Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang Pelicin dan Jeritan Sang Badboy
Sinar matahari pagi menyiram area parkiran kampus yang mulai dipadati kendaraan mahasiswa. Aku baru saja mematikan mesin sepeda motor matik tuaku dan merapikan tali tas punggung, ketika dua bayangan tinggi besar mendadak memotong jalanku secara tiba-tiba.
“Gisel,” panggil Marcel seraya melangkah mendekat dengan senyum lebarnya. Di sebelah kirinya, Brandon berjalan dengan langkah konstan, tangannya tersimpan santai di dalam saku celana.
Aku menghentikan langkah, menatap mereka berdua dengan alis bertaut jengkel. “Apa?”
Marcel membetulkan letak kerah kemejanya seraya menatapku mantap. “Sabtu ini lo ketemuan sama Varro, ya.”
Mata membelalak kaget. Pendengaranku rasanya seperti sedang bermasalah pagi ini. “Hah?! Apa?! Lo suruh gue ketemuan sama dia?”
“Iya,” jawab Marcel mengangguk santai tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Gak bisa! Gue ada shift kerja di kafe!” kataku ketus, berniat menerobos celah di antara mereka berdua.
Namun Marcel justru melangkah memotong jalanku lagi. “Gue tahu lo ada kerjaan. Tenang aja, gue udah telepon bos lo kemarin dan izinin lo libur buat hari Sabtu ini.”
Darah di kepalaku seketika mendidih hebat. Aku memelototkan kedua mataku, menunjuk dada Marcel dengan rasa tidak terima yang meluap-luap. “Lo gila, ya?! Gaji harian gue di kafe itu seratus lima puluh ribu rupiah! Lo jangan seenaknya main izinin orang tanpa persetujuan gue! Pokoknya gue gak sudi ketemu Varro!”
Suasana parkiran yang hangat berubah mencekam akibat bentakanku di pagi hari yang cerah ini. Mereka berdua benar-benar sukses merusak suasana hatiku dalam hitungan detik.
Marcel terkekeh pelan, mengibaskan tangannya seolah masalah uang seratus lima puluh ribu itu hanyalah angin lalu. “Gaji harian lo kecil banget. Gaji sebulan lo di kafe sekitar empat juta lima ratus, kan? Tenang aja, Gisel. Gue sama Brandon bakal kasih lo uang tunai sepuluh juta rupiah secara langsung... kalau lo mau jalan dan kencan sama Varro Sabtu ini.”
Aku mendengus sinis, menyunggingkan senyum meremehkan. “Cih! Dasar orang kaya. Bisa kalian cuma menyelesaikan semua masalah pakai lembaran uang, ya?”
Marcel hendak menyahut dengan nada jengkel, namun tangan kanan Brandon dengan cepat menahan bahu sahabatnya itu. Brandon melangkah maju satu tindak, menatap mataku dengan raut wajah dan nada suara yang sangat lembut, jauh berbeda dari kesan dingin yang biasa ia tampilkan.
“Coba lo pertimbangkan baik-baik, Gisel,” tutur Brandon pelan, tatapannya menyiratkan keprihatinan yang tulus. “Lo cuma perlu menemani Varro seharian penuh di hari Sabtu. Dan uang sepuluh juta itu... bisa lo pakai buat beli perlengkapan sekolah atau kebutuhan adik kembar lo.”
Kata-katanya seketika membungkam mulutku. Mataku memicing tajam, menatap Brandon dengan kecurigaan yang mendalam. “Lo... lo tahu darimana kalau gue punya adik kembar?”
Brandon tidak menjawab pertanyaanku. Dari saku kemejanya, ia mengeluarkan selembar tisu putih bersih dan sebuah pena. Dengan gerakan tenang, ia menuliskan deretan angka di atas tisu tersebut.
“Kalau lo udah selesai berpikir dan mengambil keputusan, kasih tahu gue jawabannya di nomor ini,” sahut Brandon seraya menyerahkan selembar tisu yang kini berisi nomor telepon pribadinya ke dalam genggamanku.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Brandon dan Marcel membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan aku yang berdiri terpaku sendirian di tengah parkiran.
Malam harinya di dalam kamar kecilku.
Aku duduk menyandar di tepi ranjang kayu tua, memegangi selembar tisu kumal berisi nomor telepon Brandon di bawah pendar temaram lampu kamar. Pikiranku berkecamuk hebat, bertarung antara harga diri dan realita ekonomi yang menghimpit.
