Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 KEKUATAN YANG TAK TERKALAHKAN
Jiang Xiong berdiri tegak di tengah alun-alun yang sepi seketika karena ketakutan. Tubuhnya yang besar dan kekar memancarkan aura kekuatan yang berat dan menindih, membuat udara di sekelilingnya terasa semakin panas dan menyesakkan. Bola energi gelap yang berputar liar di telapak tangannya semakin membesar dan bersinar menyilaukan mata, memancarkan gelombang hawa panas yang membakar tanah di sekitarnya. Ratusan mata yang menonton dari kejauhan menahan napas serentak. Mereka semua tahu betul seberapa dahsyat kekuatan Jiang Xiong. Selama bertahun-tahun tak ada satu pun orang di kota ini yang berani menentang kehendaknya, apalagi melukai anggota keluarganya di depan umum. Pemuda berpakaian sederhana yang berdiri tenang di hadapannya itu tampak bagaikan daun kering yang akan hancur seketika begitu energi itu meledak.
Namun Lin Mo tetap berdiri diam di tempatnya. Ia tidak mundur selangkah pun. Ia tidak pula memancarkan energi yang menyilaukan mata atau meledak-ledak seperti yang dilakukan Jiang Xiong. Cahaya keemasan samar yang muncul dari tubuhnya begitu lembut dan tenang, seakan-akan tak ada hal yang mampu mengejutkan atau membuatnya takut sedikit pun. Sepasang matanya menatap lurus ke arah bola energi yang mengancam itu dengan pandangan yang jernih dan tenang, seakan sedang melihat sekumpulan awan gelap yang akan segera lenyap tertiup angin.
"Kau berpikir kekuatan sebesar ini mampu mengintimidasi siapa pun?" ucap Lin Mo pelan namun suaranya terdengar jelas menembus desis energi yang berputar di udara. "Kekuatan yang didasari kesombongan dan keinginan menindas orang lemah... pada akhirnya hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."
Jiang Xiong melotot tajam menatap Lin Mo. Matanya merah menyala penuh amarah yang meluap-luap. Mendengar ucapan pemuda yang tampak begitu muda dan sederhana itu justru membuatnya semakin murka hingga tak mampu lagi menahan diri.
"Gila! Benar-benar gila!" maki Jiang Xiong dengan suara menggelegar. "Di hadapan kekuatan yang tak kau pahami itu kau masih berani bersikap sombong! Terimalah hukumanmu! Hancurlah menjadi debu!"
Dengan teriakan keras yang mengguncang tanah di bawah kakinya, Jiang Xiong melontarkan bola energi raksasa itu ke arah Lin Mo dengan segenap tenaga yang ia miliki. Energi gelap itu melesat cepat bagaikan bintang jatuh yang menyambar ke bumi, menyapu bersih segala yang ada di lintasannya. Udara berdesis keras dan tanah retak berapi di sepanjang jalurnya. Semua orang yang melihatnya memejamkan mata tak sanggup menyaksikan pemuda itu hancur seketika.
Namun saat bola energi itu melesat tepat di depan dada Lin Mo, sesuatu yang tak terduga terjadi. Lin Mo perlahan mengangkat tangan kanannya ke depan, telapak tangannya terbuka menghadap ke arah energi yang melesat itu. Cahaya keemasan samar memancar dari telapak tangannya membentuk pusaran halus yang berputar perlahan di udara. Dan seketika itu juga, bola energi gelap yang dahsyat itu seakan kehilangan kekuatannya. Alih-alih meledak dan menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya, energi itu justru tersedot perlahan masuk ke dalam pusaran cahaya keemasan di telapak tangan Lin Mo. Cahaya keemasan itu seakan menjadi lautan luas yang menampung segala gelombang air yang datang tanpa pernah meluap atau meluap berlebihan. Dalam sekejap mata, bola energi raksasa itu lenyap tak berbekas seakan tak pernah ada sama sekali.
Keheningan yang luar biasa menyelimuti seluruh alun-alun. Jiang Xiong yang berdiri di seberang sana mematung dengan mulut ternganga. Ia menatap telapak tangan Lin Mo yang masih terbuka itu dengan mata terbelalak tak percaya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Serangan terkuatnya yang mampu meratakan bangunan batu itu justru hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Seakan-akan energi itu tak pernah memiliki kekuatan sama sekali di hadapan pemuda yang berdiri tenang di sana.
Lin Mo menutup perlahan jari-jemarinya lalu menurunkan tangannya kembali ke sisi tubuh. Ia menatap Jiang Xiong yang masih terpaku dengan pandangan yang tenang namun penuh wibawa yang tak terlukiskan.
