When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Masuk di dunia novel?
Detik jam dinding di lantai dua belas gedung perkantoran itu terdengar seperti pukulan martil yang diketuk konstan.
Tek, tek, tek.
Setiap bunyinya seolah sengaja mengejek Kirana yang matanya sudah merah, perih, dan berair.
Di atas mejanya, dua cangkir kopi instan sudah dingin dengan sisa ampas yang mengendap kental di dasar.
Suasana lantai kantor sudah sepi sejak jam delapan malam tadi.
Hanya tinggal Kirana, satu-satunya manusia yang masih meringkuk di balik kubikel ujung, dikelilingi tumpukan dokumen.
Layar monitor laptopnya memancarkan cahaya biru yang menyengat mata.
Baris-baris angka di lembar kerja Excel rasanya melompat-lompat, saling bertukar tempat, seolah mengejek otak Kirana yang sudah kehabisan daya sejak tiga jam lalu.
"Sedikit lagi... tinggal tiga kolom lagi..." gumamnya lantas memijat pangkal hidung yang terasa pegal.
Tangannya yang agak gemetar memegang tetikus, mengeklik kolom demi kolom dengan gerakan pelan.
Sebagai data analyst di perusahaan finansial yang haus hasil cepat, lembur sampai jam dua pagi bukan cuma rutinitas, tapi sudah jadi cara bertahan hidup.
Namun malam ini terasa beda.
Entah kenapa dada Kirana terus berdebar aneh—bukan debaran jatuh cinta, melainkan debaran ritmik yang cepat, berpacu dengan napasnya yang makin lama makin pendek.
Kepala bagian belakangnya menyengat, seperti ditusuk jarum yang pelan-pelan merembet ke pelipis.
Guna mengalihkan rasa pusing yang makin menjadi, Kirana menggeser kursor ke tab jendela lain di sudut layar.
Di sana, terbuka sebuah platform baca novel daring.
Bab terbaru dari web novel fantasi favoritnya—The Crown of Fallen Stars—sudah diperbarui sejam lalu.
Itu satu-satunya hiburan murah yang sanggup menyelamatkan warasnya di tengah gempuran target kerjaan yang tak ada habisnya.
"Sialan, si Rosalia mainnya kasar banget di bab ini," bisik Kirana lirih, membaca sekilas paragraf demi paragraf cerita. Jarinya menskrol layar pelan-pelan. "Kasihan banget si Evelyn Rosenberg... cuma karena dia anak bangsawan kaya yang tubuhnya ringkih, dia gampang banget dimanfaatin terus dibuang gitu aja pas nggak berguna. Mana jalan ceritanya makin ngawur lagi."
Kirana menggelengkan kepala, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Matanya menatap langit-langit kantor yang serba putih. "Kalau aku yang jadi Evelyn, udah tak obrak-abrik itu alur cerita dari awal. Kasih porsi makan yang bener, usir karakter benalu, terus nikmati duit keluarga Rosenberg yang nggak bakal habis tujuh turunan. Buat apa mikirin jantan nggak berguna kalau punya istana sendiri?"
Kekeh pelan keluar dari tenggorokannya yang kering.
Namun, tawanya terputus seketika.
Rasa sakit luar biasa tiba-tiba menghantam dadanya.
Pandangan Kirana mendadak kabur. Warna-warni di layar monitornya meleleh menjadi garis-garis cahaya putih yang silau.
Jarinya yang mencengkeram pinggiran meja kehilangan tenaga, lalu dengan tak berdaya, dahinya menghantam papan ketik dengan bunyi thud yang lumayan keras.
Cangkir kopi yang tinggal separuh tersenggol sikunya, tumpah membasahi berkas-berkas laporan keuangan.
Namun Kirana tak sempat peduli. Kegelapan merayap sangat cepat.
Aroma pertama yang terhirup saat ia tersadar adalah harum lavender segar bertumpuk dengan wangi mawar hangat, bercampur aroma samar kayu cendana yang mahal.
Napas Kirana berembus pelan.
Enak banget... bau pengharum ruangan siapa ini? Sejak kapan kantor pasang diffuser mahal?
Ia mencoba menggerakkan jemarinya. Sentuhan pertama yang dirasakan kulitnya bukan lagi permukaan meja kayu yang keras, melainkan selimut yang sangat halus dan tebal.
