NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Apakah kamu menikmati saat di bonceng, Puja?" suara Jeffry rendah, nyaris berbisik namun tajam seperti silet yang mengiris kesunyian.

Ia menatap Puja dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara amarah yang membara, kekecewaan yang mendalam, dan rasa sakit yang ia simpan sendiri.

"Iya? Kamu senang berada di dekatnya?"

Puja terkesiap. Matanya membelalak tak percaya mendengar tuduhan yang begitu keji keluar dari mulut pria yang sangat ia hormati.

Dadanya terasa sesak, seolah oksigen di ruangan itu lenyap seketika.

"Mas... istighfar, Mas!" seru Puja dengan suara parau, air matanya jatuh tanpa permisi.

"Kenapa Mas bicara seperti itu? Aku cuma diantar pulang, tidak lebih! Aku bahkan menolaknya berkali-kali, tapi dia memaksa dan aku tidak punya pilihan lain agar tidak terjadi keributan di kampus!"

Jeffry tertawa sinis, tawa yang tak sampai ke matanya.

Ia melangkah mendekat, memojokkan Puja hingga punggung istrinya membentur dinding rumah yang dingin.

Napas Jeffry yang panas menerpa wajah Puja, namun tatapannya justru terasa sangat asing bagi sang istri.

"Alasan kamu saja, Puja. Semuanya terlihat jelas," gumam Jeffry sambil menatap lekat ke manik mata istrinya, mencari kebohongan yang sebenarnya tidak ada.

"Ini alasan kamu sebenarnya ingin kuliah? Supaya bisa bebas bertemu dengan Andy itu, hah?!"

Pertanyaan itu menghantam ulu hati Puja. Rasa sakitnya kini berkali lipat lebih parah dari bentakan sebelumnya.

Jeffry tidak hanya meragukan kesetiaannya, tapi juga menghina impian yang selama ini mereka bicarakan bersama.

"Mas!" teriak Puja, suaranya pecah di tengah isakan.

Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan tatapan yang memelas.

"Demi Allah, aku tidak melakukan apa-apa! Kuliah adalah mimpiku, Mas! Bukan untuk hal kotor seperti yang Mas tuduhkan! Kenapa Mas bisa berpikir seburuk itu tentang aku?"

Jeffry terdiam sejenak. Rahangnya masih mengeras, namun ada keraguan yang melintas di matanya saat mendengar sumpah demi Allah yang diucapkan Puja dengan begitu tulus.

Namun, egonya yang masih dikuasai rasa cemburu buta membuat pria itu tak mampu menurunkan dinding pertahanannya.

Ia memalingkan wajah, menolak untuk melihat kebenaran yang mulai menyusup ke dalam nuraninya.

Jeffry menatap tajam ke arah Puja untuk terakhir kalinya sebelum membuang muka.

Tanpa sepatah kata pun untuk meredakan situasi, ia berbalik dan melangkah cepat menuju kamar di lantai atas.

Tak lama kemudian, pria itu turun kembali dengan mengenakan jaket tebal hitamnya, siap untuk pergi meninggalkan rumah.

Melihat gerak-gerik suaminya, Puja langsung berlari menyusul, mengabaikan rasa sakit dan isak tangis yang masih menyesakkan dadanya.

"Mas! Mau ke mana?!" teriak Puja panik, mencekal lengan suaminya saat Jeffry hendak membuka pintu utama.

Jeffry merenggut lengannya kasar, melepaskan cengkeraman Puja tanpa menoleh sedikit pun.

"Jangan halangi aku."

"Mas!!" suara Puja melengking tinggi, nyaris histeris saat ia melihat kilatan petir menyambar di luar sana, disusul suara guntur yang menggelegar hebat.

"Hujan deras, Mas!! Jangan pergi malam-malam begini!"

Brak!

Pintu terbuka lebar, dan air hujan langsung tumpah ruah diterpa angin kencang, menciptakan suara gemuruh yang menelan isak tangis Puja.

Jeffry sama sekali tidak menggubris peringatan istrinya.

Ia melangkah keluar rumah, menerobos derasnya hujan yang langsung membasahi tubuhnya dalam hitungan detik.

"Mas Jeffry!"

Puja berlari mengejar hingga ke ambang pintu teras, membiarkan angin dingin malam dan cipratan air hujan menerpa wajahnya yang basah oleh air mata.

Ia berdiri terpaku di bawah naungan atap teras, menyaksikan punggung suaminya menjauh dan menaiki mobil.

Dalam hitungan detik, mobil Jeffry membelah jalanan yang gelap gulita dan basah kuyup, melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah.

Puja akhirnya jatuh berlutut di lantai teras yang dingin.

Ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya, menangis sejadi-jadinya di tengah derasnya guyuran hujan malam itu.

Ia dibiarkan sendiri bersama rasa bersalah, dinginnya malam, dan ketidakpastian—melihat suaminya pergi entah ke mana dalam amarah yang membara.

Tubuh Puja menggigil hebat. Guyuran air hujan yang sempat menerpanya di ambang pintu tadi telah merasuk melalui pakaiannya yang basah kuyup.

