NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Masuk TK Elit dan Bayangan Teror

Pagi hari di perumahan Griya Indah Permai terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Di ruang tengah, Lala berdiri di atas kursi kayu dengan tenang sementara Mila merapikan seragam barunya.

Hari ini adalah hari tes masuk di St. Starling Academy, TK elit nomor satu di kota yang terkenal hanya menerima anak-anak dari kalangan pengusaha kaya, pejabat, dan anak-anak berprestasi tinggi.

Lala menunduk, memperhatikan rok lipat biru dongker dan kemeja putihnya yang kaku, lalu mengelus kain itu pelan.

"Bunda, bajunya wangi kain baru," ucap Lala halus, mendongak menatap ibunya dengan mata bulat yang bening. "Tapi agak kaku, seperti pita boneka panda Lala."

Mila tersenyum lembut, hatinya meleleh melihat kepolosan putrinya. Ia berlutut untuk merapikan kaos kaki putih Lala. "Nanti kalau sudah dipakai seharian juga makin lembut, Sayang. Di sana nanti Lala jawab pertanyaan gurunya pelan-pelan saja, ya?"

"Iya, Bunda," sahut Lala mengangguk nurut. Bando telinga panda di kepalanya ikut bergoyang pelan.

Chiko yang sedang membetulkan kacamata tebalnya mengelus lembut kepala Lala.

‘Aku harus memastikan dokumen kependudukan palsuku sebagai karyawan biasa terlihat sangat meyakinkan di sekolah itu,’ batin Chiko dalam hati.

Sementara itu, Mila mengancingkan tas mungil Lala sambil membatin hal serupa. ‘TK elit itu punya sistem keamanan kelas atas. Aku sudah menyuruh anak buah Black Crimson meretas kamera CCTV sekolah agar wajahku tidak terekam di pangkalan data publik.’

"Ayo berangkat! Motor Papa sudah siap," ajak Chiko gembira.

"Hore, naik motor Papa!" seru Lala gembira, melompat pelan turun dari kursi lalu menggandeng tangan Mila. Puk-puk-puk.

Gedung St. Starling Academy berdiri megah bagaikan istana bernuansa Eropa. Halaman parkirnya dipenuhi mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah.

Saat Chiko memarkirkan motor matic tuanya yang berbunyi sedikit kasar di antara barisan mobil mewah, beberapa wali murid bersetelan jas mahal menatap keluarga Leonhart dengan pandangan meremehkan.

"Duh, masa ada motor begini parkir di sekolah elit?" bisik seorang ibu bergaun mewah dengan nada mencibir.

Mila mendengar bisikan itu. Aura Viper dalam dirinya mendadak bergetar tipis. ‘Ibu-ibu ini... mau kuratakan tatanan rambut indahnya dalam sekali tebas?’ batin Mila dingin seraya memoleskan senyum ramah buatan di wajahnya.

Chiko membetulkan kacamatanya, menyapu pandangan pada mobil-mobil di sekitarnya. ‘Pemilik mobil-mobil ini... 80 persen adalah anak buah dari perusahaan yang pernah bersaing denganku di bursa saham,’ batin Chiko santai.

Namun, Lala sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana kaku di sekitarnya. Ia berjalan mungil di tengah kedua orang tuanya sambil mengunyah biskuit panda kesukaannya.

Mata bulat Lala menyapu deretan mobil kinclong di sekeliling mereka, lalu mendongak menatap Chiko.

"Papa, mobil di sini bersih sekali ya," bisik Lala jujur dengan suara khas anak-anaknya. "Mungkin tadi pagi disikat pakai sabun cuci piring sama mamanya."

Chiko tersenyum menahan tawa, meremas pelan jemari mungil Lala. "Mungkin saja, Sayang."

Proses wawancara dan tes kemampuan anak dilakukan di ruang akademis utama di lantai dua. Seorang kepala penguji wanita berwajah tegas dan kacamata lancip duduk di balik meja.

"Selamat pagi. Saya Ibu Ratna, kepala penguji," sapa wanita itu datar, menatap formulir pendaftaran Lala. "Di St. Starling, kami menguji kemampuan kognitif, hafalan, dan logika dasar anak sejak usia empat tahun."

"Selamat pagi, Ibu Guru," sapa Lala santun. Ia duduk tegak di kursi kayu, memeluk tas pandanya di pangkuan.

