Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Di sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu meja, seorang pria duduk tenang sambil membolak-balik beberapa berkas di hadapannya.
Suasana hening menyelimuti ruangan itu. Hanya suara lembaran kertas yang sesekali terdengar hingga ketukan pintu memecah keheningan.
Tok… Tok… Tok…
“Masuk.”
Suara dingin itu terdengar tanpa emosi.
Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berjas hitam melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna cokelat. Ia berhenti beberapa langkah di depan meja, kemudian menundukkan kepala.
“Tuan Adrian.”
Adrian Virel menghentikan gerakannya. Ia menutup berkas yang sedang dibaca, lalu mengangkat pandangan.
“Ada laporan baru?”
“Ya, Tuan.”
Pria itu segera menyerahkan map yang dibawanya.
Adrian menerimanya tanpa tergesa. Ia membuka map tersebut dan mulai membaca isinya.
Ruangan itu kembali sunyi.
Semakin lama halaman demi halaman dibalik, semakin terlihat jelas kronologi kegagalan rencana mereka. Tatapan Adrian tetap tenang, tetapi jemarinya mulai bergerak pelan mengikuti setiap baris yang dibacanya.
Hingga akhirnya, ia menghela napas panjang dan menutup map tersebut.
“Jadi…” Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Lucas juga berhasil membersihkan namanya.”
“Benar, Tuan.” Pria itu menelan ludah sebelum melanjutkan. “Bahkan direktur rumah sakit juga kehilangan jabatannya.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada map di tangannya. Perlahan, jemarinya mengepal hingga beberapa lembar kertas di dalamnya ikut tertekuk.
“Berapa kali?”
Pria di hadapannya mengangkat wajah sedikit, tampak bingung. “Maaf, Tuan?”
“Sudah berapa kali rencana kita gagal?”
Nada suara Adrian tetap rendah. Namun, justru itu yang membuat pria tersebut semakin gugup.
“Empat kali, Tuan,” jawabnya dengan suara hati-hati.
Braak!!
Map yang sejak tadi berada di tangan Adrian seketika dihantamkan ke atas meja.
Suara benturan itu cukup keras hingga pria di hadapannya refleks menundukkan kepala semakin dalam.
“Empat kali…” Adrian mengulang pelan.
Tangannya masih berada di atas meja. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya berubah tajam.
“Sejauh ini aku membiarkan kalian bekerja. Dan selama itu pula kalian kembali dengan membawa kegagalan.”
“Maafkan kami, Tuan.”
“Maaf?”
Adrian tertawa lirih. Namun, tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya.
“Apa menurutmu kata itu bisa memperbaiki semua kekacauan ini?”
Pria itu langsung terdiam. Tidak ada jawaban. Tidak ada pula yang berani mengangkat kepala.
Adrian menarik napas panjang. Ia memejamkan mata beberapa saat, berusaha meredam emosinya.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya kembali tenang. Seolah kemarahan yang baru saja ditunjukkannya tidak pernah terjadi.
“Apa ada informasi lain?”
Pria itu mengangguk cepat. “Ada satu hal yang sepertinya harus Anda tahu, Tuan.”
“Apa?”
Pria tersebut segera mengambil dokumen lain dari dalam mapnya dan menyerahkannya kepada Adrian.
“Keluarga Halvar baru-baru ini menambah anggota keluarga mereka.”
Kening Adrian seketika mengernyit. “Menambah anggota keluarga?”
Pria itu mengangguk. Ia kemudian mengambil selembar foto yang terlihat masih baru dan meletakkannya di atas meja.
“Namanya Elara. Dia adalah anak angkat keluarga Halvar.”
“Anak angkat?”
“Iya, Tuan.”
Pria itu menunjuk foto tersebut. “Dia mulai tinggal bersama keluarga Halvar beberapa bulan yang lalu. Dan sejak gadis itu datang…” Ia berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Entah kebetulan atau tidak, dia selalu muncul setiap kali keluarga Halvar menghadapi masalah.”
Adrian mengambil foto tersebut.
