Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Mantan Ratu… lama tak berjumpa. Rupanya waktu lebih kejam padamu daripada takhta yang pernah kau duduki," sambut Grand Duchess dengan senyum penuh ejekan pada Davira.
"Kau tampak jauh lebih tua dibanding terakhir kali kita bertemu," lanjutnya, mata hitamnya berkilat penuh ketidaksukaan menatap Davira.
Davira menegakkan punggungnya, menatap wanita tua itu dengan sikap tenang—entah kali ini dialah yang akan ditaklukkan, atau justru sebaliknya. "Senang bisa menjadi bagian dari keluarga Orion. Dan anda sendiri…" bibirnya melengkung tipis, "Tak terlihat lebih tua dari delapan puluh tahun."
Ia memberi hormat, seolah tengah berbicara pada seorang Ratu.
"Ah!" Grand Duchess terpekik geram, wajahnya memerah. "Delapan puluh tahun!? Berani sekali kau, nak! Ketahuilah, aku bahkan belum tujuh puluh lima!"
"Oh ya ampun, angin wilayah utara memang kencang dan dingin sekali… hingga merusak kulit kencang Anda, Yang Mulia." Davira tersenyum manis seakan-akan ia berbicara tanpa maksud buruk.
Grand Duchess mendengus keras, tangannya yang berbalut sarung tangan bergetar menahan marah. Tatapannya lalu beralih tajam kepada Elliot.
"Kau!" bentaknya lantang. "Jauh-jauh melakukan perjalanan untuk menemui Raja… lalu berakhir menikahi mantan istrinya!?"
Elliot terdiam, sementara Davira masih berdiri tegak dengan senyum samar—seolah menikmati setiap percikan amarah yang berhasil ia ciptakan.
"Kau bisa saja menikahi Lady Angus, anak peternak kuda di Orion, kalau memang menginginkan wanita berambut pirang seperti ini!" seru Grand Duchess lantang, telunjuknya menusuk udara seakan hendak menuding Davira. "Wanita yang suka bertingkah ini… kau tahu, dia pasti akan mati saat melahirkan!"
Suasana halaman kastil seketika mencekam. Pelayan dan prajurit yang berjajar menunduk, menahan napas, sementara Grand Duke dan Elliot saling berpandangan. Hinaan itu dilemparkan terang-terangan, tepat di hadapan semua orang.
Davira tetap berdiri tegak, dalam hati ia berpikir—“Sungguh sambutan yang mempesona…” Namun Grand Duchess belum selesai menumpahkan amarahnya.
Belum reda kemarahan Nana, pintu besar berderit terbuka. Seorang gadis muda berambut merah menyala dengan mata hijau emerald melangkah keluar. Senyumnya sumringah, seakan cahaya musim semi baru saja memenuhi ruangan.
Wanita itu menundukkan kepala dengan anggun, lalu matanya langsung berbinar begitu bertemu pandang dengan Elliot.
"Elliot…" ucapnya lirih penuh kehangatan, senyum itu tak dapat ia sembunyikan.
Dialah Miss Duncan, wanita pilihan Grand Duchess—calon istri pilihan Grand Duchess Orion yang dianggap paling pantas bagi Elliot. Lebih dari itu, ia adalah teman masa kecil Elliot, seseorang yang dahulu selalu berjalan bersamanya di taman kota Orion.
Grand Duchess tersenyum puas, melirik Davira dengan tatapan kemenangan. Sementara Davira hanya berdiri tegak… tapi dadanya bergetar halus menahan badai yang baru saja datang.
Davira tahu persis siapa wanita di hadapannya itu. Ingatan dari kehidupan yang lalu berkelebat—wanita inilah yang akhirnya menjadi istri Elliot. Wanita yang dengan mudahnya meninggalkan Elliot saat suku Avarian mulai mengancam kota Orion, meninggalkan sang pahlawan dalam kehancuran.
Senyum manis Miss Duncan kini terasa seperti bayangan masa lalu yang datang menagih luka.
Grand Duchess melangkah maju, kedua tangannya terulur menyambut hangat kehadiran gadis berambut merah itu.
"Elliot, kamu pasti masih mengingat Miss Duncan… teman masa kecilmu," katanya dengan nada manis, namun sarat maksud.
Miss Duncan tersipu, pipinya merona, jelas hatinya berbunga melihat pria yang dulu pernah ia kenal begitu dekat.