Kasur tempatnya berbaring begitu empuk, seolah-olah seluruh tubuhnya ditopang oleh gumpalan awan.
"Nnggh..." Kirana mengerang kecil, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat.
Dunia di sekitarnya perlahan terbentuk dari bayangan kabur menjadi warna-warna yang lembut.
Pandangannya tertuju pada langit-langit ruangan yang sangat tinggi. Di sana, ukiran relief berbentuk sulur-sulur bunga keemasan melingkari sebuah lampu gantung.
Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat jendela-jendela lengkung berukuran besar, memantulkan kilau keemasan di atas lantai yang mengkilap.
Saat Kirana menoleh ke samping, tiang-tiang kayu berukir berdiri kokoh di empat sudut ranjangnya, menopang kelambu kain renda transparan yang melambai pelan tertiup angin sore.
"Ini... bukan rumah sakit?" gumamnya. Suaranya terdengar sangat asing.
Suara ini halus, tipis, dan terdengar teramat lembut.
Kirana mendudukkan dirinya dengan tergesa-gesa. Namun, baru saja punggungnya terangkat beberapa inci dari kasur, rasa pening luar biasa menghantam kepalanya.
Tubuhnya limbung ke depan, dan dari tenggorokannya mendadak keluar batuk yang menyengat.
Uhuk! Uhuk!
Rasanya seperti ada pasir yang menggores saluran pernapasan. Kirana refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Ketika batuknya mereda dan ia menurunkan tangannya, dadanya hampir melompat keluar.
Di telapak tangannya terdapat bercak darah segar berwarna merah menyala.
"Demi apa... aku batuk darah?" desisnya panik, menatap jarinya yang kecil dan kurus.
Sangat kurus. Kulitnya begitu putih hingga urat-urat biru di punggung tangannya terlihat amat jelas. Ini bukan tangan Kirana—si pekerja keras yang jarinya punya kapalan tipis akibat terlalu sering mengetik.
Ini tangan milik seseorang yang tak pernah menyentuh pekerjaan kasar seumur hidupnya.
Belum sempat rasa paniknya surut, pintu ganda di ujung kamar terbuka lebar dengan suara benturan pelan.
"Evelyn! Ya ampun, Sayang, kamu sudah bangun?!"
Seorang wanita paruh baya dengan gaun warna biru tua berlari masuk.
Gaunnya yang lebar melambai-lambai saat ia bergegas mendekati ranjang. Di belakangnya, mengekor seorang pria paruh baya berambut perak yang mengenakan jas formal potongan klasik, disusul seorang pemuda jangkung dengan seragam ksatria lengkap dengan pedang di pinggangnya.
"Dokter! Panggil Dokter Tristan sekarang!" teriak wanita itu pada pelayan yang berdiri di luar pintu, lalu dengan sigap duduk di tepi ranjang.
Tangannya yang hangat dan lembut langsung menggenggam jemari Kirana yang bernoda darah. Wajah wanita itu penuh kekhawatiran yang begitu nyata, matanya berkaca-kaca. "Putri kecilku... dadamu sakit lagi? Kenapa tidak memanggil kami dari tadi?"
Kirana mematung. Matanya berkedip berulang kali, menatap wanita di depannya, lalu beralih pada pria berambut perak yang kini sudah berlutut di samping ranjang sambil mengusap dahinya dengan sapu tangan.
"Evelyn, Anakku... maafkan Papa. Harusnya Papa tidak mengizinkanmu berjalan-jalan di taman kemarin sore. Udara Utara memang terlalu tajam untukmu," ucap pria berambut perak itu dengan suara berat yang bergetar emosional.
"Dek, jangan takut. Kakak sudah minta pasukan cari bunga embun emas di pegunungan. Obatmu pasti cepat sampai," potong pemuda berbaju ksatria tadi, kini ikut menggenggam tangan Kirana yang satunya lagi.
Wajah tampannya terlihat panik bukan main, seolah-olah jika ia berkedip sekali saja, Kirana bakal menguap jadi debu.
Nama itu. Evelyn.
Dan kombinasi karakter ini... wanita anggun yang penyayang (Duchess Rosenberg), pria perkasa yang matanya basah karena khawatir (Duke Rosenberg), serta kakak laki-laki berwajah ksatria yang protektifnya tak masuk akal (Julian Rosenberg).
Kirana menelan ludahnya yang terasa pahit. Tunggu dulu... jangan bilang...
