NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan pertama

Pagi hari di Evandra Capital. Semuanya tengah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

Disana -Tyana terlihat sibuk dengan beberapa berkas penting. Ia sedang mengurus beberapa jadwal Aurelia dalam seminggu terakhir.

Matanya sesekali menatap Aurelia yang hanya berdiri dan sedang memandangi luar gedung lewat jendela. Wanita itu sudah datang sepuluh menit lebih awal, sehingga ia bisa melihat siapa saja yang terlambat masuk ke kantor, matanya mengawasi setiap pergerakan dihalaman kantor.

Bagaimana dua satpam membukakan gerbang dan menyambut karyawan dengan ramah. Tempat parkir mulai dipadati kendaraan roda dua maupun roda empat.

"Apa anda akan terus berdiri disana, nona?"

Aurelia membalikkan badannya. Dua tangannya terlipat didepan dada, ia tersenyum, melihat pada Tyana yang baru saja berbicara.

"Stretching, sebelum rapat dimulai." Mata Aurelia ikut tersenyum mengikuti gerak bibirnya.

"Usahakan, rapat tidak berlangsung lama, Tyana." Nada bicara Aurelia terdengar lembut.

Tyana mengangguk kecil. Dia tahu Aurelia tidak suka basa-basi, wanita itu membenci rapat yang terlalu bertele-tele. Panjang, namun tidak ada isinya.

"Baik, nona."

"Sekarang, persiapkan diri anda untuk pertemuan pertama dengan perwakilan Alister Property Group." Tyana menutup beberapa proposal yang berjejer di atas meja. Ia merapihkan satu persatu, menjadi tumpukkan berkas yang didalamnya terdapat angka nominal ratusan milyar.

Aurelia mengangguk pelan. "Apa CEO-nya ikut?" Matanya menatap Tyana yang masih duduk di kursinya. Asisten pribadi Aurelia itu mengangguk sebagai balasan.

"Iya, nona."

Aurelia seperti berpikir. Matanya berputar diatas. Kemudian berdecak kecil.

"Menarik." Ia kembali memutar tubuhnya menghadap jendela. Di gedung tempatnya berdiri. Ia melihat sebuah mobil Rolls-Royce Ghost Black Badge berwarna hitam perlahan memasuki pelataran Evandra Capital. Kilau bodinya memantulkan cahaya pagi, sementara mesin V12-nya nyaris tak mengeluarkan suara.

"Apa mereka datang secepat itu?" Ekor mata Aurelia melirik pada Tyana.

Asistennya itu bergegas berdiri. Kakinya berjalan menghampiri Aurelia. Ia buru-buru melihat rekan bisnisnya sudah datang.

"Maaf nona. Saya kira mereka akan datang sesuai waktu yang telah ditentukan. Ternyata, datang lima belas menit sebelumnya." Tyana terlihat menahan napas.

"Tidak masalah, sekarang turun dan sambut mereka." Mata Aurelia masih tertuju pada pintu mobil yang dibukakan oleh seseorang, yang Aurelia yakini itu adalah asisten dari CEO Alister Property Group.

"Baik. Saya permisi." Tyana bergegas undur diri.

"Jangan buru-buru Tyana. Sambut di lobby tengah saja." Aurelia khawatir, asistennya itu pasti akan bergerak cepat menuju lobby tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Beruntung tempat rapat mereka berada di lantai 5. Tyana jadi lebih cepat sampai menuju lobby.

Mata Aurelia menyipit tajam. Ia ingin tahu wajah dari calon rekan bisnisnya. Tapi wajahnya tidak jelas, hanya terlihat tubuhnya yang tinggi dan tegap, mengenakan setelan jas berwarna navy, dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung. Setiap kali Aurelia akan melihat wajahnya. Selalu terhalang oleh dedaunan dari pohon dibawah.

"Keuntungan dari bisnis ini milyaran rupiah." Ia berbicara pada dirinya sendiri. Mengurungkan diri untuk melihat wajah calon rekan bisnisnya.

