NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Hati yang Belum Mendarat

Selasa pagi, Renard mengganti dasinya tiga kali.

Dasi pertama terlalu gelap. Dasi kedua membuatnya terlihat seperti akan menghadiri pemakaman. Dasi ketiga sebenarnya tidak bermasalah, tetapi simpulnya tetap terasa salah.

Bi Susi berdiri di pintu kamar ganti sambil membawa nampan sarapan.

"Pak Renard mau rapat atau melamar orang?"

Renard menatapnya lewat cermin. "Rapat."

"Kalau rapat, dari dulu dasi miring juga nggak pernah peduli."

"Nggak miring."

"Kalau begitu kenapa dibuka lagi?"

Renard tidak menjawab. Ia mengambil roti panggang, menggigit sekali, lalu meletakkannya kembali.

Sejak pulang dari Bali, rumah Menteng terasa lebih luas daripada biasanya. Malam sebelumnya ia tidur di ranjang yang sempurna, tanpa kaki kesemutan, tanpa orang yang bernapas di dadanya. Seharusnya lebih nyaman.

Ia malah terbangun empat kali.

Pada bangun ketiga, Renard bahkan sempat mengulurkan tangan ke sisi ranjang yang kosong. Jemarinya menyentuh seprai dingin dan ia langsung sadar betapa bodohnya gerakan itu.

Liana tidak pernah tidur di rumah ini sebagai Liana.

Nona Terapis pernah berada di kamar terapi di lantai lain, selalu dalam jadwal yang ketat dan dengan pintu yang dijaga. Namun tubuh Renard tidak peduli pada nama maupun lantai. Ia hanya mengingat satu suhu telapak tangan dan satu ritme napas.

Ia membuka laci obat, melihat dosis tambahan yang pernah diresepkan untuk keadaan darurat, lalu menutupnya lagi. Bukan menolak perawatan. Ia hanya tidak mau menambah dosis tanpa bicara kepada dokter setelah efeknya makin lemah.

Pagi ini ia sudah mengirim permintaan konsultasi.

Tidak ada serangan penuh. Hanya kegelisahan yang mengendap di bawah kulit, seolah tubuhnya mencari kehangatan yang baru dikenal lalu tiba-tiba hilang.

"Obatnya diminum?" tanya Bi Susi.

"Sesuai dosis dokter."

"Jangan ditambah sendiri."

"Aku tahu."

Bi Susi mengangguk puas. "Bagus. Sekarang habiskan rotinya. Orang lapar biasanya lebih galak."

"Aku nggak galak."

"Tentu, Pak."

Nada itu mengingatkannya pada Liana saat berbohong di balkon. Renard menghela napas dan menghabiskan roti.

***

Agus menjemput Liana di titik dekat apartemennya sebelum masuk jalur Sudirman. Begitu pintu belakang terbuka, aroma melati-kamboja yang ringan masuk bersama udara pagi.

Renard langsung berhenti mengetik.

"Pagi, Pak Renard. Pagi, Pak Agus."

"Pagi, Mbak Liana," jawab Agus.

Renard hanya mengangguk. Ketegangan di bawah kulitnya turun satu tingkat bahkan sebelum Liana duduk sempurna.

Itu bukan reaksi yang bisa terus ia abaikan.

Mobil bergerak beberapa meter, lalu berhenti lagi di kemacetan. Liana menyerahkan map jadwal.

"Pukul sembilan rapat legal. Setengah sebelas review divisi parfum. Ci Karina minta tiga puluh menit setelah makan siang."

Renard membuka halaman pertama, tetapi matanya tidak membaca apa pun. "Ada yang salah dengan dasiku?"

Liana melihat simpulnya. "Sedikit longgar."

"Betulkan."

"Sekarang?"

"Macetnya nggak akan bergerak dalam lima menit."

Agus menatap lurus ke depan dengan kesungguhan orang yang tiba-tiba kehilangan kemampuan mendengar.

Liana meletakkan map di pangkuan. Ia bergeser mendekat, menangkap kedua sisi dasi Renard, lalu menarik simpulnya perlahan.

Jarak mereka menyusut.

Napas Renard menyentuh keningnya. Liana mencium aroma cedar, kopi hitam, dan sabun yang masih segar. Ujung jarinya menyapu kerah kemeja Renard saat merapikan lipatan.

Renard menahan napas.

Liana juga menyadari perubahan itu. Nadi di sisi leher pria itu bergerak cepat. Tangan Renard yang memegang map tampak tenang, tetapi ruas jarinya memutih.

"Terlalu kencang?" tanyanya.

"Nggak."

"Wajah Bapak bilang sebaliknya."

"Wajahku nggak bilang apa-apa."

