NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Tanda Tangan di Atas Kertas

Pagi itu, ruang tamu Om Besar Phua lebih sunyi daripada kemarin.

Tidak ada lagi kue lapis yang disentuh. Tidak ada lagi bisik-bisik yang berani terlalu keras. Di tengah meja, draf perjanjian dari Dennis sudah dicetak rangkap tiga. Liana duduk dengan punggung tegak, kedua tangan di atas pangkuan. Di seberangnya, Albert menatap lembar-lembar kertas itu seolah setiap halaman adalah pisau yang mengiris harga dirinya.

Om Besar membaca perlahan.

"Pembagian harta bersama sementara seratus lima puluh juta rupiah tunai. Hak atas rumah BSD City dihitung separuh untuk Liana. Aset yang diduga dialihkan kepada pihak ketiga selama perkawinan akan dibuktikan lebih lanjut dalam proses hukum."

Wajah Albert semakin gelap. "Klausul Golden Crown itu tidak perlu."

Liana menatapnya. "Kalau tidak ada yang disembunyikan, klausul itu tidak akan menyakitimu."

Santi yang duduk agak jauh langsung menunduk pura-pura membaca ponsel. Setelah kemarin, suaranya seperti tertinggal di bawah meja.

Kim Hwa duduk di kursi roda, wajahnya bengkak karena menangis semalaman. Begitu Om Besar menyebut pembagian harta, ia mulai terisak lagi.

"Kalian semua memaksa anakku. Liana, apa hatimu sudah jadi batu?"

Liana menoleh. "Hatiku terlalu lama dipakai untuk menahan semuanya. Sekarang aku hanya memakai akal sehat."

"Kamu akan kena karma."

"Kalau karma berjalan, aku tidak takut."

Om Besar mengetuk meja pelan. "Cukup. Albert, tanda tangan."

Albert mengambil pena, tetapi tangannya tidak langsung bergerak. Matanya naik ke wajah Liana. Ada kemarahan, penghinaan, dan sesuatu yang mirip tidak percaya. Mungkin sampai detik itu, ia masih mengira Liana akan mundur begitu keluarga besar duduk di depannya.

Pena itu akhirnya menyentuh kertas.

Tanda tangan Albert terlihat miring, goresannya terlalu keras sampai hampir merobek halaman.

Om Besar menggeser dokumen kepada Liana.

Ruangan terasa jauh. Suara AC, batuk kecil seorang kerabat, isakan Kim Hwa, semuanya seperti berada di balik kaca. Liana melihat namanya tertulis di sana.

Liana Liem.

Nama yang selama tiga puluh tahun hampir selalu berdiri di belakang nama Albert Phua. Hari ini, nama itu berdiri sendiri di atas kertas yang menentukan hidupnya.

Ia menandatangani.

Tidak ada petir. Tidak ada suara besar dari langit. Hanya goresan pena di atas kertas.

Namun, bagi Liana, bunyi kecil itu seperti pintu besi yang terbuka setelah tiga puluh tahun.

Om Besar ikut menandatangani sebagai saksi. Dua kerabat lain menulis nama mereka. Setelah semua selesai, Om Besar menatap Albert dengan berat.

"Perjanjian keluarga sudah ada. Proses di Pengadilan Negeri tetap harus berjalan. Jangan ada yang mencoba menghilangkan bukti atau mengalihkan aset."

Liana menyimpan kalimat itu dalam hati. Ini belum putusan akhir. Masih ada pengajuan gugatan, mediasi, sidang, dan semua prosedur yang mungkin dipakai Albert untuk menyeret waktu. Namun, kertas di tangannya adalah pijakan pertama yang sah di depan keluarga. Setidaknya, mulai hari itu, Albert tidak bisa lagi berkata bahwa ia keluar tanpa hak.

Dennis sudah menuliskan catatan di bagian bawah draf: jangan menandatangani perubahan apa pun tanpa saksi, simpan rangkap asli, pindai segera.