Tatapannya langsung tertuju pada sosok gadis berambut panjang dengan mata hijau yang terlihat mencolok bahkan dari sebuah foto.
“Cantik,” gumamnya pelan.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil terus memperhatikan foto itu.
Tak lama kemudian, Adrian memejamkan mata.
Adrian bukan orang yang percaya pada kebetulan.
Namun, ia juga bukan orang yang terburu-buru menarik kesimpulan.
Jika gadis itu memang selalu muncul di saat keluarga Halvar menghadapi masalah, maka ada sesuatu yang perlu ia ketahui.
“Jadi… menurut kalian, semua kegagalan ini karena seorang gadis?”
Adrian mengangkat pandangan dari foto di tangannya. Tatapannya beralih pada pria yang berdiri di hadapannya.
“Belum bisa dipastikan, Tuan,” jawab pria itu hati-hati. “Tapi keberadaannya terlalu sering muncul di setiap kejadian.”
Adrian kembali menatap foto tersebut beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah.
“Dari mana gadis itu berasal?” tanyanya. “Panti asuhan?”
“Bukan, Tuan.”
“Lalu?”
Pria itu tampak ragu sejenak. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya menjawab.
“Menurut informasi yang kami dapat…” Ia berhenti sebentar. “Dia berasal dari hutan.”
Adrian yang semula bersandar di kursinya seketika menegakkan tubuh.
“Hutan?”
“Ya, Tuan.”
“Maksudmu, gadis itu tinggal di hutan?”
Pria itu kembali mengangguk.
“Iya, Tuan. Dia ditemukan oleh Tuan Danendra dan Nyonya Livia setelah kecelakaan itu. Gadis itu juga yang menyelamatkan mereka. Setelah itu, keluarga Halvar membawanya pulang.”
Adrian kembali menundukkan pandangan pada foto yang masih berada di tangannya.
Seorang gadis remaja.
Ditemukan di hutan.
Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal.
Terlebih saat melihat foto tersebut. Gadis itu memiliki kulit yang bersih dan wajah yang terawat. Sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang hidup di dalam hutan.
“Lalu identitasnya?”
“Kami belum menemukannya, Tuan.”
Kening Adrian sedikit berkerut. “Kenapa belum?”
“Tidak ada data yang mengarah pada keberadaannya sebelum bertemu keluarga Halvar.”
Ruangan kembali hening. Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan menyipit saat kembali memperhatikan foto Elara.
Tidak ada nama keluarga.
Tidak ada catatan masa lalu.
Bahkan tidak ada informasi tentang siapa dirinya sebelum ditemukan keluarga Halvar.
Gadis itu seperti muncul begitu saja.
“Menarik.”
Satu kata itu keluar pelan dari bibir Adrian.
Pria di hadapannya tetap diam. Ia tidak berani menanggapi.
Adrian meletakkan foto tersebut di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi.
“Cari tahu lebih dalam tentang gadis itu.”
Pria tersebut langsung mengangguk.
“Pastikan tidak ada informasi yang terlewatkan,” lanjut Adrian dengan tatapan tajam. “Aku ingin tahu dari mana dia berasal dan siapa sebenarnya gadis itu.”
“Baik, Tuan.”
Pria itu menundukkan kepala sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu.
Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Adrian kembali terdengar.
“Dan satu lagi.”
Pria itu menghentikan langkahnya lalu menoleh.
“Jangan sampai keluarga Halvar tahu kalau kita sedang mencari tahu tentang gadis itu.”
“Baik, Tuan.”
Setelah pria tersebut keluar, pintu kembali tertutup.
Adrian kembali menatap foto Elara yang masih tergeletak di atas meja.
Entah kenapa… Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada gadis itu.
Namun untuk saat ini, semua itu masih sebatas dugaan.
Dan Adrian tidak pernah bertindak hanya berdasarkan dugaan.
***
Ruang keluarga sore itu terasa tenang. Hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik perlahan.
Elara duduk sendiri di sofa, sebuah buku tebal berada di pangkuannya. Sesekali matanya bergerak mengikuti setiap kalimat yang dibaca dengan serius.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Faresta yang baru turun dari lantai atas segera menghentikan langkahnya saat melihat Elara.