"Itu justru masalahnya."

Liana melonggarkan simpul setengah sentimeter. Jemarinya tanpa sengaja menyentuh kulit di atas kerah. Ketegangan pada tangan Renard langsung berkurang.

Keduanya melihat perubahan itu.

Liana menarik tangan lebih cepat. Renard mengalihkan mata ke jendela, seolah deretan kendaraan yang tidak bergerak jauh lebih menarik.

Aroma dari kulit Liana naik lebih jelas. Melati. Kamboja. Lapisan hangat yang sama dengan ruang terapi.

Jantungnya berdegup terlalu cepat.

"Sudah," kata Liana.

Ia hendak mundur, tetapi Renard menahan ujung dasinya. Bukan tangan Liana, hanya kain di antara mereka.

"Kamu pakai parfum?"

"Nggak."

Jawaban itu datang tanpa jeda.

"Sabun?"

"Sabun biasa."

"Yang dari Bali?"

Liana menatapnya. "Pak Renard sedang wawancara produk atau saya?"

Mobil bergerak mendadak. Tubuh Liana terdorong sedikit ke depan. Renard mengangkat tangan ke sikunya, menstabilkan, lalu segera melepas.

"Produk," katanya.

"Berarti kirim pertanyaannya lewat surel."

Dari kursi depan terdengar suara seperti Agus menahan batuk.

***

Begitu mereka tiba di lantai eksekutif, Rizal menyodorkan kopi kepada Bayu.

"Sepuluh ribu. Mereka pulang dari Bali dengan sesuatu."

"Dua puluh ribu, belum ada apa-apa tapi Pak Renard sedang berusaha," balas Bayu.

Dimas tetap melihat layar. "Aku pasang tiga puluh ribu untuk kalian berdua dipindah divisi sebelum Jumat."

Liana muncul dari lift lebih dulu.

Ketiganya langsung berpencar.

"Kenapa ada uang di meja?" tanyanya.

"Iuran kopi," jawab Rizal.

"Kalian baru pegang kopi."

"Untuk besok. Kami berpikir ke depan."

Liana tidak percaya, tetapi ponselnya bergetar sebelum ia sempat bertanya lagi.

Pesan pertama datang ke nomor kerja.

`Liana, tolong carikan waktu tiga puluh menit. Aku perlu bicara dengan Renard soal evaluasi medisnya. - Karina`

Beberapa detik kemudian, ponsel khusus terapi di dalam tasnya ikut bergetar.

`Nona Terapis, jadwal Sabtu perlu dievaluasi. Renard mulai menolak obat tambahan saat gejalanya naik. Kita harus pastikan keputusan itu tetap di bawah pengawasan dokter.`

Liana menatap dua layar bergantian.

Sebagai asisten, ia harus memastikan Renard menyediakan waktu untuk evaluasi. Sebagai Nona Terapis, ia harus melaporkan bahwa selama di Bali pria itu mampu mengatasi kegelisahan tanpa dosis tambahan, tetapi bereaksi kuat pada sentuhan Liana.

Ia tidak mungkin menulis bagian terakhir tanpa membuka pintu pertanyaan.

Liana mengetik jawaban di ponsel terapi, menghapusnya, lalu mengetik ulang.

`Saya setuju evaluasi. Tolong libatkan dokter dan jangan ubah dosis tanpa persetujuan medis. Observasi sesi akan saya kirim setelah Sabtu.`

Pesan itu profesional dan aman. Tidak menyebut pelukan di hotel. Tidak menyebut bahwa Renard tertidur lebih baik saat Liana berada di dadanya.

Tetapi saat menekan kirim, ia merasa sedang menyembunyikan informasi dari dua sisi sekaligus.

Karina tidak sedang membongkar identitasnya. Namun dua peran yang selama ini terpisah kini menuntut jawaban pada waktu yang sama.

Ia membalas nomor kerja lebih dulu, lalu menyimpan ponsel terapi tanpa membukanya lagi.

Di meja, lembar konfirmasi `Nusantara Young Perfumer` sudah tercetak. Nomor peserta anonimnya tertera di pojok kanan: NYP-117.

Renard keluar dari kantor dan melihat lembar tersebut.

"Kamu jadi mendaftar."

"Iya."

"Bagus."

Hanya satu kata. Namun cara Renard mengucapkannya membuat dada Liana terasa hangat.

Ia menyerahkan map rapat, lalu mengikuti Renard masuk. Setelah penjelasan selesai, Liana melangkah keluar dan menutup pintu hampir rapat.

Tangannya masih berada di gagang ketika suara Renard terdengar dari dalam.

Pelan, seperti bicara kepada dirinya sendiri.

"Kenapa aromamu sama persis dengan dia?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!