Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Enam bulan berlalu sejak malam kelulusan yang mengguncang SMA Nusantara.
Kehidupan kampus di Universitas Indonesia berjalan dengan ritme yang jauh lebih dinamis. Taman-taman hijau yang rindang, deretan gedung fakultas bergaya modern, dan lalu lalang mahasiswa dengan jaket kuning khas menjadi pemandangan baru bagi Kirei dan Arka.
Di kantin Fakultas Hukum yang riuh, Kirei duduk di dekat jendela kaca besar, memandangi layar laptopnya. Sebagai mahasiswi baru jurusan Hukum dengan predikat beasiswa penuh, jadwal Kirei dipenuhi tumpukan jurnal ilmiah dan analisis kasus.
"Fokus banget, Bu Ketua... eh, Mbak Mahasiswi," sebuah suara bass meluncur santai di sampingnya.
Kirei mendongak, menyunggingkan senyum manis yang seketika meluluhkan kelelahan di wajahnya.
Arka berdiri di sana, mengenakan jaket hoodie abu-abu dengan tas ransel tersampir di satu bahu. Rambutnya sedikit berantakan—gaya khas Arka yang justru membuatnya kian digandrungi mahasiswi Fakultas Teknik. Di tangan kanan Arka, terdekatang satu cangkir vanilla latte hangat kesukaan Kirei.
"Arka! Kok udah selesai kelasnya?" Kirei menggeser tasnya, memberikan ruang untuk Arka duduk di sampingnya.
"Dosennya ada rapat jajaran dekan," Arka duduk santai, meletakkan kopi di dekat laptop Kirei, lalu tanpa ragu mengecup pipi Kirei pelan—membuat dua mahasiswi di meja sebelah menahan pekikan gemas.
Pipi Kirei merona merah. "Arka! Ini kantin ramai, ih!"
"Biarin. Biar cowok-cowok teknik dan hukum tahu kalau mahasiswi berprestasi ini udah ada yang punya," jawab Arka santai, menyandarkan punggungnya seraya menyunggingkan seringai miringnya yang penuh kemenangan.
Kirei menggeleng-gelengkan kepala, namun tangannya terulur menggenggam erat jemari tegap Arka di atas meja. Kehidupan pernikahan mereka yang kini dijalani secara terbuka terasa jauh lebih hangat dan tanpa beban. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi sembunyi-sembunyi di lorong sekolah.
Namun, ketenangan itu mendadak terusik saat ponsel Arka di atas meja bergetar kencang.
Bukan notifikasi pesan biasa. Itu adalah panggilan panggilan video terenkripsi dari Tuan Wijaya.
Arka dengan cepat menggeser layar, menegakkan posisi duduknya. Kirei mendekatkan wajahnya ke layar ponsel.
"Arka, Kirei... kalian berdua bisa ke rumah Kakek sekarang?" suara Tuan Wijaya di seberang telepon terdengar tidak seperti biasanya. Ada nada tegang dan getaran halus yang sarat akan keseriusan.
Kirei menyipitkan mata, firasat mulainya bekerja. "Ada apa, Kek? Kakek sakit?"
"Kakek sehat, Kirei," Tuan Wijaya menghela napas panjang. "Tapi sepuluh menit yang lalu... seorang kurir khusus dari pengadilan Singapura mengantarkan sebuah brankas kecil peninggalan Almarhum Ayah Arka."
Arka membeku seketika. Nama sang ayah—pria yang selama ini diyakininya tewas dalam kecelakaan bisnis tragis yang dipicu oleh konflik keluarga—bagaikan sengatan listrik yang menghantam kesadarannya.
Pukul 15.30 WIB.
Kediaman utama Keluarga Wijaya disambangi suasana hening yang begitu pekat. Di ruang kerja Tuan Wijaya yang berdinding kayu jati tua, sebuah brankas besi berukuran sedang berwarna hitam melapisi meja kaca.
Tuan Wijaya duduk di kursi kebesarannya, menatap brankas itu dengan pandangan sarat luka masa lalu.
Arka dan Kirei melangkah masuk, mengunci pintu ruang kerja dari dalam.
"Kurir itu menyerahkan brankas ini setelah proses verifikasi DNA Almarhum Ayah kamu selesai di Singapura," jelas Tuan Wijaya pelan, menggeser brankas itu ke hadapan Arka. "Hanya sidik jari Arka yang bisa membukanya."
Arka memandangi brankas besi dingin itu. Jemarinya yang tegap gemetar tipis. Bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah atas kematian ayahnya, memikul beban kebencian dari ibunya, Eleonora.
Kirei menggenggam bahu Arka dari belakang, menyalurkan kehangatan dan ketenangan. "Gue ada di sini, Arka."
