Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
"Sumpah ya, kalau bukan karena aturan sistem ini, sudah kulempar dua manusia bodoh ini ke sarang serigala," umpat Vanya kesal setengah mati.
Wanita berambut perak itu tampak menyeret satu tubuh algojo istana dengan sebelah tangan tanpa ekspresi.
Arya berjalan di sampingnya sambil membawa tubuh algojo satunya dengan bersiul kecil.
"Udah, jangan banyak ngedumel begitu, itung-itung olahraga pagi biar badan nggak kaku," ledek Arya santai.
Vanya melotot tajam ke arah Arya dengan kilatan mata merah yang menyala-nyala.
"Enak saja ngomong! Kamu pikir menyeret sampah busuk ini tidak membuat bajuku kotor?!" bentak Vanya geram.
"Makanya pelan-pelan jalannya biar nggak nyusahin diri sendiri," balas Arya cuek bebek.
Mereka berdua berjalan menyusuri gang-gang sepi menuju area perbatasan dekat gerbang istana utama.
Hari sudah semakin siang, aktivitas warga mulai terlihat ramai di jalanan utama kota.
Orang-orang yang berpapasan dengan mereka langsung menatap heran ke arah dua orang yang menyeret dua pria berseragam zirah istana.
"Eh, itu kenapa ada orang pingsan diseret-seret begitu?" bisik seorang pedagang pasar ke tetangganya.
"Ssst, jangan ikut campur, itu kan seragam pengawal istana, bahaya kalau kita urusin," sahut yang lain ketakutan.
Arya pura-pura tidak mendengar bisikan orang-orang di pinggir jalan dan terus melangkah.
"Kita mau buang dua beban ini di sebelah mana?" tanya Vanya jengah.
"Tuh, di pos jaga depan gerbang utama istana, biar langsung kelihatan sama komandannya," tunjuk Arya.
Vanya mendengus dingin melihat pos penjagaan batu yang dijaga beberapa prajurit bersenjata tombak lengkap.
"Kalau prajurit itu lihat kita, mereka pasti langsung menyerang," kata Vanya memperingatkan.
"Tenang saja, kita tinggal lempar terus langsung kabur, gampang kan," jawab Arya enteng.
Mereka bersembunyi di balik tembok sudut jalan tidak jauh dari pos jaga istana.
Bruk...
Vanya menjatuhkan tubuh algojo yang dibawanya begitu saja ke tanah berdebu.
"Aduh, pelan-pelan dikit kenapa, nanti kalau tulangnya patah beneran gimana," protes Arya.
"Biarin saja patah, kurang ajar berani menyuruhku jadi kuli angkut," balas Vanya ketus.
Arya ikut melemparkan tubuh algojo kedua tepat di sebelah.
gedebuk.
"Nah, beres kan, tugas kita hari ini selesai dengan sukses," kata Arya tersenyum puas.
"Sekarang cepat lari sebelum mereka sadar," perintah Vanya sambil berbalik badan.
Sebelum mereka sempat melangkah pergi, salah satu pengawal di pos jaga melihat ke arah tumpukan tubuh di dekat gerbang.
"Hei! Siapa di sana yang membuang orang di depan pos jaga?!" teriak pengawal istana kaget.
Arya dan Vanya sontak menghentikan langkah mereka seketika.
"Tuh kan, keburu ketahuan gara-gara kamu lemparnya terlalu keras," sindir Arya panik.
"Diam kamu, manusia bodoh, tinggal lari saja malah banyak ngomong!" balas Vanya sebal.
Dua orang pengawal istana langsung berlari mendekati posisi mereka berdua dengan tombak terhunus.
"Berhenti kalian! Jangan bergerak atau kami tusuk!" ancam pengawal itu galak.
Arya mendengus pelan, lalu menoleh ke arah dua algojo yang masih pingsan di tanah.
"Dadah, Pak Pengawal, tolong salamku buat Tabib Agung ya!" teriak Arya melambaikan tangan.
Arya langsung menarik tangan Vanya untuk berlari kencang meninggalkan area istana.
"Jangan pegang-pegang tangan ku, manusia kurang ajar!" protes Vanya sewot saat ditarik berlari.
"Kalau nggak ditarik nanti kamu malah jalan santai kayak ratu mau kondangan!" jawab Arya ngos-ngosan.
