NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Diangkat Menjadi Anak

Musim kemarau membawa debu merah ke halaman panti ketika tiga mobil hitam berhenti di depan gerbang.

Aku sedang menyapu daun mangga bersama Gilang. Begitu melihat pria yang turun dari mobil pertama, sapu terlepas dari tanganku.

Arkana Wardhana.

Delapan belas bulan aku menggambar wajahnya. Dua tahun aku menunggu kesempatan menemukannya. Sekarang dia berjalan sendiri ke tempatku bersembunyi.

Tubuhku justru tidak bisa bergerak.

"Masuk ke belakangku," Gilang berbisik.

Aku mencengkeram ujung kausnya.

Arkana mengenakan kemeja abu-abu gelap. Jagal berjalan di belakangnya, diikuti seorang pengacara dan petugas dinas sosial yang sering datang memeriksa panti. Pengurus berlari menyambut mereka dengan senyum lebar.

"Pak Arkana mencari anak untuk diasuh," katanya kepada kami. "Semua harus bersikap baik."

Diasuh.

Kata itu terdengar seperti lelucon buruk.

Pria yang mengambil keluargaku datang mencari seorang anak.

Anak-anak disuruh berbaris di aula. Ada yang merapikan rambut, ada yang tersenyum lebar, dan ada yang berbisik tentang rumah besar serta sekolah bagus. Aku berdiri paling belakang dengan kepala menunduk.

Arkana berjalan menyusuri barisan.

Ketika sepatunya berhenti di depanku, napasku terkunci.

"Yang ini tidak punya nama?" tanyanya.

Pengurus menggeleng. "Dokumennya hilang. Dia juga tidak bicara sejak datang. Kami belum menemukan keluarganya."

Arkana berjongkok.

Wajahnya kini sejajar dengan wajahku. Matanya menelusuri pipiku yang kurus, rambut yang dipotong tidak rata, dan bekas luka tipis di pelipis. Tidak ada pengenalan di sana.

Dia tidak mengenaliku.

"Lihat aku," katanya.

Aku mengangkat wajah.

Tangannya bergerak hendak menyentuh daguku.

Aku menggigit telunjuknya.

Jeritan pengurus memecah aula. Jagal maju satu langkah, tetapi Arkana mengangkat tangan yang bebas. Aku menggigit semakin keras sampai rasa logam memenuhi mulutku.

Arkana tidak menarik tangannya.

Dia hanya menatapku.

"Cukup," Gilang berkata.

Dia menarik tubuhku ke belakangnya. "Jangan menyentuh dia."

Jagal tertawa pendek. "Kau tahu bicara dengan siapa?"

Gilang berdiri tegak meski bahunya tegang. "Saya tidak peduli."

Arkana bangkit. Setetes darah turun dari jarinya.

"Kau yang melindunginya?"

"Iya."

"Dengan tubuh sekurus itu?"

"Setidaknya saya berdiri di depannya."

Sudut bibir Arkana bergerak. Bukan senyum, tetapi sesuatu yang hampir menyerupainya.

Dia melirik Jagal. "Uji dia."

Jagal maju. Gilang menyuruhku mundur, lalu mengangkat kedua tangan. Pertarungan itu tidak adil. Jagal lebih besar, lebih berpengalaman, dan tidak ragu menjatuhkan seorang anak ke lantai.

Namun Gilang bangkit setiap kali terjatuh.

Pada percobaan ketiga, dia berhasil menghindari pukulan, menyapu kaki Jagal, dan membuat pria besar itu kehilangan keseimbangan. Hanya sesaat. Jagal segera membalik keadaan dan menahan lehernya dengan lengan.

"Cukup," perintah Arkana.

Jagal melepaskan Gilang.

Arkana menyerahkan saputangan kepada bocah itu. "Kau punya keberanian. Sayang sekali tidak punya kemampuan."

Gilang mengusap darah di sudut bibir. "Saya bisa belajar."

"Delapan tahun. Sekolah, bahasa, bisnis, dan bela diri. Kau akan belajar di tempat yang kupilih. Jika pulang dengan hasil yang memuaskan, aku akan memberikan hal yang paling kauinginkan."

Mata Gilang mencari wajahku.

"Apa pun?" tanyanya.

"Apa pun yang berada dalam kuasaku."

"Saya mau dia aman."

Arkana menatapku. "Mulai hari ini, dia ikut denganku."

Aku mencengkeram lengan Gilang. Kepalaku bergerak cepat, menolak. Selama dua tahun aku ingin mendekati Arkana, tetapi ketika pintu itu benar-benar terbuka, tubuhku mengingat loteng, atap seng, dan tangan Jagal di belakang bajuku.

