Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
Hujan gerimis khas Oxfordshire yang tadinya hanya rintik halus kini berubah menjadi curahan air yang konsisten menimpa genteng-genteng batu St. Jude’s College. Bau tanah basah menguap, bercampur dengan aroma kertas tua yang menyeruak begitu Rory melangkah masuk ke dalam Perpustakaan Coldwell.
Perpustakaan itu lebih mirip katedral abad pertengahan daripada ruangan belajar. Rak-rak kayu ek berwarna cokelat gelap menjulang hingga ke langit-langit berukir, menampung ribuan jilid buku bertulang kulit yang tampak belum tersentuh selama berpuluh-puluh tahun.
"Buku panduan bilang kita harus cari peta denah tahun 1920 di Sayap Barat," bisik Gemma sambil merapatkan jaket rajutnya. Nafasnya mengembun tipis di udara dingin perpustakaan. "Rory, kamu yakin kita sanggup selesaikan tiga lembar analisis ini sebelum jam lima? Ini baru jam tiga lewat sedikit, dan tanganku rasanya mau mati rasa."
"Kurangi mengeluh, perbanyak jalan," balaskan Rory tenang. Matanya sibuk memindai abjad di papan penunjuk rak. "Kalau kita selesaikan tugas ini tepat waktu, kita punya waktu satu jam untuk mengeringkan pakaian sebelum pengarahan malam."
Gemma mendesah, tapi ia tetap menguntit di belakang Rory. "Tapi serius deh, Julian Radcliffe itu beneran manusia atau patung pualam sih? Mukanya ganteng banget, tapi omongannya pedas kayak cabai rawit. 'Latihlah jemarimu untuk menulis lebih cepat,' ceramahnya. Ugh, rasanya mau tak lempar pakai kamus Latin!"
Rory terkekeh tipis suara tawa langka yang membuat Gemma menoleh kaget.
"Dia cuma menjalankan tugasnya, Gem. Senior kedisiplinan memang dibayar atau dalam hal ini, diberi poin reputasi untuk kelihatan galak. Kalau dia tersenyum ramah, dua ratus mahasiswa baru tadi bakal menyepelekan dia."
"Tetap saja! Dia menyebalkan," gumam Gemma.
Langkah Rory terhenti di depan rak berlabel B-12: Arsitektur & Denah Bersejarah. Tangannya yang agak memerah karena udara dingin meraba jajaran buku tebal di rak setinggi dada. Posisinya yang dicari ada di rak paling atas, sedikit di luar jangkauan tingginya.
Rory berjinjit, mengulurkan jemarinya untuk menggapai sampul buku tebal bertuliskan St. Jude’s Architectural Expansion (1915 -1925). Ujung jarinya baru saja menyentuh sudut buku saat sebuah tangan lain berkulit bersih dengan jemari panjang yang ramping terulur dari belakang bahunya dan mengambil buku itu dengan sangat mudah.
Aroma lembut campuran kayu cendana dan sabun maskulin yang bersih langsung merayap ke indra penciuman Rory.
Rory berbalik dengan cepat.
Julian Radcliffe berdiri begitu dekat. Pria itu sudah melepas jas almamaternya, kini hanya mengenakan kemeja putih bersetrika rapi dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawah yang kokoh dan garis vena yang samar. Jam tangan antik berantai perak melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Mencari ini, Miss Vance?" suara Julian terdengar rendah, memantul samar di antara rak-rak buku yang sunyi.
Rory tidak mundur selangkah pun, meskipun jarak mereka hanya sekitar dua jengkal. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata hazel yang dalam itu.
"Ya. Terima kasih sudah mengambilkan," kata Rory datar, mengulurkan tangannya untuk meminta buku tersebut. "Saya akan menggunakannya untuk tugas kelompok kami."
Julian tidak langsung menyerahkan buku itu. Ia memegang ujung buku dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi bertengger santai di dalam saku celana kain hitamnya. Tatapannya meneliti wajah Rory rambut cokelatnya yang sedikit lembap karena gerimis di luar, serta ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terintimidasi.
"Biokimia dan Sains Data," kata Julian pelan, seolah mengingat catatan di papannya tadi siang. "Kenapa mengambil jurusan itu kalau kamu punya ketertarikan pada arsitektur bangunan tua?"
"Saya tidak tertarik pada arsitekturnya, Senior Radcliffe. Saya tertarik pada fakta bahwa jika saya tidak menyelesaikan analisis ini sebelum jam lima, Anda akan memotong poin asrama kami," jawab Rory tanpa jeda. "Jadi, boleh saya minta bukunya?"
Di belakang Rory, Gemma menahan nafasnya rapat-rapat. Gadis itu sudah siap-siap melarikan diri kalau-kalau Julian murka.
Namun, alih-alih marah, sudut bibir Julian justru terangkat sangat tipis. Sebuah senyum samar yang hampir tak terlihat, namun cukup untuk mengubah aura dingin di wajahnya menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi kesehatan jantung siapapun yang melihatnya.
"Gunakan dengan hati-hati. Buku ini diterbitkan terbatas," ujar Julian. Ia mengulurkan buku itu, jari-jarinya sempat bersentuhan sebentar dengan jemari Rory saat penyerahan.