“Varro sama dua sahabatnya itu emang sama anehnya,” gumamku pelan seraya membuang napas kasar ke udara. “Tapi kalau dipikir-pikir lagi... gue cuma perlu menemani Varro seharian di hari Sabtu, dan gue bisa dapat uang sepuluh juta rupiah. Itu dua kali lipat lebih banyak dari gaji bulanan gue di kafe! Uang itu bisa buat beli seragam baru Gwen sama Glenn, sisanya bisa buat simpanan Mama...”
Setelah menimbang rapat-rapat, pertahanan harga diriku akhirnya mengalah pada kebutuhan keluarga. Aku meraih ponsel murahku dari meja belajar dan mengetik pesan singkat.
Aku:
Kak Brandon, gue setuju pergi sama Varro Sabtu ini.
Hanya butuh waktu lima detik sampai ponselku bergetar membalas pesan tersebut.
Brandon:
Oke. Uangnya mau gue kasih tunai atau transfer via bank?
Aku:
Tunai aja.
Brandon:
Oke. Besok jam 12 siang kita ketemu di balkon lantai atas kampus.
Aku:
Oke.
Keesokan harinya jam 12 siang, angin berembus cukup kencang di balkon lantai atas gedung perkuliahan. Suasana di tempat tinggi ini terasa begitu sepi.
Brandon berdiri menyandar pada pagar pembatas besi. Begitu melihat kehadiranku, ia merogoh saku jaketnya dan menyodorkan sebuah amplop kertas berwarna putih tebal padaku.
“Ini uangnya,” kata Brandon singkat.
Aku menerima amplop itu, membuka perekatnya perlahan, dan mendapati deretan lembaran uang kertas seratus ribuan yang masih baru dan rapi di dalamnya. Jumlahnya pas sepuluh juta rupiah.
Melihatku selesai memeriksa isi amplop tersebut, Brandon membalikkan badan dan melangkah menuju pintu tangga untuk turun.
“Tunggu!” panggilku memotong pergerakannya.
Brandon menghentikan langkahnya, menoleh setengah badan. “Kenapa?”
Aku meremas ujung amplop di tanganku, menatap matanya penuh rasa penasaran yang menggebu. “Kenapa lo sama Marcel harus repot-repot menyogok gue pakai uang sebanyak ini... cuma buat menyuruh gue ketemu sama Varro?”
Brandon menatapku lurus selama beberapa detik. Suaranya meluncur amat pelan menembus deru angin balkon. “Karena dia suka sama lo.”
“Apa?” tanyaku refleks, meragukan pendengaranku sendiri.
“Pokoknya... lo cukup temani dia aja hari Sabtu nanti,” kata Brandon tanpa mengulang kalimatnya lagi. Pria berkacamata itu melangkah turun menuruni anak tangga, meninggalkanku sendirian.
Aku berdiri membeku di atas balkon. “Tadi dia bilang apa? Varro... suka sama gue? Mustahil banget!” seruku seraya menggelengkan kepala keras-keras, mengabaikan dorongan aneh di dadaku.
Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Sebuah taman hiburan besar di pinggiran Jakarta menjadi titik temu kami.
“Hai, Gisel,” sapa Varro seraya melambaikan tangannya saat melihatku berjalan mendekat ke arah gerbang masuk. Pria itu tampil sangat menawan dengan kaos hitam polos dipadukan dengan jaket kasual berwarna cokelat pastel.
“Hai,” balasku tersenyum tipis, mencoba menguasai rasa canggung.
Varro menatap wajahku lekat-lekat dengan binar mata yang hangat. “Lo bilang kemarin di obrolan pesan mau menentukan sendiri tempat yang mau kita kunjungi di dalam sini, kan? Lo mau ke mana duluan?”
Aku menyunggingkan senyum licik, lalu mengacungkan jari telunjukku ke arah sebuah bangunan tua beratap hitam dengan dekorasi tengkorak raksasa di bagian depannya.
“Ke situ,” jawabku mantap.
Varro mengikuti arah tunjukan jariku. Matanya seketika membelalak kaget saat melihat bangunan tersebut. “Hah? Ke mana?”
“Ke rumah hantu yang di depan itu! Ayo!” ajakku dengan senyum kemenangan yang makin lebar. Ini adalah kesempatan emas bagiku untuk membalas dendam atas semua kelakuan kasarnya di kampus kemarin!
Varro terpaku di tempatnya. “Gisel... lo yakin mau masuk ke sana?” tanyanya seraya menahan lengan kananku dengan genggaman yang mendadak dingin.
“Iya! Emang kenapa? Takut?” sahutku menantang seraya menarik tangannya menuju loket pembayaran.