"Tapi..." Matanya menatap serius pada orang-orang itu yang mulai berjalan meninggalkan halaman. CEO-nya terlihat berjalan paling depan, seorang pria yang memegang iPad bejalan di sisi kanannya agak belakang. Dan dua orang pria berpakaian serba hitam mengikut dari jarak satu meter.

"Alasan kenapa perusahaan sebesar itu membutuhkan investor, masih belum cukup meyakinkan." Aurelia menghela napas panjang. Ia memegang kaca jendela yang mengkilap, cahaya matahari mulai menyerobot masuk ke dalam.

Pintu ruang rapat terbuka. Aurelia sedang berdiri di depan jendela sambil melihat kebawah mendengar pintu terbuka...

Ia membalikkan badan.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan hangat.

Nathaniel mengamati Aurelia yang mengenakan blazer hitam berpotongan tailored yang dipadukan celana panjang bahan berwarna senada.Rambutnya diikat menjadi low ponytail yang sederhana namun elegan. Riasan tipis membuat wajahnya tampak segar. Sepatu hak tinggi hitam melengkapi penampilannya yang berkelas.

"Selamat datang, tuan Nathaniel bersama rekan." Bibir Aurelia hanya menunjukkan senyum tipis. Rautnya yang hangat ketika berbicara dengan Tyana tadi, seketika berubah menjadi lebih tajam dan mengintimidasi. Ia hanya melihat Nathaniel yang mengangguk kecil.

Ternyata, dia lebih muda dari apa yang aku bayangkan.

"Terima kasih atas sambutnya, nona." Attar sedikit membungkuk dan tersenyum.

Aurelia mengangguk, ia melangkahkan kaki jenjangnya dengan perlahan. Ketukan heelsnya menggema seisi ruangan. Matanya melihat Tyana yang mempersilahkan kedua orang itu untuk duduk.

Tangannya bergerak memegang meja, ia bergerak sedikit dan mendudukkan dirinya di kursi.

Mereka terlihat duduk saling berhadapan. Attar berdiri dan akan mempresentasikan proposal. Sedangkan, Tyana duduk disebelah kiri Aurelia dengan laptopnya yang sudah siap sejak tadi.

Setelah beberapa menit menjelaskan, Attar menatap Aurelia yang tidak memberikan reaksi apapun.

"Apa ada yang mau anda tanyakan, nona?" Attar bertanya untuk mencairkan suasana yang terasa tegang karena keheningan.

Aurelia menautkan jemarinya yang terletak di atas meja. Ia menatap Attar kemudian beralih ke arah Nathaniel.

"Saya ingin mendengar langsung, alasan yang lebih logis dari CEO perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan saya." Mata mereka saling bertemu.

Nathaniel duduk dengan punggung tegak di kursi. Satu tangannya bertumpu santai pada sandaran kursi, satu laginya mengetukkan jari dengan irama tenang. Tatapan matanya lurus mengarah pada Aurelia. Wajahnya tetap datar tanpa seulas senyum, namun sorot matanya menyiratkan ketegasan yang sulit diabaikan. Ia tidak banyak bergerak. Keheningannya saja sudah cukup membuat suasana ruang rapat terasa lebih serius.

"Apa kurang jelas apa yang sudah disampaikan oleh asisten saya?" Kedua tangannya ia letakkan di atas meja.

Aurelia menggeleng pelan. "Bukan kurang jelas. Tapi itu kurang meyakinkan." Mata mereka saling beradu pandang tanpa ada yang tahu apa arti dari tatapan masing-masing.

"Mampu membangun sendiri bukan berarti harus membangun sendiri."

Semua orang terdiam.

Nathaniel melanjutkan,"Seorang pebisnis yang baik tidak menaruh seluruh modalnya dalam satu proyek. Saya bisa mengeluarkan Rp3,2 triliun hari ini, tetapi itu akan mengurangi fleksibilitas perusahaan untuk menangkap peluang lain."

Suasana hening.

Aurelia dapat menangkap aura dingin dari orang dihadapannya itu. Ia kembali menegakkan tubuhnya. Tangannya bergerak mengambil bolpoin yang berada disekitarnya.

Nathaniel dapat melihat jelas pergerakan Aurelia.

