Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat dari Masa Lalu
“Christine?”
Suara lembut itu menarikku kembali dari lamunanku. Aku mengerjapkan mata dan menoleh. Meg berdiri di hadapanku dengan ekspresi cemas.
“Christine, kau baik-baik saja?”
“Hah?”, Aku menatapnya beberapa saat dan ya, aku kembali ke tempat ini. Gedung opera dan seisinya.
“Kau bicara padaku?”
Meg menghela napas kecil, “Ya, Christine. Kepada siapa lagi aku berbicara?”
Aku tersenyum canggung, “Oh... maaf.”
Meg memiringkan kepalanya.
“Akhir-akhir ini kau sering melamun.”
“Apakah... begitu?”
Aku sendiri baru menyadarinya. Entah mengapa, pikiranku terasa berat sejak perjamuan malam itu.
Sosok bertopeng.
Mawar merah.
Tatapan dinginnya.
Semua itu masih tersimpan jelas dalam ingatanku.
Namun semakin keras aku berusaha mengingatnya, semakin samar pula semuanya terasa.
Meg menepuk lenganku pelan, “Baiklah. Kita berhenti membicarakan itu.”
Ia menunjuk pakaian yang tergantung di dekatku.
“Ayo, coba kostum barumu. Aku ingin melihat apakah ada bagian yang perlu diubah.”
Aku mengangguk.
Kata-katanya mengingatkanku pada sesuatu yang jauh lebih penting.
Pertunjukan.
Hari ini kami akan memainkan Faust.
Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha menyingkirkan semua pikiran yang mengganggu.
Aku harus berkonsentrasi.
Aku harus mengingat dialog.
Aku harus menyanyi.
Aku harus tampil.
Faust merupakan salah satu opera terkenal karya komponis Prancis Charles Gounod, dengan libretto yang ditulis oleh Jules Barbier dan Michel Carré. Karya tersebut diadaptasi dari Faust, Part One milik Johann Wolfgang von Goethe dan mengisahkan kisah tragis Faust serta Marguerite, seorang perempuan muda yang kehidupannya berubah setelah Faust, dengan bantuan Mephistopheles, mengejarnya.
Opera tersebut pertama kali dipentaskan di Théâtre Lyrique, Paris, pada 19 Maret 1859.
Kisah tentang Faust dan Marguerite telah lama dikenal oleh masyarakat Paris.
Namun setiap kali opera itu dipentaskan, selalu ada sesuatu yang membuat penonton kembali terpikat.
Mungkin karena kisahnya berbicara tentang sesuatu yang sangat manusiawi.
Cinta.
Keserakahan.
Godaan.
Dan harga yang harus dibayar seseorang ketika ia mempertaruhkan jiwanya.
Aku memandangi kostum yang diberikan kepadaku, “Terima kasih.”
Meg tersenyum, “Sekarang coba kenakan.”
Aku masuk ke ruang ganti dan beberapa saat kemudian keluar dengan kostum yang telah disiapkan.
Meg segera mendekat.
Ia memperhatikan bagian pinggang, lengan, dan bahuku dengan mata seorang ahli yang tidak akan membiarkan satu jahitan pun berada di tempat yang salah.
“Hm.”
Ia mengitari tubuhku.
“Coba berdiri tegak.”
Aku menurut.
Meg merapikan bagian pinggang gaunku.
“Ini lebih cocok untukmu.” Ia menarik sedikit kain di sisi tubuhku.
“Kurasa kita hanya perlu memperbaiki beberapa jahitan di bagian pinggang.”
Ia mengambil jarum dan benang.
“Diam sebentar.”
Aku tertawa kecil.
“Bukankah ini sudah cukup bagus?”
“Tidak.”
Meg menjawab tanpa ragu.
“Seorang penari bisa saja terlihat sempurna dari kejauhan, tetapi satu benang yang terlepas dapat merusak seluruh penampilan.”
Ia mulai bekerja.
“Aku menemukan beberapa kostum penari yang jahitannya lepas setelah pertunjukan terakhir.”
“Pantas saja kau begitu teliti.”
“Tentu saja.”
Meg tersenyum puas.
Aku memperhatikannya bekerja.
Suara benang yang ditarik.
Gesekan kain.
Suara langkah orang-orang di lorong.
Entah mengapa, semua itu membuatku merasa tenang.
Meg selalu memiliki cara untuk membuatku kembali ke kenyataan. Untuk sesaat, aku melupakan sosok hitam yang muncul pada malam perjamuan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Meg berhenti menjahit.
“Christine.”
“Hm?”
“Ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini, bukan?”
Aku terdiam.
Meg menatapku melalui pantulan cermin.
“Kau terus tenggelam dalam pikiranmu sejak malam perjamuan.”
Ia meletakkan jarum di atas meja.
“Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, kau bisa menceritakannya kepadaku.”
Aku menunduk. Beberapa saat aku hanya diam. Kemudian aku mengumpulkan keberanian.
“Aku melihat seseorang malam itu.”
Meg mengerutkan kening.
“Seseorang?”
“Ya.”
