NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Bu Drh., dan Fitnah Pertama

Wabah ini mungkin tidak datang secara kebetulan.

Pak Sutrisno menutup gerbang kantor dan memanggil semua pekerja yang bertugas saat pengiriman tiga malam lalu. Satu per satu diminta menjelaskan jumlah ternak, waktu kendaraan masuk, dan siapa yang memeriksa surat jalan.

"Truk datang hampir tengah malam," kata seorang pekerja muda. "Menurut sopir, ada kerusakan di jalan. Kami menghitung enam domba sesuai surat."

Laras meletakkan foto tanda telinga di atas meja. "Yang ini tidak tercatat. Warnanya juga berbeda dari tanda milik pemasok lokal."

Pekerja itu menelan ludah. "Setelah menurunkan enam ekor, sopir bilang ada satu domba tambahan sebagai pengganti yang kurus. Dia meminta kami memasukkannya saja karena semua kandang sudah dikunci."

"Kamu menerima hewan tanpa pemeriksaan kesehatan?" Pak Yohanes membentak.

"Dia bilang besok suratnya menyusul. Saya pikir koperasi untung satu ekor."

Pak Sutrisno memijat pelipis. Keuntungan satu ekor telah membuat belasan ternak sakit dan seluruh peternakan dikarantina.

Laras tidak ikut memarahi pekerja tersebut. "Nomor sopir, plat kendaraan, dan pesan apa pun masih ada?"

"Ada di ponsel saya, Bu drh."

"Simpan. Jangan hapus. Serahkan salinannya kepada Dinas untuk penelusuran. Mulai sekarang tidak ada ternak turun setelah petugas pemeriksa pulang, meski jumlahnya disebut bonus."

Pak Sutrisno segera membuat aturan tertulis. Sopir dan pemasok dihubungi, tetapi nomor mereka tidak aktif. Dinas Peternakan menerima foto telinga, plat kendaraan, dan keterangan pekerja untuk menelusuri asal hewan di luar wilayah.

Beberapa jam kemudian, petugas Dinas menelepon kembali. Kode telinga itu terdaftar pada peternakan kecil di kabupaten tetangga yang sedang mengalami kasus PMK. Pemiliknya mengaku menjual beberapa domba murah melalui pasar tidak resmi setelah pergerakan ternaknya dibatasi. Sopir pengangkut kemudian mencampurkan satu ekor ke kiriman koperasi agar tidak menanggung kerugian sendiri.

"Jadi bukan ada orang yang sengaja menyerang kita," kata Pak Sutrisno.

"Mungkin bukan menyerang koperasi secara khusus," jawab Laras, "tapi dia tahu hewan itu berasal dari daerah terjangkit dan tetap menyembunyikannya. Akibatnya sama berbahaya. Biarkan Dinas dan polisi pasar menelusuri tanggung jawabnya. Tugas kita sekarang memastikan rantai penularan berhenti di sini."

Ia meminta semua pekerja mengingat apakah ada susu, kotoran, tali, atau pakan dari truk tersebut yang sempat dibawa keluar. Satu tali ternyata dipinjam peternak warga dan sudah dibawa ke desa. Tim Dinas segera menghubungi peminjam, meminta tali diamankan, halaman dibersihkan, dan ternaknya dipantau.

Penelusuran kecil itu membuat Pak Yohanes menghela napas lega. "Kalau kamu tidak bertanya sampai ke tali, saya tidak akan ingat."

"Virus tidak peduli apakah benda itu penting atau cuma tali bekas. Semua yang berpindah harus dilacak."

Menjelang siang, hasil pemantauan membawa sedikit kabar baik. Tidak ada kandang baru yang menunjukkan gejala. Ternak di zona merah masih lemah, tetapi demam beberapa ekor mulai turun dan luka mulut dapat dibersihkan tanpa komplikasi.

"Jangan lengah," Laras mengingatkan. "Kita baru melewati satu malam. Pengamatan tetap dua kali sehari."

Para pekerja mengangguk. Kemarin mereka memanggilnya perempuan yang sok tahu. Sekarang, setiap kali ada perubahan suhu atau nafsu makan, suara `Bu drh.` terdengar dari berbagai sudut kandang.

Pak Yohanes menyerahkan amplop kecil. "Honor darurat. Tidak banyak. Pak Sutrisno bilang jangan ditolak."

Laras menghitung isinya di depan mereka dan menuliskan tanda terima. "Saya ambil sesuai kesepakatan. Sisanya gunakan untuk membeli sarung tangan dan ember tambahan."