"Kekuatanmu memang cukup besar untuk menguasai kota ini," ucap Lin Mo pelan namun setiap kata terdengar jelas dan menekan ke dada setiap orang yang mendengarnya. "Namun dasar kekuatanmu tidak kokoh. Hatimu penuh dengan keserakahan dan kemarahan. Maka kekuatanmu itu tampak dahsyat namun rapuh bagaikan bangunan yang dibangun di atas pasir. Sekali diguncang... ia akan runtuh seketika."
Jiang Xiong menggertakkan giginya hingga berbunyi nyaring. Rasa malu dan takut bercampur menjadi satu menyesakkan dadanya. Ia menyadari bahwa pemuda di hadapannya itu jauh lebih kuat darinya. Namun harga dirinya dan kedudukannya sebagai pelindung kota tak membiarkannya menyerah begitu saja. Dengan teriakan penuh amarah, Jiang Xiong melesat maju sendiri menyerang Lin Mo secara langsung. Kedua tangannya diselimuti energi gelap pekat yang berputar liar. Ia melancarkan serangan demi serangan dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, membanjiri Lin Mo dengan gelombang kekuatan yang bertubi-tubi seakan tak akan pernah berhenti.
Namun di mata Lin Mo, setiap gerakan Jiang Xiong tampak begitu lambat dan penuh celah yang nyata. Lin Mo tidak membalas dengan serangan yang sama kuatnya. Ia hanya bergerak dengan tenang dan elegan, menangkis dan menepis setiap hantaman dengan gerakan tangan yang ringan dan terukur. Setiap kali telapak tangan Lin Mo menyentuh serangan Jiang Xiong, energi gelap itu seakan menemui tembok yang tak kasat mata dan terpental mundur berlipat ganda kembali kepada pemiliknya sendiri. Jiang Xiong semakin lama semakin terengah-engah. Tubuhnya kini penuh lebam akibat serangan balik yang terpental kembali kepadanya. Sementara Lin Mo tetap berdiri tegak dengan napas yang tenang dan teratur, seakan sedang berjalan santai di taman bunga, sama sekali tak terpengaruh oleh serangan dahsyat lawannya.
Akhirnya, pada satu kesempatan saat Jiang Xiong melancarkan serangan dengan segenap sisa tenaganya, Lin Mo mengangkat telapak tangannya dan menangkis serangan itu tepat di tengah udara. Cahaya keemasan memancar seketika, mendorong mundur Jiang Xiong hingga terpental jauh dan jatuh terguling di tanah dengan napas terengah-engah dan mulut yang mengeluarkan darah segar. Jiang Xiong berusaha bangkit namun tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Ia menatap Lin Mo yang berdiri tenang di kejauhan dengan pandangan penuh ketakutan yang luar biasa. Ia menyadari betul bahwa pemuda itu sama sekali belum menggunakan kekuatan sesungguhnya. Selama pertarungan itu, Lin Mo hanya menangkis dan menepis tanpa pernah melancarkan satu serangan pun yang sesungguhnya. Jika ia menghendaki, Jiang Xiong yakin bahwa dirinya pasti sudah hancur berkeping-keping sejak lama.
Lin Mo melangkah perlahan mendekati Jiang Xiong yang terbaring lemah di tanah. Setiap langkah kakinya jatuh dengan tenang namun membuat hati Jiang Xiong bergetar hebat seakan ditindih beban gunung. Lin Mo berhenti tepat di hadapan Jiang Xiong dan menatapnya dengan pandangan yang jernih namun tajam menembus ke dalam jiwanya.
"Aku tidak datang ke kota ini untuk melukai siapa pun," ucap Lin Mo pelan namun tegas. "Namun jika kekuatan digunakan untuk menindas yang lemah dan menyakiti yang tak bersalah... maka kekuatan itu tidak pantas dihormati. Jiang Xiong... Mulai hari ini... perintahkanlah keluargamu dan seluruh pengikutmu untuk tidak lagi menindas rakyat kecil. Jika aku mendengar keluhan serupa saat aku kembali... maka hukuman yang akan kuberikan tak akan semudah hari ini."
Jiang Xiong menatap Lin Mo dengan mata terbelalak penuh ketakutan. Ia mengangguk berulang kali tanpa berani mengucapkan satu kata pun penolakan. Kini ia paham betul bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya itu bukanlah orang biasa. Ia adalah seseorang yang jauh lebih kuat dan jauh lebih berwibawa daripada siapa pun yang pernah ia temui seumur hidupnya. Menentangnya sama saja dengan mencari jalan menuju kehancuran diri sendiri.
Lin Mo berbalik hendak pergi meninggalkan tempat itu. Namun tepat saat ia melangkah pergi, tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada sebuah jimat batu berbentuk bulat berwarna merah tua yang tergantung di leher Jiang Xiong. Saat mata Lin Mo menatap jimat itu, tiba-tiba aliran energi di dalam tubuhnya berdenyut hebat seakan merespons sesuatu yang dikenalinya. Cahaya keemasan samar berdenyut lembut dari dalam tubuhnya, dan di dalam benaknya tiba-tiba muncul pengetahuan kuno yang bergetar pelan.