Aku menarik napas.
“Dia terlihat aneh. Aku tidak yakin dia salah satu pekerja di gedung opera.”
Meg menatapku dengan serius.
“Seperti apa?”
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”
Aku memejamkan mata sejenak.
“Dia mengenakan pakaian hitam. Jubah panjang.”
Aku mengingat kembali bayangan itu.
“Dan wajahnya...”
Aku berhenti.
“Dia memakai topeng putih.”
Meg perlahan berdiri.
“Topeng?”
Aku mengangguk.
“Dan ada mawar merah di dadanya.”
Wajah Meg berubah, “Mawar merah?”
Aku menatapnya, “Ya.”
Meg menelan ludah, “Christine...”
“Apa?”
“Apakah kau melihat Phantom?”
Aku mengerutkan kening, “Aku tidak yakin.”
Aku mencoba mengingat wajah itu.
“Tapi dia terlihat seperti manusia.”
Aku tertawa kecil untuk meredakan ketegangan.
“Bukankah hantu seharusnya terlihat lebih... menyeramkan?”
Meg tidak ikut tertawa.
“Tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa sebenarnya Phantom.”
Ia kembali duduk.
“Dia sering mengubah penampilannya.”
“Benarkah?”
“Beberapa orang mengatakan mereka melihat kerangka berjalan.”
Meg menurunkan suaranya.
“Yang lain mengaku melihat bola api melayang di lorong.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Bola api?”
“Begitulah yang mereka katakan.”
Meg menarik napas.
“Phantom adalah bagian dari gedung opera ini.”
“Bagian?”
“Orang-orang sudah mencoba menyingkirkannya selama bertahun-tahun. Tetapi tidak ada yang berhasil.”
Ia menatapku dengan serius, “Dia selalu kembali.”
Aku diam.
“Jadi kalian semua membiarkannya?”
Meg tidak menjawab.
Aku menatap lantai.
(Apakah kami akan membiarkan Phantom menyiksa kami selamanya?)
(Apakah semua orang di tempat ini harus hidup di bawah bayang-bayangnya?)
(Haruskah kami menghabiskan setiap hari dalam ketakutan, hanya karena tidak ada seorang pun yang berani melawannya?)
Pikiranku terus berputar.
Kemudian—
Tok. Tok. Tok.
Ketukan terdengar dari pintu. Aku dan Meg sama-sama menoleh.
Suara seorang pria terdengar dari luar.
“Maafkan aku atas gangguan ini, Nona.”
Pintu terbuka. Seorang pria muda berdiri di ambangnya.
“Selamat sore.”
Aku menatapnya. Wajah itu terasa familiar.
Rambut pirangnya menangkap cahaya lampu.
Kemudian ingatan tentang beberapa hari yang lalu muncul di benakku.
“Oh.”
Aku menunjuknya.
“Kau... orang yang memberiku bunga hari itu.”
Pria itu tersenyum.
“Orang yang memberimu bunga?”
Ia menggeleng sambil tertawa kecil.
“Kurasa kau masih belum mengingatku.”
Aku hendak menjawab ketika Meg tiba-tiba berdiri.
“Karena ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, kurasa aku akan pergi dulu.”
Aku menatap Meg.
“Meg...”
Ia hanya tersenyum.
“Aku akan menunggumu di luar.”
Sebelum keluar, ia melirik pria itu dan mengangguk ramah. Kemudian pintu tertutup.
Kini hanya tersisa aku dan pria itu.
Aku merasa sedikit canggung.
“Maafkan aku.”
Aku menatapnya.
“Aku akhir-akhir ini...”
“Aku tidak menyalahkanmu.” Ia tersenyum lembut.
“Sudah lama sekali. Aku juga tidak mungkin berharap kau langsung mengingatku.”
Ia berjalan beberapa langkah mendekat.
“Apakah kau ingat Perros-Guirec?”
Aku terdiam.
Perros-Guirec.
Nama itu terdengar seperti gema dari masa kecil yang jauh.
Kemudian sesuatu muncul dalam pikiranku.
“Bukankah itu tempat aku tinggal bersama ayahku ketika masih kecil?”
Matanya berbinar.
“Nah.”
Ia tersenyum.
“Karena kau masih mengingat Perros-Guirec, aku yakin kau hanya melupakanku.”
Ia menggeleng sambil tertawa kecil.
Aku memperhatikannya.
Perros-Guirec.
Rambut pirang.
Senyum itu.
Pantai.
Ayah.
Kemudian semuanya tersambung.
Aku menutup mulutku karena terkejut.
“Raoul...”
Ia tersenyum lebar, “Akhirnya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Raoul!”
“Kau akhirnya mengingatku.”
Ia tertawa, “Aku langsung mengenalimu ketika mendengar suaramu hari itu.”
Aku merasa bersalah.
“Maafkan aku.”
Aku menundukkan kepala.
“Kau sudah banyak berubah.”
Aku menatapnya lagi.
“Kita masih anak-anak saat itu.”
Ingatan masa kecilku perlahan muncul.