Varro terpaksa membayar dua lembar tiket di kasir, namun setelah memegang tiket tersebut, pria berpostur 183 sentimeter itu justru mematung kaku di depan tirai hitam pintu masuk.
“Ayo masuk!” seruku riang, menarik kuat tangan kanannya menerobos masuk ke dalam lorong yang gelap gulita dan berudara dingin.
Suasana di dalam rumah hantu sangat mencekam. Hanya ada pendar lampu merah remang-remang dan suara lolongan buatan yang menggema. Setiap kami melangkah tiga tindakan ke depan, kejutan demi kejutan bermunculan.
Brak!
Sesosok manekin bertopeng hantu berdarah mendadak meloncat keluar dari balik dinding tepat di depan wajah Varro!
“Aaaaaaa!” jerit Varro melengking seraya meloncat mundur.
Belum sempat ia menetralkan napasnya, sebuah manekin pocong berayun turun dari sisi kirinya.
SRET!
Tanpa aba-aba, Varro yang panik setengah mati langsung merangsek maju dan memeluk tubuhku dari belakang dengan amat sangat erat! Wajah tampannya disembunyikan rapat-rapat di ceruk leherku, tubuh atletisnya gemetar hebat.
Aku tersentak kaget, berdiri membeku di tengah lorong gelap. “Lo... lo kenapa sih, Varro?!”
“Itu ada hantu! Ada hantu melayang!” jerit Varro ketakutan, makin mengetatkan dekapan kedua tangannya di pinggangku.
Selama beberapa detik, posisi kami benar-benar sangat dekat. Detak jantung Varro yang berpacu liar terasa menempel jelas di punggungku, dan hembusan napas hangatnya berembus di kulit leherku. Dadaku mendadak berdesir hebat, menciptakan sensasi hangat yang membingungkan.
Namun saat kesadaranku kembali bahwa aku tidak boleh merasa nyaman berada di dalam pelukannya, aku segera melepaskan paksa cengkeraman tangannya dan berlari kecil ke depan. “Duh, lepasin! Itu cuma boneka!”
“Gisel! Jangan tinggalkan gue!” teriak Varro histeris. Saat pria itu mencoba mengejarku, sesosok pemeran hantu bertopeng seram mendadak turun dari langit-langit menggunakan tali, persis di atas kepalanya.
“Gisel! Tolong!” teriak Varro lagi seraya berlari terbirit-birit menembus kegelapan menuju ke arahku.
Aku menoleh ke belakang, tak sanggup menahan tawa geli melihat sang ketua geng motor paling ditakuti se-kampus kini berlari bagai anak kecil yang dikejar anjing tetangga. Aku tetap berjalan santai ke depan tanpa memedulikan rengekannya.
Begitu Varro berhasil menyusul dan berdiri di sampingku, sesosok hantu terakhir keluar dari bilik tersembunyi dan mencolek pundak belakang Varro pelan.
“Hantu! Cepat lari, Gisel!” jerit Varro berada di puncak kepanikannya. Pria itu refleks menggandeng jemari tanganku erat-erat, lalu menarikku berlari sekencang tenaga menembus tirai pintu keluar.
Brak!
Kami berhasil menerobos keluar menembus cahaya terang matahari sore. Begitu keluar dari wahana, Varro langsung berlari menuju gerobak penjual minuman terdekat, menyambar botol air mineral dingin, dan meminumnya dengan tergesa-gesa hingga airnya meluber membasahi dagu dan kerah jaketnya.
Aku melangkah mendekatinya seraya bersedekap dada, menyunggingkan senyum ejekan yang amat puas. “Eh... ternyata ketua geng Starlit yang gagah berani ini takut sama hantu bohong-bohongan, ya?”
Namun, Varro tidak membalas ledekanku sedikit pun. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang kayu di dekatnya. Wajahnya yang biasa tampan dan segar kini terlihat merah padam, sekujur tubuhnya dipenuhi keringat dingin, dan tangannya yang memegang botol minum gemetar hebat.
Aku mengernyitkan dahi, menepuk bahunya pelan. “Varro!”
“Hah?” sahut Varro pelan seraya menoleh lambat menghadapku. Matanya terlihat sayu, wajah merahnya perlahan berangsur berubah menjadi pucat pasi layaknya kertas, dan napasnya memburu kencang. Tubuhnya tampak jauh lebih lemas dari sebelumnya.
Melihat kondisinya yang sama sekali tidak berakting, raut gembira di wajahku seketika sirna digantikan oleh kepanikan yang membuncah di dalam dada.
“Varro! Lo... lo kenapa?!” tanyaku panik seraya memegangi kedua bahunya yang gemetaran.
Bersambung......