"Jawaban anda cukup meyakinkan, tuan Nathaniel." Tangan Aurelia mulai mengetuk-ngetukan bolpoin dengan suara tenang.

Ia melanjutkan, "itu artinya, anda ingin berbagi risiko dengan perusahaan saya." Aurelia tersenyum tipis. Ia memutuskan pandangan mata mereka lebih dulu.

Nathaniel menyandarkan punggungnya. "Bukan hanya berbagi risiko, tapi juga berbagi keuntungan." Tangan kanannya memberikan kode untuk mempersilahkan Attar duduk.

"Tapi kenapa, yang anda lihat pertama kali tentang proyek ini hanya risiko-nya?" Mata itu tetap menatap tajam ke arah Aurelia.

Aurelia menghentikan gerakan tangannya. Ia meneguk salivanya perlahan.

"Karena dalam proyek besar, yang harus dipertimbangkan lebih dahulu adalah sebuah risiko."

Aurelia menatap Nathaniel dengan sisa-sisa keberaniannya yang entah sejak kapan, sedikit tersenggol.

"Investor besar tidak hanya menghitung risiko. Mereka juga menghitung peluang."

Aurelia melebarkan pupilnya. Ia tersentil dengan ucapan Nathaniel yang cukup menusuk.

"Seharusnya, yang pertama kali anda lihat adalah keberhasilan...." Nataniel bergerak berdiri. Ia membenarkan jasnya yang sedikit berantakan. Ia menatap proyektor, kakinya kemudian melangkah di tempat Attar berdiri tadi.

"Keuntungan dari proyek ini." Tangannya menggeser proyektor. Layar besar itu menunjukan angka-angka yang nominalnya cukup besar. Dengan beberapa garis kurva.

"Seorang pengusaha tidak takut dengan risiko." Tangannya kembali bergerak. Gambar layar berubah menjadi sebuah gambar bangunan yang terlihat megah.

"Yang ia takutkan hanya satu..." Matanya menatap Aurelia.

"...Berhenti melangkah karena terlalu sibuk menghitung kemungkinan gagal."

Nathaniel bergerak mematikan layar proyektor. Ia berjalan ketempat semula dan mendudukkannya dirinya kembali.

Aurelia menatap Tyana yang beraut datar. Kemudian kembali kearah Nathaniel.

"Anda menggurui saya?"

"Anda merasa begitu, nona Aurel?"

Aurelia hanya diam.

"Saya sudah berada di dalam bisnis ini bertahun-tahun. Dan kenyataannya, bisnis yang saya jalani selalu berhasil, dan tidak pernah ada kata gagal." Aurelia menyilangkan kedua kakinya. Wanita itu menyorot tajam ke arah Nathaniel.

Nathaniel mengangguk kecil. Ia berdehem dan memainkan jam di tangannya.

"Karena itulah perlu diingat bahwa... Orang besar harus diberi wejangan lebih banyak agar tidak merasa semakin besar."

"Karena biasanya, yang merasa besar akan lebih mudah jatuh."

Nathaniel menghentikan pergerakannya. Pandangan matanya kemudian jatuh pada Aurelia yang terlihat sedang menahan sesuatu yang bergejolak dihatinya.

Kalimatnya itu bukan untuk menjatuhkan siapapun. Kalimat itu hadir untuk mengingatkan bahwa... Kerajaan kaca lebih mahal dibanding kerajaan apapun, tapi risiko mudah hancurnya lebih tinggi.

Aurelia tersenyum tipis.

"Siapkan proposal kontrak sekarang juga, Tyana." Matanya masih tertuju pada Nathaniel.

"Baik, nona." Tyana mengangguk cepat dan mulai mengetikkan sesuatu di laptop detik itu juga.

"Sebelum itu..."

"Sebelum saya menanamkan saham di perusahaan anda. Bolehkah saya mengajukan beberapa syarat?" Tatapan mata Aurelia lurus. Pikirannya penuh dengan rencana-rencana yang berurusan dengan kontrak kerja mereka.

Nathaniel memajukan tubuhnya. Ia mengangkat alisnya tipis, "kalau boleh tahu, apa persyaratannya?"

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!