Liana melipat satu rangkap ke dalam map plastik bening. Ia melakukannya di depan semua orang, sengaja tidak tergesa-gesa. Dulu ia sering menyembunyikan rasa takut agar keluarga Phua tidak terganggu. Hari ini ia memperlihatkan kehati-hatiannya agar mereka tahu ia tidak lagi bisa ditekan dengan suara keras.

Albert tertawa pendek tanpa gembira. "Om sekarang mengancam saya?"

"Saya mengingatkan."

Kim Hwa tiba-tiba menangis keras. "Kamu puas, Liana? Puas melihat anakku dipermalukan?"

Liana berdiri. Ia memandang satu per satu wajah keluarga Phua. Sebagian masih tidak menyukainya. Sebagian sudah ragu. Sebagian mungkin baru hari itu menyadari bahwa perempuan yang selama ini diam bukan berarti tidak punya suara.

"Terima kasih atas tiga puluh tahun ini," katanya.

Tidak ada yang bergerak.

"Sekarang, aku mau hidup untuk diriku sendiri."

Ia membungkuk sedikit kepada Om Besar, mengambil satu rangkap perjanjian, lalu pergi tanpa menunggu Albert.

Siang itu juga, Liana kembali ke rumah BSD City untuk mengambil barangnya.

Rumah itu masih sama. Sofa krem. Lemari kaca. Foto keluarga di dinding. Aroma lantai yang baru dipel bercampur obat Kim Hwa yang masih tertinggal. Namun, setiap benda kini terasa seperti milik orang lain.

Liana membawa dua koper dari gudang. Koper pertama ia isi pakaian. Koper kedua ia isi dokumen, beberapa buku bahasa lama, foto Dede, dan kotak kecil berisi cincin nikah yang sudah ia lepaskan.

Tiga puluh tahun hidupnya ternyata tidak memenuhi dua koper.

Di laci meja rias, ia menemukan kartu ucapan ulang tahun yang ia tulis untuk Albert lima belas tahun lalu. Tinta birunya sudah memudar. Di belakangnya ada nota belanja obat Kim Hwa, resep dokter lama, dan daftar menu Natal keluarga yang pernah ia susun dengan tangan. Hidupnya tidak hilang dalam satu hari. Hidupnya habis sedikit demi sedikit, terselip di antara nota, resep, dan daftar belanja.

Ia tidak membawa kartu itu.

Ia hanya memotret halaman terakhir buku catatan dapur, halaman yang berisi resep favorit Jason saat kecil. Bukan karena Jason pantas mendapatkannya, melainkan karena ia tidak ingin membenci seluruh masa lalunya. Ada bagian dari dirinya yang pernah mencintai dengan tulus, dan bagian itu tidak boleh ikut dibuang bersama rumah ini.

Kalimat itu membuatnya berhenti di depan lemari. Ia menatap deretan kebaya yang dulu ia pakai untuk acara keluarga Phua. Banyak yang dibeli bukan karena ia suka, melainkan karena warna itu terlihat pantas di samping Albert.

Ia hanya mengambil dua.

Yang lain ia biarkan tergantung.

Di kamar Dede yang sudah lama menjadi gudang, Liana berdiri lebih lama. Ia mengambil foto kecil dari kotak plastik, foto Dede memakai baju biru. Jarinya menyentuh wajah anak itu di kertas yang mulai pudar.

"Mama pergi dulu, Le," bisiknya. "Tapi Mama tidak berhenti mencari kamu."

Pintu berderit pelan.

Tiara masuk dengan mata merah.

"Mama Liana..."

Liana cepat menghapus sisa getar di suaranya. "Tia, kamu jangan masuk. Nanti Jason marah."

"Biar." Tiara berjalan mendekat. Di tangannya ada amplop putih. "Ini tidak banyak."

Liana langsung paham dan menggeleng. "Tidak. Kamu masih perlu uang."

"Aku punya sedikit tabungan pribadi. Lima juta. Mama pakai dulu untuk beberapa hari."