"Kamu tidak perlu mengembalikan apa pun."

"Saya tidak mengembalikan honor. Saya memastikan biaya penanganan tidak bercampur dengan upah saya."

Pak Yohanes tertawa pendek. "Pantas calon suamimu tentara. Sama-sama suka aturan."

Pada saat itulah Vania masuk membawa map administrasi. Ia memang membantu pencatatan tenaga kontrak peternakan sambil menunggu peluang kerja yang menurutnya lebih pantas. Langkahnya berhenti ketika melihat Laras dan Pak Yohanes berdiri dekat, sama-sama menunduk di atas catatan honor.

"Mbak Laras?" Wajahnya segera berubah manis. "Kok bisa ada di sini?"

"Saya bekerja menangani wabah."

"Oh." Tatapan Vania turun ke amplop, lalu kepada Pak Yohanes. "Cepat sekali dapat kerja. Baru datang sudah akrab dengan kepala lapangan."

Pak Yohanes tidak menangkap sindirannya. "Kalau bukan karena Bu drh. Laras, mungkin seluruh peternakan sudah tertular."

Pujian itu membuat senyum Vania kaku.

Dalam kehidupan yang diingatnya, Laras seharusnya sudah pulang dalam keadaan hancur setelah bercerai. Perempuan itu mestinya kehilangan pekerjaan, dipandang buruk, lalu perlahan menghilang dari jalan hidup Rendra.

Tidak pernah ada peternakan. Tidak pernah ada gelar `Bu drh.` yang diucapkan dengan hormat.

Apalagi kabar bahwa seorang mayor hendak menikahinya.

"Selamat, Mbak," kata Vania. "Semoga betah. Kerja di lapangan berat, apalagi kalau sering berdua dengan kepala lapangan sampai malam."

Laras menutup map. "Kami tidak berdua. Ada dua belas pekerja, tim Dinas, Pak Sutrisno, dan puluhan ternak yang bisa menjadi saksi."

Beberapa pekerja tertawa. Vania pura-pura tidak mendengar.

Sore harinya, sebuah pesan muncul di grup WhatsApp ibu-ibu sekitar peternakan.

`Pantas baru cerai langsung dapat kerja. Katanya dekat sekali sama Pak Yohanes, sampai urusan honor pun berbisik-bisik.`

Tidak ada nama pengirim asli. Pesan itu diteruskan dari akun ke akun, ditambah emoji dan dugaan baru setiap kali berpindah.

Vania membaca penyebarannya dari ponsel dengan perasaan sedikit lebih tenang. Jika Laras tak bisa dijatuhkan melalui pernikahan, reputasinya bisa dirusak lewat cara lain.

Di rumah sakit, Rendra menerima tangkapan layar yang sama dari Bu Marni.

`Lihat kelakuan mantan istrimu. Baru sehari lepas sudah dekat dengan lelaki lain. Katanya juga mau menikah dengan Mayor.`

Rendra membaca kalimat terakhir dua kali.

Ia seharusnya merasa lega. Laras yang menikah lagi tidak akan kembali mengganggu hidupnya. Namun bayangan perempuan itu berdiri tenang di lobi, lebih cantik justru ketika berhenti memohon, terus muncul di pikirannya.

Dahulu ia mengejar Laras karena semua orang menoleh pada wajahnya. Setelah menikah, ia terbiasa memiliki kecantikan itu di rumah dan mulai menganggapnya tidak istimewa. Kini orang lain memuji keahlian Laras, memanggilnya `Bu drh.`, bahkan seorang mayor ingin menjadikannya istri.

Sesuatu yang telah ia buang mendadak terasa berharga lagi.

"Kalau aku tahu dia bisa mendapat tempat secepat ini," gumamnya, "aku tidak akan melepaskannya semudah itu."

Vania yang baru masuk membawa kopi berhenti di pintu. "Mas bicara apa?"

Rendra mengunci layar ponsel. "Tidak ada."

"Tentang Mbak Laras?"

"Aku bilang tidak ada."

Rendra mengambil kopi tanpa berterima kasih. Beberapa menit kemudian, saat Vania pergi, ia membuka kembali percakapan dengan seorang pegawai koperasi.

`Laras tinggal di mana sekarang? Benarkah dia akan menikah dengan Mayor Bram?`

Di layar lain, fitnah tentang Laras terus menyebar.

Dan Rendra mulai mencari jalan untuk mendatanginya.

1
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!