Ibu Ratna membeberkan kartu-kartu bergambar hewan dan angka di atas meja. "Coba tunjukkan pada Ibu, angka berapa yang ada setelah angka lima? Dan hewan apa ini?"

Lala menatap kartu-kartu itu. Otak ber-IQ 210 milik Lala tahu betul jawaban pastinya. Namun, mengingat pesan Papa dan Bunda untuk bersikap santai seperti anak seusianya, Lala menjawab dengan tenang dan jujur.

"Angka enam, Ibu Guru," jawab Lala lembut. Jemari mungilnya lalu menunjuk kartu di sebelahnya. "Kalau ini gambar gajah. Belalainya panjang buat ambil buah di pohon."

Ibu Ratna mengangguk puas. "Pintar sekali."

Ibu Ratna kemudian mengeluarkan tes kedua: papan teka-teki logika warna dan bentuk yang dirancang untuk menguji koordinasi mata dan penalaran anak. "Coba susun blok warna ini sampai rapi ya."

Lala melihat papan itu. Bagi otak geniusnya, ini sangat sederhana. Namun, saat jemari mungilnya mulai menyusun balok-balok kayu tersebut secara refleks, insting alaminya menyeimbangkan pola itu berdasarkan Struktur Fraktal Matematika Simetri—sebuah pola keseimbangan visual tingkat tinggi.

Lala menyusunnya dengan jemari yang cekatan dan tenang, menumpuk warna demi warna tanpa ragu. "Merah di samping kuning, terus yang hijau ditaruh di sini..."

Ibu Ratna yang mengamati gerakan tangan Lala mendadak melotot lebar. Kacamata lancipnya hampir meluncur jatuh dari hidungnya.

"I-ini..." gagap Ibu Ratna menatap hasil susunan balok Lala yang terpasang presisi, seimbang sempurna, dan membentuk pola simetri yang sangat rumit tanpa celah sedikit pun. "Susunan presisi begini... anak usia empat tahun?!"

Chiko yang paham matematika tingkat tinggi langsung tersentak di balik kacamata tebalnya. ‘Astaga! Lala menyusun pola perhitungan presisi secara insting! Intuisi otaknya luar biasa!’

Mila yang terlatih dalam analisis tata ruang juga tertegun bangga. ‘Anak ini... refleks tangannya saat menaruh balok benar-benar efisien.’

Lala selesai menaruh balok terakhir, lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil tersenyum manis ke arah penguji.

"Sudah selesai, Ibu Guru," kata Lala polos tanpa sadar betapa ajaibnya hasil karyanya.

Ibu Ratna menyapu keringat dingin di dahinya, lalu berdeham keras menutupi rasa terkejutnya yang luar biasa. "A-kemampuan visuosplasial dan kerapian anak ini... sungguh luar biasa. Selamat, Lala resmi diterima!"

"Hore, terima kasih Ibu Guru!" sahut Lala gembira, bando pandanya bergoyang manis.

Namun, belum sempat kebahagiaan itu dirayakan...

BOOOOOOMMMMM!

Sebuah ledakan dahsyat mendadak menggelegar dari arah gerbang utama sekolah! Guncangan hebat membuat kaca-kaca jendela auditorium pecah berhamburan. Jeritan histeris dari puluhan wali murid dan anak-anak seketika memecah kegentingan di dalam aula besar.

RATATATATATAT!

Suara tembakan senjata otomatis meraung-raung di koridor lantai satu. Sekelompok pria berpenutup muka dengan seragam taktis hitam dan senjata laras panjang menyerbu masuk.

"SEMUA TENGKURAP! JANGAN ADA YANG BERGERAK KALAU TIDAK MAU KEPALANYA BOLONG!" teriak pimpinan teroris berbadan tegap melalui pengeras suara.

Di tengah jerit tangis histeris para wali murid kaya yang ketakutan setengah mati, Chiko dengan refleks secepat kilat menarik tubuh Lala ke bawah meja, sementara Mila menyelimuti mereka berdua dengan tubuhnya.

Melalui pindaian lensa kontak pintarnya yang mendadak aktif, Chiko menganalisis identitas para penyerang. ‘Sindikat serdadu bayaran bertato kalajengking Hitam... Mereka mengincar anak dari pejabat menteri yang ada di gedung ini untuk disandera!’