Dengan langkah tertatih dan air mata yang tak kunjung surut, ia memaksakan diri masuk ke dalam rumah.

Ia menutup pintu utama dan menguncinya, meninggalkan dunia luar yang gelap dan bising oleh badai.

Namun, bukan hanya rasa dingin yang merayap di tubuhnya.

Tiba-tiba, rasa pusing yang teramat sangat menghantam kepalanya.

Pandangannya mendadak kabur, berputar hebat, membuat keseimbangannya hilang.

Saat ia menyentuh pelipisnya, jari-jarinya merasakan kehangatan yang tidak biasa di area hidung.

Puja meraba bagian bawah hidungnya. Ketika ia menarik tangannya kembali, butiran-butiran merah pekat terlihat jelas di bawah temaram lampu ruang tamu.

Darah segar mengalir begitu saja dari hidungnya, sebuah tanda nyata dari kondisi fisiknya yang drastis menurun akibat kelelahan ekstrem, tekanan mental yang luar biasa, dan syok berkepanjangan sepanjang hari ini.

Dengan napas yang tersenggal dan tubuh yang semakin melemah, Puja berusaha tidak panik.

Ia menyeka darah tersebut dengan punggung tangannya yang gemetar, lalu menyeret langkahnya yang terasa sangat berat menuju kamar tidur.

Sesampainya di kamar, ia buru-buru melepas pakaiannya yang basah dan mengenakan piyama hangat.

Namun, darah dari hidungnya belum juga berhenti.

Ia segera menyambar sapu tangan bersih dari laci meja rias untuk menekan hidungnya.

Merasa dunianya berputar dan tenaganya terkuras habis, Puja merayap naik ke atas tempat tidur.

Ia berbaring miring dengan tubuh meringkuk, mendekap erat sapu tangan yang kini perlahan ternoda oleh bercak-bercak darah segar.

Di tengah kesunyian kamar yang gelap, di bawah selimut yang tidak mampu menghangatkan hatinya yang hancur, Puja memejamkan mata.

Isak tangisnya berubah menjadi rintihan tertahan, bersamaan dengan rasa sakit fisik yang kian menggerogoti tubuhnya, menunggu kepulangan suami yang entah kapan akan kembali.

Jarum pendek jam dinding menunjuk ke angka dua.

Suasana malam kian sunyi, menyisakan deru angin sisa hujan badai yang mulai mereda.

Pintu depan terbuka perlahan, disusul langkah kaki Jeffry yang basah dan berat memasuki rumah.

Pria itu baru saja pulang setelah berjam-jam berkeliling kota tanpa arah, mencoba meredam gejolak amarah dan rasa cemburu yang perlahan mereda, menyisakan rasa bersalah yang kini menghimpit dadanya.

Jeffry melangkah menaiki tangga menuju kamar utama.

Begitu membuka pintu kamar, ia mendapati ruangan itu gelap gulita.

Dengan gerakan pelan, ia menyalakan lampu tidur bercahaya temaram.

Matanya langsung menangkap sosok Puja yang berbaring di atas ranjang, membelakanginya dan menghadap ke arah tembok dengan posisi meringkuk.

Jeffry menghela napas panjang, meredakan egonya.

Ia berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian tidur yang kering, berniat untuk meminta maaf pada istrinya begitu pagi menjelang.

Namun, di tengah kesunyian kamar, terdengar suara rintihan tertahan.

"Uhh... Uhh..."

Jeffry menghentikan gerakannya. Ia menoleh dengan cepat ke arah ranjang.

Ada sesuatu yang janggal dari suara napas istrinya yang terdengar berat dan tersenggal.

"Dek..." panggil Jeffry dengan suara serak, rasa cemas seketika melenyapkan rasa gengsinya.

Jeffry melangkah cepat mendekati tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menyentuh pelan pundak Puja yang tertutup selimut.

"Dek, kamu sudah tidur?" panggilnya lagi sambil membalikkan tubuh Puja pelan agar menghadap ke arahnya.

Begitu wajah Puja terlihat di bawah temaram lampu tidur, napas Jeffry seolah berhenti seketika.

"Astaghfirullah!"

Wajah Puja tampak sangat pucat pasi bagaikan mayat hidup.

Bibirnya kering, dan yang membuat jantung Jeffry hampir copot adalah bercak-bercak darah segar yang mengering di sekitar hidung dan dagu istrinya.

Pandangan Jeffry turun, mendapati tangan Puja menggenggam erat sebuah sapu tangan yang kini sudah basah dan penuh dengan noda darah pekat.

"Ya Allah... Puja! Bangun, Dek!" teriak Jeffry panik, mengguncang tubuh istrinya dengan tangan yang bergetar hebat.

Tidak ada respons. Tubuh Puja terasa sangat dingin terkulai lemas di atas ranjang. Kesadarannya sudah sepenuhnya hilang.

Panik luar biasa menghantam dada Jeffry. Tanpa pikir panjang, ia langsung merengkuh tubuh istrinya yang rapuh, membopongnya dalam dekapannya keluar kamar, dan berlari menuruni tangga menuju mobil untuk segera melarikan Puja ke rumah sakit.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!