NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Belas Tahun Kemudian

Aula itu dipenuhi wajah-wajah penuh kebahagiaan. Di antara deretan kursi, tampak para orang tua duduk berdampingan dengan keluarga masing-masing. Sebagian membawa buket bunga, sebagian sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, sementara beberapa lainnya hanya duduk diam dengan mata berkaca-kaca.

Hari itu bukan hari biasa. Hari yang telah dinantikan bertahun-tahun. Hari ketika anak-anak yang dahulu hanya memiliki sebuah mimpi akhirnya berdiri di hadapan banyak orang sebagai seorang dokter.

Di salah satu kursi paling depan, seorang perempuan paruh baya duduk dengan kedua tangan yang saling menggenggam.

Rina. Wajahnya tampak lebih tua dibandingkan belasan tahun lalu. Beberapa helai rambut putih mulai terlihat di antara rambut hitamnya. Garis-garis halus juga telah menghiasi sudut matanya.

Namun pagi itu, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Di sampingnya, seorang perempuan muda duduk dengan senyum yang tak kalah lebar.

"Bu..."

Rina menoleh. "Iya?"

"Sebentar lagi."

Rina mengangguk. "Iya."

Shasa menggenggam tangan perempuan itu. Tangannya terasa sedikit gemetar. "Boleh menangis, Bu."

Rina terkekeh kecil. "Ibu belum menangis."

Shasa mengangkat alis. "Matanya sudah merah."

Rina cepat-cepat mengusap sudut matanya. "Ini karena kelilipan."

Shasa tertawa pelan. "Kelinapannya banyak sekali sampai dua mata."

Rina ikut tertawa akan tetapi beberapa detik kemudian, keduanya kembali mengarahkan pandangan ke panggung. Di sana, para dokter muda mulai dipanggil satu per satu.

Nama demi nama terdengar. Tepuk tangan bergema setiap kali seseorang maju ke depan. Hingga akhirnya... seorang pembawa acara menyebut satu nama yang membuat napas Rina seakan berhenti sesaat.

"Selanjutnya, Azmira Shafitri."

Rina terdiam. Shasa langsung menoleh kepadanya.

"Itu dia, Bu."

Rina mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca, seperti tidak menyangka dengan keberhasilan sang anak saat ini.

Perempuan muda yang duduk beberapa baris di depan kemudian berdiri. Langkahnya tenang. Wajahnya terlihat dewasa. Rambut panjangnya tertata rapi. Tubuhnya dibalut pakaian formal dengan jas putih yang membuatnya terlihat begitu berbeda dari gadis kecil yang dahulu berjualan di pasar.

Azmira berjalan menuju panggung. Setiap langkahnya seperti membawa kembali belasan tahun perjalanan yang telah ia lalui.

Dulu... ia adalah anak perempuan berusia sepuluh tahun yang pulang sekolah bukan hanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Ia mencari pekerjaan. Ia membawa wadah kecil berisi dagangan di depan dada. Ia pernah memakai sepatu bekas. Pernah berdiri menahan malu ketika teman-temannya menertawakan keadaan dirinya.

Pernah mendengar orang berkata bahwa cita-citanya terlalu tinggi.

Menjadi dokter?

Dengan kehidupan seperti itu?

Bahkan untuk membeli sepatu baru saja terkadang harus menunggu. Namun Mira kecil tidak pernah benar-benar menyerah. Setelah sekolah, ia membantu ibunya berjualan. Ketika semakin besar, ia mulai mencari cara lain untuk mendapatkan uang.

Berjualan melalui internet. Menjual makanan.

Menjual barang-barang kecil. Apa saja selama halal dan tidak mengganggu sekolah. Ia tidak ingin ibunya berjuang sendirian.

Sementara itu, Rina juga tidak pernah berhenti berusaha. Dagangan kecil yang dahulu hanya dibawa berkeliling perlahan berubah. Dari cangcimen menjadi makanan sederhana. Dari makanan sederhana menjadi sebuah warung kecil di area taman raya.

Warung itu tidak mewah. Hanya menyediakan nasi dengan lauk sederhana seperti warung makan pada umumnya. Ada kopi, teh, air mineral, gorengan, dan berbagai camilan.

Namun warung itu selalu ramai. Lama-kelamaan Rina bahkan mampu mempekerjakan dua orang untuk membantunya. Tidak membuat mereka hidup bergelimang kemewahan.

Tetapi cukup untuk membuat Rina bisa terus menyekolahkan putrinya. Cukup untuk membeli buku. Cukup untuk membayar kebutuhan sekolah. Cukup untuk membuat Mira terus berjalan menuju mimpinya.

Dan hari ini... semua perjuangan itu seakan terbayar. Azmira berdiri di hadapan para guru dan dokter yang membimbingnya.

Sumpah profesi mulai dibacakan. Suasana aula mendadak hening. Azmira mengangkat tangan. Suaranya terdengar jelas ketika mengucapkan setiap kalimat sumpah dan di balik wajah tenangnya, dadanya bergetar.