"Jangan takut," Gilang berbisik. "Aku akan kembali."

Aku menggeleng lebih keras.

"Delapan tahun. Aku janji."

Jarinya menyentuh kepalan tanganku. "Bertahan sampai aku pulang."

Itu bukan perpisahan yang kuinginkan. Sore itu Gilang dibawa ke kota untuk pemeriksaan dan persiapan sekolah. Aku dipindahkan ke mobil Arkana setelah pengurus menandatangani surat penempatan sementara.

Pengacara menjelaskan bahwa proses pengasuhan dan pengangkatan anak akan melewati pemeriksaan dinas sosial serta penetapan pengadilan. Arkana mendengarkan sambil membaca berkas, seolah sedang mengambil alih sebuah perusahaan.

"Tidak ada identitas keluarganya?" tanyanya.

"Tidak ada yang bisa diverifikasi," jawab pengacara. "Anak ini ditemukan tanpa dokumen dan tidak pernah bicara."

Arkana memandangku melalui kaca spion.

Aku menahan tatapannya.

Dia benar-benar tidak ingat anak tujuh tahun yang jatuh dari rumah itu.

Bagus.

Aku akan tinggal di sisinya sampai dia cukup percaya untuk tidur tanpa senjata.

***

Vila Arkana di Menteng lebih besar daripada seluruh panti. Gerbang besi terbuka tanpa suara. Di halaman, air mancur memantulkan lampu-lampu taman. Seorang perempuan bernama Bibi Sumarni menyambutku dengan pakaian bersih, makanan hangat, dan kamar yang memiliki kamar mandi sendiri.

Aku tidak menyentuh makanannya.

Bi Sum tidak memaksaku. Dia duduk di lantai, mencicipi nasi dan sup dari piring yang sama, lalu meninggalkan sendok di dekat tanganku.

"Kalau tidak suka, tunjuk saja," katanya. "Besok Bibi masak yang lain."

Setelah dia pergi, aku makan tiga suap. Bukan karena lapar, melainkan karena aku harus tetap hidup untuk menunggu Gilang dan menyelesaikan rencanaku. Keesokan harinya Bi Sum menemukan piring kosong dan tersenyum kepadaku tanpa bertanya apa-apa.

Aku memeriksa jendela, pintu, dan ruang di bawah tempat tidur. Di luar kamar ada dua penjaga. Di bawah bantal Arkana, pikirku, pasti ada pistol seperti milik orang-orang malam itu.

Beberapa bulan kemudian, setelah kunjungan petugas sosial dan sidang yang tidak kuhadiri, pengacara membawa penetapan pengangkatan anak. Arkana meletakkan salinannya di meja makan.

"Kau resmi menjadi anak angkatku," katanya.

Aku menatap tulisan yang tidak seluruhnya kupahami.

"Kau butuh nama."

Dia membuka kotak kecil. Di dalamnya ada sehelai bunga kering berwarna merah dan kartu lama yang tulisannya telah memudar.

Jarinya berhenti di atas kartu itu.

"Larasati," ucapnya. "Mulai hari ini, namamu Larasati."

Ada kesedihan aneh di matanya. Bukan untukku. Untuk seseorang yang tidak kukenal.

Malam itu aku terbangun karena mimpi buruk. Ketika membuka mata, Arkana duduk di tepi ranjang. Dia menarik selimut sampai ke bahuku dan menyalakan lampu meja berwarna jingga.

"Kau aman di sini."

Aku ingin tertawa. Tidak ada tempat yang lebih berbahaya daripada rumah pembunuh keluargaku.

"Orang akan menganggap kita ayah dan anak," lanjutnya. "Tapi jangan panggil aku Ayah. Jangan ceritakan hubungan kita kepada orang di luar rumah. Panggil aku Arkana jika suatu hari kau mau bicara."

Aku menatap wajahnya dalam cahaya jingga.

Kata pertama yang keluar dari tenggorokanku setelah dua tahun terasa kasar dan patah.

"Larasati."

Arkana membeku.

Aku menyentuh dada sendiri. "Larasati."

Wajahnya melunak. Dia tidak tahu bahwa aku hanya sedang menghafal nama baru yang diberikannya, nama yang akan kupakai untuk mendekatinya.

Saat dia mematikan lampu utama dan meninggalkan kamar, aku menyelipkan gambar arang wajahnya ke bawah bantal.

Delapan tahun lagi Gilang akan kembali.

Sebelum hari itu tiba, aku akan membuat Arkana Wardhana memercayaiku.

Lalu aku akan mengakhiri hidupnya dengan tanganku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!