Elliot menatapnya sesaat. Tidak ada riak gembira di wajahnya, tidak pula raut benci—hanya tatapan biasa. Ia melangkah maju, membungkuk sedikit dengan sopan.
"Miss Duncan," sapanya singkat. Dengan gerakan seorang gentleman, ia menyentuh jemari halus itu lalu mengecupnya ringan.
Senyum Fiona kian merekah, matanya berkilat penuh nostalgia. "Tidak perlu terlalu formal, Elliot. Kita sudah lama saling mengenal. Panggil saja aku seperti dulu… Fiona."
Elliot menatapnya sejenak, seolah mencari sesuatu di balik senyum itu, lalu akhirnya mengangguk perlahan. "Ah, benar… Fiona. Maaf, hampir saja aku lupa."
Grand Duchess tersenyum puas, hendak membuka mulut untuk menyuruh Elliot menemani Fiona.
Namun Elliot sudah lebih dahulu menangkap maksud sang nenek. Ia menunduk sedikit, suaranya tenang namun tegas. "Aku cukup lelah, Nana. Izinkan aku memperkenalkan istriku pada rumah barunya." Tangannya terulur mantap ke arah Davira.
Davira tertegun. Ia sama sekali tak menyangka Elliot tidak mengabaikannya di depan semua orang. Jantungnya berdebar, namun segera ia menyambut tangan itu.
"Tentu saja," jawabnya lirih, meski dalam hati ia hanya ingin segera menjauh dari tatapan dingin Grand Duchess.
Elliot dan Davira melangkah memasuki kastil, meninggalkan aula yang masih dipenuhi bisikan.
Grand Duchess—hanya bisa tertegun, tak percaya atas keberanian sang cucu menolak kehendaknya di depan semua orang. Sementara itu, Fiona berdiri terpaku, senyum manis yang tadi mekar kini meredup. Cahaya biru di matanya seketika surut, berganti kekecewaan yang tak mampu ia sembunyikan saat tahu Elliot telah beristri.
******
Kastil Orion berdiri dengan pintu besar dari kayu Oak yang berat, menganga lebar menuju sebuah ruang penghubung yang cukup luas untuk menyambut seorang raja beserta seluruh bangsawannya.
Langit-langit melengkung tinggi jauh di atas kepala, lengkungannya disanggah oleh batu-batu tua yang tampak kokoh, meski berdebu dan penuh noda usia.
Davira mengangkat pandangannya pada salah satu permadani. Gambar seorang kesatria gagah di atas kuda terlukis di sana, warnanya mulai pudar ditelan waktu.
"Kala itu, tanah ini dibanjiri mayat para pemuda," suara Elliot terdengar datar, bergema di ruang kosong. "Permadani ini dijadikan peringatan atas penyelamatan wilayah utara dari penjajahan suku Avarian."
Hawa dingin menggantung di udara, tipis tapi menusuk, seperti napas masa lalu yang masih enggan pergi. Davira bergidik. Hidup di dalam kastil seorang Duke, rupanya tidak seromantis yang sering ia dengar dalam dongeng.
Kemudian Elliot menggenggam jemarinya, menuntunnya melewati sebuah pintu di sebelah kanan. Di baliknya terbentang ruang duduk yang hangat dan terang, cahaya api berkilat dari kompor besi yang ditempatkan di perapian besar dari batu.
Ruang itu, meski sederhana, tidak jauh berbeda dengan ruang duduk yang pernah Davira lihat di kerajaan Nether.
"Ayahku sangat modern," jelas Elliot sambil menatap sekeliling dengan nada bangga.
"Ia terpesona dengan penemuan-penemuan ilmiah dari negeri Semeru. Karena itu, ia memasang beberapa kompor buatannya mereka di kastil ini. Pemanas ini bisa menghasilkan air panas jauh lebih cepat dan praktis. Kau akan merasakannya nanti saat mandi. Untuk sekarang… bagaimana kalau kuperlihatkan kamar tidurmu?"
Davira hanya mengangguk pelan, mengikuti langkah Elliot hingga tiba di ruang tidur utama.
Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada ranjang besar yang mendominasi ruangan. Di atasnya tergantung kanopi berhiaskan sulaman bunga aneka warna—benang-benang halusnya jelas hasil karya seorang ahli.
"Indah sekali…" gumam Davira kagum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...