Ia memutar ingatan terakhirnya sebelum pingsan. Layar laptop. Cerita novel. Tokoh figuran bertubuh ringkih yang hidup bergelimang harta tapi takdirnya mati muda di pertengahan cerita akibat penyakit paru-paru dan manipulasi dari karakter utama.
Evelyn Rosenberg.
"Aku... aku Evelyn?" cicitnya lirih, mencoba memastikan.
Duchess Rosenberg memeluk bahu Kirana dengan hati-hati. "Iya, Sayang. Kamu Evelyn-nya Mama. Ada apa? Kepala kamu pusing lagi? Jangan banyak bicara dulu ya, napasmu masih belum stabil."
Kirana melepaskan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Karpet tebal yang melapisi lantai, lemari kayu berukir emas, gantungan gaun-gaun mewah di sudut ruangan, dan bayangan dirinya sendiri di cermin berdiri yang terletak tak jauh dari kasur.
Di dalam cermin itu, terpantul bayangan seorang gadis remaja akhir berambut perak panjang bergelombang yang terurai berantakan di bahu.
Matanya berwarna ungu jernih, dengan kulit putih dan bibir pucat yang ternoda merah darah.
Cantik luar biasa, tapi kelihatan seperti seseorang yang bisa roboh kapan saja cuma karena tertiup angin agak kencang.
Fix. Ini benar-benar dunia novel The Crown of Fallen Stars. Dan ia sekarang terjebak di dalam tubuh sang figuran kaya raya berpenyakit kronis.
Gila. Ini beneran transmigrasi? Gara-gara lemburan itu aku mati terus masuk ke sini?! batin Kirana menjerit.
Ada rasa ingin mengamuk, tapi di saat yang sama, otaknya mulai berpikir.
Di novel aslinya, Evelyn Rosenberg bakal mati dalam waktu satu tahun ke depan karena penyakitnya sengaja diperburuk oleh racun dosis tipis dari pelayan yang dibayar oleh keluarga saingan.
Setelah Evelyn mati, keluarga Rosenberg yang berduka kehilangan fokus, hingga bisnis tambang kristal mereka diakuisisi secara licik oleh pihak kerajaan dan karakter utama wanita, Rosalia.
Keluarga kaya yang hangat ini pada akhirnya hancur berantakan di penghujung cerita.
Kirana menatap tiga orang di sekelilingnya. Duke Rosenberg masih sibuk mengusap bercak darah di tangan Kirana dengan sapu tangannya dengan raut wajah penuh penyesalan.
Julian menatapnya seolah siap membunuh siapa saja yang membuat adiknya batuk, sementara Duchess terus-menerus mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Di dunia nyata dulu, Kirana adalah anak yatim piatu yang hidup sendiri di kontrakan sempit, berjuang mati-matian demi membayar sewa dan sesuap nasi, sampai akhirnya mati sendirian di meja kerja tanpa ada satu orang pun yang peduli.
Tapi di sini... di tubuh yang ringkih ini... ia punya keluarga yang rela memberikan apa saja asal ia tetap bernapas.
"Evelyn? Kenapa melamun, Nak? Ada yang sakit?" tanya Duke Rosenberg pelan, suaranya sarat akan rasa cemas.
Kirana—yang kini sepenuhnya harus menerima kenyataan sebagai Evelyn—menghirup napas dalam-dalam. Dadanya masih agak nyeri, tapi pikirannya sudah jernih.
Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang membuat wajah pucat itu mendadak terlihat agak bercahaya. Tangannya yang dingin balik membalas genggaman hangat ibunya.
"Nggak apa-apa, Pa, Ma... Evelyn cuma... sedikit bingung aja," sahut Evelyn pelan.
"Evelyn baik-baik aja. Benar-benar baik-baik aja."
Aku nggak bakal biarin tubuh ini mati konyol, janjinya dalam hati.
Aku udah capek kerja keras di dunia lama. Di kehidupan kedua ini, aku punya harta, punya keluarga kaya raya, dan punya pengetahuan soal isi buku ini.
Siap pun yang berniat ngerusak hidup baruku—entah itu si karakter utama, si antagonis, atau alur cerita busuk ini sekalian—aku bakal hadapi semuanya.
Evelyn menyandarkan kepalanya ke dada ibunya, merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan seumur hidupnya di dunia nyata.
semangat nulisnya 💪