NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 GUBUK TUA DAN WARISAN LELUHUR

 

Lin Mo melangkah perlahan meninggalkan alun-alun desa. Punggungnya tegak dan langkahnya tetap tenang meskipun ia merasakan ratusan pasang mata masih menatap dari belakang. Tatapan mereka bercampur rasa heran, rasa takut, dan rasa ingin tahu yang mendalam. Namun Lin Mo tak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan lurus menuju ujung desa tempat gubuk tua peninggalan orang tuanya berdiri di tepi hutan yang sepi.

Jalan setapak yang dilaluinya makin lama makin sempit dan makin berdebu. Rumput liar tumbuh subur di kedua sisi jalan. Tak ada rumah lain di sekitar tempat itu. Hanya ada satu gubuk tua yang berdiri miring di atas tanah yang luas namun ditumbuhi semak belukar tinggi. Dinding gubuk itu terbuat dari bambu yang sudah menghitam dan lapuk dimakan hujan dan panas. Atap rumbia-nya berlubang di banyak bagian. Pintu kayunya sudah tua dan berdecit setiap kali tersentuh angin. Tempat itu tampak sepi dan suram seakan tak pernah disentuh manusia sejak lama sekali.

Lin Mo berhenti melangkah di depan pintu gubuk itu. Ia berdiri diam cukup lama menatap bangunan reyot yang menjadi satu-satunya tempat berlindungnya sejak kecil. Di dalam gubuk itu lahir dan dibesarkan. Di dalam gubuk itu pula orang tuanya meninggal dunia dan meninggalkannya sendirian di dunia yang kejam ini. Lautan Qi di dalam perut bawahnya perlahan berdenyut lembut dan hangat seakan ikut merasakan rindu dan haru yang meluap di dadanya. Energi Qi belum mengalir keluar dan belum berubah menjadi energi spiritual. Namun udara di sekelilingnya perlahan terasa lebih hangat dan lebih lembut seakan ada kekuatan tak kasat mata yang menyambut kedatangannya.

Lin Mo mengulurkan tangan dan mendorong pintu kayu tua itu perlahan. Pintu itu terbuka pelan dengan suara berdecit panjang yang memecah kesunyian tempat itu. Udara lembap dan bau debu tua menyambutnya keluar. Lin Mo melangkah masuk. Di dalam gubuk itu masih sama persis seperti saat ia meninggalkannya beberapa hari lalu. Lantai tanah yang padat. Sebuah meja kayu tua yang berkaki tak sejajar. Dua kursi bambu yang sudah rapuh. Dan di sudut ruangan terdapat sebuah peti kayu tua yang berat dan kusam yang tak pernah dapat dibukanya sejak ditinggal orang tuanya.

Lin Mo melangkah mendekati peti kayu tua itu. Peti itu terbuat dari kayu yang sangat keras dan berat. Permukaannya polos tanpa ukiran dan tanpa pengunci besi. Namun entah mengapa peti itu tak pernah dapat dibuka oleh Lin Mo selama bertahun-tahun. Seakan ada kekuatan tak tampak yang menahannya agar tak terbuka. Orang tuanya sebelum meninggal sempat berpesan agar peti itu tidak dibuka sebelum waktunya tiba. Dan bahwa hanya keturunan mereka yang lautan Qi-nya telah terbangun dan murni yang mampu membukanya.

Selama bertahun-tahun Lin Mo tak pernah memahami makna pesan itu. Namun saat ini, saat berdiri di depan peti tua itu, lautan Qi di dalam perut bawahnya tiba-tiba berdenyut dengan kuat dan teratur. Energi Qi mengalir perlahan menyusuri meridian tubuhnya menuju telapak tangan kanannya. Energi Qi itu perlahan keluar dari tubuh dan berubah wujud menjadi energi spiritual yang bersinar lembut berwarna putih keemasan. Cahaya itu tak menyilaukan mata namun terasa hangat dan murni seketika menyebar ke seluruh ruangan gubuk tua itu.

