NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Ketulusan di Bawah Perban

Denting halus jarum jam dinding memecah keheningan di dalam ruang tamu sebuah *safehouse* tersembunyi milik Reno. Ruangan itu berdesain minimalis namun elegan, didominasi warna krem dan kayu hangat yang memberikan rasa aman mutlak dari hiruk-pikuk ancaman di luar sana.

Alya duduk di tepi sofa empuk, jemarinya yang gemetar memegang gulungan perban steril dan cairan antiseptik. Di hadapannya, Reno duduk tenang dengan kemeja putihnya yang sengaja dilepas sebagian, memperlihatkan lengan tegap berotot dengan luka goresan tipis di bagian dada atas dan lengan kanan akibat pertarungan sengit di jalan layang tadi.

Alya meneteskan cairan antiseptik ke kapas, lalu mengusapkannya secara perlahan pada luka Reno. Setiap kali jemarinya menyentuh kulit hangat pria itu, ada desir halus yang mengalir ke sekujur tubuhnya.

"Maaf... kalau ini agak sakit," bisik Alya dengan suara yang serak dan bergetar.

"Ini hanya luka gores kecil," jawab Reno datar. Matanya yang tenang menatap wajah Alya yang berada sangat dekat darinya. "Kamu tidak perlu secemas ini."

Namun, melihat raut tenang Reno yang sama sekali tidak mengeluh sedikit pun, pertahanan batin Alya mendadak runtuh. Tetesan air mata yang bening jatuh perlahan dari sudut matanya, menetes tepat di atas lengan Reno yang berbalut darah kering.

Reno sedikit terkejut. "Alya?"

Alya tidak dapat lagi menahan emosi yang membuncah di dadanya. Ia meletakkan perban di atas meja, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan mulai menangis sesenggukan. Bahunya yang terbalut blazer hitam berguncang hebat.

"Aku benar-benar wanita paling bodoh di dunia..." pungkasan Alya terputus-putus di antara isak tangisnya. "Selama tiga tahun... tiga tahun kita menikah, aku tidak pernah benar-benar melihatmu. Aku membiarkan ibuku memakimu, membiarkan orang-orang menginjak-injak harga dirimu... padahal kamu adalah pria yang paling luar biasa, pria yang mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku."

Alya menengadah, menatap mata tajam Reno dengan pandangan yang bersimbah air mata—sebuah penyesalan mendalam yang keluar tulus dari dasar jiwanya.

"Aku baru menyadari semuanya setelah kamu pergi, Reno," lanjut Alya dengan nada memohon yang begitu memilukan. "Dulu aku terlalu lemah, aku takut pada tekanan ibuku, aku takut pada penilaian dunia. Tapi saat aku melihatmu bertarung di jalanan tadi, saat aku melihatmu berdiri membela kehormatanku... hatiku seperti dihantam kenyataan pahit bahwa aku telah membuang permata terbaik dalam hidupku."

Reno menatap Alya tanpa bersuara. Di dalam benaknya, memori tentang tiga tahun masa penyamarannya berputar kembali. Betapa ia harus berlutut membersihkan lantai, menahan hinaan Maya, dan hidup dalam bayang-bayang ejekan. Namun di saat yang sama, ia ingat bagaimana Alya diam-diam menyisihkan sebagian makanannya untuk Reno, bagaimana Alya selalu menatapnya dengan rasa bersalah meski tak berdaya menolak perintah ibunya.

Perlahan, Reno mengulurkan tangan kirinya yang tak terluka. Jemarinya yang hangat dan tegap menyapu lembut tetesan air mata di pipi Alya.

"Masa lalu sudah berlalu, Alya," suara Reno mengalun rendah, menghilangkan kesan dingin yang selama ini ia pasang. "Aku menyamar selama tiga tahun bukan hanya untuk menguji dunia, tapi juga untuk menyelesaikan tugasku. Hinaan ibumu tidak pernah benar-benar melukaiku."

Alya menggeleng cepat, mencengkeram jemari Reno yang berada di pipinya, menempelkannya erat-erat seolah takut pria itu akan menghilang lagi.

"Tapi itu melukaiku, Reno!" tegas Alya dengan tatapan jernih dan penuh keberanian. "Aku tidak memintamu kembali karena kamu adalah Penguasa Naga Hitam yang kaya raya. Demi Tuhan, aku tidak peduli dengan takhta atau triliunan harta yang kamu miliki! Bahkan jika kamu kembali menjadi Reno yang dulu—pria tanpa pekerjaan yang hanya memasak di dapur kecil kita—aku akan tetap memilihmu!"

Alya menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat gelap milik Reno dengan kejujuran mutlak yang memancar tanpa celah.