Mila menyipitkan matanya tajam. Jemari lentiknya sudah menyentuh pisau lempar tersembunyi di balik lipatan gaunnya. ‘Dua puluh delapan personel berlaras panjang. Posisi pintu keluar dikunci dari luar dengan peledak C4. Amatir... tapi kalau aku membantai mereka di sini, penyamaranku di depan Chiko dan Lala akan terbongkar.’

Lencana panda di dada Lala mendadak bergetar halus. Bzz-bzz.

Lala menatap Papa dan Bundanya bergantian. Dari celah bawah meja, mata bulat Lala menangkap bayangan dua teroris yang berjalan mendekat ke arah meja mereka dengan senjata terkokang.

‘Papa sibuk menyembunyikan jam peretasnya di balik saku... Bunda menyembunyikan pisau tipis di lengannya...’ analisis Lala tajam di dalam hati. ‘Kalau paman-paman bertopeng itu makin dekat, Papa dan Bunda bakal terpaksa pamer kekuatan ajaib mereka!’

Lala mengepalkan tangan kecilnya. ‘Lala tidak boleh biarkan rahasia keluarga kita terbongkar!’

Tanpa terdeteksi oleh siapa pun, tangan mungil Lala dengan tenang menyentuh jam tangan Hello Panda-nya. Dengan kedipan sinyal mikro, Lala mulai meretas sistem alarm kebakaran sentral gedung serta pemancar frekuensi radio milik para teroris!

Namun, tiba-tiba...

KREK!

Langkah kaki sepatu laras tegap berhenti tepat di depan meja tempat mereka bersembunyi. Ujung laras senjata hitam yang dingin dan bernoda mesiu mendadak menembus kolong meja, terarah tepat ke wajah kecil Lala!

"Keluarlah, Bocah!" bentak suara berat teroris dari balik topeng hitamnya.

Tatapan mata Chiko dan Mila seketika berubah menjadi sangat dingin dan mematikan dalam fraksi detik—siap membantai siapa pun yang menyentuh putri mereka.

Lala mendongak, menatap laras senjata hitam itu tanpa rasa takut, lalu tersenyum sangat manis.

"Paman... jam tangannya bunyi tuh," bisik Lala pelan.

BZZZZT—BOOM!

-----

BZZZZT—BOOM!

Detik ketika suara bzzzt itu berhenti, sistem alarm kebakaran sentral dan sprinkler otomatis di atas plafon gedung pecah bersamaan! Air menyembur deras mengguyur seluruh aula, disusul suara benturan frekuensi radio pekat dari perangkat para teroris yang mendadak meledak kecil akibat lonjakan daya lokal.

"Aaargh! Radio kita konslet! Mata saya!" teriak teroris di depan meja mereka sambil menyapu air dari topengnya yang kebasahan.

Di tengah kekacauan, asap tebal dari sistem pemadam kebakaran mulai memenuhi ruangan.

Chiko dan Mila bertindak dalam sepersekian detik, memanfaatkan momen kebutaan musuh.

Chiko menepuk lantai dengan tangannya, secara tak terlihat memancarkan gelombang elektromagnetik jarak pendek dari alat di sakunya. BZZZT! Seluruh lampu penerangan dan pintu elektronik di koridor mendadak mati total, melempar aula besar itu ke dalam kegelapan pekat.

‘Sempurna. Dalam gelap, refleks analisis pandanganku unggul sepenuhnya,’ batin Chiko dingin.

Di saat bersamaan, Mila bergerak bagaikan bayangan. Tanpa bersuara, tubuhnya meluncur melintasi lantai basah. Hanya dalam dua detik, ia merampas dua senjata laras panjang dari teroris terdekat, mematahkan magazinnya dengan satu pilinan jari, lalu menjatuhkan kedua pria berbadan tegap itu dengan pukulan titik saraf di leher secara presisi tanpa menimbulkan bunyi berarti.

‘Dua lumpuh. Tinggal dua puluh enam lagi,’ batin Mila tenang dan mematikan.

Sementara itu, di bawah meja, Lala berkedip polos. Mata ber-IQ tinggi milik bocah empat tahun itu bisa melihat dengan sangat jelas di dalam gelap berkat sensor mikro di lensa matanya.

Lala melihat Papa yang pura-pura panik sambil tiarap di dekat vas bunga—namun jarinya sibuk menekan tombol peretas sinyal peledak C4 di pintu utama dari jauh. Lala juga melihat Bunda yang bergerak secepat angin melumpuhkan teroris satu per satu di balik kepulan asap.