Saat telapak tangan kanan Lin Mo menyentuh permukaan peti kayu tua itu, peti itu perlahan bergetar pelan. Cahaya putih keemasan dari energi spiritual yang terpancar dari tangan Lin Mo perlahan meresap masuk ke dalam dinding peti yang kusam itu. Perlahan terdengar bunyi halus dari dalam peti seakan ada kunci tak tampak yang sedang terbuka pelan-pelan. Tanpa perlu ditarik atau didorong dengan kuat, tutup peti tua itu perlahan terbuka sendiri ke atas.

Lin Mo menatap ke dalam peti itu dengan napas yang tertahan. Di dalamnya tidak ada emas, tidak ada perak, dan tidak ada harta benda berharga seperti yang sering ia bayangkan saat masih kecil. Yang ada hanyalah sebuah gulungan kain yang sudah tua warnanya dan sebuah benda kecil yang tampak seperti pecahan batu hitam yang tidak berkilau dan tidak tampak istimewa.

Lin Mo mengangkat gulungan kain itu perlahan. Kain itu terasa halus dan kuat meskipun sudah berusia sangat lama. Saat dibentangkan, terlihat tulisan-tulisan kuno yang ditulis dengan tinta yang masih tampak jelas dan tak pudar sedikit pun. Tulisan itu berisi petunjuk tentang cara melatih lautan Qi di dalam tubuh agar tetap murni dan jernih serta cara mengubah energi Qi yang mengalir keluar menjadi energi spiritual yang murni dan kuat. Di bagian bawah tulisan itu tertulis pesan singkat yang ditulis oleh leluhurnya.

Keturunan kami memiliki lautan Qi yang murni sejak lahir. Namun kemurnian itu mudah ternoda oleh hawa nafsu, keserakahan, dan kemarahan. Maka jagalah hati tetap jernih bagaikan air di mata air yang belum tercampur debu. Jagalah lautan Qi di dalam tubuh tetap tenang dan murni. Maka setiap kali energi Qi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual, ia akan membawa kekuatan yang tak dapat dikalahkan oleh kekuatan yang kasar dan keruh. Jangan pernah menggunakan kekuatan ini untuk menindas yang lemah atau mencari keuntungan yang tak pantas. Gunakanlah untuk melindungi yang lemah dan menjaga kedamaian. Ingatlah bahwa kemurnian hati adalah kunci dari segala kekuatan yang sesungguhnya.

Lin Mo membaca tulisan itu berulang kali hingga setiap kata meresap jauh ke dalam hatinya dan menyatu dengan lautan Qi yang berdenyut tenang di dalam tubuhnya. Kini ia paham segalanya. Mengapa lautan Qi-nya terbangun begitu cepat dan begitu murni. Mengapa energi spiritual yang muncul begitu lembut namun begitu kuat menghadapi energi yang keruh dan kasar milik Liu He. Semua itu bukan karena ia istimewa atau berbakat luar biasa. Itu karena darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah darah keturunan yang sejak lahir membawa kemurnian lautan Qi yang tinggi. Namun kemurnian itu akan hilang seketika jika hatinya ternoda oleh sifat-sifat yang buruk.

Lin Mo kemudian mengambil pecahan batu hitam yang ada di dalam peti itu. Batu itu terasa dingin dan halus saat dipegang. Tak ada tanda-tanda yang jelas di permukaannya. Namun saat lautan Qi di dalam tubuhnya berdenyut dan energi Qi perlahan mengalir keluar menuju tangan yang memegang batu itu, batu hitam itu perlahan bergetar pelan. Cahaya putih keemasan dari energi spiritual yang terpancar dari tubuh Lin Mo perlahan diserap oleh batu itu. Seketika batu hitam itu memancarkan cahaya lembut yang berwarna putih keemasan yang sama persis dengan cahaya yang dipancarkan oleh energi spiritual milik Lin Mo.