"Itu... adalah pecahan dari Peta Kuno Lembah Naga..." gumam Lin Mo pelan tak disadari oleh orang lain.
Lin Mo berhenti melangkah. Ia berbalik kembali menatap Jiang Xiong dengan pandangan yang sedikit berubah.
"Dari mana kau mendapatkan jimat yang tergantung di lehermu itu?" tanya Lin Mo pelan namun suaranya kini terdengar sedikit lebih berat dan penuh perhatian.
Jiang Xiong terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia meraba jimat bulat merah itu dengan tangan gemetar.
"Ini... ini adalah peninggalan leluhur keluargaku... sudah turun-temurun dijaga sebagai harta paling berharga..." jawab Jiang Xiong terbata-bata tak mengerti mengapa pemuda itu menanyakan hal sedemikian. "Konon... ini adalah bagian dari peta kuno yang menunjuk ke suatu tempat yang penuh harta karun dan kekuatan luar biasa... Namun sudah beratus-ratus tahun tak ada yang tahu letak tempat itu... dan tak ada yang tahu bagian mana yang masih hilang..."
Mata Lin Mo menyipit perlahan. Di dalam benaknya, pengetahuan kuno yang diterimanya dari warisan Naga Abadi kini terus mengalir dan menyusun potongan-potongan informasi yang sebelumnya tak ia pahami. Jimat yang tergantung di leher Jiang Xiong itu ternyata adalah salah satu dari beberapa pecahan peta kuno yang menunjuk langsung ke tempat asal Naga Abadi bersemayam ribuan tahun yang lalu. Tempat di mana kekuatan yang jauh lebih dahsyat dan rahasia besar tersembunyi sejak awal penciptaan dunia.
Lin Mo menatap jimat itu lekat-lekat. Ia menyadari bahwa keberadaannya di kota ini ternyata bukan sekadar kebetulan semata. Ada sesuatu yang menarik langkah kakinya ke sini. Dan sesuatu itu kini tampak jelas di hadapan matanya sendiri. Namun Lin Mo tidak langsung merampas jimat itu dengan paksa. Ia menatap Jiang Xiong sekali lagi dengan pandangan yang tenang namun penuh makna yang dalam.
"Jimat itu... simpanlah dengan baik," ucap Lin Mo pelan namun tegas. "Jangan pernah menyerahkannya kepada siapa pun yang datang dengan niat buruk. Dan jangan pernah memberikannya kepada siapa pun yang tidak pantas menerimanya. Karena kelak... jimat itu akan jatuh ke tangan yang sesungguhnya berhak menerimanya... dan saat itu tiba... tak ada satu pun yang mampu menahannya."
Lin Mo berbalik dan melangkah pergi meninggalkan alun-alun yang masih mematung hening itu. Ia berjalan perlahan menjauh, namun di dalam hatinya kini tekadnya semakin mengeras. Ia tahu bahwa perjalanannya baru saja menemukan arah yang jauh lebih jelas. Peta kuno Lembah Naga... itulah tujuan yang harus ia cari. Dan pecahan yang satu ini hanyalah permulaan. Masih ada pecahan-pecahan lain yang tersembunyi di berbagai tempat di dunia. Dan ia harus menemukannya sebelum orang-orang yang mencari keturunan Darah Naga itu menemukannya lebih dulu.
Namun Lin Mo tak menyadari bahwa di sebuah menara tinggi di sudut kota, sepasang mata tajam telah mengamati seluruh kejadian itu dari jauh. Sosok itu berdiri diam di balik jendela batu yang gelap, menatap punggung Lin Mo yang menjauh dengan pandangan yang penuh minat sekaligus rencana yang sedang disusun perlahan. Cahaya di mata sosok itu berkilau dingin bagaikan serpihan es yang tajam.
"Cahaya Darah Naga... dan jejak Peta Kuno..." gumam suara itu pelan dan penuh rencana. "Kau telah menampakkan dirimu sendiri... kini tak akan kubiarkan kau pergi begitu saja... Peta itu... dan kekuatan itu... keduanya akan menjadi milikku..."
Sosok itu perlahan menghilang kembali ke dalam bayangan gelap menara yang tinggi itu. Sementara Lin Mo yang terus berjalan menjauh menyadari satu hal yang jelas — bahaya yang mengintainya kini bukan lagi sekadar penguasa kota atau orang-orang yang berkuasa di wilayah kecil ini. Di luar sana, kekuatan-kekuatan besar yang jauh lebih mengerikan perlahan mulai bergerak menyadari keberadaannya. Dan perjalanan panjang yang penuh bahaya itu baru saja benar-benar dimulai.