Pengawal istana mengejar mereka sambil berteriak memanggil bala bantuan dari pos.
"Kejar mereka! Jangan biarkan penyusup itu kabur!" perintah pengawal dengan suara melengking.
Namun kecepatan lari Arya yang sudah ditingkatkan oleh sistem membuat mereka jauh meninggalkan para pengejar.
Belasan menit berlari, mereka akhirnya tiba di gang sempit dekat kontrakan aman tanpa jejak.
Arya membungkuk bertumpu pada lututnya sambil mengatur napas yang terengah-engah hebat.
"Hah... hah... gila, paru-paruku rasanya mau copot lari sejauh itu," keluh Arya lemas.
Vanya berdiri tegak dengan napas yang masih teratur rapi tanpa keringat sedikit pun.
"Begitu saja sudah hampir mati, fisik manusia memang sangat payah," cibir Vanya dingin.
Arya mendelik tajam ke arah Vanya yang tampak tidak punya dosa sama sekali.
"Iya deh yang mantan ratu iblis mah bebas, nafasnya nggak bakal habis," balas Arya sewot.
Mereka masuk ke dalam kontrakan dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
Sementara itu, di dalam istana utama...
Dua algojo yang pingsan tadi sudah dibawa ke ruang pemeriksaan tabib istana.
Tabib Agung berdiri mondar-mandir di depan tempat tidur dengan wajah merah padam menahan amarah.
Brak...
Tabib tua itu menggebrak meja kayu sampai hancur berantakan.
"Sialan! Beraninya si tukang pijit rendahan itu mempermalukan diriku di depan istana!" murka Tabib Agung bergetar.
Asisten pribadinya menunduk ketakutan di sudut ruangan tanpa berani mengangkat kepala.
"Apa kata Baginda Raja soal ini?" tanya Tabib Agung dengan suara tercekat.
"Baginda Raja sedang murka besar karena menganggap penjagaan istana sangat lemah," jawab sang asisten terbata-bata.
"Kumpulkan seluruh pasukan bayaran elit sekarang juga!" perintah Tabib Agung dengan niat membunuh yang meluap.
"Baik, Tuan Tabib! Kami akan ratakan tempat tinggal Arya hari ini!" jawab asisten itu cepat.
Kembali ke kontrakan Arya, suasana terasa cukup tenang setelah aksi pelarian tadi pagi.
Arya duduk bersila di lantai sambil mengecek sisa keping uang perak di sakunya.
"Uang kita masih cukup buat makan dua hari ke depan, tapi setelah itu harus cari akal lagi," gumam Arya.
Vanya duduk menyandar di dinding sambil melipat tangan di dada dengan tatapan menerawang.
"Kenapa tidak kau habisi saja semua orang istana itu sejak awal?" tanya Vanya memecah keheningan.
Arya menoleh sekilas ke arah Vanya dengan tatapan serius.
"Sudah kubilang, hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan ratu iblis," jawab Arya santai.
"Kalau aku membunuh semua bangsawan itu, yang ada aku malah jadi buronan seluruh negeri," lanjut Arya menjelaskan.
Vanya terdiam meresapi ucapan Arya yang terdengar sangat masuk akal di dunia manusia.
"Manusia selalu rumit dengan aturan bodoh mereka sendiri," komentar Vanya pelan.
"Makanya jangan suka bikin onar kalau tidak mau repot sendiri," balas Arya meledek.
Tiba-tiba, suara dengungan khas sistem berputar kencang di kepala Arya tanpa peringatan.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi badai besar sedang menuju ke arah Host.]
[Peringatan keras: Pasukan elit istana bergerak menuju lokasi kontrakan dalam waktu satu jam!]
Arya langsung terlonjak berdiri dari duduknya dengan mata melotot lebar.
"Sialan! Pasukan elit istana mau datang ke sini?!" kaget Arya panik setengah mati.
Vanya ikut menegakkan tubuhnya, senyum dingin terpancar jelas di bibir merahnya.
"Baguslah, kalau mereka datang sendiri ke sini, aku tidak perlu repot-repot mencarinya ke istana," ucap Vanya berbahaya.
Arya mengelus dadanya yang berdegup kencang, merasa hari ini adalah hari paling sial seumur hidupnya.