Di dalam benak Lin Mo seketika muncul pengetahuan yang tak diketahui dari mana asalnya. Ia memahami bahwa batu hitam itu bukanlah batu sembarangan. Itu adalah peninggalan leluhurnya yang berfungsi membantu memurnikan lautan Qi di dalam tubuh dan memperhalus aliran meridian yang tersumbat. Selama batu itu dibawa dan dijaga dengan hati yang jernih, maka lautan Qi di dalam tubuh akan tetap murni dan berkembang perlahan namun pasti tanpa ada risiko menjadi keruh atau meledak tak terkendali.

Lin Mo menggenggam batu hitam itu erat-erat di dalam telapak tangan kanannya. Ia merasakan hawa dingin yang lembut menjalar dari batu itu masuk ke dalam telapak tangannya, menyatu dengan energi Qi yang mengalir di meridian, lalu kembali menyatu dengan lautan Qi yang berdenyut tenang di perut bawahnya. Lautan Qi itu kini terasa semakin jernih dan semakin murni dari sebelumnya. Aliran energi di dalam meridian yang dulu masih terasa tersumbat di banyak tempat kini perlahan menjadi lebih lancar dan lebih halus seakan batu itu terus bekerja membersihkan dan memperluas jalan aliran energi di dalam tubuhnya.

Lin Mo melipat kembali gulungan kain itu dan menyimpannya dengan hati-hati di dalam pelukannya. Ia kembali menatap peti kayu tua itu dengan penuh rasa hormat dan haru. Ia kini memahami bahwa orang tuanya meninggal bukan karena sakit biasa atau karena kemalangan semata. Mereka mungkin dibunuh atau diusir karena seseorang menginginkan peninggalan yang dimiliki keluarga ini. Dan itulah sebabnya mereka menyembunyikan keberadaan peti itu dan berpesan agar hanya dibuka saat waktunya tiba. Saat lautan Qi keturunannya telah terbangun dan hatinya cukup jernih untuk memahami dan menjaga warisan ini dengan baik.

Lin Mo menutup kembali peti kayu tua itu perlahan. Ia tidak memindahkannya dari tempatnya. Ia membiarkannya tetap di sudut ruangan tempat ia berdiri selama bertahun-tahun. Karena warisan yang sesungguhnya bukanlah peti itu atau benda-benda di dalamnya. Warisan yang sesungguhnya adalah pesan yang tertulis di atas gulungan kain itu. Menjaga hati tetap jernih dan menjaga lautan Qi di dalam tubuh tetap murni dan seimbang. Itulah yang paling berharga dari segalanya.

Matahari perlahan terbenam di sebelah barat. Cahaya kemerahan masuk menyelinap melalui celah dinding dan atap gubuk tua itu. Lin Mo duduk diam di atas lantai tanah yang dingin. Ia menggenggam erat batu hitam peninggalan leluhurnya. Ia memejamkan mata dan membiarkan lautan Qi di dalam tubuhnya berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Energi Qi perlahan mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual yang menyelimuti tubuhnya dengan lembut dan hangat. Cahaya putih keemasan itu memantul lembut dari dinding gubuk tua itu seakan leluhurnya sedang tersenyum bangga melihat keturunan mereka akhirnya tumbuh dan memahami kebenaran yang telah dijaga turun-temurun selama ribuan tahun.

Di malam itu, di dalam gubuk tua yang reyot dan sepi di ujung desa, Lin Mo bersumpah di dalam hatinya. Ia akan menjaga warisan leluhurnya dengan segenap jiwa dan raga. Ia akan menjaga hatinya tetap jernih dan lautan Qi-nya tetap murni. Ia akan mencari tahu siapa yang telah membunuh orang tuanya dan mengusir keluarganya. Dan ia akan memulihkan kehormatan serta kedamaian yang dulu dirampas dari keluarganya. Namun ia tidak akan melakukannya dengan kebencian dan kemarahan yang membakar hati. Ia akan melakukannya dengan kemurnian hati dan kekuatan lautan Qi yang tenang dan seimbang. Karena itulah pesan terakhir yang ditinggalkan oleh leluhurnya. Dan itulah jalan yang akan ditempuhnya mulai hari ini.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!