“Aku ingat kau sering mendengarkan aku dan ayahku bernyanyi di jalan.”
Aku tersenyum.
“Setelah pertunjukan selesai, kita biasanya berjalan-jalan di pantai.”
Raoul tertawa.
“Kau juga ingat kejadian itu?”
Aku tertawa, “Bagaimana mungkin aku lupa?”
Aku masih dapat melihat kejadian itu dengan jelas.
Hari yang berangin.
Selendangku terlepas dari bahu.
Angin meniupnya ke arah laut.
Raoul berlari mengejarnya.
“Dan kau hampir jatuh ke laut ketika mencoba mengambil selendangku.”
Raoul mengusap tengkuknya.
“Aku tahu.”
Ia tertawa malu.
“Waktu itu aku hampir mati demi selembar selendang.”
“Bukan salahku.”
“Tentu saja bukan.”
Kami tertawa bersama.
Untuk sesaat, aku merasa seperti kembali menjadi gadis kecil yang berlari di sepanjang pantai.
“Itu adalah musim panas terbaik dalam hidupku.”
Senyumku perlahan memudar.
“Setelah musim panas itu, kau kembali ke Paris bersama ibumu.”
Raoul mengangguk.
“Ya.”
“Aku masih ingat.”
Ia menatapku.
“Ketika aku kembali ke Perros-Guirec pada tahun berikutnya, aku tidak dapat menemukanmu.”
Senyumnya menghilang.
“Aku mencari tahu ke mana kau pergi.”
Ia berhenti.
“Kenapa kau tiba-tiba menghilang?”
Aku menunduk.
“Ayahku meninggal.”
Raoul terdiam.
Aku melanjutkan dengan suara pelan.
“Setelah itu, aku pergi.”
Aku tidak tahu berapa lama kami berpindah dari satu kota ke kota lain.
Yang kuingat hanyalah perjalanan panjang dan kesedihan yang tidak kunjung hilang.
“Sampai akhirnya aku kembali ke Paris.”
Raoul menundukkan kepalanya.
“Maafkan aku.”
Aku tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Seandainya aku tahu...”
“Raoul.”
Aku memotongnya dengan lembut, “Semua itu sudah lama berlalu.”
Aku menatap jendela, “Aku sudah memulai hidup baru.”
Kemudian aku tersenyum kecil.
“Aku yakin ayahku tidak ingin aku terus hidup dalam kesedihan.”
Aku meletakkan tangan di dada.
“Aku sudah menemukan jalanku.”
“Dan aku juga memiliki mimpi.”
Raoul memperhatikanku, “Mimpi?”
“Menjadi penyanyi.” Aku tertawa kecil.
“Mungkin terdengar sedikit konyol.”
Aku menunduk, “Tapi setiap kali aku tenggelam dalam musik, aku merasa seolah-olah ayah masih berada di sisiku.”
Aku menarik napas.
“Seolah-olah dia masih membimbingku.”
Raoul tidak tertawa.
Sebaliknya, tatapannya menjadi lembut.
“Maaf aku tidak berada di sisimu ketika kau membutuhkan seseorang, Christine.”
Ia tersenyum.
“Tapi aku percaya kau akan menjadi penyanyi yang hebat.”
Aku menatapnya.
“Kau selalu mencintai musik.”
Aku tersenyum, “Terima kasih, Raoul.”
Kemudian rasa penasaranku muncul.
“Bagaimana denganmu?” Aku memiringkan kepala.
“Kalau kau jarang berada di Paris, ke mana saja kau pergi?”
Raoul tersenyum.
“Aku bergabung dengan sebuah tim penjelajah bahari.”
“Penjelajah bahari?”
Ia mengangguk.
“Aku menghabiskan hampir sepanjang tahun di laut.”
Aku menatapnya kagum.“Jadi kau seorang pelaut?”
“Lebih tepatnya penjelajah.”
Ia tertawa.
“Belakangan ini aku sedang sibuk merencanakan sebuah ekspedisi ke Antartika.”
“Antartika?” Aku mengulanginya.
“Ya.” Ia mengangguk.
“Aku seharusnya sedang mempersiapkan perjalanan itu sekarang.”
“Lalu mengapa kau berada di sini?”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Karena kakakku mengirim kabar.”
“Menitipkan pesan tentang apa?”
Raoul menatapku.
Tentang pertama kalinya aku melihatnya, ada kehangatan di matanya.
Namun kali ini, sesuatu yang lebih serius tampak di sana.
“Dia memberitahuku tentang Phantom.”
Aku terdiam.
Raoul melanjutkan.
“Ketika mendengar bahwa sesuatu yang aneh kembali terjadi di gedung opera, aku memutuskan untuk datang.”
Ia melangkah mendekat.
“Aku ingin mencari tahu sendiri.”
Aku menatapnya.
“Jadi kau datang ke Paris hanya untuk menyelidiki Phantom?”
Raoul mengangguk.
“Ya.”
Kemudian matanya beralih ke arah pintu.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di gedung opera ini.”
Ia kembali menatapku.
“Tapi aku berniat mencari tahu tentang hantu opera ini."