"Aku mencintaimu, Reno. Bukan karena Naga Hitam, tapi karena kamu adalah Reno... pria yang selalu memegangi tanganku saat dunia menghempaskanku. Tolong... beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku pantas menjadi wanita di sisimu."

Pengakuan tulus yang keluar dari bibir Alya bergema di dalam ruang tamu yang sunyi itu. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kebohongan, hanya ada ketulusan murni dari seorang wanita yang telah belajar dari kesalahan masa lalunya.

Reno memandangi Alya dalam diam. Tembok es tebal yang membentengi hatinya selama berbulan-bulan perlahan retak dan mencair di bawah ketulusan Alya. Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah keluarga Pramudya, senyuman hangat yang tulus terbit di sudut bibir Reno.

"Kamu sudah membuktikannya, Alya," ujar Reno pelan. "Cara bertarungmu di Perusahaan Zena, keteguhanmu menolak ajakan Dion dan ancaman Randy... itu sudah membuktikan bahwa kamu bukan lagi Alya yang dulu."

Alya tertegun, matanya berbinar mendengar pengakuan dari Reno. "Reno... apakah kamu... mau memaafkanku?"

Reno mengangguk tipis, melingkarkan jemarinya membalas genggaman tangan Alya. "Aku sudah memaafkanmu sejak hari pertama aku melangkah keluar dari rumah itu. Namun..."

Sebelum Reno sempat menyelesaikan kalimatnya, suasana hangat di dalam ruangan itu mendadak terpecah oleh suara ketukan keras dan teratur di pintu depan *safehouse*.

*KNOCK! KNOCK! KNOCK!*

Reno kembali menarik sikap profesionalnya dalam sekejap. Alya buru-buru menyapu sisa air matanya dan merapikan kembali posisi duduknya.

Pintu depan terbuka, dan Bagas melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Wajah tangan kanan Reno yang biasanya tenang dan berwibawa kini dibayangi oleh ketegangan yang sangat pekat. Di tangannya, Bagas memegang sebuah map berstempel kerahasiaan tingkat tertinggi dari Markas Besar Naga Hitam.

Bagas menunduk hormat 90 derajat di hadapan Reno dan Alya. "Tuan Muda, maafkan saya karena harus mengganggu penanganan Anda. Tapi ada perkembangan darurat dari ibu kota."

Reno berdiri, merapikan kembali kemeja putihnya yang kini telah selesai diperban rapi oleh Alya. "Ada apa, Bagas?"

Bagas membuka dokumen rahasia tersebut dan menyerahkannya ke tangan Reno. "Penghancuran tiga pembunuh bayaran *Tengkorak Hitam* di jalan layang tadi telah membuat Klan Utama Cendana murka besar. Victor Cendana telah memanfaatkan pengaruh politik ayahnya di ibu kota untuk menyita dan membekukan seluruh jalur perdagangan laut milik sekutu Naga Hitam di wilayah utara."

Bagas menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menatap Reno dengan pandangan serius. "Bukan hanya itu, Tuan Muda... Klan Cendana secara terbuka telah mengeluarkan seruan perang ekonomi di tingkat nasional. Mereka menantang Konsorsium Naga Hitam untuk menyelesaikan perselisihan ini secara terbuka di markas besar ibu kota."

Alya yang mendengarkan penjelasan Bagas merasa dadanya kembali diimpit rasa cemas. Eskalasi konflik ini bukan lagi seputar persaingan pengusaha lokal atau klan tingkat kota, melainkan telah bergeser ke tingkat perebutan kekuasaan nasional yang melibatkan klan penguasa ibu kota.

Reno membaca dokumen di tangannya dengan cermat. Kilatan dingin di matanya kembali menyala, memancarkan aura seorang raja yang siap menaklukkan arena perang yang lebih besar.

"Rupanya Klan Cendana merasa ibu kota adalah wilayah kekuasaan mutlak mereka," ujar Reno dengan suara rendah yang amat tenang namun sarat akan intimidasi tak bertepi.

Reno memutar tubuhnya, menatap Alya yang berdiri di samping sofa dengan raut cemas. Reno melangkah mendekati Alya, memegang kedua bahu wanita itu dengan lembut.

"Panggung di kota kecil ini sudah selesai, Alya," kata Reno pelan. "Besok pagi, aku harus berangkat ke ibu kota untuk meruntuhkan Klan Cendana sampai ke akar-akarnya."

Alya menatap mata Reno tanpa ada lagi sedikit pun keraguan atau ketakutan. Ia memegang tangan Reno yang berada di bahunya, mengangguk mantap.

"Aku ikut bersamamu ke ibu kota, Reno," tegas Alya tanpa ragu. "Aku tidak akan biarkan kamu berjuang sendirian lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!