Ia teringat seseorang. Ibu Sinta. Guru Bahasa Indonesia yang pernah mengatakan sesuatu kepadanya bertahun-tahun lalu.

Saat itu teman-temannya menertawakan cita-citanya. Mereka menganggap Mira terlalu bermimpi. Tetapi Ibu Sinta justru berdiri di sampingnya.

“Mira, tidak ada yang salah dengan cita-cita. Kita tidak tahu bagaimana kehidupan kita sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.”

Kalimat itu tidak pernah hilang dari ingatannya. Bahkan ketika ia merasa lelah.

Bahkan ketika uang kuliahnya terasa berat.

Lalu ketika ia harus membagi waktu antara belajar dan bekerja. Kalimat itu selalu kembali menguatkannya.

Dan hari ini... Mira membuktikan bahwa gurunya benar. Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan seseorang sepuluh atau lima belas tahun mendatang.

Anak yang dulu dianggap tidak akan mampu ternyata bisa berdiri di tempat ini. Sumpah profesi selesai.

Tepuk tangan memenuhi aula. Azmira menundukkan kepala sejenak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.

Satu. Kemudian dua. Ia cepat-cepat mengusapnya tapi senyum tetap menghiasi wajahnya. Dari tempat duduknya, Rina tidak lagi mampu menahan tangis.

Perempuan itu menutup mulut dengan tangan. Bahunya bergetar, Shasa yang menyadari langsung merangkulnya.

"Bu..."

Rina hanya menggeleng. "Dia berhasil, Shas..."

Suara Rina bergetar. "Anak Ibu berhasil."

Shasa ikut menangis. "Iya, Bu."

Rina menatap putrinya di atas panggung. Dalam ingatannya, Azmira masih seperti anak kecil yang pulang membawa uang hasil berjualan.

Anak yang dulu berkata bahwa ia ingin menjadi dokter agar ibunya tidak susah. Mira yang pernah menatap langit sore sambil membayangkan dirinya mengenakan jas putih.

Kini semua itu bukan lagi mimpi. Ia benar-benar mengenakannya. Dan kali ini Rina merasa perjuangan mereka tidak sia-sia.

Shasa mengusap air matanya. "Mira..."

Azmira yang baru saja turun dari panggung menoleh. Tatapan mereka bertemu. Shasa tersenyum lebar.

"Selamat, Dokter."

Azmira tertawa kecil di sela air matanya. "Jangan panggil dokter kalau cuma di depan aku."

"Kenapa?"

"Malunya."

Shasa memeluknya erat. "Selamat, Mira."

Kali ini Azmira membalas pelukan sahabatnya. Di tengah pelukan itu, ia kembali teringat satu sore belasan tahun lalu. Sore ketika mereka masih menjadi dua gadis kecil, ketika ia menghitung uang hasil jualan bersama ibunya.

Sore ketika ia berkata dengan penuh keyakinan bahwa suatu hari nanti dirinya akan memakai jas putih. Dan Shasa pernah berkata kepadanya bahwa Tuhan akan mendengar doa-doanya.

Azmira tersenyum. Ternyata benar hari ini Tuhan memang mendengar. Hanya saja, jawabannya membutuhkan waktu dan perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.

Kini, gadis kecil yang dahulu mencari pekerjaan sepulang sekolah itu telah tumbuh menjadi seorang dokter. Gadis yang pernah memakai sepatu bolong itu telah berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Gadis yang dahulu tidak pernah dirindukan oleh ayahnya itu telah memiliki begitu banyak orang yang mencintainya.

Ada Ibunya. Ada Shasa. Ada Ibu Sinta.

Dan ada orang-orang baik yang sepanjang perjalanan hidupnya tidak pernah membiarkannya merasa benar-benar sendirian.

Azmira kembali memandang jas putih yang dikenakannya.Jemarinya menyentuh bagian dada jas itu perlahan. Senyumnya mengembang.

"Bu..."

Rina mendekat. "Iya, Nak?"

Azmira menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Mira jadi dokter."

Rina tidak mampu menjawab. Ia hanya memeluk putrinya erat-erat. Dan untuk beberapa saat, mereka membiarkan air mata berbicara menggantikan semua kata.

Sebab ada perjuangan yang memang terlalu panjang untuk diceritakan dalam satu kalimat. Ada doa yang terlalu sering dipanjatkan untuk dihitung jumlahnya. Dan ada seorang anak kecil yang pernah bermimpi terlalu tinggi... hingga akhirnya dunia menyaksikan sendiri bagaimana ia berhasil menggapainya.

Azmira Shafitri.

Dokter muda berusia dua puluh lima tahun.

Dan tanpa mereka sadari... kehidupan baru Azmira baru saja dimulai.

Bersambung ...

