👉KHUSUS CERITA SANTAI‼️
"BANGKIT TANPA DANTIAN!!
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 pasukan elit klan yujin bergerak, yefan jadi buronan kelas tinggi.
Melihat pembantaian yang baru saja dilakukan Yefan, Jiun Yi menahan napas seraya menarik napas dingin. Tatapannya tertuju pada pemandangan mengerikan di hadapannya, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi setelah ini.
"Bukankah tindakan Yefan yang gila ini akan membuat puluhan keluarga besar murka setengah mati?!" batin Jiun Yi.
Bagaimana tidak?
Di antara ratusan orang yang baru saja dibantai oleh Yefan, terdapat puluhan tuan muda keluarga berpengaruh serta para pebisnis besar di Kota Kekaisaran yang memiliki latar belakang cukup kuat. Kematian mereka tentu tidak akan berlalu begitu saja.
"Lihat komplotanmu! Lihat apa yang dilakukan iblis itu!" teriak Penatua Yan Feng dengan nada melengking penuh kebencian. "Tindakannya telah memprovokasi puluhan keluarga besar sekaligus! Keluarga Ji-mu... apakah kalian sanggup menanggung semua kekacauan ini?!"
BOOM! BOOM!
Alih-alih menanggapi gertakan itu, Jiun Yi tanpa ragu melayangkan tamparan keras ke kepala Penatua Yan Feng dan Yunan Zili hingga keduanya terkapar pingsan seketika.
"Hmph! Apa gunanya Keluarga Ji-ku menduduki peringkat kedua jika tidak sanggup mengatasi sekelompok keluarga penjilat?" dengus Jiun Yi dingin sambil menatap perahu kertas di genggamannya.
Beberapa saat berlalu.
Setelah amarahnya sedikit mereda, Yefan yang masih dilingkupi duka mendalam mulai memapah jasad ibunya yang telah terbujur kaku.
Ia melangkah perlahan menuju Desa Fulmun dengan berjalan kaki, sepenuhnya mengabaikan luka-luka parah yang masih merobek tubuhnya sendiri.
Setiap langkah terasa begitu berat.
Di sepanjang perjalanan, Yefan sesekali terbatuk hebat, memuntahkan darah segar yang tanpa sengaja membasahi wajah sang ibu.
Dengan tergesa-gesa dan penuh rasa bersalah, Yefan segera menyapu dan membersihkan noda darah itu.
Namun, ketika menatap raut wajah pucat sang ibu yang masih menyisakan ketakutan dan penderitaan, hati Yefan kian teriris-iris.
"Ibu... kau sudah terlalu banyak menderita... Aku memang anak tak berguna..." batin Yefan pilu.
Jiun Yi yang berjalan membuntutinya dari belakang hanya bisa terdiam dalam keheningan.
Meskipun di dalam lubuk hatinya ia sangat membenci Yefan atas apa yang telah dilakukannya terhadap adiknya, kini hatinya sedikit tersentuh saat menyaksikan sendiri tragedi memilukan yang beruntun menimpa Yefan.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa begitu panjang, Yefan akhirnya tiba di depan gerbang Desa Fulmun.
Niatnya hanya satu: memakamkan jasad ibunya di samping makam sang ayah.
Namun, tepat di ambang gerbang desa, Yefan menghentikan langkahnya.
Di sana, seluruh warga Desa Fulmun telah berkumpul rapat dan memblokir jalan.
"Itu dia! Dialah Yefan! Si pembawa sial yang menyebabkan kematian Kepala Desa dan hampir memusnahkan desa kita!" teriak salah seorang warga dari tengah kerumunan.
Rupanya, kabar mengenai pertempuran sengit Yefan saat merebut jasad ibunya telah sampai ke telinga mereka.
"Ya, benar! Itu orangnya! Keparat! Pergi dari Desa Fulmun! Cepat pergi dan jangan pernah kembali!"
Teriakan warga desa bersahut-sahutan secara serentak.
Beberapa orang mulai melempari Yefan dengan batu, kotoran, hingga makanan busuk.
Yefan hanya berdiri terpaku.
Ia menatap mereka dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan.
"Apakah... apakah semua malapetaka ini memang karena diriku?" batin Yefan hancur saat menyadari Kepala Desa telah tewas dan desanya nyaris rata dengan tanah.
Tiba-tiba, kerumunan warga dengan cepat membuka jalan.
Dua orang pria melangkah keluar seraya menggotong sebuah peti mati kayu.
Setibanya di hadapan Yefan, mereka meletakkan peti mati itu begitu saja di hadapannya.
Bruk?
