sistem komputer mengeluarkan bunyi nyaring dan menampilkan data profil lengkap target di layar.

Matteo membelalakkan matanya tatkala melihat nama yang tertera di layar monitor. "Tuan... perawat pengganti itu bukan staf medis."

Nico melangkah mendekat, matanya menatap lurus pada foto wanita berjaket kusam yang terpampang di layar.

NAMA: SOFIA ARDIAN

STATUS: MANTAN NARAPIDANA / PEKERJA SERABUTAN

HUBUNGAN: TEMAN SATU SEL / SAHABAT SIENNA SINCLAIR

Brak!

Cengkeraman tangan Nico pada tepi meja kayu mahoni menegang hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membakar seketika menyala di dalam dadanya.

Sienna telah mengelabuinya di balik sikap pasrah dan tunduknya selama ini, Sienna berhasil memanfaatkan celah ketidakhadirannya untuk menyelundupkan teman sesama mantan narasinya ke dalam sangkar yang ia ciptakan.

"Dia mempermainkanku..." desis Nico dengan pendar mata kelabu yang dipenuhi ancaman mematikan.

"Tuan, apakah Anda ingin saya memerintahkan pengawal di kediaman untuk segera menginterogasi Suster Maya dan menggeledah kamar Nona Sienna?" tanya Matteo panik.

"Tidak," sahut Nico dingin, suaranya terdengar bagaikan vonis eksekusi. "Jangan sentuh apa pun di sana. Biarkan mereka berpikir bahwa rencana licik mereka berhasil."

Nico berbalik menuju lemari, meraih mantel abu-abunya. "Siapkan jet pribadi sekarang juga, Matteo. Kita pulang malam ini."

"Tapi Tuan, pertemuan dengan para investor utama di London besok pagi-"

"Batalkan semuanya!" bentak Nico dengan nada mutlak yang tak terbantahkan.

"Urusan di penthouse jauh lebih penting daripada transaksi bernilai miliaran itu. Aku sendiri yang akan memotong sayap gadis itu sebelum dia melangkah terlalu jauh."

...****************...

Suasana vila yang biasanya tenang kini terasa seperti neraka yang dingin. Sejak penangkapan Liam Vance, Claudia Ophelia kehilangan seluruh keanggunan dan kontrol dirinya.

Wanita itu duduk di kursi riasnya, menatap pantulan wajahnya yang mulai tampak kusam dipenuhi kemarahan dan rasa cemas yang tak tertahankan.

Pintu kamar rias terdorong pelan. Seorang pria bertubuh kurus tinggi dengan pakaian serba hitam melangkah masuk, ia adalah pria kepercayaannya yang bertugas memantau pergerakan musuh-musuh Claudia di luar.

"Bagaimana?" tuntut Claudia tanpa memutar tubuhnya, matanya menatap tajam melalui cermin.

"Apakah kau berhasil melacak apa yang dilakukan anak dari Hans Sinclair itu di penthouse Nicolas?"

"Nyonya Claudia," bisik pria itu seraya menundukkan kepala.

"Orang kita yang memantau pergerakan mantan narapidana bernama Sofia melaporkan sesuatu yang mencurigakan. Dua hari lalu, Sofia terlihat mengunjungi laboratorium toksikologi independen secara rahasia pada malam hari."

Claudia membeku. Jemarinya yang memegang botol parfum mahal berhenti di udara. "Toksikologi?"

"Benar, Nyonya," lanjut pria itu.

"Mata-mata kita melihat Sofia membawa salinan dokumen medis tua dan berkonsultasi dengan ahli toksikologi senior, Dr. Edward Miller. Kami menduga... gadis serabutan itu membantu Sienna untuk memeriksa kembali resep racun arsenik yang dulu pernah dikeluarkan oleh Dr. Arthur Pendelton."

Prang!

Botol parfum kristal di tangan Claudia terhempas keras ke lantai marmer, hancur berkeping-keping dan menyebarkan aroma yang menusuk hidung.

Wajah cantik Claudia berubah menjadi sangat mengerikan, dipenuhi oleh rasa panik dan kegilaan yang membara. Rahasia terbesar yang disembunyikannya selama sebelas tahun, rahasia bahwa dialah yang meracuni Christina Vance sebelum menyusun skenario penembakan kini berada di ambang kehancuran total jika bukti forensik itu sampai ke tangan kepolisian atau Nicolas.

"Gadis pembawa sial itu..." desis Claudia dengan gigi gemertak, dadanya naik turun oleh amarah beracun. "Sienna Sinclair tidak boleh dibiarkan bernapas lebih lama lagi!"

"Apa perintah Anda, Nyonya?" tanya pria itu dingin.

Claudia berdiri tegak, membalikkan tubuhnya seraya menatap pria kepercayaannya dengan kilatan mata seorang pembunuh.

"Nicolas Vance sedang berada di Eropa dan penthouse-nya hanya dijaga oleh beberapa pengawal," tutur Claudia dengan intonasi yang begitu keji.

"Gunakan celah ini. Cari cara untuk menyusup atau menciptakan kekacauan di gedung itu. Lenyapkan Sienna Sinclair dan pastikan dokumen apa pun yang ada di tangannya terbakar habis bersama jasadnya!"

"Baik, Nyonya. Saya akan mengatur eksekusinya malam ini."

Claudia mengulas senyum miring yang penuh kejahatan di balik kegelapan ruangan. "Kau pikir kau bisa menjatuhkanku, Sienna? Kau dan ayahmu akan tetap menjadi kambing hitam atas kematian Christina Vance... bahkan hingga kau membusuk di dalam kubur," batinnya penuh dendam.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!