Arka menarik napas dalam-dalam. Ia mengangguk rapat, lalu menempelkan ibu jarinya ke pemindai biometrik di permukaan brankas.
BEEP... CLICK!
Lampu indikator brankas berubah hijau. Pintu besi tebal itu terbuka perlahan secara otomatis.
Di dalam brankas, tidak ada batangan emas atau tumpukan uang tunai. Hanya ada sebuah flashdisk enkripsi berbahan titanium dan sebuah amplop kertas cokelat tua yang sudah agak menguning di pinggirannya.
Arka meraih amplop kertas itu. Di bagian depan, tertera tulisan tangan tebal yang sangat rapi:
"Untuk Putraku, Arka Wijaya Aditama. Buka saat kamu telah menemukan seseorang yang ingin kamu lindungi seumur hidupmu."
Dada Arka berdesir hebat. Dengan perlahan, ia merobek segel amplop itu dan mengeluarkan selembar surat bertinta hitam. Kirei membungkuk sedikit, membaca isi surat itu bersama Arka.
Arka, putraku yang sangat Papa banggakan...
Jika kamu membaca surat ini, artinya Papa sudah tidak lagi berada di sisimu. Dan Papa yakin, kamu sudah tumbuh menjadi pria tegap yang kuat dan bertanggung jawab.
Papa tahu, ibumu dan keluarga Hartono mungkin telah menceritakan kisah yang salah tentang kematian Papa. Mereka mungkin menyalahkanmu, atau memanfaatkan rasa bersalahmu untuk menguasai aset.
Jangan percaya pada mereka, Arka.
Kecelakaan yang menimpa Papa bukan karena kelalaianmu. Papa sengaja memalsukan sebagian dokumen dan menyembunyikan bukti rahasia ini karena Papa menemukan konspirasi terbesar yang melibatkan sindikat bisnis internasional—sindikat yang selama ini memanfaatkan Hartono Corp dan Wijaya Corp sebagai kedok.
Kunci utama dari seluruh rahasia dan aset tersembunyi yang Papa tinggalkan berada di dalam flashdisk ini. Namun ingat, Arka... ada satu pihak lagi yang selama ini bersembunyi di balik bayangan seluruh musuhmu.
Dialah dalang sebenarnya di balik kejatuhan keluarga kita. Seseorang yang sangat dekat dengan Keluarga Wijaya... seseorang yang selama ini dipanggil 'Paman' oleh Kirei.
Lindungi Kirei, Arka. Karena dialah pemegang kunci enkripsi terakhir.
Dengan kasih sayang penuh, Ayah.
BRAK!
Gelas teh di tangan Tuan Wijaya jatuh terlepas ke lantai marmer, pecah berkeping-keping!
Wajah Tuan Wijaya mendadak pucat pasi seperti mayat. Matanya terbelalak lebar menatap baris kalimat terakhir surat tersebut.
"P-Paman... Kirei?" bisik Tuan Wijaya dengan suara yang terputus-putus oleh syok yang teramat sangat. "Gak mungkin... Hendra?!"
Kirei membeku di tempatnya. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak seketika. Paman Hendra—adik kandung ayahnya yang selama ini tinggal di luar negeri dan selalu mengirimkan dukungan finansial serta hadiah untuk Kirei sejak kecil?
"Arka..." bisik Kirei, matanya berkilat penuh keraguan dan kepanikan yang mendalam. "Paman Hendra kan... orang yang menyuruh kita memakai pengacara pribadi minggu lalu untuk verifikasi aset Kakek!"
Arka dengan cepat menyambar flashdisk titanium di dalam brankas, menyolokkannya ke laptop kerja milik Tuan Wijaya.
Di layar monitor, sebuah layar sistem keamanan merah berkedip kencang:
"PERINGATAN: SINKRONISASI DATA ASET WIJAYA CORP SEDANG DITELUSURI SECARA ILEGAL OLEH PERANGKAT EKSTERNAL: HENDRA_WIJAYA_MACBOOK_PRO."
Detik itu juga, seluruh lampu di kediaman utama Wijaya mendadak padam total!
Keheningan yang mencekam kembali melingkupi rumah besar itu. Dari arah halaman luar, suara deru mesin tiga mobil hitam terdengar berhenti tepat di depan pagar utama, diiringi langkah kaki tegap yang mengepung kediaman mereka.
Arka menarik Kirei ke belakang tubuhnya dalam satu gerakan refleks yang sangat protektif. Iris cokelat pekatnya memancarkan kilat bahaya yang paling pekat yang pernah ada.
"Kirei, tetap di belakang gue," bisik Arka, suaranya sangat dingin membelah kegelapan. "Badai yang sebenarnya... baru saja dimulai."