NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004: Menjual untuk Menang

Handoko datang membawa senyum.

Hendra datang membawa harga.

Tiga hari setelah somasi dikirim, ruang pertemuan kecil di lantai eksekutif Menara Wijaya Group terasa lebih dingin daripada biasanya. Pendingin ruangan menyala pelan. Di tengah meja, air mineral, kopi hitam, dan sebuah map notaris disusun rapi seperti panggung kecil untuk pertunjukan yang sudah diatur.

Om Rusli duduk di sisi kiri, wajahnya kaku.

Handoko duduk di sisi kanan, jasnya sempurna, arlojinya berkilau, senyumnya tetap ramah.

Di hadapan mereka, Hendra duduk sendirian dengan dokumen di meja.

"Pak Hendra," kata Handoko dengan suara halus. "Saya dengar beberapa hari ini Anda cukup sibuk."

"Tidak terlalu," jawab Hendra. "Saya hanya merapikan hal yang seharusnya sudah rapi sejak lama."

Om Rusli mendengus. "Kau membuat perusahaan gaduh hanya karena merasa tidak diberi perhatian?"

Hendra menoleh kepadanya. "Saya tidak datang untuk meminta perhatian, Om."

"Lalu untuk apa?"

Hendra membuka map hitam dan meletakkan sertifikat saham warisan di meja.

Kertas itu tidak tebal.

Namun ketika jatuh di atas meja, mata Om Rusli langsung tertarik ke sana seperti besi tertarik magnet.

Handoko juga melihatnya.

Senyumnya tidak berubah, tetapi jari telunjuknya berhenti mengetuk cangkir.

"Saya ingin menjual seluruh saham warisan saya," kata Hendra.

Ruangan itu hening.

Om Rusli berkedip.

Handoko menatap Hendra sedikit lebih lama.

"Menjual?" tanya Handoko.

"Ya."

"Kepada siapa?"

"Kepada Pak Handoko."

Om Rusli hampir berdiri. "Hendra, kau--"

Handoko mengangkat satu tangan, menghentikan suara Rusli.

Senyum pria itu melebar sepersekian inci. Di matanya, serakah menyala.

Hendra melihatnya dengan jelas.

Di kehidupan lalu, mata seperti itu muncul ketika Handoko membagikan sisa makanan di suaka sambil menghitung siapa yang masih berguna dan siapa yang boleh dibuang ke badai. Wajahnya sopan. Tangannya bersih. Keputusannya membunuh.

Sekarang pun sama.

Handoko sedang melihat saham itu bukan sebagai kertas, tetapi sebagai jalan untuk menutup pintu terakhir Hendra di Wijaya Group.

"Kenapa tiba-tiba ingin menjual?" tanya Handoko.

Nada itu lembut.

Pertanyaan itu beracun.

Hendra menunduk sedikit, seolah sedang menelan malu. "Saya lelah. Somasi kemarin hanya membuat saya sadar, kalau saya terus bertahan, saya akan berkelahi dengan keluarga sendiri selama bertahun-tahun. Saya tidak punya modal untuk perang panjang."

Om Rusli menatapnya.

Wajah paman itu berubah dari kaget menjadi lega.

Itu dia.

Topeng orang kalah.

Mereka menyukainya.

"Bagus kalau kau akhirnya mengerti," ujar Om Rusli, suaranya kembali tinggi. "Dunia bisnis tidak semudah membanting surat pengacara ke meja."

Hendra diam.

Handoko mengambil sertifikat saham itu, melihat nomor dan capnya, lalu meletakkannya kembali. "Berapa yang Anda minta?"

"Lima puluh miliar rupiah."

Om Rusli langsung mencibir. "Kau gila?"

"Nilai saham ini lebih besar dari itu jika dihitung berdasarkan aset perusahaan dan posisi historis keluarga saya," kata Hendra datar. "Saya memberi harga karena ingin selesai cepat."

"Cepat?" Handoko mengulangi.

"Hari ini."

Handoko tertawa pelan.

Kali ini tawanya nyata.

Dalam pikirannya, ia sudah melihat akhir masalah ini. Hendra keluar. Nama Wijaya muda itu lenyap dari daftar pemegang saham. Om Rusli tetap bisa dikendalikan. Wijaya Group menjadi lebih bersih, lebih mudah ditelan, dan tidak ada lagi ahli waris yang tiba-tiba mengibarkan akta waris di depan notaris.

Lima puluh miliar terdengar besar.

Tapi bagi Handoko, uang itu bukan kerugian.

Itu biaya menutup celah.

Biaya membeli kesunyian.

"Empat puluh delapan miliar," kata Handoko. "Transfer resmi. Akta alih saham dibuat hari ini. Setelah itu, Anda tidak lagi menuntut hak apa pun di Wijaya Group."

Om Rusli menoleh cepat. "Pak Handoko--"

"Diam, Rusli."

Dua kata itu pelan, tapi cukup membuat Om Rusli menutup mulut.

Hendra memperhatikan.

Bagus.

Rantai mereka terlihat semakin jelas. Om Rusli terlihat seperti paman yang berkuasa di depan karyawan, tetapi di hadapan Handoko ia hanya bidak yang takut jatuh dari papan.

"Empat puluh delapan miliar," ulang Hendra. "Dana masuk ke rekening saya hari ini. Akta ditandatangani setelah bank mengonfirmasi pencairan."

"Anda takut saya tidak membayar?"