Sentuhan itu singkat, tidak sampai dua detik, tapi kulit jari Julian terasa hangat bertolak belakang dengan tangan Rory yang dingin. Rory merasakan sedikit sengatan aneh di dadanya, namun ia dengan cepat menepis perasaan itu.
"Terima kasih," ulang Rory lurus.
Julian mengangguk pelan. Sebelum ia berbalik pergi, matanya melirik ke arah kertas parchment yang dipegang Rory. "Pastikan tulisan tanganmu bisa dibaca. Saya yang akan memeriksa laporan kelompokmu nanti sore."
Julian melangkah pergi, langkah kakinya hampir tak bersuara di atas karpet tebal perpustakaan.
Begitu sosok Julian menghilang di balik deretan rak, Gemma langsung mencengkeram lengan sweater Rory dan memekik tanpa suara.
"Rory! Kamu gila, kamu gila, kamu gila!" bisik Gemma heboh dengan mata membelalak. "Kamu baru saja membalas omongan Julian Radcliffe tanpa berkedip! Dan... dan tadi itu apa?! Dia senyum! Aku bersumpah demi kuas lukisku, dia senyum tipis banget ke kamu!"
"Dia cuma bilang buku itu terbatas, Gem. Dan dia senyum karena menganggap kita sibuk mengejar tenggat waktu," balas Rory tenang, meski ia merapikan lembar kertasnya dengan sedikit lebih cepat dari biasanya. "Ayo. Jangan buang waktu. Kita punya analisis yang harus ditulis."
Dua jam berikutnya berlalu dalam kesibukan yang intens. Di sebuah meja kayu panjang dekat jendela besar yang diterpa bintik-bintik air hujan, Rory dan Gemma bekerja keras.
Rory terbukti sangat efisien. Jemarinya menari di atas kertas parchment dengan pena bulu bertinta hitam, mencatat koordinat bangunan, rasio ketahanan dinding batu, serta pembagian tata ruang Sayap Barat tanpa perlu membaca ulang buku berkali-kali. Otaknya menyerap informasi seperti spons.
Tepat pukul 16.50, sepuluh menit sebelum tenggat waktu, Rory menepuk kertasnya yang sudah kering dan rapi.
"Selesai," gumam Rory.
"Tangan aku lumpuh," ratap Gemma, menyandarkan kepalanya di atas meja. "Tapi serius, Rory, tulisan tanganmu rapi banget kayak cetakan mesin. Kalau Senior Julian masih nyari kesalahan dari laporan ini, fix dia ada dendam pribadi sama kamu."
"Dia tidak kenal aku, bagaimana bisa dendam?" tanya Rory logis sambil membereskan alat tulisnya.
Mereka berdua berjalan menuju meja pengumpulan panitia di area lobi perpustakaan. Di sana, beberapa kelompok mahasiswa baru nampak panik karena laporan mereka belum selesai, sementara beberapa senior berdiri mengawasi dengan jam genggam di tangan.
Di antara para senior itu, berdiri Leo Thorne pria tinggi dengan rambut pirang ikal dan wajah yang jauh lebih ramah daripada Julian. Leo adalah wakil ketua panitia.
"Kelompok 12?" tanya Leo ramah saat Rory menyerahkan berkasnya.
"Ya. Aurora Vance dan Gemma Foster," jawab Rory.
Leo menerima kertas itu dan sekilas melirik isinya. Matanya membelalak kagum. "Wah... rapi sekali. Kalian bahkan menyertakan perhitungan proporsi sudut bangunan? Impresif."
"Terima kasih, Senior," ujar Gemma sambil tersenyum manis.
Leo membalas senyuman Gemma dengan tatapan hangat yang bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. "Sama-sama. Nama kamu Gemma, kan? Dari jurusan Seni Murni?"
"Iya!" jawab Gemma agak tersipu.
Sebelum percakapan itu berlanjut, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekati meja. Julian muncul dari ruang arsip di belakang Leo. Pria itu menyapu pandangannya ke arah berkas di tangan Leo, lalu menatap Rory.
"Sudah selesai, Miss Vance?" tanya Julian dingin.
"Tepat waktu, Senior Radcliffe," jawab Rory tegas.
Julian mengambil berkas dari tangan Leo, membaliknya perlahan, memindai setiap baris tulisan tangan Rory yang rapi dan terstruktur sempurna. Tidak ada coretan, tidak ada noda tinta, dan analisisnya sangat tajam.
"Lumayan," kata Julian singkat. Kata yang terkesan hemat, tapi keluar dari mulut Julian, itu adalah sebuah pujian tinggi. "Kalian boleh kembali ke asrama untuk persiapan sesi malam."
"Terima kasih," kata Rory. Ia memberi anggukan sopan, lalu menarik tangan Gemma yang masih bertatap mata dengan Leo. "Ayo, Gem."
Saat Rory berbalik dan melangkah keluar dari pintu kaca perpustakaan menuju pelataran yang basah, ia bisa merasakan sepasang mata hazel menyapu punggungnya hingga ia menghilang di balik belokan lorong.
Di meja panitia, Leo menyenggol lengan Julian sambil terkekeh. "Cewek yang bawa berkas tadi... cerdas banget. Dan temannya yang jurusan Seni Murni itu manis juga."
Julian tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap pintu keluar yang kosong, sebelum ia memasukkan laporan Rory ke dalam map khusus.
"Dia bukan cuma cerdas, Leo," gumam Julian pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dia tahu apa yang dia lakukan."