"Yefan! Ini peti mati jasad ayahmu!" bentak salah seorang dari mereka. "Kami tidak sudi menerima pendosa sepertimu yang hampir memusnahkan Desa Fulmun! Cepat pergi dari sini!"
Pria itu adalah seorang tabib tua—pria pengobat tradisional yang dahulu pernah berjuang keras membantu keluarga Yefan saat berusaha mencabut tanduk hitam yang menancap di dada ayah Yefan.
"Pergi!" teriak tabib tua itu sekuat tenaga. "Kau tahu?! Kau telah menyinggung Keluarga Yujin dengan membunuh pewaris mereka! Dan sekarang, kau bahkan menyandera Penatua Yan Feng serta Tuan Muda Yunan Zili! Keberadaanmu di desa ini tidak lebih dari sebuah kutukan bagi kami! Keluarga Yujin pasti akan membalas dendam dan menghancurkan tempat ini bila kau berada di desa kami! Pergi dari sini! Kami tidak ingin terlibat dalam dosamu!"
Teriakannya menggema di seluruh gerbang desa.
Yefan tertegun seketika.
Hatinya membeku melihat perlakuan warga yang tega membongkar makam dan mengeluarkan peti mati ayahnya sendiri.
Kakek tabib tradisional yang dulu bertetangga dekat dengannya kini menatapnya dengan kebencian mendalam—bahkan melampiaskan kebencian itu pada jasad ayahnya serta sang ibu.
Amarah Yefan sempat membakar dadanya saat melihat makam ayahnya digali begitu saja.
Tangannya mengepal erat.
Namun, Yefan sadar bahwa ia tak bisa melakukan apa pun.
Meskipun dengan kekuatannya saat ini ia sanggup menghabisi seluruh warga desa, mereka pada dasarnya tidak bersalah.
Mereka hanya rakyat biasa yang ingin hidup tenang.
Sementara dirinyalah yang telah membawa malapetaka ke tempat ini.
Dilandasi rasa bersalah yang begitu besar, Yefan dengan tubuh gemetar menggendong jasad sang ibu di lengan kirinya dan memikul peti mati sang ayah di pundak kanannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik pergi.
Ia meninggalkan Desa Fulmun diiringi sorak makian, teriakan murka, dan hinaan dari orang-orang yang membencinya.
Jiun Yi yang menyaksikan seluruh adegan memilukan itu hanya bisa terdiam dan mengikuti Yefan dari kejauhan.
Sementara itu, di sebuah kediaman megah di Kota Kekaisaran—tepatnya di Aula Utama Keluarga Yujin.
"Brengsek! Akan kubuat hidupmu lebih buruk dari kematian!" jerit seorang pria setengah baya penuh murka.
BOOM!
Aura puncak Alam Transenden meletus hebat.
Meja ukir dan berbagai barang berharga di dalam aula hancur seketika hingga menjadi abu.
Lima orang tetua yang berdiri di sekelilingnya tunduk gemetar ketakutan menyaksikan kewibawaan dan amarah sang Patriak, Yujin Huo.
Meskipun sang Patriak hanya berada di Alam Transenden puncak, di genggamannya terdapat Token Leluhur generasi terdahulu—sebuah simbol kekuasaan tertinggi sebagai Pemimpin Keluarga.
Siapa pun yang menentang titahnya dapat dieksekusi seketika menggunakan kekuatan token tersebut.
Itulah mengapa wibawa Patriak begitu ditakuti, meskipun tingkat kultivasinya berada di bawah para tetua.
"Patriak... Dari hasil penyelidikan kami, Keluarga Ji tampaknya ikut campur dalam dendam berdarah ini melalui Tuan Muda Jiun Yi," ujar salah seorang tetua seraya membungkuk hormat.
"Keluarga Ji..." gumam Yujin Huo dengan pancaran niat membunuh yang pekat.
Namun, ia dengan cepat meredam gejolak itu.
Ia cukup tahu diri dan gentar akan reputasi serta prestise Keluarga Ji yang menyandang gelar keluarga terkuat nomor dua di Kota Kekaisaran.
Meski demikian, Yujin Huo sama sekali tidak berniat menghentikan perburuan terhadap Yefan—selama mereka tidak membahayakan keselamatan Tuan Muda Jiun Yi.
"Kerahkan seluruh pasukan elit keluarga! Cari bocah bermarga Ye yang telah membunuh putraku serta menyandera Kakak Yan Feng dan putraku Yunan Zili!" teriak Yujin Huo kepada seorang komandan berzirah perak.
"Pastikan kalian membawa Yefan hidup-hidup ke hadapanku! Biar aku sendiri yang akan mengulitinya!"