Gadis itu bahkan tidak menyadari keberadaannya. Ia masih sibuk membaca seolah tidak ada hal lain di sekitarnya.
“Apa yang sedang kamu baca?”
Elara mengangkat wajah. Ia kemudian sedikit mengangkat buku di pangkuannya, memperlihatkan halaman sampulnya.
“Buku tentang anatomi manusia.”
Faresta mengangguk kecil. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti di sisi sofa.
“Memangnya kamu paham?”
“Hm.” Elara menunduk kembali pada bukunya. “Sedikit.”
Faresta memperhatikan gadis itu beberapa detik. Sejak Elara datang, hampir setiap hari ia melihatnya selalu sendirian.
Membaca, mengurus tanaman, atau hanya duduk diam sambil melamun.
Faresta memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Elara.”
“Iya?” Gadis itu kembali mendongak.
“Hari ini kamu ada kegiatan?”
Elara menggeleng pelan. “Tidak ada.”
“Kalau begitu ikut aku.”
Elara mengerjapkan mata. “Ke mana?”
“Ke Mall.”
“Mall?”
“Iya.” Faresta mengangguk santai. “Kita jalan-jalan sebentar.”
Elara menatapnya beberapa saat, seolah sedang mencoba memahami maksud perkataan itu.
“Untuk apa?”
Faresta terdiam sebentar. “Ya, jalan-jalan.”
“Apa yang akan kita lakukan di sana?”
“Banyak.”
“Contohnya?”
Faresta menghela napas kecil. Ia sebenarnya tidak menyangka harus menjelaskan kegiatan pergi ke mall kepada seseorang.
“Belanja, makan, melihat-lihat toko…”
Elara masih menatapnya dengan wajah datar.
“Dan…” Faresta mengangkat bahu. “Ya, bersenang-senang.”
Elara terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya dengan polos.
“Di sana ada hutan?”
Wajah Faresta yang semula terlihat sedikit antusias langsung berubah datar.
Ia menatap Elara tanpa berkedip selama beberapa detik.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kita harus pergi ke sana?”
Faresta menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya sebentar sebelum kembali menatap Elara.
“Karena…” Ia berhenti sejenak, mencari cara paling mudah untuk menjelaskannya. “Orang normal kalau sedang libur biasanya pergi ke mall, Elara.”
Elara terlihat berpikir cukup lama.
Tatapannya berpindah ke buku di pangkuannya, kemudian kembali kepada Faresta.
“Kalau begitu… Baiklah.” Ia menutup bukunya perlahan.
Faresta mengangkat alis.
“Aku akan belajar menjadi orang normal.”
Faresta terdiam cukup lama. Tangannya perlahan naik untuk memijat pelipis.
Dalam hati, ia mulai bertanya-tanya. Sebenarnya selama ini Elara menganggap dirinya apa?
Faresta mengembuskan napas panjang, lalu menurunkan tangannya.
“Sudahlah. Kamu tidak perlu belajar menjadi orang lain.”
Elara menatapnya bingung. “Kenapa?”
Faresta tidak langsung menjawab. Ia menatap Elara beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Cukup jadi Elara saja. Karena keluarga ini sudah menerima kamu apa adanya,” lanjut Faresta pelan.
Gadis itu masih menatapnya tanpa berkedip.
Ada sesuatu yang terasa asing dalam ucapan Faresta. Bukan karena ia tidak mengerti kata-katanya, tetapi karena ia tidak terbiasa mendengarnya.
“Jadi…” Elara akhirnya bersuara pelan. “Aku tidak perlu berubah?”
Faresta menggeleng. “Tidak.”
Ia kemudian menepuk ringan kepala Elara sebelum berbalik.
“Selama kamu tetap menjadi dirimu sendiri, itu sudah cukup.”
Elara tidak menjawab.
Ia hanya menatap punggung Faresta yang perlahan menjauh menuju ruang makan.
Tangannya masih berada di atas buku yang sudah tertutup.
Untuk beberapa saat, Elara hanya diam. Kemudian, tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