"Saya hanya tidak mengandalkan kepercayaan dalam bisnis."

Handoko tersenyum lagi. "Kalimat yang bagus."

"Saya belajar dari orang-orang di sekitar saya."

Untuk pertama kalinya, senyum Handoko sedikit membeku.

Om Rusli tidak menangkap tusukan itu. Ia terlalu sibuk merasa lega karena Hendra akhirnya memilih uang.

Setengah jam kemudian, mereka pindah ke kantor notaris yang sudah disiapkan.

Hendra membaca setiap halaman akta alih saham.

Nama pihak penjual.

Nama pihak pembeli.

Jumlah saham.

Harga transaksi.

Pernyataan pelepasan hak.

Semua jelas.

Semua rapi.

Semua tampak seperti kekalahan.

Notaris menjelaskan pasal demi pasal. Handoko mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Om Rusli beberapa kali melirik Hendra, seolah takut pemuda itu berubah pikiran.

Hendra tidak berubah pikiran.

Karena sejak awal, ia tidak pernah datang untuk mempertahankan kursi.

Kursi akan membeku.

Gedung akan padam.

Nama perusahaan akan runtuh bersama pasar saham, listrik, logistik, dan jalan raya.

Yang tetap bernilai nanti adalah beras.

Air.

Obat.

Diesel.

Baja.

Senjata.

Dan tempat yang tidak bisa ditembus dingin.

Hendra mengambil pulpen.

Di ujung jarinya, bekas luka kecil dari gigitan sendiri sudah mulai mengering. Cincin tembaga di jari manis kanan tampak kusam, seolah tidak berbeda dari perhiasan tua biasa.

Tidak ada seorang pun di ruangan itu tahu bahwa kertas bernilai puluhan miliar ini sebentar lagi akan berubah menjadi gunung persediaan di ruang yang tidak bisa dilihat manusia.

Hendra menandatangani halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Lalu halaman terakhir.

TOK.

Stempel notaris jatuh.

Handoko juga menandatangani.

Begitu tanda tangannya selesai, wajahnya terlihat lebih ringan. Ia bahkan menuangkan teh untuk Hendra dengan tangannya sendiri.

"Saya harap setelah ini Anda bisa memulai hidup baru," kata Handoko.

"Saya juga berharap begitu," jawab Hendra.

Kalimat itu terdengar sopan.

Hanya Hendra yang tahu artinya.

Hidup baru itu bukan vila tepi kota, bukan bisnis kecil, bukan liburan panjang setelah menerima uang.

Hidup baru itu adalah bunker baja di bawah tanah, dinding beton tebal, rak makanan sampai langit-langit, tangki air penuh, generator meraung, dan pintu anti-ledak yang tertutup rapat saat dunia luar mulai menjerit.

Sore itu, mereka pergi ke bank.

Prosesnya formal dan cepat. Staf prioritas memeriksa dokumen, mencocokkan identitas, memverifikasi perintah transfer, lalu meminta Hendra menunggu di ruang kecil dengan dinding kaca buram.

Om Rusli berdiri di luar, berbicara dengan seseorang lewat telepon sambil tersenyum puas.

Handoko duduk di kursi seberang, santai seperti pemburu yang baru mengikat mangsa.

"Pak Hendra," katanya tiba-tiba. "Dengan uang sebanyak ini, apa rencana Anda?"

Hendra mengangkat mata.

Inilah pertanyaan yang ditunggu.

"Pergi jauh," katanya.

"Ke luar negeri?"

"Mungkin."

"Menjauh dari Wijaya Group?"

"Itu yang Pak Handoko inginkan, bukan?"

Handoko tertawa kecil. "Saya hanya ingin semua pihak mendapat akhir yang baik."

Akhir yang baik.

Di kehidupan lalu, akhir yang baik bagi Handoko adalah tubuh Hendra membeku di sudut suaka, nama keluarganya lenyap, dan semua aset jatuh ke tangan orang yang paling pandai tersenyum.

Kali ini, akhir itu sudah berubah arah.

Pintu ruang prioritas terbuka.

Seorang manajer bank masuk membawa tablet.

"Pak Hendra, dana sudah efektif masuk. Mohon Bapak cek saldo."

Hendra mengambil ponselnya.

Layar menyala.

Angka panjang muncul di aplikasi bank.

Rp48.000.000.000.

Empat puluh delapan miliar rupiah.

Di mata dunia lama, itu adalah harga saham.

Di mata Hendra, itu adalah berbulan-bulan makanan, ribuan liter bahan bakar, ton baja, mesin, obat, kendaraan, dan satu langkah besar menuju tempat aman ketika langit mulai menjatuhkan salju kematian.

Ia berdiri.

Handoko ikut berdiri, mengulurkan tangan.

"Selamat memulai hidup baru, Pak Hendra."

Hendra menatap tangan itu sejenak, lalu menjabatnya.

Telapak Handoko hangat.

Dalam tiga bulan, tangan itu akan memohon panas.

"Terima kasih, Pak Handoko," kata Hendra. "Uang ini akan sangat berguna."

Handoko tersenyum, mengira itu ucapan kalah yang manis.

Hendra keluar dari bank dengan map kosong dan rekening penuh.

Di luar, langit Jakarta mulai gelap. Lampu kota menyala satu per satu, indah, boros, dan rapuh.

Hendra memasukkan ponsel ke saku.

Besok, ia mulai membeli dunia.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!