‘Wah, Bunda hebat sekali! Gerakannya seperti kucing super!’ batin Lala takjub sambil menepuk-nepuk tangannya pelan tanpa suara. ‘Tapi paman teroris yang di dekat tiang itu mau melempar granat asap gatal!’

Lala tidak bisa tinggal diam. Ia harus membantu orang tuanya tanpa terlihat menonjol.

Lala meraih sebuah bola bekel kecil berwarna merah jambu dari dalam tas pandanya. Dengan perhitungan sudut pantulan fisika presisi dalam otaknya, Lala melempar bola bekel itu ke arah tiang beton.

Tuk! Pantul! TAK!

Bola bekel itu memantul tiga kali di dinding dengan kecepatan tinggi, lalu menghantam tepat pada lubang hidung teroris yang memegang granat!

"ADUHHH!" teriak teroris itu kaget setengah mati, membuat granat asapnya terlepas dari genggaman dan jatuh menggelinding ke arah kelompok teroris lainnya.

PSSSSSSSHHHH!

Asap tebal berwarna jingga mendadak menyembur di tengah barisan pasukan teroris, membuat mereka batuk-batuk hebat dan saling tabrak dalam kegelapan.

"Siapa yang melempar itu?!" teriak sang komandan teroris panik.

Menggunakan momen kekacauan itu, Chiko menyelesaikan peretasan pintu darurat. KLIK! Pengunci elektronik pintu belakang mendadak terbuka otomatis.

"Semua orang! Pintu belakang terbuka! Lari keluar!" teriak Chiko dengan suara pura-pura gemetar dan panik, mengarahkan para wali murid dan anak-anak yang ketakutan untuk melarikan diri.

Para orang tua yang panik langsung berebut lari keluar melalui pintu darurat.

Di tengah arus evakuasi, Mila dengan cepat menyambar tubuh mungil Lala, memeluknya erat di dada, lalu menarik tangan Chiko. "Pah! Ayo lari! Tempat ini berbahaya!"

"I-iya, Bunda! Ayo cepat!" sahut Chiko berpura-pura terengah-engah dan ketakutan.

Beberapa menit kemudian...

Di halaman luar gedung sekolah, sirene mobil polisi dan tim antiteror merayap mendekat dengan lampu biru merah yang berkedip-kedip. Pasukan khusus langsung mengepung area sekolah, sementara para teroris di dalam sudah kocar-kacir akibat serangan tak terlihat dan asap yang memenuhi gedung.

Keluarga Leonhart duduk di tepi trotoar di luar gerbang sekolah. Petugas medis memberi mereka masing-masing selembar selimut hangat.

Mila merapikan rambut Lala yang sedikit basah terkena air sprinkler, matanya memancarkan rasa khawatir yang amat sangat. "Lala tidak apa-apa? Ada yang sakit, Sayang?"

Lala menggelengkan kepalanya polos, memeluk boneka pandanya erat-erat. "Lala tidak apa-apa, Bunda. Cuma tadi bajunya kena air, jadi makin tidak stiff lagi!"

Chiko tersenyum lega, mengusap puncak kepala Lala sambil membetulkan kacamatanya yang agak miring. "Anak Papa pintar dan berani sekali. Tadi tidak menangis sama sekali."

"Kan Lala pahlawan panda!" sahut Lala bangga dengan suara khas anak-anaknya. "Pahlawan tidak boleh menangis kalau cuma terkena air!"

Chiko dan Mila saling pandang di balik selimut hangat mereka. Masing-masing menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Meskipun pesta penyambutan sekolah hari ini kekacauan total akibat serangan teroris, mereka tahu satu hal: selama bertiga bersama, tidak ada bahaya di dunia ini yang tidak bisa mereka lewati.

"Pah..." bisik Lala pelan sambil menyenderkan kepalanya di pangkuan Chiko.

"Ya, Lala?"

"Lala lapar... biskuit panda Lala kebasahan semua di dalam tas," aduh Lala dengan nada paling kasihan di dunia.

Chiko tertawa renyah, merangkul Mila dan Lala sekaligus. "Siap! Habis ini Papa belikan biskuit panda sepuluh boks dan es krim vanilla!"

"Horeee! Papa paling top!" jerit Lala gembira, membuat sore yang mencekam itu kembali hangat oleh gelak tawa keluarga paling unik di dunia.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!