"Tia..."

"Tolong jangan tolak." Suara Tiara pecah. "Semalam aku tidak bisa tidur. Aku malu karena tidak berani membela Mama di depan semua orang. Kalau uang ini bisa membuat Mama naik taksi, makan, atau bayar sesuatu yang mendesak, biarkan aku merasa sedikit berguna."

Liana menatap amplop itu.

Ia sudah menahan diri ketika Albert mengkhianatinya. Ia menahan diri ketika Kim Hwa menghinanya. Ia menahan diri ketika Jason berdiri di pihak ayahnya.

Tetapi kebaikan kecil dari Tiara membuat pertahanannya retak.

Air mata jatuh di pipinya. Satu, lalu satu lagi.

Tiara langsung memeluknya.

"Maaf, Mama."

Liana memeluk perempuan muda itu dengan hati yang nyeri. "Kamu tidak perlu minta maaf atas dosa orang lain."

"Aku akan bantu kalau ada yang Mama perlukan."

"Hati-hati. Jangan sampai kamu disakiti karena aku."

Tiara mengangguk, tetapi matanya keras. "Aku juga sudah lelah melihat rumah ini berpura-pura baik-baik saja."

Di luar, suara mobil berhenti.

Liana tahu itu Jessy.

Ia memasukkan amplop ke bagian dalam koper, bukan karena jumlahnya besar, melainkan karena maknanya terlalu berharga untuk ditinggalkan.

Saat menarik dua koper melewati ruang tengah, Albert berdiri di dekat tangga. Ia melihat koper, lalu wajah Liana.

"Kamu benar-benar pergi."

"Iya."

"Jangan berharap aku menjemputmu pulang."

Liana berhenti sebentar. "Aku tidak sedang menunggu dijemput."

Ia melangkah lagi.

Di ambang pintu, ia menoleh sekali. Bukan kepada Albert. Bukan kepada Kim Hwa. Bukan kepada foto keluarga yang tergantung di dinding.

Ia menoleh kepada dirinya yang pernah bertahan terlalu lama di rumah itu.

Lalu ia keluar.

Jessy berdiri di samping mobil, wajahnya tegang. Begitu melihat Liana, ia mengambil satu koper tanpa banyak bicara.

"Masuk," kata Jessy. "Mulai sekarang, kamu tinggal dulu di rumahku."

Liana duduk di kursi penumpang. Dua koper di bagasi, amplop Tiara di tas, perjanjian di pangkuannya.

Ia menoleh sekali ke kaca spion. Rumah Phua mengecil di belakang mobil, pagar besi hitamnya tertutup perlahan. Dulu setiap kali keluar dari pagar itu, ia selalu memikirkan apa yang harus dibeli untuk makan malam, obat apa yang hampir habis, atau apakah Albert pulang tepat waktu. Kali ini, untuk pertama kalinya, ia tidak membawa daftar kebutuhan siapa pun.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Jessy.

Liana menyentuh map di pangkuannya. "Belum. Tapi aku pergi dengan kakiku sendiri."

Mobil bergerak menjauh dari rumah Phua.

Beberapa menit pertama, tidak ada yang bicara. Liana menatap jalanan BSD City lewat kaca mobil. Dunia di luar masih sama, tetapi ia merasa seperti baru belajar bernapas.

Jessy akhirnya meliriknya. "Setelah kamu istirahat, kita cari cara supaya kamu punya penghasilan sendiri."

"Aku tahu."

"Sebenarnya..." Jessy mengetuk setir dengan jari, ragu sesaat. "Aku bantu tanyakan satu kesempatan kerja. Agak aneh. Bukan kantor biasa."

Liana menoleh. "Kerja apa?"

"Asisten pribadi bidang kehidupan sehari-hari. Untuk perusahaan besar."

"Perusahaan apa?"

Jessy menarik napas.

"Loh Group."

1
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
Yusnani Siregar
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!