1
Heni Fitoria
semoga saja anak gundik yg km besarkan itu bukan anakmu, hukum karma untukmu dika
Nar Sih
kak ayuuu boleh satu bab. lgi ngk,penasarannn🙏🥰
Nar Sih
dan...ank yg kmu tinggal kan dan tdk kmu akui sdh berjuang keras bersama ibu nya tanpa mu ayah durjana🤣🤣
Nar Sih
jdi gk sbr nunggu karma ayah yg ngk mengangap putri nya
Ghiffari Zaka
di tunggu up nya ya Thor....AQ ud mulai agak gmn dech Thor,karena mulai sedikit jenuh thur...tp AQ ttp usahakan tunggu author up...mungkin karena kurang greget di kehidupan Dika yg enak2 trs seolah Rina dan Mira tu GK ada maknanya...semudah itu,EK dech Thor AQ tunggu jangan lama2 ya Thor....🙏🙏🙏🙏/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
AQ no komen dech di bab ini Thor...lanjut aja dech...cmn mau nunggu gmn si Dika tu menderita aja/Frown//Frown/
Ghiffari Zaka
Thor maaf Thor...sebenarnya AQ gondok bngt loh Thor...kok kehidupan si Dika itu bs baik2 aja sih?? knp bd gt padahal dia ud menyakiti dan menyia2kan istri dan ank nya.....kok gak adil gt loh Thor....sangking gedek nya AQ SMP pingin nangis guling2 ini loh thor😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
perasaan seorang ibu itu amat kuat,iya gak n bakal ada hal yg terjadi PD ank nya,tp mereka hrs ttp berjalan di balik masa lalu yg menyakitkan,kalaupun Mira tau Dika BPK nya dan bahkan se x pun dia pemilik perusahaan semoga Mira bs berpikir bahwa itu gak bs dengan mudah menghapus luka dia dan ibunya selama 25 tahun ini,jangan mau dekat dengan BPK mu yg jahat ya Mira????😡😡😡
Ghiffari Zaka
dan jangan LP Thor...karma on berlaku,AQ gak ikhlas loh Thor mereka bahagia sementara ank dan istrinya menderita begitu,di tambah lagi mereka membahagiakan penghianat dan pelakor loh....😡😡😡
Ghiffari Zaka
heeeem....aroma2 Cinto ini🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
heeeemmmm...jodoh otw ni ceritanya,semoga dia pria baik ya Mira,yg bs terima km apa adanya,ud gak usah cari BPK mu yg gak berguna itu,dia itu laki2 yg jahat dan gak berbelas kasih,km bs kok HDP cmn dngn ibumu,buktinya ud 25 THN bs kan???/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
semoga laki2 itu baik dan bs membuat Mira bahagia nnt nya
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah...akhirnya cita2 mu terkabul Mira,AQ ikut bahagia...SMP mewek ni AQ nya😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
selamat MLM jg Thor...sukaaa bngt,cuman campur gemezzz gt Thor......semoga sukses dengan karya2 mu thor/Drool//Drool//Drool/
Ghiffari Zaka
ih dasar bapak GK waras,tega dia perjuangkan selingkuhannya dr pada istri sah dan parahnya lagi tega bngt dia sm ank kandungnya sendiri,CPT Thor
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡
Ghiffari Zaka
nah kan...dadar si Dika ini banyak ya istrinya x,awas AQ doakan km cepat dapat karma,km dah nolak Mira sekarang km punya ank dr istri yg lain jg dan perempuan juga kan,km gak bakalan bs punyak ank laki2,itu kutukan dari q,nah...nah...lok AQ dah emosi jadi Mak nya si Malin Kundang AQ jadinya ,maaf beribu maaf ya Thor🙏🙏🙏😂😂😂😂
Ghiffari Zaka
banyak banget tokohnya Thor jadi bingung,apa semua ank perempuan itu ank nya si Dika BPK yg GK ada akhlaknya itu ya??? ah takut dosa AQ Thor lok nebak2,cuman author yg punya kuasa,lanjut aja lah Thor🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
kalau menurut q majikan ibunya Shasa itu nenek nya Mira dech,atau Shasa jg ank yg GK di inginkan jg ya sm kayak Mira,dan apa mungkin mereka 1 darah??? ah gak mau nebak2 Thor,lanjut aja dech.....🤭🤭
Ghiffari Zaka
ya allah.jahatnya mereka😡😡😡sabar ya Mira....km harus kuat
Ghiffari Zaka
knp mereka begitu ya??? padahal Allah ngasih kejutan itu sesuatu yg baik buat kita menurut Allah...blm tentu lok laki2 bs memegang perusahaan nnt nya,dah biar aja cewek semoga nnt Mira bs menunjukkan pada dunia lok dia ank yg di tolak dan tak di inginkan justru bs berhasil meraih cita2nta,pasti karma itu ada Bu Rina,percayalah dan ttp kuat dan sabar,hah.....capek dech ngomong panjang lebar gini🤦🤦🤦🤦awas aja km pak Dika,kualat km😡😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!