"Dan ingat," lanjut Yujin Huo dengan penekanan dingin, "jangan sekali-kali menyentuh Tuan Muda Jiun Yi jika ia pasang badan melindungi Yefan! Cukup tahan dan batasi pergerakannya saja!"
"Lalu bagaimana dengan Keluarga Ji kelak, Patriak?" sela sang penasihat keluarga dengan raut cemas.
"Tidak perlu khawatir," gumam Yujin Huo sinis.
"Dengan aturan kota yang tertera di dekrit kaisar, Keluarga Ji tidak akan pernah menyerang keluarga kita secara terbuka. Mereka hanya sedang bermain politik—memanfaatkan dendam pribadi Yefan untuk menguji atau melemahkan kekuatan keluarga kita."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Selama kita tidak melukai Tuan Muda mereka, Keluarga Ji tidak punya alasan resmi untuk berperang dengan Keluarga Yujin demi menguasai tanah sumber daya keluarga kita!"
"Cepat laksanakan!"
"Siap! Kami akan melaksanakan titah Patriak!" jawab sang komandan berzirah perak dengan penuh keyakinan.
Meskipun Yefan dikabarkan sanggup menumbangkan Penatua Yan Feng yang berada di Alam Roh awal, sang komandan tetap merasa dirinya mampu menangkap Yefan.
Sebab, dari laporan yang diterima, Yefan telah menderita luka-luka yang sangat parah setelah pertarungan tersebut.
Terlebih lagi, ia tidak akan bergerak sendirian, melainkan membawa delapan ratus pasukan elit di bawah komandonya untuk memburu pemuda itu.
Di sudut lain Kota Kekaisaran, terdapat sebuah taman rindang yang dikelilingi pohon-pohon tua. Bayangannya menyelimuti separuh kolam besar yang berisikan ikan beraneka warna.
Seorang pria paruh baya tampak sedang menikmati waktunya memancing sambil mendengarkan laporan rahasia dari bawahannya.
Entah apa informasi detail yang disampaikan oleh sang bawahan, pria paruh baya itu tiba-tiba menyunggingkan senyuman tipis.
"Patriak Yujin Huo rupanya cukup berwawasan..." gumam pria itu pelan.
"Lalu, apakah kita perlu bergerak untuk membantu, Tuan?" tanya sang bawahan.
"Tidak perlu," jawab pria itu tenang sambil memainkan perahu kertas di tangannya.
"Dari pesan yang kuterima, bocah bermarga Ye itu sangat licik... dan memiliki kemampuan yang aneh."
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Setelah mengetahui Jiun Yi terpaksa menjadi budaknya dan Keluarga Ji tidak bisa berbuat apa-apa dengannya, cukup awasi pergerakannya secara diam-diam."
"Baik, Tuan."
Seketika, sosok bawahan tersebut lenyap, menyatu dalam bayangan kegelapan.
"Yefan... Kuharap kau tidak menyalahkanku karena telah menjadikanmu sebagai bidak catur dalam permainan ini," gumam pria paruh baya itu seraya kembali melemparkan umpan pancingnya ke kolam.
Beberapa hari kemudian...
Kota Kekaisaran yang begitu luas mendadak digemparkan oleh kabar mengenai seorang pemuda bermarga Ye.
Nama pemuda itu menjadi buah bibir setelah ia membunuh Tuan Muda Yulin Zou sang pewaris, serta menyandera pewaris berikutnya dan Penatua Yan Feng, saudara kandung Pemimpin Keluarga.
Semua orang terkejut akan keberaniannya memprovokasi keluarga sekelas Keluarga Yujin.
Di setiap kedai makan, toko senjata, paviliun, hingga kedai teh, topik utama perbincangan hanyalah pemuda bermarga Ye tersebut.
Bahkan di tiang-tiang utama jalanan, papan pengumuman, hingga pepohonan kota, terpampang lukisan wajah Yefan sebagai buronan kelas atas dengan imbalan fantastis: satu juta Tael perak bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya dalam keadaan hidup.
Tak berhenti di situ.
Puluhan keluarga besar lainnya turut memasang sketsa wajah Yefan dengan harga buronan yang tak kalah tinggi.
Mereka adalah faksi-faksi yang kehilangan para tuan muda mereka akibat pembantaian di tangan Yefan sebelumnya.
Kini, Kota Kekaisaran mendidih.
Para kultivator dari berbagai keluarga, tentara bayaran, hingga masyarakat biasa di pinggiran kota berbondong-bondong merencanakan perburuan demi mengincar hadiah satu juta Tael Perak.
Meski rasa takut membayangi mereka akibat cerita mengenai reputasi dan kekuatan mengerikan Yefan yang telah tersebar, keserakahan akan harta membuat mereka membutakan mata terhadap segala konsekuensinya.
(Bersambung)
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